Saingan...

1884 Kata
Dara membuang nafasnya berat semakin merasa malu dengan situasi saat ini, Baskara terkejut lalu menatapi Dara menyesal. "Eh maaf yaa Dara, aku engga sengaja! beneran deh engga sengaja. Maafin aku yaa" jelas Baskara takut "Hmm i iya engga papa ko" jawab Dara sedikit gugup Raina merasa bersalah karena dia yang memulai semuanya "Mba Dara maafin yaa, ini salah aku deh kayaknya malah..." ujarnya menggantung menatapi Dara takut Dara langsung menggelengkan kepalanya "Eh engga engga ko Mba Raina, santai aja hehe" jawabnya lagi masih terdengar gugup "Hmm dia bilangnya santai aja? padahal dianya engga keliatan santai gitu" gerutu Baskara dalam hatinya Baskara dan Raina pun saling bertatapan canggung, Dara juga merasakan hal yang sama. "Hmm ya udah kalau gitu aku permisi dulu ya, jam sekarang jadwalnya aku cek beberapa keperluan dokter Anna" jelasnya pamit "Oke Dara" jawab Baskara "Iya mba Dara" angguk Raina Dara pun pergi dari hadapan mereka berdua. Dia segera pergi ke ruangan dokter Anna. Ternyata di dalam sudah ada Linda, Arfan dan Ahmad yang merupakan teman perawatnya Dara mereka sudah menunggu Dara dari tadi. Mereka menatap ke arah Dara bersamaan lalu tersenyum padanya. "Wihh.. Dara.. kok kamu kayak beda banget deh sekarang? kayak bersinar gitu tau gak?" gerutu Ahmad menggodanya Dara menatapi ke lain arah dan sedikit bingung dengan ucapan Ahmad "Bersinar? Bersinar apaan sih" gerutu Dara pelan "Udah sini Dara abaikan aja ucapan si Ahmad! Kita di suruh dokter Anna lhoo" ujar Linda yang lalu menarik tangan Dara dan membiarkannya duduk di sampingnya Dara pun tersenyum tipis "Eh iya iya, maafkan aku terlambat datangnya" ujarnya tidak enak "Udah santai aja Dara, biasanya kamu emang suka telat kan" senyum Arfan Dara tersenyum dan memutar bola matanya "Iya iya maaf deh, gak akan gitu gitu lagi aku" jelasnya "Tuhkan? kalian ngerasa gak? Dara itu sekarang udah berubah, dia jadi lebih hangat ke kita. Jadi lebih berani untuk meekspresikan perasaannya iya gak" ujar Ahmad menatapi Dara serius Linda tersenyum menatapi Dara "Yaa namanya juga cinta Ahmad! cinta itu bisa ngubah apa pun tau!" ujarnya Ahmad dan Arfan membelalak saat mendengar ucapan Linda, dia lalu mendekat ke arah Dara dengan tatapan kepo. "Dara? maksudnya ucapan Linda apa yaa? cinta? apa benar kamu yang di rumorkan jatuh cinta sama abangnya pasien di sini? yang seorang tentara itu? atau jangan jangan kalian udah jadian?" teriak Ahmad sangat dramatis Arfan langsung memukul Ahmad sangat keras "Ehh anjir jangan teriak teriak Ahmad! Kamu ngerasa di rumah sendiri apa hah?" sinis Arfan padanya "Ehh maen pukul pukul aja sih" kesal Ahmad kini menatapi Arfan marah Linda menatapi ke duanya kesal "Hussh! kalian kenapa berisik banget sih! udah udah buruan beresin nanti dokter Anna keburu balik lagi tar pada di marahin lho" ujarnya "Iya fokus aja kerjain semuanya, soal masalah aku jangan kalian urusin" sinis Dara pada ke duanya Ahmad menatapi Dara terkejut "Eh ternyata sinis sama judes nya masih ada" ujarnya pelan takut kedengaran Dara "Tapi untung sekarang kadarnya udah dikit! lhaa dulu sampai mau berantem kan kamu sama Dara" bisik Arfan ^^^^^^^ Dokter Anna berada di ruangan medis, bersama dengan para dokter dokter lainnya yang sedang meeting mengenai sebuah hal. Setelah semua acara yang mereka jalani selesai akhirnya semua dokterpun keluar dari sana berhubungan mereka juga harus mengefisienkan waktu sebaik mungkin. "Dokter Anna! tunggu dulu!" teriak seorang dokter pria di belakangnya Dokter Anna lantas berbalik dan menengok siapa yang sudah memanggil namanya itu "Eh Dokter Zean? ada apa ya?" jawab dia ramah pada si dokter Zean yang tampan dan masih lajang itu Dokter Zean masuk ke dalam list dokter yang sempat mengejar cinta Dara, mungkin saat ini hanya Dokter Zean yang masih mengharapkan balasan cinta dari Dara setelah semua dokter lainnya sudah pada menikah. Dokter Zean menatapi Anna sedikit canggung, hal itu membuat Anna mengerutkan keningnya. "Tunggu tunggu, pasti kamu mau tanyain soal Dara ya?" tebaknya Dokter Zean tersenyum dan langsung mengangguk "I- iya Dok, hmm gimana ya akhir akhir ini saya resah banget" ujarnya lalu menunduk Mereka masih berjalan bersama sembari berbincang, Dokter Anna menatapi nya serius. "Hmm.. resah kenapa?" tanya nya penasaran "Soal berita Dara yang katanya sedang dekat dengan seorang tentara? apa itu benar Dok? kata orang orang juga sih Dara sekarang berubah banget, dia menjadi orang yang lebih hangat dan ceria. Apa itu bener dok? Apa artinya Dara yang menyukai tentara itu? Saya jadi ngerasa takut untuk kehilangan Dara, ya meskipun saya seharusnya tidak berhak untuk itu. Tapi, tetap saja saya masih sangat mengharapkan perasaan Dara. Jadi yang ingin saya tanyakan ke dokter Anna itu.." lirihnya lagi lalu menatapinya serius Dokter Anna mengangkat ke dua alisnya serius "Apa? kamu bicarain aja, saya akan jawab selagi saya tau kok" jelasnya lagi tersenyum ramah "Jadi apa Dara yang menyukai tentara itu? atau mungkin malah mereka udah jadian?" tanya nya langsung Dokter Anna menatap ke lain arah sembari menghela nafasnya "Dara belum jadian sama siapa pun, dan untuk perasaan Dara tentang menyukai siapa dan jatuh cinta sama siapa saya kurang tahu. Karena kamu tau sendirikan Dara orangnya sangat tertutup. Tapi kalau saya nilai dia emang kayak yang suka sama Tentara itu, tapi selebihnya saya engga tau yaa. Kalau kamu emang mau mendapatkan Dara lebih baik kamu juga bergegas deh, lelaki itu kan harus gentle harus membuktikan sama cewek yang dia suka kalau dia itu serius. Kalau kamu terus mendem malah kesannya nanti kamu yang nyesel" jelas Dokter Anna menatapinya serius Mereka pun berhenti di depan ruangan Dokter Anna. Dokter Zean pun terdiam dan menunduk nampak sedang memikirkan ucapan dari Dokter Anna. "Pikirkan baik baik yaa, berjuang sebelum kamu nyesel. kita engga tau perasaan orang, bisa aja berubah kapanpun. Saya berbisik karena di dalam ada Dara, semangat! saya masuk dulu ya" bisik Dokter Anna padanya Dokter Anna pun pergi dan masuk ke dalam ruangannya, Dokter Zean menatapi kepergiannya dengan tatapan kosong. Masih mencerna baik baik apa yang dokter Anna katakan. "Ucapan dokter Anna, ada benarnya juga" lirih Zean pelan "Sedari dulu, saya hanya memendam perasaan ini sama Dara. Paling cuma berani chat dia aja, menyapanya aja engga berani. Keburu deg degan dan malu! hahh saya pria kayak apa sih kok lemah gini" gerutunya sembari melangkahkan kakinya pergi dari sana "Saya harus coba apa yang Dokter Anna sarankan, sebelum saya menyesal" ujarnya lagi ^^^^^^^ "Hallo semua" sapa Dokter Anna pada semua perawat yang sudah mengisi ruangannya Ahmad, Arfan, Dara dan Linda menatap ke arahnya. "Hallo dokter Anna yang tercantik se dunia" semangat Ahmad "Lhaa tumben Ahmad puji puji saya?" ujar Dokter Anna menahan senyumnya dan meliriknya curiga Linda memutar bola matanya kesal "Ya apa lagi Dok! kerjaan dia dari gibahh terus sampai kerjaan yang dokter kasih ke Ahmad masih aja belum selesai" gerutu Linda segera menatapi Ahmad jijik "Astaga Ahmad!!" teriak Dokter Anna memelotot Ahmad pun tersenyum senyum engga jelas dan melirik ke arah Arfan berharap sahabatnya membelanya namun yang ada Arfan malah membelakanginya dan semakin fokus untuk bekerja. Dara tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. Dokter Anna menatapi Dara tanpa Dara sadari "Benar, sikap Dara berubah drastis! semuanya apa benar karena ke datangan Baskara? hmm apa pun itu ucapan aku ke Zean tidak salah kan? cinta memang harus di perjuangkan" gerutu dia dalam hatinya ^^^^^^ Dokter Zean berada di ruangannya, dia duduk di kursinya dan memegangi beberapa berkas laporan di tangannya. Tiba tiba pintu ruangannya terdengar ada yang mengetuk. "Silahkan masuk" ujar dokter Zean tanpa mengalihkan pandangannya ke sana Pintu ruangan Zean pun terbuka, orang dari luar itu langsung berjalan ke arah Zean dan duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan meja Zean. Zean mengangkat kepalanya dan menatap siapa yang datang. Dia sedikit memelotot saat tau Dara lah yang duduk di sana. "Eh Dara?" sapa dokter Zean yang terlihat agak canggung dan mulai deg degan. Bagaimana tidak Zean selalu mencari topik apa yang ingin dia tanyakan pada Dara supaya bisa berchattan dengannya, namun Dara yang polos tidak pernah menyadari rasa suka Zean karena mendekatinya dia hanya menganggap Zean bersikap biasa. Dara tersenyum tipis sembari mengangguk "Iya Dok, saya mau bilang hmm katanya dokter Anna saat ini lagi agak sibuk karena pekerjaannya belum selesai semua. Dokter Anna meminta saya untuk memberitahu pada Dokter Zean bisa tidak untuk memeriksa beberapa pasiennya? sampai pekerjaan dokter Anna selesai?" tanya Dara Dokter Zean merenung beberapa saat, bukan memikirkan apakah dia bisa tidaknya. Tapi... "Artinya saya di suruh dokter Anna buat periksa adik tentara itu? dan sekaligus supaya saya bisa di dampingi Dara. Apa dia sengaja melakukannya supaya saya bisa bersama Dara? dan menilai sendiri bagaimana Dara dan tentara itu? hmm apa pun itu terima kasih dokter Anna" gerutu Dokter Zean dalam hatinya "Dok?" sahut Dara membuyarkan lamunannya Dia segera mengangguk dan tersenyum "Eh iya iya saya bersedia, sebentar ya saya selesaikan ini tinggal beberapa berkas lagi" ujar dia Dara mengangguk "Baik dok, kalau gitu saya tunggu di luar yaa" "Oke silahkan" jawab dokter Zean Dara pun bangun dari kursi dan kembali keluar, Dokter Zean terus memperhatikan setiap langkah Dara. "Dara... kamu adalah gadis yang langka, kamu cantik tapi tidak pecicilan. Kamu serius dan susah untuk di dapat, saya berharap saya adalah pilihan kamu suatu saat" lirih dia pelan lalu kembali mengisi berkas berkasnya ^^^^^^ "Yang ke dua pasien kita hari ini Raina Ananda Baskara ya? jadi tinggal 2 pasien lagi nanti?" sahut Dokter Zean yang tengah berjalan memegangi daftar pasien yang harus dia periksa sesuai perintah Dokter Anna. Dara yang ada di sampingnya langsung mengangguk "Iya dok" jawabnya sumringah "Setelah saya menyebut pasien nya, dia kok seneng banget. Terlihat jelas raut wajah Dara berubah drastis, hahh saya harus kuat saya harus terima kenyataan dan saya tetap harus mengejar Dara" gerutu Dokter Zean dalam hatinya Mereka pun berhenti di depan ruangan itu Dokter Zean menunjuk ruangannya "Ini ruangannya?" tanya Dokter Zean pada Dara "Iya dok ini, mari masuk" ujar Dara Mereka pun masuk ke dalam, Baskara duduk di sofa yang sedang memotong beberapa buah apel untuk adiknya yang masih terbaring lemas. Baskara dan Raina langsung menatap ke arah Dokter Zean dan Dara saat tau mereka masuk. "Perawat Dara?" sahut Baskara "Kok dokternya jadi ganti sih?" gerutu Baskara dalam hatinya Raina tersenyum menatapi ke datangan Dara "Selamat siang, saya dokter Zean dokter yang menggantikan dokter Anna untuk pemeriksaan hari ini karena beliau sedang memiliki banyak pekerjaan. Semoga kalian nyaman yaa" ujar dokter Zean tersenyum manis "Ohh iya pak" jawab Raina segera Baskara hanya mengangguk dan menatapi Dokter Zean itu yang jaraknya cukup dekat dengan Dara. "Kok aku ngerasa sedikit panas yaa? hmm bisa bisanya, padahal aku bukan siapa siapa Dara" gerutu Baskara dalam hatinya Dokter Zean menatapi ke arah tangan Baskara di mana dia yang sedang memegangi pisau dan buah apel yang di tujukan untuk adiknya. "Jadi dia tentara yang membuat Dara menyukainya? Lumayan. Hmm mungkin sikap manis dan perhatiannya yang membuat Dara tertarik padanya. Kalau soal ketampanan kami mungkin bisa di bilang sebanding" ujar Dokter itu dalam hatinya Dokter Zean dan Dara pun mulai melakukan pemeriksaan pada Raina, saat itu pun Baskara seakan tak berkedip saat melihat Dara yang terus terusan berada di sisi dokter Zean dan membantunya. Raina melirik ke arah abangnya "Benerkan? abang aku suka sama perawat Dara? makanya liatinnya sinis amat ke dokternya, ya ampun bang jangan terlalu menonjol!" gerutu Raina dalam hatinya dan dia sedikit tersenyum "Oke pemeriksaannya selesai, mba Raina sudah sangat membaik. Kondisi kulitnya pun saat ini sudah jauh lebih baik, mungkin sekitar 4-5 hari lagi mba Raina sudah tidak perlu menggunakan perban lagi" jelas Dokter itu menatapi Raina tersenyum
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN