"Jack stop! kamu harus mengerti keadaan kami, pekerjaan kami! semuanya untuk kalian! jangan membuat ibu down seperti ini Jack! kalian penyemangat untuk kami dan alasan kenapa kami bekerja sampai seletih ini!" teriak Donita lantang
Beberapa pelayan lalu mendekat ke arah Donita dan mencoba untuk menenangkannya. Jack bangun dari duduknya dan menatapi ibunya datar "Jangan jadikan semuanya alasan bu, tetap saja kan berakhir seperti itu! Berakhir dengan kalian yang sangat menyukai pekerjaan kalian. Pikirkan ucapan Jack bu, apa yang Jack katakan bisa saja terjadi" senyum dia datar
Ibunya sudah di luar kendali, sangat heran kenapa anak lelakinya bisa seperti itu. Ia lalu kembali menampar Jack dengan keras dan membuat kepalanya terbentur ke lantai. Hal itu membuat Jack sangat kesakitan, hingga dia menatapi ibunya dengan tatapan tidak percaya.
"Aaarggh" teriak Dara dengan tatapan sendu dan takut
Ibu nya menatapinya ke arah Dara "Bi Santi tolong anterin Dara ke kamarnya! sekalian bawain makanannya dia juga" jelas dia dengan mata yang sudah memerah
"Ibu.. Dara takut" lirih Dara polos menatapi ibundanya
Ibunya tersenyum mencoba untuk setulus mungkin "Sayang kamu masuk dulu ke kamar ya! makan di kamar ya di temenin bi Santi dulu, nanti ibu nyusul yaa" ujar dia dengan suara sendu
"Hmm oke deh" jawab Dara segera lalu turun dari kursinya
Bi Santi mendekat dan langsung menyiapkan makanan makanan Dara dan membawanya ke nampan berukuran besar. Ia lalu memegangi tangan Dara lembut dan tersenyum padanya "Ayo Nona bi Santi antar ke kamar dan temani yaa" senyum dia menenangkan
Dara hanya mengangguk dengan tatapan polos padanya, mereka berdua pun pergi sari sana dengan Dara yang masih menatapi ibu dan abangnya dengan polos dan terpaku sampai dia benar benar pergi.
Donita pun kembali menatapi Jack dengan tatapan datar, ia lalu merasa sedikit bersalah karena melihat luka di kepala Jack yang mulai sedikit berdarah. "Jack i- ibu minta maaf" lirih ibu nya lalu mendekati Jack yang masih terbaring
Jack yang masih terduduk di lantai dia segera menjauh dari ibunya, ia lalu tersenyum lagi "Wow ibu sampai melakukan ini karena teramat mencintai ayah? bagaimana kalau ucapan aku benar bu?" ujarnya
"Jack ibu mohon hentikan prediksi buruk mu! drama dan dunia nyata jelas berbeda, kita harus percaya sama ayah" jelas ibunya lalu kembali menangis
Jack menggelengkan kepalanya lalu segera bangun dari duduknya, dia memegangi kepalanya. "Sudah cukup bu, Jack cuma takut aja hal itu terjadi. Jack juga engga mau hal itu terjadi, Jack engga mau ibu sakit hati dan sedih apa lagi cuma gara gara ayah. Jack hanya membenci ayah sekarang, dia selalu berbohong pada aku dan Dara sekarang! dia suka pulang terlambat! dia sudah menghancurkan kehangatan keluarga kita bu. Ibu jangan terlalu mempercayai dia. Jack pergi" ujar Jack dengan tatapan datar lalu pergi dari hadapan ibunya
Dia tidak kembali ke kamar melainkan keluar dari rumahnya, Ibunya hanya bisa menangis dengan semua kesedihan yang seakan membeledak, rasa lelah yang telah dia tahan sejak tadi seakan semakin terasa. Beberapa pelayan itu menatapi majikannya dengan tatapan sendu dan khawatir, apa lagi mereka sendiri tau bagaimana baiknya ibu Donita selama menjadi majikannya. Semua yang telah dia masak malam ini untuk anak anaknya, sebanyak itu! hanya menjadi percuma dan sia sia.
"Bu, tenangin diri ibu dulu. Mungkin Tuan Jack hanya merasa khawatir" gerutu salah satu pelayan itu mendekat dan memegangi bahu ibu Donita pelan
Dia hanya mengangguk angguk, sebenarnya akhir akhir ini dia juga sering sekali merasa kan hal yang sama seperti Jack. Suaminya yang jarang pulang tepat waktu dan lebih acuh saat di rumah membuat dia sempat berpikir hal yang sama. Namun dia terus mencoba untuk menahannya dan mencoba untuk tetap tegar dan bahagia di hadapan ke dua anak tersayangnya.
