"Apa? kamu masih tanya ke saya kenapa saya nyalahin Raina? adek kamu yang kurang ajar itu? Jelas karena anak saya Evan dengan bodohnya di butakan oleh cinta dan tepat di malam kebakaran itu dia berlari ke rumah kalian yang jelas jelas rumahnya sudah hangus kebakaran! dia mau nyelamatin Raina? gimana menurut kamu? anak saya bodoh kan? bodoh sekali! dulu dia selalu melakukan hal hal yang dalam batas kewajaran tapi ini! ini semua sudah diluar nalar! Dan itu setelah Evan pacaran sama Raina, Raina pengaruh buruk untuk Evan! puas kamu? jelas?" teriak Bu Eva dengan tatapan marah pada Baskara
Baskara bingung dengan tatapan menunduk, kini dia pun tahu kenapa Evan meninggal tepat di malam kebakaran itu padahal rumahnya cukup jauh dari lokasi kejadian. "Jadi itulah alasan kenapa Evan meninggal, dia berusaha untuk menyelamatkan Raina tapi sesuatu pasti terjadi padanya. Raina di dalam pasti sudah tahu tentang alasan kematian toh ibu Eva koar koar di sini apa lagi saat tadi di dalam. Hahh, suasa semakin rumit aja. Ya tuhan kuatkan kami" ujar Baskara dalam hatinya
"Kenapa sekarang kamu diam Baskara? udah paham dengan penjelasan saya? Udah tahu gimana efek buruknya Raina buat anak saya? ngerti sekarang kamu hah?" teriak Bu Eva dengan semakin ganas dan mendekat lebih dekat ke arah Baskara
Baskara terdiam lalu menatapi Bu Eva dengan tajam dan penuh arti. Orang orang di sana semakin seksama menatapi Baskara dan Bu Eva. "Kenapa kamu diam Baskara? gak bisa bicara hah? mendadak diam setelah semuanya saya jelasin. Dasar pengecut" ujar Bu Eva dengan tatapan yang semakin sinis
"Hentikan bu, jelas semua ocehan ibu itu salah! ini bukan salah Raina mau pun Evan. Tidak ada yang salah dalam tragedi ini, semua orang juga menderita bu. Hubungan percintaan mereka tidak ada kaitan nya dengan tragedi ini. Ini sudah di takdirkan sama tuhan, ibu bisa apa jika sudah berhadapan dengan takdir tuhan? ibu bisa melawan gitu? ibu bisa ubah gitu? Jika aja Evan masih ada di dunia ini sekarang! dia tidak akan menerima Raina di hina seperti ini, di salahkan seperti ini. Karena yang memutuskan untuk ke rumah kami pun itu Evan bukan Raina. Sampai sini paham bu? Saya rasa ibu harus lebih mendekatkan diri sama tuhan, jika sudah dekat dengannya. Ibu engga akan menyalahkan orang lain, engga akan menyalahkan takdir mau pun tragedi ini" ujar Baskara membuat bu Eva lantas terdiam dengan sorot mata marahnya yang mulai hilang
Semuanya tersenyum sembari mengangguk menatapi Baskara, merasa puas dengan jawaban Baskara yang sekaligus bisa membuat ibu Eva yang sedari tadi membuat onar di rumah sakit terdiam tanpa kata. Baskara menunduk dengan penuh hormat di depan Bu Eva "Semoga ibu benar benar memahami dan memaknai setiap kata yang saya sebutkan. Terima kasih" ujar Baskara lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana
"Sial! si Baskara itu bisa bikin aku merasa malu di sini! kurang ajar! lebih baik aku pulang aja" gerutu dia lalu pergi dari kerumunan itu dan masuk ke mobilnya
"Lain kali aku pastikan kalian akan malu! mau bagaimana pun juga Raina itu penyebab kematian anak ku!" ujar dia lagi dalam hatinya
Semua orang yang ada di sana menatapi bu Eva jijik dan sebagian besar berteriak kencang menyurakinya.
"Huhh! dari tadi kek pulang dari sininya"
"Ganggu banget seisi rumah sakit"
"Iya! engga tau malu emang"
"Huhhh"
Begitu lah teriakan teriakan mereka yang menyaksikan ke pulangan Bu Eva ke dalam mobil bersama dengan sopir pribadinya.
"Berisik" gerutu bu Eva setelah masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajah songong yang masih nampak di wajah nya
*******
Dara menyaksikan dengan seksama dari dalam rumah sakit tepatnya dari jendela yang tak jauh dari ruangan Raina, di mana Baskara yang dengan beraninya membela adiknya dan berhadapan dengan bu Eva. Dara tersenyum sangat puas.
