Kelam...

1881 Kata
Baskara kembali menatapi Dara yang terlihat masih merenung. Dia mulai merasa tidak enak melihat Dara seperti itu, Baskara lalu memegangi bahu Dara dan membuat Dara langsung menoleh ke arahnya. "Eh Baskara? ada apa? sorry sorry aku malah ngelamun" gerutu Dara segera menjawabnya dengan senyuman canggung pada Baskara Baskara sedikit mendekat ke arah Dara "Kamu kenapa? setelah ibu kamu bilang mau panggil abang kamu untuk makan bersama kok raut wajah kamu jadi sedih gitu? Maaf ya aku lagi lagi tanya karena aku hmm.. khawatir sama kamu" jelas Baskara "Aku engga papa kok Baskara, cuman ya aku dulu pernah bilangkan sama kamu kalau hubungan aku sama kakak aku itu engga pernah baik. Kaku dan engga rileks aja perasaannya kalau ada dia" jawab nya "Oh iya, kamu coba rileks aja deh dan kalau bisa kamu coba deketin abang kamu. Ya kali kali ajak dia ngobrol atau apa ke, biar hubungan kalian menjadi dekat" saran Baskara menatapi Dara serius Dara tersenyum dan menatapi Baskara "Tidak semudah itu Baskara, susah menjelaskannya sih tapi kamu sendiri bakal liat kok gimana sifatnya kakak aku itu" ujar Dara lagi "Hmm sulit ya" angguk Baskara dengan melamun Suara langkah kaki terdengar menuju ke arah meja makan, di mana terdengar bukan hanya satu orang yang mendekat ke arah mereka. Baskara mau pun Dara langsung menatap ke belakang, tepatnya yang kini mereka lihat adalah ibu Dara bernama lengkap Donita Anatasya yang merupakan seorang dokter paling ternama di kalangan kedokteran. Dia bersama dengan seorang pria muda yang kini berada di belakangnya dan mengikuti langkah kakinya. Raut wajahnya terlihat begitu datar dan lebih sangat malas. "Bisa bisanya gue di paksa buat ikut makan malam dan gue malah iyain. But, oke lah kali kali lagian gue jangan terlalu kaku yang ada kejadian di masa lalu terjadi lagi. Gue jangan terlalu membuat ibu curiga ke gue" racau Jack dalam pikirannya yang sangat rumit Setelah Dara melihat Jack, dia langsung memutar bola matanya. Berharap Jack sang kakak tidak lagi membuat keonaran. "Semoga kejadian di malam itu tidak terjadi lagi" gerutu Dara dalam hatinya "Jadi dia kakaknya Dara? kok kayak engga asing ya orangnya" pikir Baskara lagi menatapi Jack kian serius ^^^^^ Flashback 15 tahun sebelumnya Ruang meja makan masih kosong, namun sang ibu bersama dengan beberapa pelayan nya tengah sibuk di dapur untuk menyajikan hidangan. Meski beliau masih mengenakan pakaian dokter bername tag Donita tak menjadi alasan dirinya untuk berdiam diri dan malas malasan. Dengan lihaynya tangannya memasak dan senyuman indah selalu terpancar di aura wajahnya. "Bi Mimin, tolong ambilin sawi yang ada di kulkasnya ya! tolong cuci dulu abis itu potong tipis tipis!" perintah dia dengan senyuman merekah di wajahnya pada si pembantu Yang di panggil dengan sebutan bi Mimin itu langsung mengangguk dan bergegas ke kulkas "Baik nyonya besar" jawab dia segera "Dan untuk bi Santi tolong panggilin anak anak supaya segera turun ya karena masakannya udah mau selesai semuanya" perintah dia ke pembantunya yang lain "Nona Dara sama tuan Jack juga nyonya besar?" tanya dia berhati hati sedikit keberatan saat menyebut nama Jack "Iya bi, mohon bantuannya ya! kalau dia malah bentak bibi kayak kemarin, bibi laporin aja ke saya ya" gerutu Donita Dia pun mengangguk dengan sangat terpaksa "Baik nyonya besar" angguknya lalu pergi dari hadapannya dan segera menuju ke kamar Dara dan Jack "Aku harus hadapi tuan Jack lagi, hmm semoga dia tidak marah marah lagi ke aku" gerutu bi Santi ketakutan Jack adalah anak yang terlahir dari keluarga kaya dan sangat berkecukupan, namun hal itu tak membuat dirinya mau adiknya merasa bahagia dan puas dengan keluarganya. Ayah Jack yang merupakan pilot selalu berusaha mati matian untuk ijin bekerja pada ke dua anaknya yang paling manja pada beliau, namun sudah beberapa kali Jack mendapati ayahnya yang selalu berbohong padanya dan selalu pulang kerja sangat terlambat. Jack yang hiper aktif selalu melampiaskan amarahnya saat itu juga, mulai dari mengamuk, tidak mau makan, dan tidak mau keluar dari kamarnya seharian. Berbeda dengan Jack, Dara justru lebih sabar dan pasrah saat menghadapi apa pun. Dara selalu menyimpan masalahnya sendiri tanpa membaginya dengan siapa pun, dia selalu menelannya mentah mentah. Kebetulan di hari kemarin seharusnya ayah mereka sudah sesuai dengan jadwal dan yang ayahnya bilang pada mereka bahwa dia akan pulang kemarin. Namun sampai malam ini dia masih belum pulang, karena ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus dia selesaikan dulu begitu lah yang dia katakan pada istrinya. Donita adalah istri yang sangat baik dan tidak muluk muluk, dia tidak pernah menuntut apa apa darinya. Apa lagi soal pekerjaan, Donita selalu sabar menunggu kepulangan sang suami berbeda dengan anaknya Jack. Bi Santi pun sudah berhasil memberi tahu Dara, Dara yang masih berusia 8 tahun keluar dari kamarnya kini berdiri di samping Bi Sinta untuk ikut turun bersama bersamanya. "Nona Dara, tunggu dulu ya kita harus kasih tau tuan Jack juga kata ibu" jelas bi Santi tersenyum pada Dara "Iya bi" jawab Dara dengan raut wajah datar Mereka pun berjalan ke arah kamar Jack "Bibi engga takut di marahin abang lagi?" tanya Dara dengan suara polosnya Bi Santi menggelengkan kepalanya segera lalu tersenyum kaku "Sebenarnya agak takut sih non, tapi yaa mau engga mau tetep aja pekerjaan kan" gerutu dia dalam hatinya "Engga non! bibi engga takut kok, kan abang kamu juga baru 11 tahun masih kecil. Sedangkan bibi itu orang tua yang harusnya di hormati" senyum bi Santi terpaksa "Masalahnya abang engga gitu bi" jawab Dara lagi dengan suara datar Bi Santi hanya mengangguk angguk dengan senyuman kaku masih terlihat jelas di wajahnya. Dia pun memberani kan diri untuk mengetuk pintu kamarnya "Permisi.. tuan Jack?" sahut bi Santi sangat halus dan lembut "Engga di jawab" sahut Dara "Bentar ya bibi coba lagi non" jelas Bi Sinta Dara mengangguk masih dengan tatapan datar, Bi Santi lalu kembali mengetuk pintu kamar Jack. "Tuan Jack, makan malam yuk di bawah! ibu udah nungguin lhoo" senyum dia mencoba untuk sebisanya merayu "Masih aja" gerutu Dara datar Ckelkkk Pintu kamar Jack terbuka sedikit, menampilkan Jack yang hanya menampakan sebagian wajahnya. "Apa? makan malam?" datar Jack "Ibunya pada ramah tapi anak anaknya kok nyeremin gini sih ya tuhan ada ada kerjaan aku tuh" desis Bi Santi dalam hati nya "Hey! kenapa engga di jawab!" tegas Jack menatapi bi Santi kesal Dara terlihat sangat marah dengan reaksi abangnya yang menurutnya tidak sopan "Bang jangan gitu! bi Santi baik baik lhoo ngasih tau ke abangnya, abang gak boleh gitu! gak bagus" sahut Dara "Kamu jangan ikut ikutan! Anak kecil tau apa!" kesal Jack menatapinya Bi Santi mencoba untuk melerai ke duanya "Udah udah nanti ibu marah, jangan berantem ya!" lirih bi Santi agak ketakutan "Tuan Jack, ayo kita makan malam kasihan ibu udah masak banyak banget buat kalian" jelas dia sendu Jack pun terdiam hingga dia sedikit berpikir dan malah masuk kembali ke kamarnya. "Yah! percuma aja di bujuk bujukin" gerutu Dara kesal "Ya udah ayo Non kita ke bawah aja, lagian sekarang bibi bersyukur banget karena tuan Jack engga marah marah" jelas dia lalu menggiring Dara untuk segera bergegas dari sana Dara pun mengangguk "Iya" jawabnya Ketika mereka sudah cukup jauh, suara pintu yang terbuka pun kini terdengar jelas. Karena sumber suara mengarah dari kamarnya Jack yang tadi mereka samperi. Bi Santi dan Dara langsung membalikan badanya dan menatapi ke arah sana. Rupanya Jack kini yang tengah berdiri dengan tatapan datar "Siapa bilang gue engga ikut?" sinis nya lalu berjalan cepat dan melewati ke duanya "Lhaa kok tumben?" gerutu Dara pelan Bi Santi pun tersenyum "Bagus nona! akhirnya dia mau ikut makan malam bareng lagi setelah berberapa hari" senyum dia merekah "Awas aja kalau ayah engga pulang sekarang! gue