Jadi, siapa yang akan mendapatkan hati Dara? ke duanya sama sama tampan dan di idamkan oleh semua wanita. Ke duanya juga sama sama baru mengenal percintaan dan Daralah cinta pertama mereka.
Dara segera masuk ke ruangan dokter Anna, rupanya di dalam sana masih ada perawat Ahmad, Arfan dan Linda yang masih belum selesai dengan pekerjaannya.
"Dara datang!" semangatnya tersenyum
"Hello Dara" sapa dokter Anna
Ahmad menatapi Dara curiga "Wihh auranya beda nih, pasti udah ketemu sama tentara itu yaa?" goda Ahmad
"Ahmad apaan sih" ketus Dara lalu duduk di samping Linda
Linda menatapi Ahmad ikut sinis "Iya cepetan gih beresin, kita semua jadi nambah kerjaannya gara gara kamu Mad" ujar Linda
"Tau nih si Ahmad, auranya gibah mulu" tambah Arfan
Dara membelalak "Ya ampun jadi kerjaannya numpuk gara gara Ahmad?" teriaknya dramatis
"Iya Dara" jawab Arfan dan Linda bersamaan
Dara pun membantu mereka menyelesaikan pekerjaannya hingga tak terasa pekerjaan yang mereka kerjakan sudah selesai. Dara menggeliat dan membuang nafasnya berat.
"Aahh akhirnya selesai" gerutu Dara
Linda mengangguk "Akhirnyaa" tambahnya
Dokter Anna tersenyum menatapi mereka, ia lalu bangun dari duduknya dan berjalan mendekati mereka. "Bagaimana ya tadi Dara sama dokter Zean? aku jadi penasaran, apa dokter Zean bisa lihat bagaimana Dara dan Tentara tampan itu. Semoga hal itu bisa membuat dokter Zean menjadi lebih percaya diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Dara atau seengganya dia harus mendekati Dara jika memang suka. Soal siapa yang akan di pilih Dara itu keputusannya Dara" gerutu dokter Anna dalam hatinya
"Eh kalian bisa langsung bubar dan kembali ke pekerjaan masing masing yaa" sahutnya
Semua mengangguk "Baik dok" jawab mereka bersamaan
◇◇◇◇
Suasana di rumah sakit lain yang lebih megah dengan kualitas berkelas atas menunjukkan sosok dari ibu Dara dan Jack. Dia tengah duduk di kursi tepat berada di ruangannya, dia sedang tidak baik baik saja. Sesuatu mengganggu pikirannya. Bayangan Jack saat kecil dan mengatakan hal yang paling Donita benci sekarang malah terus terbayang bayang olehnya. Pasalnya, apa yang Jack katakan seakan menjadi sebuah pertanda bahwa mungkin saja hal itu terjadi. Suaminya sudah jarang sekali pulang dan menghubunginya, bahkan rumor beredar bahwa selama ini tidak ada pekerjaan tambahan di bandara seperti apa yang suaminya katakan selama ini dan di jadikannya alasan.
Dia lalu meraih foto keluarga di mejanya yang sengaja dia taruh di sana. Perlahan senyumannya timbul namun lebih mengarah ke senyuman luka. Foto itu di ambil tepat saat Jack dan Dara masih kecil dan dimana saat itu suaminya selalu hangat padanya dan keluarga. Sebenarnya itu bukan foto terakhir dari album keluarga, masih banyak foto foto terbaru yang di ambil saat Jack dan Dara sudah dewasa. Namun Donita lebih menyukai foto itu, dimana dia merasa kehangatan masih ada di sana. Berbeda dengan foto foto lainnha yang hanya bermakna kesunyuan. Dia lalu mengelus pipi suaminya di foto itu, suaminya yang sedang berdiri tegap dengan wajah ceria dan senyuman merekah yang mengarah ke kamera. Jack dan Dara pun terlihat ceria apa lagi dengan Donita.
"Mass.. kamu kenapa mas? ada apa? kenapa kamu mendadak berubah, awalnya aku sudah memiliki pikiran pikiran buruk namun buat apa aku seperti itu. Aku sudah cukup lama menguatkan diri dan berusaha untuk mempercayai kamu selama ini, sejak Dara SD sampai sekarang dia sudah jadi perawat dan menuntaskan mimpinya selama ini. Kamu bukan ayah yang dulu aku kenal, tapi aku tetap menyayangi kamu bahkan di malam itu dimana Jack mengatakan kekhawatirannya, kekhawatiran yang selama ini aku rasakan juga. Aku mencoba melawannya dan kembali untuk mencoba mempercayai kamu saja, Tapi apa mungkin dugaan Jack saat ith memang benar mas? aku harus bagaimana? rasanya aku sudah tidak tahan. Tapi apa yang bisa ku katakan padamu? kamu pasti hanya berkata kalau aku tidak mempercayai kamu, lantas kenapa kamu berubah?" lirihnya pelan dengan d**a yang terasa begitu sesak
Air mata demi air mata terus berjatuhan membasahi pipinya dan jatuh ke meja. Dia sangat merindukan masa di mana Suaminya selalu hangat pada keluarganya. Dia tak berdaya namun dia juga tak punya upaya untuk menjelaskan semuanya yang jelas belum terbukti apa pun, lantas jika memang suaminya bermain wanita kenapa sampai saat ini belum ada pertanda dan bukti tentang hal itu. Inilah kenapa Donita menjadi stress dan bahkan minggu kemarin dia di diagnosa memiliki gejala kanker di kepalanya, dia sama sekali tidak memberitahu Jack mau pun Dara.
Perubahan suaminya belasan taun silam telah mengubah drastis keluarganya, Jack yang awalnya anak ceria dan selalu aktif tapi tetap selalu patuh pada ayahnya kini dia menjadi pribadi yang liar dan tidak pernah mendengarkan pendapat siapa pun termasuk ibunya. Dara, Dara kecil cukup pendiam namun dia suka malu malu saat menjelaskan keinginan dan pendapatnya, tapi sekarang dia nyaris berubah menjadi pendiam yang enggan mengeluarkan pendapat dirinya pada siapa pun.
"Aww, kepalaku!" ujar dia lalu memegangi kepalanya keras, urat di kepalanya mulai bermunculan pertanda sakitnya sudah memuncak.
Donita langsung membuka laci di mana di sana ada obat pereda nyeri, dia langsung meminumnya saat itu juga. Setelahnya dia membuang nafasnya dengan nafas nya yang terasa memburu.
"Aku harus kembali bekerja! aku harus tetap kuat dan baik baik saja di depan Jack mau pun Dara" lirihnya lalu bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya, sakitnya perlahan hilang mengingat ke dua anaknya membuat dia kembali kuat dan mempunyai alasan kenapa dia harus tetap hidup.
◇◇◇◇
Beberapa hari berlalu..
Baskara tengah mengemas pakaian adiknya ke dalam sebuah tas besar, rupanya jadwal Raina untuk bisa pulang lebih awal di konfirmasi oleh pihak rumah sakit karena keadaan Raina yang jauh lebih baik. Bahkan Raina sekarang sudah bisa sedikit berjalan dengan tanpa perban lagi di tubuhnya.
"Abang? abang seneng apa sedih sih? kok kayak engga semangat gitu beresin baju adek?" sahut Raina yang tengah duduk di tempat tidurnya
Baskara langsung menatapi Raina dan tersenyum "Ya seneng dong kamu ini malah nanya, setelah ini kan kita bisa tinggal di kontrakan dulu! abang 2 hari lagi mulai kerja lagi kamu engga usah khawatir karena sepertinya abang bisa pulang bolak balik tiap harinya ke kontrakan kita karena abang yang minta buat di tugaskan di daerah sini, semoga aja di konfirmasi" jelas Baskara lagi
"Heem iya bang maksud Raina tuh gini, emang abang engga sedih? kan sekarang jadi jauh sama mba Dara?" ujarnya sembari sedikit tersenyum padanya
Baskara memelototinya "Raina ih kamu kenapa sih jangan kenceng kenceng dong ngomongnya" kesalnya
"Ya abisnya sih, abang dari tadi wajahnya kek yang sedih mulu" ujar Raina serius
"Hmm sebenarnya sih abang emang agak sedih, agak melow gitu. Ya kan sekarang artinya kita jauh dari Dara, dia kan udah kayak bagian dari kehidupan kita sekarang. Emang kamu engga ngerasa gitu?" ujar Baskara lalu mendekati Raina
Raina pun mengangguk dan menatapi abangnya sendu "Iya sih bang, pasti lah Raina sedih juga. Apa lagi mba Dara yang udah menyelamatkan Raina waktu itu" ujarnya
"Iya makanya abang ngerasa kayaknya di kontrakan engga akan serame di sini sama Dara, iya ngga?" gerutu Baskara lagi
"Iya bang, eh eh tapi jujur deh ke adek! sebenarnya abang juga khawatirkan sama mba Dara? apa lagi soal dokter yang sempet lirik lirik mba dara dengan tatapan aneh itu lhoo. Iya engga? abang khawatir kan?" tanya Raina menatapi abangnya serius
Baskara tersenyum penuh luka lalu dia mengangguk "Iya" jawabnya
"Nah kan udah Raina duga! jadi gini aja deh, mending abang nyatain perasaan abang sekarang ke dia" cerocosnya
"Engga bisa gitu Raina! engga semudah itu" kesal Baskara
"Lhaa terus abang nunggu apa lagi dong? nunggu mba Dara jadian sama dokter itu gitu?" tanya nya lagi semakin kesal pada Baskara
Baskara segera menggelengkan kepalanya "Ya bukan gitu juga, udah ahh kamu diem aja" kesalnya
"Tapi bang" ujar Raina kekeuh lalu tiba tiba berhenti saat melihat ada yang datang pada mereka.