"Bagus Baskara! kalau aja gak banyak orang di sini, aku udah mau hantam tuh ibu ibu kurang ajar" gerutu Dara pelan
Baskara pun berjalan ke arahnya, untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dara langsung melangkahkan kakinya dan pergi dari sana menuju keluar. Dara pun berhenti saat tahu Baskara sudah dekat ke arahnya, Baskara tersenyum padanya Dara membalasnya dengan senyuman malu malu. "Kamu udah basmi tuh ibu ibu kurang ajarnya?" ujar Dara kesal sembari tersenyum
"Hmm Dara, yang penting sekarang aku harus bisa membuat kesedihan Raina hilang kan" ujarnya tersenyum
Dara pun mengangguk, mereka lalu berjalan bersama menuju ke ruangan Raina lagi. "Sekarang gimana Raina?" tanya Baskara
"Dia masih nangis, tapi tangisannya mulai reda sekarang" jawab Dara segera
Baskara membuang nafasnya lega "Semoga dia tidak terus berlarut dalam kesedihan apa lagi 8 hari lagi aku udah harus masuk ke markas" ujar Baskara kebingungan
"8 hari lagi?" kaget Dara lalu menatapinya dengan serius
Baskara mengangguk "Ya, sebenarnya sih harus secepatnya apa lagi aku yang ijin tidak baik waktu itu.. tapi aku masih khawatir sama keadaan Raina jadi aku pikir setelah kasus itu bisa di ajukan aku akan kembali bertugas." jelas Baskara lagi
"Hmm iya pasti sangat sulit sekali buat kamu ya, gak papa jika mba Raina masih di rawat aku pasti jagain dia kok di sini. Kamu tenang aja engga usah terlalu mikirin Mba Raina ya, aku pasti selalu ada buat nya" ujar Dara lalu mengangguk angguk padanya dan tersenyum sangat manis padanya
Baskara pun tersenyum merekah dan mengangguk "Iya makasih banyak yaa, soal biaya nya aku udah bayar kok! kalau ada biaya lainnya nanti kamu bisa telpon aku, dan kalau ada hal lain yang penting kamu juga boleh telpon aku" jelas Baskara lagi
Dara mengangguk "Iya nanti aku coba deh telpon kamu kalau lagi pas kangen" gerutu Dara dalam hatinya sembari tersenyum senyum
******
Kediaman rumah Dara yang mewah dan klasik membuat semua orang mendambakan rumah idaman seperti itu. Kini tepatnya di ruangan gelap hanya bercahaya lampu redup, seseorang duduk santai di kursi yang sedang menghadap ke meja. Dia menatapi deretan deretan foto di meja dengan tatapan misterius, tepat nya foto foto yang menunjukkan kejadian kejadian yang terjadi tepat di malam kebakaran itu.
"Jack!!" teriak seseorang dari luar
Yang di sebut Jack itu terlihat kesal lalu membuang nafasnya berat, ia mengambil semua deretan foto itu dan menyimpannya di dalam laci yang ada berangkasnya. Dia mengunci berangkasnya dan mengunci lacinya dengan hati hati.
"Jack! kamu udah pulang?" sahut lagi dia yang merupakan ibu dari Jack dan Dara
Jack lalu keluar dari ruangan gelap itu dan melewati tempat tidurnya. Jack segera membuka pintu kamarnya dan memasang wajah datar pada ibunya. "Ada apa bu?" jawabnya datar
"Hah, kamu ternyata udah pulang. Dara belum pulang?" tanya beliau yang masih mengenakan seragam dokter dan membawa tasnya
Jack lalu menggeleng "Engga tau, Jack belum lihat dia" jelasnya lagi lagi datar
"Mau makan apa malam ini?" tanya ibunya dengan senyuman hangat di wajahnya
"Hah, senyuman ini. Kehangatan ini yang sejak dulu gua idamkan, tapi apalah sekarang! semuanya udah basi. Semua keinginan gua tentang kehangatan keluarga udah basi" gerutu Jack dalam hatinya
Jack menggeleng pelan "Apa aja deh bu, Jack engga punya rekomendasi mau makan apa" gerutunya lagi dengan tatapan datar
"Hmm ya udah ibu mau masakin makanan kesukaan kamu aja deh ya" jelas Ibu nya sembari tersenyum padanya
Jack pun mengangguk "Oke" jawabnya segera
"Hah, apa mungkin dia masih ingat makanan kesukaan gua?" gerutu Jack dengan tatapan sinis padanya
Ibu nya pun pergi dengan senyuman di wajahnya "Oke ibu mulai masakin sekarang ya, sekalian mau masakin buat Dara juga. Kamu tunggu ya" ujarnya lagi, Jack hanya menjawabnya dengan anggukan