pastiin ini adalah malam terakhir gue makan malam" gerutu Jack dalam hatinya dengan langkah yang buru buru Mereka pun kembali berkumpul di ruang tamu, ibu mereka sangat bersemangat saat tahu Jack pun ternyata ikut bersama mereka. Dia segera menyiapkan piring untuk anak anaknya itu. Dara menatapi ibundanya polos "Bu, ibu kok masih pakai seragam kerja?" tanya nya sambil mengunyah ayam goreng "Iya sayang, ibu engga keburu ganti! karena antusias banget pengen masakin ini buat kalian" jelas dia segera sembari tersenyum manis pada putrinya "Oohh" jawab Dara "Iya udah ya, kamu harus makan yang banyak Dara yang cantik" senyum dia lagi lalu mencubit ke dua pipi Dara gemas Jack pun mulai makan namun dia menatapi ibunya serius saat ibunya duduk bersama di antara mereka. "Bu?" sahut Jack Ibu Donita langsung menatap ke arah Jack dengan sangat manis "Iya sayang ada apa?" dia menoleh ke arah anak lelakinya "Ayah?.." ujar Jack Ibunya pun langsung terdiam dan nampak kebingungan harus menjawab apa, seketika hal itu membuat suasana di sana menjadi sangat tegang. Kecuali dengan Dara yang masih dengan lahapnya makan. "Ayah masih belum pulang bu?" tanya Jack lagi memastikan "Hmm ayah.. belum pulang sayang, katanya masih ada beberapa pekerjaan lagi" jawab dia berhati hati Jack pun mengangguk santai, hal yang tidak pernah Jack lakukan sebelumnya. Membuat ibunya sendiri bersama dengan para pembantu itu membelalak. "Oh gitu" gerutu nya enteng "Iya, udah jangan di pikirin ya! dia pasti pulang kok. Dia pasti bawain apa yang kalian mau kok" senyum si ibu lalu segera makan Jack hanya mengangguk angguk "Hati hati bu, takutnya ayah bohong sama kita semua. Apa lagi sama ibu" ujar Jack yang membuat ibu dan adiknya berhenti makan Beberapa pelayan pun nampak kebingungan dengan apa yang di maksud Jack. Dara menatapi abangnya dengan tatapan serius. "Bohong apa bang? ayah engga suka bohong kok" jawab dia mewakili ibunya "Jack! kamu apa apaan bicara sembarangan kayak gitu? dengar adik kamu? bahkan adik kamu pun tau betul ayah kamu! ayah Dara dan dia ayah terbaik untuk kita" jelas Donita kesal dengan anak lelakinya itu Jack menghentikan makan nya, dia lalu menatapi ibunya serius. "Coba deh ibu pikir pikir aja, sebelumnya ayah engga pernah bohong dan telat pulang. Sampai sebulan ini dia selalu telat pulang, bahkan saat pulang pun ayah sibuk dengan ponselnya. Ibu engga pernah curiga ya sama ayah?" tanya Jack lagi Keadaan terasa semakin begitu tegang "Stop Jack" lirih ibunya dengan tatapan penuh ancaman "Apa ibu engga pernah lihat acara tv? drama? atau film romantis? ayah bersikap seakan dia sedang menduakan kita lho bu, ibu engga tau ya? Jack cuma takut aja kalau ayah Jack sama Dara gitu. Jack takut kalau ternyata ayah yang selama ini selalu Jack puji dan banggakan, ternyata dia pecundang" ujar Jack Donita sudah di atas amarah, dia lalu bangun dari duduknya dan menampar keras pipi anaknya hingga membuat dia tersungkur ke kursi lain bahkan terbentur. "Aahh ibu! abang!" teriak Dara terkejut "Jack! kami sudah dengan sangat baik mengajarkan kamu sopan santun! berusaha memasukan kamu ke sekolah yang mahal supaya kamu jadi anak yang baik dan berbakti tapi apa ini? kamu tega nuduh ayah kamu kayak gitu? kamu lebih tua dari Dara Jack, seenggaknya ajarkan adik kamu hal hal baik! pantas aja kamu tiba tiba mau ikut makan malam ternyata kamu mau bikin keonaran di sini. Begitu?" teriak Donita dengan mata memerah menahan tangis Jack menatapi ibunya datar dan hanya membiarkan pipinya yang terasa sakit, perih dan mulai memerah itu. "Jack cuma pengen ayah kembali kayak dulu bu! seenggaknya di sela sela istirahat ayah bisa kumpul hangat lagi sama kita tapi sekarang ayah udah engga gitu bu! Percuma aja ibu sama ayah sekolahin Jack di sekolah mahal tapi kalian sendiri pun tidak pernah mendidik Jack!" teriak Jack dengan amarah sampai urat urat di kepalanya terlihat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN