Mereka pun mengangguk angguk sembari menatapi kepergian Linda. "Byee" sahut Dara pelan dengan wajah jutek yang dia pasang masih kesal dengan Linda yang mengatakan aib buruknya pada Baskara
"Hey kamu, gak papa kan?" tanya Baskara sedikit tersenyum saat melihat Dara yang memasang wajah sebal
Dara langsung tersenyum dan menatapi Baskara malu "Eh eh, aku engga papa kok" jawabnya segera dengan senyuman yang justru terlihat sangat palsu
"Hmm beneran nih?" tanya Baskara lagi
Dara langsung kembali mengangguk "Iya iya aku engga papa kok" jawab Dara segera masih dengan senyuman yang sama
"Oke, kalau gitu kita berangkat sekarang aja?" tanya Baskara sembari menatapinya dengan senyuman manis
Dara kembali mengangguk "Iya ayo" ajaknya bersemangat
Motor Baskara pun mulai menyala dan melewati jalanan malam yang cukup ramai, beberapa orang juga berlalu lalang di sana. Kehangatan malam seperti ini adalah hal paling indah untuk di lihat apa lagi jika bersama seseorang yang cukup spesial. Dara menatapi Baskara dari belakang, dia lalu tersenyum senyum dengan diam diam dan hanya bertahan sebentar takut Baskara mengetahuinya. Dara mengalihkan pandangannya ke jalanan malam. "Hmm dingin, tapi lihat suasana orang orang di daerah sini yang masih ramai seakan menghapus rasa dingin itu. Orang bilang jangan terlalu sering sering di luar! kehangatan keluarga adalah segalanya. Hmm tapi tidak berlaku untuk kehidupan dan keluargaku. Bahkan menurutku kehidupan jalanan malam terlihat jauh lebih hangat di banding di rumah" gerutu Dara pelan sembari memanyunkan bibirnya sedikit kesal dan mencoba untuk sebisa mungkin menahan kesedihannya
"Hmm memangnya di rumah kamu kenapa? kamu sama keluarga kamu kenapa?" tanya Baskara pelan sembari masih fokus berkendara
Dara membuang nafasnya cukup berat "Eh eh, sorry ya aku malah engga sopan nanyain hal itu ke kamu. Kamu engga usah jawab deh ya kalau kamu ngerasa engga nyaman sama pertanyaan aku" ujar Baskara tidak enak
"Hmm santai aja, gak papa ko. Lagi pula aku juga mikir engga ada salahnya kalau aku cerita sama kamu" jawab Dara
Baskara pun tersenyum puas dengan apa yang Dara katakan "Oh gitu yaa, syukur deh" jawabnya enteng
"Apa mungkin ini artinya Dara nyaman sama aku?" gerutu Baskara dalam hatinya
Dara memutar bola matanya kesal "Rumah aku itu udah kayak kuburan, ayah, ibu, sama abang jarang banget di rumah. Jadi kesannya rumah aku kayak kuburan gitu lhoo, yaa sekali pun mereka pada ada di rumah keadaan kami canggung dan tertutup satu sama lain. Cuma ibu yang sangat banyak bicara. Menyedihkan" ujar Dara dengan tatapan sendu menatapi ke jalanan
Baskara merasa bersalah karena malah menanyakan hal ini pada Dara, ia menatapi Dara dari kaca spionnya dan terlihat Dara yang menatap ke arah lain dengan tatapan kosong. "Dara, maafin aku yaa aku malah bikin kamu sedih" gerutu dia sangat merasa bersalah
"Eh eh engga kok Baskara! aku engga sedih, hal itu udah biasa buat aku" jelas Dara lagi sembari tersenyum
"Udah biasa gimana?" Tanya Baskara lagi semakin khawatir menatapi Dara
Dara mengangguk angguk "Iya biasa! aku sama keluarga aku rasanya engga memiliki hubungan apa apa. Ya kecuali sama ibu, kadang aku merasa ibu juga engga mau jauh jauh dari kita dan terlalu banyak bekerja. Tapi itu memang sudah menjadi tugas dari pekerjaan nya" jelas Dara lagi sedikit tersenyum
"Semua ada hikmahnya Dara, apa lagi dari setiap musibah yang kita alami. Rasa sakit, kegagalan apa pun itu semuanya akan ada hikmahnya. Kamu harus percaya sama tuhan, dia pasti tahu betul mana hambanya yang kuat dan patut untuk mendapatkan kebahagiaan. Sabar yaa semuanya akan indah pada waktunya" tambah Baskara tersenyum sangat tulus pada Dara dari spion
Dara baru sadar ternyata Baskara dari tadi menatapinya dari spion "Eh iya Baskara, iya pasti semuanya akan ada hikmahnya" jawab nya segera tersenyum semakin kaku
"Apa mungkin pas di awal tadi Baskara lihat aku senyum senyum?" gerutu Dara pelan lalu kembali menatap ke lain arah supaya bisa mengindari tatapan Baskara dari kaca spion
Baskara mengangguk angguk "Syukur lah kalau kamu paham, selalu jadi wanita kuat!" semangat Baskara
"Oke oke bapak tentara!" jawab Dara segera dengan senyuman yang merekah
Tak terasa sudah berpuluh puluh menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Dara yang sudah Dara tunjukan jalannya pada Baskara. Memang jarak yang cukup jauh tapi di perjalanan sangat tidak terasa. Dara pun segera turun dari motor Baskara yang Baskara hentikan tepat di depan halaman rumah Dara yang megah. "Dara, aku mau langsung balik aja deh yaa?" sahut Baskara tersenyum padanya
"Hmm serius mau langsung?" tanya Dara kebingungan
Baskara lalu mengangguk "Iya Dara, lagian kan aku harus jagain Raina" jelasnya lagi
"Hmm iya juga ya, maaf yaa aku malah repotin kamu Baskara. Aku kasih uang bensin ya" gerutu Dara lalu merogoh saku seragam perawatnya
Baskara langsung menggelengkan kepalanya "Eh eh gak usah Dara!" jelasnya
"Ihhh kok engga usah?" kaget Dara lalu menghentikan gerak tangannya yang merogoh saku
"Engga usah lagian kan aku tadi yang tawarin buat anter kamu pulang, bukan kamu yang minta kan?" alasan Baskara dengan tersenyum
Dara sedikit berpikir lalu ia mengangguk "Iya sih, tapi kan aku ngerasa engga enak gituu" ujar Dara serius
"Kenapa engga enak coba?" senyum Baskara menatapi Dara aneh
"Yaa, malah repotin kamu Baskara" jelas Dara
Tiba tiba pintu megah yang dari rumah utama Dara terbuka lebar, menampilkan sosok ibunda Dara yang telah memakai baju santai dan celemek di tubuhnya. Dia tersenyum merekah saat melihat Dara yang sudah sampai di halaman rumahnya. Dia lalu menatapi Baskara dengan senyuman yang masih sama namun terlihat lebih ke kebingungan sekarang. Dara yang awalnya sangat ceria bersama Baskara seketika dia terdiam dan menatapi ibunya datar.
"Eh Dara sayang, kamu udah pulang? kok lebih cepet?" sapa ibundanya lalu mendekat ke arah Dara dan memeluknya erat
Dara pun membalas pelukannya dengan raut wajah yang masih datar, Ibu Dara adalah seorang dokter yang paling professional dia di tempatkan di rumah sakit pusat yang jelas jaraknya sangat jauh dari letak rumahnya. Berbeda dengan ibunya Dara justru lebih memilih untuk bekerja di tempat yang jauh lebih dekat dari jarak rumahnya.
"Iya Bu, kan jadwal hari ini sampai jam segini" jelas Dara dengan suara yang terdengar malas saat menjawab
Baskara menatapi Dara begitu dalam ia kini melihat dengan jelas apa yang sedari tadi Dara maksud "Raut wajah Dara seketika berubah saat melihat ibunya, hmm aku tau betul Dara pasti mempunyai dua sifat. di rumah dia sangat pendiam, tapi di lingkungan luar dia justru menjadi pribadi yang aktif, ceria juga kadang jutek kayak tadi" gerutu Baskara dalam hati kecilnya sembari sedikit tersenyum
Dara dan ibunya pun berhenti berpelukan, ibu Dara lalu menatapi Baskara kaku tapi masih dengan senyuman di wajahnya "Hmm dan itu siapa Dara?" tanya ibu Dara setelah selesai berpelukan dengan putrinya
"Itu, Baskara" jawab Dara segera
Baskara pun mengangguk dan tersenyum, dia langsung turun dari motornya dan memberi salam hangat pada ibu Dara. "Selamat malam bu, saya Baskara! temennya Dara" jelas dia dengan sangat manis
"Oh temennya Dara yaa? salam kenal" senyum ibu Dara yang meraih tangan Baskara, Baskara hanya mengangguk dan tersenyum
"Eh tumben banget ada yang kamu iyain untuk anterin kamu pulang Dara? biasanya kamu tolak perawat perawat dan dokter itu ya? atau jangan jangan kalian udah cukup deket?" tanya ibu Dara menatapi Dara dengan penuh godaan
Dara sangat sangat berusaha untuk menahan senyumnya namun dia sangat kesulitan "Eh ibu jangan sembarangan, Baskara itu emang cuma temen nya Dara kok. Tadi awalnya Dara mau naik taksi tapi Baskara bilang dia mau nganterin aku pulang" jawab Dara terbata bata
"Hm iya deh iya" jawab ibu Dara
Dia masih menatapi putri semata wayangnya itu dengan seksama karena jelas biasanya Dara jarang dan sangat tidak mood untuk tersenyum. "Pria ini udah bisa bikin Dara senyum senyum salah tingkah! yang biasanya sangat jarang Dara lakukan" gerutu ibunya tersenyum masih menatapi putrinya
"Iya bu saya cuman temennya Dara ko" jawab Baskara memperjelas
"Hm iya iya temenan yang baik yaa" senyum ibu Dara sangat tulus
Ibu Dara menatapi Baskara dengan seksama dari atas sampai bawah, dia cukup terpukau dengan tubuh Baskarw yang terlihat gagah dan maco. "Eh kamu polisi ya? atau mungkin tentara?" ujar ibu Dara menebak
"Saya tentara bu" jawab Baskara dengan tersenyum ramah
"Owalah pantesan kamu gagah banget badan nya" jelas ibu Dara lagi, Baskara hanya tersenyum manis pada nya
Baskara mengangguk begitu pun dengan Dara yang tersenyum kaku padanya "Eh bu aku mau langsung pamit nih, aku engga bisa lama lama karena adek aku di rawat di rumah sakit aku harus jagain dia" jelas Baskara menatapi ibu Dara serius
"Lhaa kok cepet banget? ayo masuk dulu nak Baskara! makan dulu ibu udah baru aja selesai makan" jelas nya memaksa
Baskara menatapi Dara ia lalu menggelengkan kepalanya lagi "Eh engga bu, jangan ngerepotin! saya biar makan di jalan aja bu" jawab Baskara
"Ih udah udah, ayo ikut kita!" ajak ibu Dara lalu menarik tangan Baskara untuk masuk ke dalam rumahnya
sementara itu Dara hanya di tinggalkan di belakang, Dara pun memutar bola matanya kesal dengan tingkah ibunya tapi dia cukup senang karena Baskara yang bisa berkunjung ke rumahnya. "Hmm malam ini aku ada tamu, tamu yang sangat tampan dan sulit di dapat haha" gerutu Dara dalam hatinya
"Bu Baskara takutnya ngerepotin, apa lagi Adek Baskara lagi ada di rumah sakit" gerutu Baskara dengan tangan yang masih di tarik lembut oleh ibu Dara
Mereka memasuki rumah mewah yang merupakan milik keluarga Dara, Baskara sangat terpukau saat pertama kali masuk ke sana. Dara masih berdiri di belakang mereka.
"Ngerepotin apa nak? udah ya kamu ikut kita makan malam dulu, lagian soal masalah adek kamu biar ibu titipkan ke perawat perawat di sana ya" jelas dia lantas membuat Baskara langsung terdiam
Dara di belakang hanya tersenyum senyum dan menatapi mereka "Dasar ibu" gerutu Dara dalam hatinya
Mereka pun masuk ke arah dapur, di mana di tepatnya meja makan besar sekaligus mewah semua sajian makanan sudah tersaji dengan rapi dan tersusun mengisi semeja besar itu. Baskara sedikit kaget melihat meja semegah itu di penuhi makanan. "Gila sih ini banyak banget makanannya, emang mau abis semua nih?kan sayang kalau ada yang sisa" gerutu Baskara pelan dalam hatinya
"Baskara kamu duduk di sini ya, lihat semuanya masakan buatan ibu Dara. Mulai dari masakan kesukaan nya Dara, kesukaan abangnya Dara, kesukaan ibu, mau pun kesukaan ayah Dara dan abang nya" ujar ibu Dara lalu mendudukan Baskara di salah satu kursi
"Dan untuk Dara kamu duduk di sini tempat di samping Baskara temen kamu itu lho" ujar ibunya masih dengan senyuman menggoda
Dara pun duduk di samping Baskara dengan senyuman kaku "Ih ibu" gerutu nya pelan
"Oke sekarang kalian tunggu dulu di sini yaa, ibu mau panggilin Jack dulu" jelas ibu Dara sangat bersemangat
Baskara mengangguk dengan tatapan bingung "Jack itu juga sama sama anak ibu, dia anak sulung dari keluarga ini dan Dara adalah anak bungsunya" jelas ibu Dara lagi
"Oh iya iya" jawab Baskara dengan tersenyum
Baskara lalu diam diam menatapi ke arah Dara di maba Dara justru terlihat semakin bad mood saat ibunya mulai membahas abangnya. "Hmm jadi mungkin ini yang di maksud Dara, tentang hubungan keluarga. Hubungan antara anak dan orang tua, mau pun kakak beradik. Ya tuhan aku jadi kasian banget lihat sorot mata Dara yang tiba tiba murung gitu" gerutu Baskara dalam hatinya
"Oke Baskara kamu tunggu di sini yaa bareng sama Dara" jelas ibu Dara lalu melangkahkan kakinya pergi setelah mendapati anggukan dari Baskara
Baskara pun menatapi kepergian ibu Dara yang terlihat cukup jauh untuk menuju ke kamarnya abang Dara.