Ibu pun pergi dari hadapannya, Jack hanya menatapi kepergiannya dengan tatapan datar. "Bagaimana pun juga sikap ibu sekarang udah engga bisa merubah gue, gue udah menjadi jati diri lain yang sulit untuk di ubah meskipun dengan kehangatan keluarga. Engga akan mudah buu" gerutu Jack dalam hatinya masih menatapi kepergian ibunya yang menuju ke dapur
Jack pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di kursi tadi lagi, dia kembali membuka laci, brangkas dan kembali menatapi foto foto tradegi kebakaran itu.
"Harus ada yang di korbankan untuk sebuah mimpi yang besar, itu lumrah terjadi di dunia yang kejam ini" jelas Jack dengan tatapan datar
*******
"Raina.." sapa Baskara yang baru datang dan memasuki ruangan Raina
Sementara itu Dara hanya menunggu nya di luar berharap Raina bisa setenang mungkin saat bersama dengan Baskara. "Semoga suasana hati mba Dara kembali tenang dan menerima semua kenyataan ini" gerutu Dara pelan
"Bang?" sapa Raina dengan mata yang sudah bengkak dan memerah akibat menangis
Baskara terlihat sangat khawatir, dia lalu duduk di samping adiknya dan menatapinya sendu. "Dek? kamu udah tahu?" tanya Baskara dengan suara lirih
"Evan bang, Evan.. jadi abang juga udah tau? tapi kenapa abang engga kasih tau Raina? kenapa Raina harus tau dari ibunya Evan dan dengan cara kasar sama Raina? Gimana Raina engga sakit hati bang" lirihnya masih dengan suara terbata bata dan isakan tangis yang kian mendalam
Baskara membuang nafasnya pelan lalu menatapi Raina "Raina, abang juga baru tau hari ini. Pas abang jengukin makamnya bapak sama ibu, Abang lihat nama Evan di sebuah kuburan baru. Abang terkejut banget dan engga tau harus berbuat apa saat itu, yang abang pikirkan saat itu bagaimana abang bisa menjelaskan semuanya sama kamu abang tau pasti kamu akan sangat terluka dengan ini. Tapi ternyata ibunya Evan udah ngasih tau semuanya sama kamu pas abang udah kesini" jelas Baskara dengan tatapan sendu padanya
"Iya bang, bu Eva bilang katanya semua ini gara gara Raina! Raina penyebab kematian Evan bang. Evan mau nyelamatin Raina saat dia tahu rumah kita kebakaran, tapi sebelum Evan sampai dia malah..." ujarnya menggantung dengan perasaan yang kian terasa sakit, Raina kembali terisak menangis.
Baskara lalu merangkul Raina lembut tanpa menyentuh kulitnya karena akan menyakitinya. "Raina udah, kamu jangan nangis! ini semua bukan salah kamu dek. bu Eva engga berpikir luas makanya dia malah nyalahin kamu! seharusnya dia jangan menyakiti perasaan orang lain, ini semua udah takdir dan nasib. Kita sebagai manusia engga bisa berbuat apa apa selain sabar menghadapi segalanya" jelas Baskara sekuat mungkin, padahal perasaannya juga tak kalah hancurnya. Bagaimana tidak, Evan adalah lelaki yang sangat sempurna bagi Raina. Baginya Evan adalah cinta sejati yang tidak bisa dia temukan di diri lelaki lain.
"Tapi bang.. Evan sama aku kan udah mau rencanain nikah. Tapi kenapa Evan malah ninggalin aku bang, Evan engga mikirin perasaan aku? apa mungkin Evan engga sayang sama aku bang" gerutu Raina lagi semakin dalam
Baskara melepaskan rangkulannya lalu menatapi adiknya dengan tatapan serius "Akan ada jalan yang lebih baik lagi buat kita dek! ini semua ujian dari tuhan. Setiap ujian dan cobaan selalu ada hikmahnya, kamu harus selalu ingat itu. Bapak sama ibu pun engga mau lihat kamu gini Raina, kita harus bertahan hidup! Abang sekarang cuma punya kamu, begitu pun dengan kamu. Mari kita saling menguatkan, kamu harus semangat dan cepet sembuh karena mendiang bapak, ibu mau pun Evan pasti mengharapkan itu dari kita" jelas Baskara lagi
Raina menunduk dengan isakan tangis yant perlahan menghilang "Bang, beri aku waktu untuk sendiri ya bang. Biar aku coba untuk hilangkan semuanya dulu sendirian" jelas Raina dengan lirih
"Tapi jangan lama lama ya? abang juga engga mau kamu merenung terlalu lama, bersedih itu tidak masalah Raina tapi jangan terlalu terlarut dalam kesedihan. Masih ada abang di sini" jelas Baskara lagi tersenyum padanya
Raina pun menatapi Baskara lagi dan tersenyum tipis padanya "Iya bang, Raina cuma butuh waktu sebentar kok! untuk memulihkan semuanya Raina butuh kesendirian dulu ya" jelas nya
"Oke, abang tunggu di luar ya" senyum Baskara sendu lalu bangun dari duduknya
Raina mengangguk dengan tatapan datar, Baskara pun pergi dari sana dan menutup tirai ruangan Raina. Saat Baskara keluar ada Dara yang sedang menunggunya di kursi tunggu. Baskara lalu berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya. Dara menatapi Baskara khawatir "Gimana? mba Raina udah mendingan?" tanya nya refleks
"Heem dia udah mendingan, cuman katanya dia lagi butuh waktu buat sendiri dulu" jawab Baskara lalu tersenyum pilu padanya
Baskara pun menunduk dengan beban pikiran yang terasa semakin berat, Dara menatapinya khawatir ia menggerakan tangannya untuk menyentuh bahu Baskara dan menenangkannya. Namun dia teringat sesuatu sehingga dia berhenti dan tidak jadi memegangi bahu lebar Baskara.
"Aku lupa, aku baru aja kenal dia tapi aku ngerasa udah sedeket itu sama dia. Jika aku terlalu ngerasa deket gini bisa bisa Baskara engga suka sama tingkah ku" gerutu Dara dalam hatinya sembari menatapi Baskara lalu menjauhkan tangannya dari tubuh Baskara
Dara membuang nafasnya berat "Kadang memang kita butuh waktu untuk sendiri di tengah tengah kesedihan kan? aku yakin kok mba Raina pasti bakalan semangat lagi" ujar Dara tersenyum pada Baskara
Baskara tersenyum kaku "Evan adalah lelaki yang paling bisa membuat Raina bahagia, aku tau betul Evan sangat menyayanginya. Tapi kenapa ini harus terjadi sama Raina? Evan masa depan Raina, dan dengan keadaan Raina yang begini.. aku rasa hal itu akan membuat Raina mengeluh dan aku engga tau harus bagaimana ke depannya. Apa lagu aku harus kerja beberapa hari lagi" gerutu Baskara
"Udah aku bilang kan kamu engga usah khawatir soal mba Raina. Aku akan jagain dia dan pastikan dia tidak bersedih lagi. Aku serius saat mengatakan itu Baskara" jelas Dara
Baskara pun mengangguk angguk sembari tersenyum "Hmm makasih Raina, tapi rasanya aku jadi terkesan kurang ajar. Masa iya aku malah nyusahin orang lain buat jagain adek aku" gerutu Baskara tidak enak
"Tapi itu udah jadi tugas aku Baskara! itu pekerjaan aku! aku seneng ngerjainnya kok" jelas dia lagi sembari tersenyum manis
Baskara justru malah terpukau dengan senyuman Dara, merasa pikiran beratnya pun hilang begitu saja saat melihat senyuman tulus dari Dara. "Dia.. apa kau sengaja mengirimkan dia pada ku? tuhan?" ujar Baskara dalam hatinya
Waktu sudah menujukkan pukul 20.30 Baskara tengah duduk di kursi tepat di samping Raina yang sudah tertidur. Tatapan Baskara masih sangat sendu menatapi adiknya yang hanya dia punya sekarang. "Tidur lah Raina, semakin membaik lah" gerutu Baskara pelan
Tiba tiba tirau ruangan Raina terbuka menunjukkan Dara yang sudah memakai cardigan dan tas kerjanya. "Eh Dara?" ujar Baskara lalu bangun dari duduknya dan mendekatinya
"Aku mau pulang Baskara, jadwal aku hari ini sampai jam segini. Kamu kalau malam ini ada apa apa chat aku aja yaa? aku pasti bantuin kok" senyum Dara sangat manis
Baskara seketika semakin merasa bersedih dengan pernyataan Dara, dia pikir Dara akan tidur di rumah sakit seperti malam malam kemarin. "Eh iya, kamu hati hati yaa" ujar Baskara kaku
"Heem lagian besok aku juga kerja lagi hehe, ini mah misalkan kalau kamu malam ini butuh apa apa ya kamu chat atau telpon aku aja yaa" jelas Dara lagi
Dia pun mengangguk dan tersenyum pada Dara "Iya makasih ya Dara, eh kamu pulang naik apa?" tanya Baskara bingung
"Tadinya sih mau ada yang jemput dari rumah, cuman kayaknya aku mau naik taksi aja biar lebih cepet karena aku engga mau nunggu lama" ujar Dara
Baskara menggaruk kepala belakangnya pelan "Hmm engga usah naik taksi deh, biar aku anterin kamu pulang aja gimana?"