Raina dan Baskara langsung menatap ke arah sana, dimana Dara berdiri "Hai? kalian udah siap siap yaa?" ujar Dara dengan senyuman manis seperti biasanya
Baskara langsung mengangguk dan menggaruk kepala belakangnya "Eh iya nih Dara kayaknya kita udah siap buat pulang" jelas Baskara
"Iya mba Dara" angguk Raina manis dan turun dari tempat tidurnya
Dara tersenyum lega "Ayo biar aku anter kalian ke depan, aku udah telpon sopir pribadi aku kesini buat anterin kalian ke kontrakannya kalian. Ya biar mba Raina lebih nyaman juga" senyumnya
"Eh mba Dara serius? hmm ko jadi ngerepotin gini sih" gerutu Raina tidak enak
Baskara mengangguk "Iya Dara, kok kita jadi ngerepotin sih? udah engga papa Raina naik motor aku aja dia pasti kuat ko, iya gak dek" ujar Baskara lalu menatapi Raina dengan kode supaya adeknya mengiyakan
Dara lalu menatapi Raina yang justru terdiam saat di berikan kode abangnya itu "Tuh kan udah deh Baskara, biarin aja mba Raina naik mobil aku yaa. aku seneng banget kalau kalian mau" ujar Dara tersenyum
"Iya bang, mau aja yaa" goda Raina menatapi abangnya
Baskara memutar bola matanya kesal dengan tingkah adiknya, dia lalu mengangguk dan membuang nafasnya. "Hmm iya iya deh, kamu naik mobil abang ikutin di belakang yaa. Masa iya motor abang tinggalin disini" gerutu Baskara serius padanya
"Heem oke bang" jawab Raina segera
"Eh kebetulan kan aku sekarang lagi istirahat nih, aku anterin aja biar mba Raina engga sendirian di mobil yuk" ajaknya
Raina tersenyum ceria lalu segera meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat "Yesss! ayoo mba Dara" senyumnya bersemangat
"Ayoo lets goo" semangat Dara
Dara merasa hidup sekarang! berkat kedatangan dua orang baru di hidupnya ini mampu membuat kehidupan kelan Dara berubah drastis. "Entahlah, aku sekarang bersyukur banget bisa kenal sama mereka. Seenggaknya meskipun Baskara tidak aku miliki dekat dengannya seperti ini pun sudah cukup bagiku, dengan Mba Raina juga. Mereka orang orang baik yang mampu mengalahkan hubungan aliran darah. Hmm aku bersyukur banget pokonya" gerutu Dara dalam hatinya
Mereka pun keluar dari rumah sakit bersama dengan Dara, Mereka lalu memasuk masukan barang ke dalam mobil yang sudah Dara arahkan. Dara, Raina dan Baskara terlihat sangat bahagia. Di lantai atas tepat dokter Zean menatapi mereka dengan tatapan datar.
"Sebahagia itunya Dara bersama mereka, saya engga akan memaksakan siapa pun untuk bahagia dengan siapa. Hanya saja saya tetap harus berjuang dulu sebelum Baskara benar benar memiliki Dara sepenuhnya" gerutu Dokter Zean sembari memegangi minuman di tangannya tatapannya masih terkunci pada Dara yang terlihat sangat ceria
Mereka pun pergi dari area rumah sakit dan menuju ke kontrakan yang sudah Baskara bayar. Tanpa mereka sadari sebuah mobil hitam mengikuti mereka tepat yang berada di belakang motor Baskara. Siapa sangka? dia adalah Jack kakaknya Dara.
"Seberapa cintanya adek gue yang bodoh itu menyukai pria tentara?" ujar Jack yang duduk di kursi belakang
"Hah lagian kenapa harus sama Baskara sih? engga cari aman aja, jadi deh suatu saat lo akan menangis lihat keadaan menyedihkan Baskara" gerutunya lagi pelan
Mereka lalu memasuki area perumahan, di mana si sopir Jack langsung mengatakan keresahannya. "Pak di sini terlalu berbahaya dan terbuka, sebaiknya kita mundur pak" ujar dia khawatir
"Hah sialan! oke kita mundur! padahal gue mau tau tepatnya di mana mereka tinggal" jelas Jack membuang nafasnya kesal
"Soal itu yang pasti dia berada di area perumahan ini boss, kita bisa suruh beberapa bawahan kita buat intei mereka" ujar si sopir