"Ruang lingkup lo cukup di sini aja Baskara, toh orang orang sini juga menerima kalian dengan baik. untuk wilayah kampung lo semuanya akan gue miliki dan kuasai, untuk membuka bar King Jack yang akan menggemparkan seluruh dunia. Posisi kampung lo sangat strategis untuk membuka Bar, karena para turis pun berkeliaran dekat pantai dan akan menghabiskan banyak waktu di bar saat sudah lelah. Jadi jangan egois, awas nanti kalau lo menolak pembelian wilayahnya. Ambil saja duit dari gue dan diam" gerutu Jack
Jack memakai kacamatanya hitamnya dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. "Gue sudah engga sabar untuk menguasai Bar King Jack" gerutunya sembari mengendarai
Di dalam kontrakan Baskara dan Raina masih mencicipi kue yang di beri bu Jihan, mereka jelas mendengar suara mobil dari luar yang tiba tiba terdengar. Raina dan Baskara lalu saling bertatapan "Mobil siapa ya?" sahut Raina bingung
"Hmm abang engga tau dek! kok tiba tiba ada suara mobil dari luar sih? padahal tadi tenang tenang aja, suaranya jelas dari depan rumah kontrakan kita lagi. Siapa ya?" sahut Baskara mulai berpikir keras dan sedikit tidak enak hati
Raina memutar bola matanya dan enggan berpikir keras tentang siapa itu "Ahh udah udah bang, jangan di pikirin! mungkin dia tadi kebetulan berhenti di depan kontrakan kita dan kita engga sadar! Gitu kali" gerutu Raina
"Hmm iya kali yaa" angguk Baskara dengan perasaan yang masih tidak begitu tenang
Raina selesai memakan kue di suapan terakhirnya, dia lalu bangun "Ahh Raina mau mandi dulu. Bang abis Raina mandi anter Raina ke kantor yaa, mau buat keterangan kalau lusa Raina udah bisa kerja lagi" ujarnya menatapi abangnya dengan senyuman manis
"Hmm iya iya" jawab Baskara cepat
"Tapi kamu yakin nih udah baikan kan? udah kuat lagi emangnya? abang engga mau yaa kalau sampai kamu kelelahan dan sakit de" ujar Baskara memastikan
Raina langsung mengangguk dengan senyuman yang semangat "Raina udah siap bang! udah kuat udah sehat! Raina engga akan terkalahkan kalau udah sehat gini. Boss aku juga udah nungguin aku ke sana lagi katanya, kerjaan engga kelar tanpa aku hehe" jawab nya membanggakan diri sendiri
"Wihh hebat deh adek abang ! paling hebat deh iya iya" angguk Baskara tersenyum padanya
Baskara begitu dalam menatapi Raina "Dia masih sangat ceria dengan keadaannya sekarang, apa dia sudah lupa kalau sekarang keadaannya berbeda. Tidak ada lagi Evan, kekasihnya" gerutu Baskara dalam hatinya di balik senyuman nya itu
Raina masih sangat bersemangat "Yesss gak sabar pengen ke kantor lagi, hmm tapi sekarang..." ujarnya teringat akan sesuatu
"Evan.. engga ada.. Evan" lirih nya dengan menunduk
Baskara membuang nafasnya berat lalu berdiri dan memeluk Raina erat, ia mengelus punggung Raina lembut "Udah udah, kata abang jangan sedih lagi dek. Yang ada kalau kamu sedih gini Evan engga tenang di sana, dan kamu juga hanya akan terlarut dalam kesedihan terus menerus! ayo kamu lupain semuanya, biarkan Evan tenang yaa. Kita tetap harus hidup dan bersemangat. Yaa" ujar Baskara
Raina mengangguk dengan senyuman yang penuh luka mengingat hal hal manis yang selalu Evan lakukan padanya. "Aku kuat bang, aku engga akan sedih lagi. Aku engga mau Evan engga tenang di sana. aku cuma mau bilang kalau aku rindu Evan. Aku rindu dia bang" lirihnya dengan meneteskan air matanya
"Stttt, keluarkan semuanya! jangan di tahan! tapi jangan terlalu berlarut dalam kesedihan dek. Abang ada di sinu, abang akan jagain kamu kita harus saling menguatkan" lirih Baskara lagi masih mengelus elus punggung Raina
"Ya bang, iya" lirih Raina tidak sanggup lagi berkata kata, dadanya terasa begitu sesak mengingat hal hal yang semakin terbayang saat bersama Evan kekasihnya
◇◇◇◇
Jauh sebelum kebakaran itu menerpa dan menghancurkan segalanya. Hari hari di kampung itu selalu berjalan bagaimana semestinya, pagi yang hangat dan menyinari tanaman dan rumah mereka.
