Kurang skill...

1906 Kata
Raina pun mengangguk, Baskara bangun dari duduknya dan menatapi dokter Zean ramah "4 hari lagi dok? Ah syukurlah, jadi setelah 4 hari dia sudah boleh pulang dong?" tanya Baskara Dokter Zean sedikit berpikir namun dia segera mengangguk tidak lama "Sepertinya sudah di bolehkan untuk pulang" jawabnya segera "Hmm syukurlah" ujar Dara dan Baskara bersamaan, membuat ke duanya kini saling bertatapan dan tersenyum malu. Dokter Zean yang melihat jelas ke duanya merasa sangat panas. "Tatapan Dara, jelas berbeda" gerutu Dokter Zean dalam hatinya Raina yang menyadari Dokter Zean lalu menatapi abangnya dan perawat Dara seperti itu dia bisa menyimpulkan bahwa Dokter Zean menyukai Dara "Hmm bau bau cinta segitiga nih" gerutunya dalam hati "Ya saya rasa sudah selesai pemeriksaannya, kalau gitu saya pamit untuk memeriksa pasien yang lain" jelas Dokter Zean setelah membereskan semua barang barangnya Baskara dan Raina mengangguk "Baik, terima kasih pak" jawab Baskara "Makasih pak" senyum Raina Dia pun mengangguk dan tersenyum "Iya sama sama, kan itu sudah pekerjaan saya. Mari Dara kita segera ke ruangan pasien lain" ajak dokter Zean lalu menatapi Dara Dara mengangguk "Iya pak mari" jawabnya Entah kenapa perasaan Baskara terasa semakin begitu panas melihatnya, Raina yang diam diam melihat reaksi Baskara dia hanya bisa menahan senyumnya. "Udah aku duga kan bang, abang emang suka mba Dara" gerutunya dalam hati "Mba Raina sama Baskara aku ke pasien lain dulu yaa" sahut Dara yang lalu mendapat anggukan dari ke duanya Dokter Zean menatapi Dara diam diam "Kenapa harus pamitan segala sih sama mereka, toh mereka cuma pasien. Bukan keluarga atau sahabat kan? sepertinya Dara sudah mengenal mereka lebih dari dia mengenal saya, saya harus lebih mendekati Dara supaya Dara pun mengenal saya lebih dekat" gerutu Zean dalam hatinya Dokter Zean dan Dara pun keluar dari sana dan segera untuk bergegas ke ruangan lain. Raina masih menatapi Baskara dengan senyuman yang mengejek abangnya itu. Baskara lalu menatap ke arahnya, dia terkejut saat tau adiknya menatapinya seperti itu. "Kenapa kamu senyum senyum gitu?" tanya nya sinis Raina lalu mengakak "Haha ya apa lagi bang? jelas banget semuanya! udah Raina duga kan sebelumnya" ujarnya Baskara mengerutkan keningnya heran dengan apa yang di maksud Raina "Jelas apanya sih?" kesalnya "Abang liat sendiri kan barusan, dokter Zean itu kayaknya suka sama mba Dara! gimana engga coba? tatapannya jelas berarti banget ke mba Dara. Hahh mau gak mau abang harus mengakui perasaan abang ke mba Dara, seenggaknya abang bilang ke Raina. Iya kan? abang suka sama Mba Dara kan? makanya tadi keliatan engga suka lihat dokter Zean sama mba Dara kan?" ujar Raina sembari menunjuk nunjuk Baskara dengan senyuman menggodanya Baskara memelotot lalu mendekati Raina, dia pun segera menutup mulut Raina. "Heh! kamu jangan sembarangan ngomong dek, kalau kedengeran sama Dara dan dokter itu gimana nanti? engga enak tau! kamu diem dulu sekarang baru abang yang bicara, oke?" tatap Baskara serius pada adiknya itu Raina terlihat mengerutkan keningnya lalu mengangguk supaya Baskara melepaskan tangannya dari mulutnya. Baskara pun menepati ucapannya, dia lalu melepaskan Raina. "Sekarang abang bicara, apa yang mau abang bicarain! cepet" perintah Raina dengan tatapan serius Baskara menunduk lalu menghela nafasnya "Ya, seperti yang kamu bilang Raina. Saat pertama kali datang ke rumah sakit ini abang langsung melihat Dara di luar, abang sangat terpukau melihatnya. Dan ternyata dia adalah orang yang udah selamatin kamu. Makin ke sini kita makin deket sama Dara kan? setiap detiknya abang ngerasa berarti banget kalau sama dia, abang mencoba abaikan itu dan hanya menganggap mungkin perasaan ini lebih bertuju pertemanan. Tapi lama kelamaan abang ngerasa perasaan ini berbeda dan barusan.. barusan abang engga terima liat Dara deket sama dokter itu, apa lagi seperti yang kamu bilang tatapan dokter Zean ke Dara jelas berbeda. Hmm tapi kan memang itu pekerjaan Dara, dan abang siapanya dia coba? abang engga berhak marah atau mengatakan kalau abang cemburu kan. abang rasa emang sebaiknya kita jadi temen aja deh" jelas Baskara lalu membuang nafasnya panjang Raina membelalak mendengarkan pernyataan abangnya "What? abang bilang apa barusan? sebaiknya jadi temen aja? dikira semudah itu bang? emang abang bakal yakin kalau setelah mba Dara sama dokter itu jadian abang bakal nerima gitu?" tegas Raina menatapinya kesal karena abangnya yang kurang tau akan percintaan Baskara kembali memelototi Raina "Dek ih! bisa gak sih engga teriak teriak mulu" kesalnya Raina tersenyum polos lalu segera menutup mulutnya "Hehee sorry abang ku yang tampan" ujarnya setelah membuka tangan nya "Hmm gitu dong! yang nurut sama abang" sinis Baskara Raina memutar bola matanya "Gimana mau nurut sama abang? masalah percintaan aja abang K.O sebelum bertanding?" gerutunya sangat menyindir keras Baksara "Ya abang harus gimana dong Raina? kayaknya abang engga cukup berani buat menyatakan perasaan abang ke Dara. Kita itu baru aja kenal, apa lagi keluarga Dara sangat jauh berbeda dengan keluarga kita" jelas Baskara serius Raina menguap saking kesalnya menanggapi abangnya "Ya tuhan.. jangan apa apa di jadiin alesan bang! kalau cinta ya cinta! masa karena hal itu abang mundur, yaa engga jadi milik abang dong kalau abang mundur! ya kali selemah itu abang, abang itu tentara! terkuat! seharusnya abang tahan banting sama siapa pun" tegas Raina menatapinya dengan kesal "Hmm iya sih kalau di pikir pikir lagi, abang engga mau kehilangan Dara apa lagi kalau sampai dokter itu mendapatkan dia dan sampai pacaran. Tapi kalau menyatakan cintanya di saat saat ini abang engga akan bisa, karena menurut abang kita baru saling kenal. Abang mau bersikap biasa dulu aja untuk sekarang, jika dia malah menyukai Dokter Zean ya apa boleh buat toh mereka udah saling kenal lama" jelas Baskara sembari mengangguk angguk Raina pun segera mengangguk "Iya iya, intinya abang sekarang jangan mundur dulu. Soal cinta nyeselnya bikin nyesek lhoo bang, makanya Raina kasih tau abang sekarang juga. Abang pepet aja terus mba Dara, jangan mau kalah sama dokter Zean. Karena menurut penilaian Raina dokter Zean masih malu malu dan terlalu formal ke mba Dara" jelasnya "Hmm serius kamu dek?" senyum Baskara mulai kembali percaya diri Raina lalu mengangguk tanda mengiyakan ucapan abangnya "Iya bang, apa lagi mba Dara liatin dokter Zean itu kayak yang biasa aja gitu padahal dia juga tampan lhoo engga kalah terlalu jauh laa sama abang. Mba Dara natapnya kayak yang engga spesial gitu, malah saat dia ngelihat abang menurut adek nih yaa sorot matanya mba Dara itu ceria banget tulus banget. beda deh pokonya" ujar Raina mencoba untuk membangun kepercayaan diri abangnya Baskara menatapi Raina tidak percaya dia lalu tersenyum senyum "Dek jangan ngada ngada kamu yaa! stop dek! bicara yang bener! yang jujur" gerutu Baskara "Ya ampun! Adek jujur bang! adek serius, makanya adek bilang kejar! terus kejar! adek tau kok mba Dara juga menyukai abang" ujar Raina Baskara tersenyum lalu mengangguk "Iya adek ku yang cantik, makasi udah kembaliin mood abang! sekarang kamu istirahat karena kamu masih sakit" senyumnya "Heem abang" jawab Raina ^^^^^^^ Di jam 12.00 tepat, Seseorang berjas serba hitam dan setelan hitam dengan kacamata hitam yang dia juga gunakan. Dia tengah berdiri di depan gedung rumah sakit dan menghadap ke arah ruangan yang mengarah ke arah ruangan Raina, meskipun jarak dari sana cukup jauh tapi pandangannya tertuju ke ruangan Raina. Di mana Baskara sedang duduk di samping adeknya itu. Dia tersenyum lalu membuka kacamatanya, jelas dialah Jack kakak perawat Dara. Dia lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya "Dugaan gue bener pak Pandu! ternyata dia adalah orang yang sama dengan ciri ciri yang sama, si bodoh ini yang kemarin datang ke kantor polisi dan malamnya ke rumah gue. Gila! gak tau apa dia masuk ke kandang harimau, segera beresi dia biar penderitaannya semakin bertambah! lo bisa telpon pak Gubernur untuk berapa bayaran yang akan lo dapat untuk mengakhiri ketentaraannya Baskara. Supaya tim kita aman dari sorotan pemerintah pusat atas insiden kebakaran itu" gerutu dia tepat pada sambungan telponnya "Hahaha jadi bener dia? sialan. dia emang orang yang suka cari gara gara sih cari muka mulu kebiasaannya, makanya sekarang harus berakhir naas. Oke gue mau urusi dia secepatnya. Tapi gimana adek lo? katanya adek lo kayak yang suka sama dia?" tanya tentara Pandu yang merupakan atasan Baskara Jack tersenyum menyungging "Lo tau apa soal hubungan gue sama adek gue, cuma status di KK aja! gak lebih. gue gak peduli sama dia" ujarnya "Hmm oke boss penguasa, gue merasa bangga karena bisa bekerja sama dengan anda" jelas Pandu Jack mengangguk angguk lalu mengakhiri telponnya, ia lalu menatapi Baskara lagi dari kejauhan dengan senyuman jahat yang masih sama. "Tersenyumlah dulu, sebelum kepedihan bertambah terus menerus" ujar Jack pelan Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari area rumah sakit. Dara yang baru saja akan keluar dari gedung rumah sakit, dia terkejut karena merasa melihat mobil kakaknya dan langsung berhenti di tempat. "Kok? tadi kayak mobil abang?" sahutnya pelan lalu sedikit berpikir "Tapi buat apa dia ke sini? atau aku hanya berhalusinasi aja yaa?" gerutu Dara lagi lalu memutar bola matanya dan kembali melangkahkan kakinya ^^^^^^ Dara kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa bingkisan yang sudah dokter Zean pinta, beberapa alat medis. Ia lalu berjalan cepat untuk menuju ke ruangan Dokter Zean. Saat di perjalanan dia berhenti karena melihat Baskara yang menghalangi jalannya. "Eh Baskara ada apa?" senyumnya seketika sangat manis padanya Baksara terlihat kebingungan namun dia mencoba untuk lebih rileks "Kayaknya kamu kecapean deh, aku bisa kan bantuin kamu?" tanya nya polos "Hehe ya ampun engga kok, aku engga kecapean ini udah kerjaan aku sehari hari" jawabnya merasa melayang Dara menatapi Baskara begitu dalam "Ekhem dia mulai perhatian gini sama aku hehe" gerutunya pelan "Serius Dara?" sahut Baskara Dara langsung mengangguk "Iya serius, bentar dulu yaa aku mau anterin ini ke ruangannya pak Zean" jelasnya tersenyum "Pak Zean?" sahut Baskara langsung merubah mimik mukanya "Iya dokter yang tadi itu lhoo" jawabnya Baskara merasa sedikit kesal namun mau tidak mau yaa itu pekerjaannya Dara, dia pun mengangguk "Iya iya, maaf yaa aku malah ganggu kamu" ujarnya tidak enak "Ehh engga ko santai aja! udah yaa byee nanti aku cek mba Raina lagi" senyum Dara lalu pergi dari hadapan Baskara Baskara pun tersenyum lega "Ucapannya Raina ada benarnya juga, dia langsung semangat gitu wajahnya saat liat aku.. aahh apa mungkin itu feel aku aja sih? kok cinta gini amat ternyata" gerutu Baskara dalam hatinya sembari menggaruk kepala belakangnya Sepanjang berjalan Dara tersenyum senyum membayangkan bagaimana barusan Baskara mengkhawatirkannya. "Ya tuhan.. bisa bisa aku diabetes kalau tiap hari gini" gerutunya pelan lalu berhenti Tuk.. tuk.. tuk.. "Saya Dara pak" ujar Dara dari luar tepatnya dia mengetuk pintu ruangan Dokter Zean "Masuk" teriak pak Zean menjawabnya dari dalam Dara pun membuka pintu nya dan masuk ke dalam, dia segera duduk di kursi depan meja dokter Zean. Sembari menaruh bingkisannya "Ini pak peralatannya sudah saya ambil semua" jelas Dara tersenyum formal "Hmm oke makasih Dara, kamu hari ini sangat membantu saya. Terima kasih yaa. Sepertinya dokter Anna sekarang udah nunggu kamu ke ruangannya" senyum dokter zean Dara lalu mengangguk "Iya pak, kalau gitu saya akan segera ke ruangannya dokter Anna yaa" jawabnya segera "Baik, terima kasih yaa Dara" ujar Dokter Zean lagi "Iya pak" jawab Dara lalu bangun dari duduknya dan kembali keluar Dokter Zean menatapi kepergiannya "Jelas sangat berbeda, pada saya atau pun pada Baskara. Tapi seperti yang dokter Anna katakan saya tetap harus berjuang" ujarnya dalam hati Dokter Zean bukan tipe orang yang gampang memilah milih apapun, dia selalu menilainya secara detail dan terperinci. Makanya dia masih lajang padahal aura ketampannya tidak tertandingi oleh siapa pun di rumah sakit ini. Tapi Dokter Zean selalu mendambakan Dara tanpa mengatakan perasaannya padanya. Seperti Baskara, Dokter Zean kurang berpengalaman dalam urusan percintaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN