Jack hanya mengangguk angguk dan memutar bola matanya kesal "Ya lo diem aja gak usah banyak bacot ke gue! gue juga ngerti tanpa harus lo perjelas!" teriak Jack
"Hmm maaf bos" ujar si sopir
Baskara, Raina dan Dara sudah sampai di depan kontrakan mereka langsung membereskan semua barang bawaannya ke dalam kontrakan. Dara juga membantu membereskan pakaian pakaian milik Raina.
"Eh Dara, kamu engga usah repot repot! Biar kita aja yang beresin semuanya. Kamu kan belum istirahat ini kan jadwal nya kamu istirahat" gerutu Baskara menatapi Dara serius
Dara tersenyum "Hmm udah udah gak papa aku pengennya bantuin kalian aja! lagian waktu istirahat masih panjang ko" jawabnya segera
Raina pun tersenyum dan mengangguk "Tapi kasihan kan mba Dara harusnya istirahat malah bantuin kita" gerutu Raina tidak enak
"Udah engga papa aku malah seneng ko mba Raina kalau bantuin kalian" senyum Dara lagi
Baskara hanya tersenyum menatapi Dara yang sangat bersemangat membantu mereka. Kamar di kontrakan itu ada dua dengan ruangan kontrakan yang cukup besar untuk di tinggali berdua. Baskara diam diam memerhatikan wajah Dara di beberapa kesempatan. Pekerjaan berat yang Baskara kerjakan rupanya sudah beres lebih awal, dia lalu berinisiatif ke dapur dan memasak beberapa bahan makanan yang sebelumnya sempat dia beli dan di taruh ke kulkas. Dia sangat bersemangat! Hingga tak terasa semuanya yang Dara dan Raina kerjakan sudah beres dan tersusun rapi.
"Aahh akhirnya selesai" gerutu Dara lalu menggeliatkan badannya
Raina juga ikut ikutan meniru gaya Dara "Hmm akhirnyaa" tambah Raina yang juga menggeliat
"Yap! kalian sekarang makan yaa makanannya udah mateng nih" gerutu Baskara yang tiba tiba datang dari arah dapur dan membawa senampan makanan berupa ikan yang di masak, sambal dan beberapa lalapnya.
Raina dan Dara membelalak "Woww? ini buatan kamu?" gerutu Dara terpukau
"Abang? abang kapan masaknya? kok engga keliatan sih? kok kita engga sadar bang?" gerutu Raina sangat tidak percaya
Baskara tersenyum nakal seakan membanggakan dirinya sendiri "Wihh saking gesitnya abang sampai engga keliatan sama kamu dek? iya Dara ini semua buatan aku" jawab Baskara segera
"Ta- tapi kok kamu bisa masak sih? padahal kamu cowok lhoo, aku aja kesulitan kalau masak soalnya hehe gak bisa masak aku" gerutu Dara tersenyum malu
Raina memutar bola matanya sembari tersenyum "Ya ampun mba Dara, abang ini udah jago masak sejak SMP lhoo. Karena waktu itu mendiang bapak kami sedang di masa masa sulit saat hanya menjadi petani, beliau pun mau coba coba jadi nelayan katanya. Dan setiap dia pulang dia pasti aja bawa ikan, karena saat itu ibu sudah sakit sakitan dan Raina yang selalu merawat ibu akhirnya abang memutuskan untuk masak sendiri dan sangat mengejutkan! hasilnya sangat enak dan kami semua suka, abang mendapatkan pujian dari kami semua dan hal itu yang membuat abang sangat bersemangat untuk masak lagi dan lagi hingga kami memiliki kesibukan masing masing" ujar Raina menatapi abangnya yang bangga
Baksara tersenyum dan membuang wajahnya, wajahnya kini memerah merasa malu atas pujian dari adiknya. "Aduh dek abang malu hmm" gerutu Baskara pelan
Dara semakin terpukau, perasaan sukanya pada Baskara seakan bertambah berkali kali lipat. Dia lalu menatapi Baskara kagum "Aku engga salah sih suka sama cowok ini, ternyata dia benar benar mengagumkan hmm dia orang yang pertama aku suka dan dia sangat mengagumkan ku" gerutu nya dalam hatinya
"Hmm mulai tuh natapin abangnya kagum gitu, mba Dara emang suka banget sama abang" gerutu Raina dalam hatinya saat melihat sendiri bagaimana cara Dara menatapi Baskara
"Kamu serius?" tanya Dara pada Raina tidak percaya masih dengan senyumannya
Raina langsung mengangguk angguk "Iya iya aku serius mba Dara" jawabnya cepat dan penug semangat
"Aku jadi iri deh hmm, aku aja sebagai cewek malah engga bisa masak. Tapi Baskara hmm jago banget yaa, masakannya juga keliatannya enak banget tuh" gerutu Dara kembali tersenyum manis dan menatapi nampan yang kini di simpan di lantai tepat di atas karpet bulu
Karena di kontrakan itu tidak ada kursi dan hanya beralas karpet bulu berwarna abu. Mereka juga duduk di sana melingkar. Baskara menatapi Dara "Ya udah ayoo di makan! ayoo kita makan" ajaknya
"Iya mba Dara, ayoo kita makan" semangat Raina
Dara pun segera mengangguk dan tersenyum manis "Okee makasih banget yaa kalian ajakin aku makan bareng" gerutu Dara
"Sama sama" jawab Raina
"Anggap aja seperti rumah sendiri, ehh kontrakan sendiri maksudnya" tambah Baskara
Mereka pun tersenyum bersama sembari mulai mencicipi masakan Baskara yang ternyata benar benar lezat dan membuat mereka nambah terus. Setelah selesai, Dara berpamitan pada mereka dan kembali ke rumah sakit untuk bertugas karena waktu istirahatnya pun sudah habis.