Waktu menunjukkan pukul 06.20 Raina sudah mandi dan mengganti pakaiannya mengenakan setelan kerjanya, tepat berwarna abu dia sangat cantik. Raina juga sudah mengenakan make up tipis di wajahnya yang memang sudah cantik natural meskipun tanpa make up. Dia lalu meraih tas kerjanya dan segera keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah dan meminta ijin pada ke dua orang tuanya untuk berangkat kerja.
"Aduh putri ibu udah cantik banget ini!" goda si ibu yang sedang menonton acara berita bersama dengan bapaknya di sampingnya
Bapak Raina juga menatap ke arah putrinya yang sudah cantik dan rapi itu "Udah mau berangkat nih?" tanya beliau
"Iya bu pak! Raina mau berangkat yaa, sekalian mau nungguin jemputan Evan di depan yaa" ujar Raina sembari memberi salam pada ke duanya dengan sopan
Ke duanya mengangguk "Iya iya hati hati di jalan yaa sayang" tambah ibunya
"Evan engga masuk dulu ke rumah nih?" tanya bapaknya
"Engga pak, kami hari ini padat banget jadwalnya makanya harus pagi pagi" jelas Raina
Bapak pun mengangguk "Iya kalau gitu hati hati yaa, semangat kerjanya!" senyum beliau sangat tulus
"Semangat buat bapak juga yang mau panen! sama ibu" ujar Raina menyemangati ke duanya
Ibu dan Bapak pun memeluk Raina erat, di samping mereka tepat ada foto album di mana mereka berempat berfoto bersama. ibu, bapak, Raina dan Baskara yang mengenakan seragam tentara.
"Oke Raina berangkat yaa" ujar Raina melepaskan pelukan ke duanya
Ke duanya mengangguk, sementara ibu sembari meraih bingkisan berisi bekal untuk Raina kerja di kantor. "Eh hampir aja lupa, nih bekalnya nak! di makan yaa" senyum ibu
"Ehh iya bu" Raina meraihnya
Raina pun tersenyum pada ke duanya dan pergi sembari melambaikan tangannya. Dia segera bergegas keluar namun dia belum melihat mobil evan terparkir di sana. Raina berdecak kesal dan memanyunkan bibirnya, dia lalu menatapi arloji silver yang di kenakan di lengan kirinya.
"Ini udah siang lho, kenapa Evan belum datang sih" gerutu Raina masih menatapi jam tangannya
Saat dia kembali menatapi ke jalanan mobil Evan pun mulai terlihat, dia terlihat kebut kebutan ke arah rumah Raina takut kena marah Raina. Raina tersenyum saat kedatangan Evan yang rusuh. Mobil Evan pun berhenti tepat di hadapan Raina. Evam segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Raina. Raina masih tersenyum malu dengan tingkah evan yang jelas terlihat sangat takut kena marah Raina.
"Maaf yaa sayang telat" ujarnya saat Raina masuk ke dalam mobil
Setelah Raina masuk dia pun langsung menutup pintu mobilnya dan ikut masuk duduk di kursi sopir. Mereka pun segera bergegas ke kantor yang jaraknya cukup jauh dan bisa di tempuh selama 15 menit di perjalanan.
"Kamu barusan kok kebut kebutan sih?" tanya Raina menatapi evan dengan tersenyum manis
Evan menatapi Raina dengan senyum yang tak kalah manis "aku takut di marahin kamu sayang, karena aku agak telat hehe makanya deh aku kebut kebutan" jawab Evan segera sembari mengelus rambut Raina lembut
"Terus kenapa kamu telat?" tanya Raina masih dengan senyuman di wajahnya
"Semalam kita kan video call, kamu tidur duluan kalau gak salah malam tuh jam 9 deh kamu tidur. Aku engga bisa tidur dan sampe gadang sampe jam 1" jelasnya
Raina mengerutkan keningnya "Hah? kok malah gadang sih, kan akunya tidur! kamu main hp yaa? ihh kan udah aku bilangin jangan main hape sampe larut malam sayang nanti kamu sakit" ujar Raina kesal padanya
Evan segera menggelengkan kepalanya "Aku engga main hape sayang, aku liatin kamu tidur. Kamu cantik dan lucu banget tau aku engga bisa ngelewatin itu dan tidur gitu ajaa. Sampe aku udah bener bener gak kuat dan aku lihat Astaga! udah jam 1 nih haha" jelas Evan sembari tertawa dan mencubiti pipi Raina gemas
"Ehh kok?" ujar Raina semakin tersenyum manis dengan pipi yang memerah
"Hape aku aja sampe panas banget tau haha" tambah Evan
Raina mengangguk angguk sembari memutar bola matanya "Pantesan batre hape aku juga habis! kamu engga matiin video callnya sampe jam 1 hmm pantes aja" kesalnya dengan tersenyum tidak percaya
"Abisnya kamu cantik sih, lucu banget aku sampe engga bisa tidur! ampe ke bawa mimpi" ujar Evan menggodanya
Raina membelalak "Apa? mimpi apa kamu! heh jangan macam macam lhoo Evan" gerutu Raina sembari memanyunkan bibirnya kesal sembari memukuli Evan pelan
"Ahahaa aduh aduh sayang aku cuma mimpi kita liburan doang! kamu kenapa sih. Kamu kali yang mikir aneh aneh" ujar Evan tertawa
Raina pun menghentikan pukulannya dan hanya tersenyum malu. dia menatap ke arah lain tepat ke jalanan di luar. Evan tersenyum menatapinya.
◇◇◇◇
"Kenangan yang sangat sulit untuk aku lupain, aku engga bisa apa apa selain mendoakan yang terbaik buat Evan dari sini" ujar Raina ketika kenangan itu sudah memudar pergi dari pikirannya
Baskara pun melepaskan pelukannya dari Raina, Dia mengangguk dan menatapi adiknya bangga "Kamu kuat, kamu tau apa yang seharusnya kamu lakuin. sekarang kamu mandi dan ayo kita keluar, abang sekalian mau ke kantor polisi juga mau tanyain kasusnya apa sudah bisa di proses" ujarnya
Raina segera mengangguk "Hmm oke bang, tunggu yaa adek mandi dan siap siap dulu" ujar Raina lalu pergi ke kamar mandi
"Hmm oke" jawab Baskara
◇◇◇◇
"Dara, hati hati!" teriak dokter Zean dari belakang tubuh Dara dan langsung memegangi tangan Dara saat Dara hampir saja akan terjatuh karena melewati lantai yang licin
Hembusan nafas Dara berderu cepat, dia sangat terkejut karena hampir saja terjatuh. "Ya ampun hahhh" ujarnya sembari membuang nafas berat
"Kamu engga papa?" tanya dokter Zean masih memegangi tangan Dara dan menatapi nya dengan jarak yang cukup dekat
Dara baru sadar ada orang yang memeganginya dan menyelamatkannya, dia langsung menatapi dokter Zean dengan tatapan terkejut. "Eh dokter Zean? hmm iya iya aku engga papa. Makasih ya" ujar Dara lalu melepaskan tangan nya dari Zean
"Dia sampai melepaskan saya gitu aja" gerutu Zean dalam hatinya
Dokter Zean mengangguk dan tersenyum manis "Iya sama sama, syukurlah kamu engga papa! hati hati ya lain kali, kamu jangan fokus ke ponsel kalau lagi jalan. Takutnya hal ini terjadi lagi nanti" jelas Zean
"Iya dok, makasih yaa. Saya akan lebih fokus" jawab Dara dengan tersenyum manis
"Hm baiklah saya pergi dulu yaa" ujar Dokter Zean lalu pergi dari hadapan Dara setelah menerima anggukan darinya
Dara pun menatapi kepergian dokter Zean "Hmm kenapa sih akhir akhir ini kami menjadi dekat? mana dia bantuin aku lagi, hmm kalau engga mungkin aku udah kepeleset sampe hilang ingatan dan lupa sama abang aku siapa haha" gerutu Dara yang malah tersenyum senyum
Dara pun kembali menatap ponselnya sejak tadi dia menatapi kontak bertuliskan nama Tentara Baskara. Dara memanyunkan bibirnya "Hmm gara gara liatin kontaknya dia mulu aku jadi jatuh, padahal baru aja mereka pergi dari rumah sakit aku udah ngerasa kehilangan sebagian kehidupan aku aja" gerutu Dara pelan sembari memutar bola matanya sebal
Dia pun mengubah arah jalannya ke lantai yang lebih kering, sembari menyimpan kembali ponselnya di saku dan menepuk nepuk keningnya merasa bodoh. "Ya tuhan, sejak kapan aku lebay gini! hmm dasar" gerutu dia sembari pergi dari sana
◇◇◇◇
Sementara itu di ruangan Dokter Zean dia masih terbayang dengan kejadian yang baru saja terjadi pada Dara dan dirinya. Sebenarnya sejak tadi Dokter Zean mengikuti Dara dari belakang dengan jarak yang cukup jauh, Dara yang terus menerus menatapi kontak bernama Baskara membuatnya kesal.
"Hmm sejak tadi, dia terus menatapi nama Baskara. Apa dia secandu itu sama tentara itu? sampai tidak melihat langkah yang akan dia pijak dan sampai hampir saja terjatuh?. Hah untung saja dia tidak terjatuh" gerutunya pelan
Dokter Zean merebahkan dirinya di kursi dan menatap kosong membayangkan bagaimana cantiknta tadi wajah Dara yang terlihat sangat jelas di depannya.
"Dia sangat cantik" ujarnya tersenyum senyum membayangkan Dara tersenyum padanya juga