"Bi, tolong perintahkan sopir buat cari Jack yaa. Bilang saya tunggu di luar" lirihnya lagi terisak lalu bergegas untuk segera keluar
Semua pelayan itu mengangguk "Baik bu" jawab dia segera
"Kekhawatiran ku ternyata merembet ke anak ku, Jack. Kenapa semua pikiran buruk kami harus ada? dan kenapa aku malah menampar anak ku sendiri? kenapa semuanya seakan berubah mas" lirih ibu Donita dalam hatinya sembari terus terisak
Flash back off
^^^^^^
Jack yang bersama ibunya itu lantas menatapi Baskara tajam, dia heran kenapa ada orang baru di rumahnya. "Siapa dia?" tanya Jack pada ibunya di sampingnya
"Hmm dia nak Baskara, orang yang anterin Dara pulang barusan kebetulan deh ibu ajakin dia makan aja biar kita makin seru makannya" jawab ibunya sangat sumringah lalu duduk di kursinya
Jack hanya mengangguk angguk dengan tatapan datar, sementara itu Baskara tersenyum sangat sopan padanya. "Saya Baskara" ujarnya menyapa
"Jack" jawab Jack datar lalu duduk di kursinya dan berlawanan arah dengan Baskara
"Hmm pantas saja Dara engga mau makan sama abangnya, dia ternyata seperti ini" gerutu Baskara pelan
Dara hanya menunduk dan membuang nafasnya pelan "Jelas bukan? dia sangat berbeda dengan Baskara ke mba Raina, cara Baskara memperlakukan adik nya membuat aku insyekur" gerutu Dara dalam hatinya
Jack menatapi ibunya datar, saat ibunya sedang menuangkan nasi untuk semuanya. "Bi tolong bikinin jus kesukaannya Jack sama Dara ya! dan buatin juga untuk tamu kita" ujar dia menatapi beberapa pelayan yang berdiri di sana dengan tatapan tegang
"Baik Nyonya besar" jawab salah satu dari mereka
"Hmm tumben ya makan malam kita nambah satu orang, berasa lebih sedikit hidup ini rumah" gerutu Jack
Dara, Baskara dan ibunya langsung menatap ke arah Jack dengan tatapan yang sama sama datar. Dara mencoba untuk tidak terpancing oleh ucapan abangnya itu, sementara Donita sang ibu dia jauh lebih santai dan rileks mencoba untuk tidak menanggapi apa pun yang akan Jack katakan. Makan malam mereka berjalan lancar. Baskara langsung pamit ke ibu Dara untuk segera kembali ke rumah sakit. Dara pun mengantar Baskara sampai ke depan rumahnya.
"Makasih ya Baskara dan hati hati di jalan" senyum Dara padanya
Baskara mengangguk lalu menaiki motornya dan mengenakan helm nya "Iya sama sama, oke aku pulang ya bye" sahut Baskara terdengar kaku saat dia mengatakan bye pada Dara
"Iya bye"jawab Dara refleks sembari tersenyum padanya dengan perasaan yang menggebu gebu
Baskara pun keluar dari area rumah Dara menggunakan motor hitam andalannya. Dara terus menatapinya sampai Baskara sudah benar benar pergi dan tidak terlihat lagi.
"Seneng banget bisa di anterin dia" gerutu Dara lalu masuk ke dalam rumahnya dengan senyum senyum salah tingkah
Tanpa siapapun sadari sejak tadi Jack berdiri di balkon kamarnya tepat di atas mereka saat saling bercakap cakap tadi. Jack yang memegangi kopi di tangan nya itu dia lalu tersenyum menatapi kepergian Baskara.
"Oke Baskara?? Baskara, orang yang adek gue suka? apa mungkin dia orang yang sama yang mereka obrolin?" gerutu Jack dengan senyuman jahat di raut wajahnya dia lalu segera menyeruput kopi di gelasnya
"Aargghh!" desahnya setelah menelab habis kopinya
Dia lalu tersenyum lagi "Semuanya akan semakin seru, gue jamin" ujarnya lagi lalu pergi masuk ke dalam kamarnya
^^^^^^
Baskara melewati jalanan malam, dimana orang orang masih sangat ramai berkeluyuran di luar. Tak cukup memakan waktu lama akhirnya Baskara kembali sampai di rumah sakit. Dia segera menuju ke ruangan adiknya dan merebahkan diri di sofa yang tepat berada di samping Raina. Baskara membuang nafasnya cukup berat sembari tersenyum senyum, mengingat hal mustahil yang dia alami baru saja.
"Dara.. kenapa aku semakin tertarik.." gerutu Baskara dalam hatinya
Baskara lalu menatapi Raina yang nampak tertidur pulas dengan balutan perban yang sudah di gunakan menipis di tubuhnya. "Hmm keadaan kamu semakin membaik dek, kamu yang kuat ya! kita akan pindah ke kosan baru untuk beberapa hari. Kita akan renovasi rumah lama kita menjadi layak untuk kita tinggali lagi nanti. Kamu yang sabar ya, yang kuat! kamu pasti sembuh dan kembali menemukan sumber kebahagiaan kamu selain abang" jelas Baskara pelan dan tersenyum manis pada nya
"Setelah aku melihat bagaimana canggungnya keluarga Dara, aku menjadi sangat bersyukur karena kami selalu hangat di dalam berkeluarga. Kamu selalu saling supoort meski pun dalam tahap terburuk dan terdown! tapi aku jadi kasihan sama Dara. Dia gadis yang baik, ibunya pun juga sangat baik hanya saja abangnya. Entahlah! aku memiliki feeling buruk padanya" gerutu Baskara lagi dalam hatinya
^^^^^^
"Sshhh! Baskara! Baskara!" bisik Dara tepat ke dekat telinga Baskara, Kini waktu sudah pagi dan menunjukkan pukul 07.15 dimana Dara pun sudah memakai seragam perawat rapih dan cantik.
Raina menahan senyuman nya, karena melihat abangnya yang masih tertidur pulas di sofa itu. Dara menggelengkan kepalanya sembari tersenyum pada Raina.
"Aduh mba Raina, aku angkat tangan deh! Baskara susah di bangunin haha" ujar Dara tertawa
Raina pun ikut tertawa, karena beberapa perban di wajahnya juga sudah di buka san wajahnya sudah tidak kaku lagi. "Hahaa abang emang gitu mba Dara, udah aku bilang kan coba deh mba Dara goyang goyangin tangannya abang tapi harus yang kenceng! karena kalau engga kenceng ya dia bakal susah bangun" ujar Raina masih diiringi dengan tawaan nya
Dara kaget dan menganga "Eh seriusan? musti goyang goyangin tangannya yang kenceng? ya tuhan padahal aku aja denger alarm di ponsel langsung bangun. Lhaa ko dia susah banget ya?" gerutunya tidak percaya
"Iya mba Dara, dia susah bangun! coba deh bangunin lagi" ujar Raina lagi
Dara pun mengangguk setuju dengan senyuman di wajahnya, dia lalu mendekat ke arah Baskara dan segera memegangi tangannya mencoba untuk menggoyahkan tangannya keras. Namun saat itu hal di luar dugaan terjadi, di mana Baskara malah menarik tangan Dara dan membuatnya terjatuh ke dalam pelukannya. Dara dan Raina sangat sangat terkejut dengan tatapan mata yang sama sama memelotot. Dara perlahan menatapi Baskara namun dia rupanya masih tertidur saat memeluknya erat.
"Ya ampun! kok jadi awkward gini sih" gerutu Dara dalam hatinya mencoba untuk keluar dari pelukan Baskara namun Baskara sangat erat memeluknya
Raina tersenyum menatapi Dara yang salah tingkah "Hmm maaf mba Dara malah jadi gini akhirnya. Bentar bentar! tahan dulu ya mba aku mau cobain bangun dia dengan lempar botol ini ke kepalanya dia" ujar Raina lalu mengambil botol yang masih berisi air setengah itu ke arah Baskara
Dara membelalak tidak percaya "Eh kamu seriusan mba Raina? tapi gimana kalau dia marah nanti?" gerutu dia bingung
"Engga engga, abang engga akan marah yang ada nanti abang malu karena sekarang posisinya lagi pelukin mba Dara" senyum dia lalu melemparkan botol itu tepat ke arah kepala Baskara dan tepat sasaran
Baskara merespon dan refleks memegangi kepalanya dengan satu tangannya yang kanan, sementara tangan kirinya masih dia gunakan memeluk Dara erat. Baskara membuka matanya dan menatapi Raina yang sedang tersenyum padanya.
"Raina? ihh udah pagi ya? kok kamu senyum senyum engga jelas gitu?" gerutu Baskara dengan suara racaunya
Raina semakin ngakak lalu menunjuk Dara yang ada di tubuh Baskara. Baskara mengerutkan keningnya lalu segera menatap ke arah yang sama di mana Raina menunjuk. Dia sangat terkejut saat tahu Dara berada di atas tubuhnya dengan tangan Baskara sendiri yang menahannya. Baskara langsung melepaskan tangannya dan membelalak "Ya ampun Dara! kok kok! kamu..." lirih dia kebingungan
Dara langsung bangun dan berdiri tegap dengan tatapan malu yang berusaha untuk terus dia tahan "Hmm.. itu.." gerutu Dara pelan menatap ke lain arah menghindari kontak mata dengan Baskara sendiri
"Maaf ya kalau aku yang salah! pasti aku engga sadar saat peluk kamu kan? maaf yaa" lirih Baskara lagi dengan tatapan bersalah dan menatapi Dara serius
"Ya jelas dong bang! ini semua akibat kebiasaan buruk abang yang sulit sekali untuk di bangukan. Jadinya deh mba Dara mau coba bangunin abang eh tau taunya malah di tarik tangan abang dan jatuh ke tubuh abang" jelas Raina menatapi abangnya dengan menggodanya