◇◇◇◇
Dara kembali ke rumah sakit di antar bersama sopir pribadinya lagi, saat dia sampai dia langsung di sambut dokter Zean di pintu rumah sakit dengan senyuman manis yang mengarah padanya. Dara terkejut saat melihat dokter Zean yang senyum padanya, awalnya dia tidak yakin kalau dokter Zean tersenyum padanya. Dara lalu refleks menatap ke sana kemari melihat orang di sekeliling yang mungkin saja sedang beradu kontak mata dengannya. Namun, nihil tidak ada. Semuanya tengah sibuk dengan aktififasnya masing masing. Dara kembali menatapi dokter Zean dengan tatapan polos lalu tak lama dia pun tersenyum kaku menatapnya.
"Kok dia tiba tiba senyum gitu ke aku? ehh emang ke aku kan? karena engga ada yang dia liat lagi" gerutu Dara pelan
"Ya tuhan, dia kok lucu banget sih. Jelas jelas saya senyum ke dia" ujar Dokter Zean
Dia pun melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Dara masih dengan senyuman di wajahnya. "Sekarang peluang saya sangat tinggi, Baskara dan adiknya sudah pergi dari rumah sakit. Artinya Dara akan menghabiskan banyak waktu tanpa mereka lagi di sini, ini benar benar peluang besar untuk saya. Rasa percaya diri yang tinggi sangat di perlukan saat mendekati seseorang dan itu akan saya lakukan mulai sekarang! saya akan berusaha dengan keras untuk membuat Dara nyaman bersama saya dan jatuh cinta pada saya" gerutu Dokter Zean dalam hatinya sembari terus berjalan mendekatinya
"Hai Dara?" sapa dokter Zean saat berhadapan langsung dengan Dara dan sangat dekat jaraknya
Dara terlihat masih canggung lalu tersenyum kaku "Hmm halo dok?" jawabnya
"Lhaa kok engga biasanya dokter Zean begini, ada apa yaa? ke samber apa coba?" gerutu Dara dalam hatinya bingung
"Halo dok? lahh kok kaya nama aplikasi ya?" ujar dokter Zean lalu tersenyum lucu menatapinya
Dara terlihat semakin canggung "Eh hmm mm maaf dok" jawabnya segera
"Engga usah tegang sama saya, santai aja! saya cuma mau mulai sekarang saya lebih dekat dan hangat dengan semua perawat. Karena kan saya dikenal sebagai dokter kulkas? haha, dasar mereka ada ada aja. Saya cuma mau hubungan kerja kita di rumah sakit ini semakin terjalin erat" ujar dokter Zean tiba tiba
Dara menganga "Hahh? ehh iya iya, gitu ya dok. Hm bagus dong dok" jawab Dara kembali tersenyum kaku
"Iya gitu rencananya sih" ujar dokter Zean lagi
Tanpa mereka sadari dokter Anna memperhatikan ke duanya di arah yang cukup jauh, dia tersenyum ketika menatapi keberanian dokter Zean setelah dia nasehati. "Bagus, sekarang dokter Zean ada kemajuan. Seengganya dia engga akan menyesal kalau nanti harus kehilangan sosok Dara yang selama ini dia sukai diam diam karena di miliki cowok lain" gerutu dia lalu menyeruput minuman mangga yang baru dia beli
"Emang iya sih dokter Zean di sini adalah dokter yang terlalu serius, bagus sih kalau dia mau berubah dan menjadi lebih baik lagi. Tapi ko aku malah kayak kebingungan yaa, ko engga seneng gitu harusnya seneng kan?" gerutu Dara dalam hatinya
◇◇◇◇
Satu hari tepat sebelum keberangkatan Baskara ke pekerjaannya. Baskara dan Raina sudah beberapa hari di lingkungan baru itu dan mereka sangat di sambut hangat oleh masyarakat. Karena keramahan dan attitude yang baik Raina dan Baskara membuat masyarakat justru senang dan nyaman dengan mereka.
"Permisi.. Neng Raina" sahut seseorang dari luar yang membawakan sepiring kue hangat yang baru saja dia buat
Pintu kontrakan lalu terbuka, Raina yang membukanya karena Baskara yang sedang berada di kamar mandi. "Eh ibu Jihan? ada apa bu?" ujar Raina ramah
Raina sudah semakin membaik, kondisinya sudah mulai fit. Dia juga sudah bisa mengerjakan beberapa pekerjaan ringan di rumahnya seperti menyapu dan mengepel atau lain lainnya. Hanya ada beberapa bagian luka di wajahnya yang tersisa dan agak sakit, namun 89 persen dia sudah merasakan dirinya sudah sembuh.
"Ini nih Neng Raina, ibu barusan bikin kue sama mpok Hani banyak banget. Dan ini buat neng Raina sama aa Baskara yaa, di cicipi yaa kue dari ibunya. Semoga suka hehe" senyum bu Jihan
"Eh ya ampun, makasih lho bu. Ih ko jadi ngerepotin sih Raina sama abang" gerutu Raina
"Engga engga ngerepotin, justru semua warga di sini seneng karena kehadiran neng Raina sama aa Baskara! anak anak remaja yang baik dan sopan sekali sama orang tua" ujar dia lagi sembari tersenyum
Raina tersenyum dan menatapi bu Jihan sendu "Ya tuhan.. makasih ya ibu, Raina seneng kalau masyarakat di sini juga seneng karena kehadiran kami" jawab Raina
"Iya neng Raina, eh bagaimana sekarang kulitnya masih agak sakit? atau udah mendingan?" tanya ibu itu menatapi Raina khawatir
Raina menunjuk luka di lehernya yang masih menghitam akibat malam itu "Engga ada yang sakit kecuali ini sih bu, badan Raina udah enakan dan juga udah enak di lihat lagi sekarang hehe" jawab Raina
"Syukurlah, semoga lukanya yang itu cepet sembuh juga ya neng! dan yaa kalau ada apa apa eneng langsung ke ibu aja yaa kan kita tetanggan hehe. Kan besok abang udah mulai nugas yaa neng?" tanya bu Jihan
Raina segera mengangguk "Iya bu besok abang udah nugas lagi, Raina besok main deh ke rumah ibu yaa" senyum Raina
"Iya iya bagus! kamu harus main ke rumah ibu yaa nak, semoga segalanya lancar yaa" tambah ibu Jihan
"Aamin, eh ibu mau masuk dulu? ayoo" ajak Raina melebarkan pintunya
Bu Jihan langsung menggeleng "Eh engga engga neng, si adek Rara kalau ibu tinggalin pasti ngamuk nanti hehe. Udah yaa ibu pulang dulu, semoga kuenya kamu suka dan aa Baskara juga suka yaa" ujarnya lalu pergi
"Ehh iya bu makasih banyak yaa" jawab Raina segera
"Iya sama sama neng" jawab ibu Jihan sembari pergi
Raina tersenyum menatapi kepergian bu Jihan, dia lalu kembali masuk ke kontrakannya dan membawa kue itu. Raina lalu duduk di lantai berbulu dan menaruh kuenya di sana. "Wihh enak nih mana masih anget" ujarnya menatapi kue coklat itu
Raina langsung mencicipinya dan di gigitan pertama dia sangat menyukai rasanya "Hmm enak banget aslii ih" gerutunya puas
"Makan apaan dek?" tanya Baskara yang baru saja selesai mandi dan menghampiri adiknya
"Ini nih bang, bu Jihan ngirim ini katanya buat kita. Dia seneng banget karena kehadiran kita katanya" ujar Raina tersenyum
Baskara pun duduk dan menghadap ke kue itu "Wih serius kamu dek? syukurlah"
"Iya bang, di coba deh kuenya enak bangett" gerutu Raina
Baskara mengangguk angguk "Iya iya abang coba yaa"
Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil di jalan tepat di hadapan kontrakan mereka. Sejak tadi mobil itu berada jauh dari kontrakan Baskara dan memerhatikan Raina yang tadi berbicara dengan bu Jihan. Orang di dalam mobil tidak membuka kaca mobilnya yang gelap supaya tidak menimbulkan identitas yang terbongkar oleh siapa pun yang melihat. Jack berada di dalam sana.
"Hahh gue udah engga sabar untuk menunggu hari esok, kehancuran lo Baskara tunggu saja haha. Salah siapa berani lapor ke kantor polisi dan mau membongkar semuanya? lo mau membongkar semuanya artinya kehidupan lo yang akan hancur! lo pikir lo siapa hah? presiden?" gerutu Jack tersenyum jahat