"Anterin aku? eh eh gak usah Baskara" jawab Dara segera
Baskara membelalak "Hmm engga usah?" sahutnya pelan
"Apa jangan jangan dia udah punya pacar ya, dan engga mau pacarnya salah paham kalau aku boncengin Dara? ish kok aku malah mikir ke sana sih" gerutu Baskara dalam hatinya
Dara menatapi Baskara serius "Iya Baskara, aku engga mau kamu repotin aku soalnya apa lagi jarak dari sini ke rumah aku cukup jauh" gerutu Dara terlihat malu malu
"Emangnya sejauh apa sih? udah ah ayo aku anterin aja, lagian kamu udah banyak nolongin Raina juga sama aku kan. Masa cuma anterin kamu pulang aja aku engga bisa. Apa lagi ini udah malam banget takutnya ada apa apa di jalan" jelas Baskara lalu memakai jaketnya
Dara membelalak tidak percaya "Serius Baskara? gak papa? gak ngerepotin?" tanya Dara tersenyum puas
"Engga ih ayo" Baskara rupanya selesai memakai jaketnya
"Tapi gak papa kan aku anterinnya pakai motor?" tanya Baskara menatapi Dara serius
Dara langsung mengangguk cepat "Iya engga papa ayoo aku udah lama engga naik motor hehe" senyumnya
"Ya udah ayo"
Mereka pun keluar dari ruangan Raina dan berjalan bersama untuk keluar dari rumah sakit. beberapa pasien sudah tidak ada yang di luar, mereka berada di ruangannya masing masing. Hanya ada beberapa perawat lain dan dokter yang berlalu lalang. Dara dan Baskara yang berjalan hanya berduaan itu membuat para perawat langsung menatapi ke duanya dengan terpukau.
"Ih rumornya bener kan? ternyata seleranya si Dara emang sempurna banget? ya kan? udah tentara ganteng lagi"
"Iya anjir pantes aja dokter dokter di sini pun pada di tolak sama dia, ternyata emang mereka jauh banget sama tentara itu"
"Valid sih no debat"
"Tapi emangnya Dara cocok banget sih sama dia"
"Bener anjir udah kayak artis artis barat aja"
Gerutu beberapa perawat itu, setelah sampai di parkiran Baskara pun menaiki motornya dan menepuk jok motor belakang nya untuk Dara duduki.
"Eh kamu kok malah bengong? ayo duduk di sini" gerutu Baskara yang mendapati Dara yang tengah bengong dan menatapinya itu
Dara pun segera mengangguk "Eh eh iya iya, maaf" senyumnya lalu segera duduk di jok belakang
"Eh kenapa harus minta maaf coba?" senyum Baskara
"Hmm ya maaf aja" jawab Dara segera
Seseorang datang dan melihat ke duanya sangat terkejut, dia adalah Linda yang merupakan teman perawat Dara. "Ehh Dara!" sapanya
Hal itu membuat Baskara yang hendak menyalakan motornya langsung mengurungkan niatnya. "Siapa?" tanya Baskara pelan pada Dara
"Ehh Linda? mau pulang juga?" tanya Dara sembari tersenyum
Linda mengangguk dengan tersenyum senyum menggoda Dara "Hmm ini anak bilangnya engga ada apa apa, bilangnya cuma temenan aja eh tau taunya di bonceng! dasar Dara" gerutu Linda dalam hatinya
"Iya nih mau pulang" jawab Linda segera
Baskara pun tersenyum sopan padanya sembari sedikit mengangguk "Hai? aku Linda temen perawatnya Dara" sapa Linda tersenyum ramah
"Halo, aku Baskara" jawab dia singkat
"Hmm kamu engga di jemput ya Dar?" tanya Linda
Dara langsung menggelengkan kepalanya "Engga lama sih nungguin pak Deni jemput, tadinya aku dari sini mau naik Taksi aja tapi Baskara katanya mau anterin aku pulang jadi deh aku sama dia" jelas Dara
"Oh iya iya, ya udah kalau gitu kalian hati hati yaa aku juga mau balik nih. Baskara hati hati ya bawa Dara nya soalnya dia suka ketiduran kalau di motor haha" tawa ngakak Linda
Berbeda dengan Dara yang memelototi Linda kesal karena telah membuka satu kartu tentang kebiasaan buruk dirinya "Ish Linda" gerutu Dara pelan
"Hah? seriusan? kamu suka ketiduran di motor? masa sih?" senyum Baskara tidak percaya
Dara hanya terdiam dengan senyuman yang kaku "Iya Baskara aku serius, makanya kamu hati hati yaa bawa Dara" tambah Linda lagi
"Eh iya iya aku hati hati kok bawa motornya" jawab Baskara segera
"Hmm oke, aku duluan yaa Dar? yu Baskara aku duluan. Byee" senyum Linda lalu pergi dari hadapan mereka