“Kok malah berdiri, ayo masuk!” Pak Arya tersenyum tipis, lalu pergi duluan. Aku baru mau masuk setelah orang itu tidak terlihat lagi dalam pandanganku. “Kok bisa kebetulan banget, dia yang bukain pintu ya.” Aku bergumam pelan sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam. Rupanya Nadia dan Mas Angga sudah baikan, mereka terlihat sudah duduk di kursi. Dengan tangan Nadia yang memeluk suaminya erat, apa maksudnya coba? Apa dia ingin memberikan pernyataan tegas bahwa Mas Angga adalah miliknya? Ah ya silahkan saja, toh aku sudah ikhlas dan sudah tidak ada minat sama sekali sama suaminya itu. Toh di dunia ini masih sangat banyak pria baik dan setia! “Ra ko kamu lama masuknya kemana dulu?” Tanya ibuku penuh keheranan. Kulihat Pak Arya mengulum senyum semakin membuatku malu saja. “Emm nggak kema

