bc

MISTERI RUMAH KM. 17

book_age12+
767
IKUTI
2.8K
BACA
others
goodgirl
mystery
scary
city
realistic earth
horror
chubby
wife
like
intro-logo
Uraian

Yuna dan Fael memutuskan untuk membeli rumah di area perkotaan, setelah sekian lama tinggal di kontrakan sederhana. Rumah yang mereka beli sangatlah mewah. Halaman luas, taman yang asri, juga terdapat lahan kecil di halaman belakang dan banyak ditumbuhi berbagai macam sayuran.

Namun, sayang. Bayangan akan kehidupan yang nyaman justru sirna setelah menempati rumah tersebut. Semua berganti menjadi ketakutan. Teror demi terus selalu saja menghantui Yuna baik siang ataupun malam.

Hingga suatu ketika, ditemukan sebuah benda mengerikan yang terpendam di halaman depan.

Benda apakah itu?

Lalu, ada misteri apa di balik teror yang selalu terjadi di rumah tersebut?

chap-preview
Pratinjau gratis
YUNA DAN FAEL MENCARI RUMAH YANG AKAN DIJUAL SEKITAR KOTA
"Nanti siang kita jadi cari rumah kan, Mas?" tanyaku pada Mas Fael usai sarapan pagi. "Jadi, Dik." Mas Fael menghisap rokok, lalu menghembuskan ke atas. "Cari daerah kota Sukamaju saja. Kata Pak Joni di sana ada rumah yang mau dijual. Di jalan Utomo, kilometer tujuh belas." Aku yang masih merapikan meja makan hanya mengangguk saja, pertanda setuju. Iya, selama ini kami masih menempati rumah kontrakan tak jauh dari tempat kerja Mas Fael. Harganya lumayan murah, hingga sedikit demi sedikit kami bisa menabung. Tak mungkin juga akan selamanya mengontrak meskipun harga kontrakan terbilang sangat murah, karena mengingat kami juga sudah mempunyai keturunan dan kadang bingung jika bapak, ibu, atau mertua bertandang ke rumah. Tak ada tempat untuk tidur jika mereka menginap. Alhamdulillah, sekarang uang tabungan kami sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah beserta isinya. Kami rela bertahun-tahun hidup serba sederhana dan apa adanya demi sebuah istana. "Mas pernah lihat rumahnya?" Aku menoleh ke arah Mas Fael. "Ya belum, lah. Tapi kata Pak Joni, rumahnya ada di pinggir jalan raya. Sebelah kantor pajak, cat rumahnya warna hijau muda." "Ooh. Ya sudah kalau gitu, nanti coba kita cari." "Adel di mana?" tanya Mas Fael, lalu beranjak bangun dari duduk. Mas Fael berjalan menuju teras depan untuk menghabiskan sisa rokok yang masih di ujung jarinya. Adel anak kami satu-satunya. Umurnya baru tiga tahun. Banyak sekali kisah selama aku menunggu Adel, ada sekitar lima tahun aku menunggunya. Berbagai cara agar kami–aku dan Mas Fael–segera diberi keturunan. Aku sempat putus asa karenanya, tapi tepat di tahun kelima, Allah mempercayakan kepadaku untuk diberi momongan. Seorang bayi yang sangat tampan, seperti Mas Fael. Semoga semua yang ada pada diri Mas Fael pun akan ada juga pada Adel. Penyabar juga tanggung jawab dengan keluarga. "Itu di depan, lagi main sendiri," jawabku sembari mulai mencuci perkakas yang kotor di lantai kamar mandi. Rumah kontrakan kami memang tak ada washtafl. Jadi aku selalu mencuci perkakas dapur di lantai kamar mandi. Ruangan pun hanya ada ruang tamu dan kamar, masing-masing berukuran dua kali dua meter. Dapur berukuran satu kali satu meter, kamar mandi berukuran satu kali setengah meter. Tak masalah buatku, yang penting semua serba bersih meski rumah sempit. Tepat pukul sembilan, kami berangkat untuk mencari rumah yang Mas Fael ceritakan, setelah sebelumnya kami persiapkan terlebih dulu bekal untuk perjalanan nanti. Seperti mantol, air minum, dan jajan buat Adel. Kami berangkat menggunakan motor. Sekitar tiga puluh menit kemudian, kami mulai melewati beberapa bangunan milik pemerintah di kota Sukamaju. Mas Fael mulai melajukan motor dengan perlahan, sembari mencari rumah yang dimaksud. "Mungkin itu, Mas," kataku seraya menunjukkan jari ke arah rumah yang tak jauh dari posisi kami. Mas Fael pun menoleh ke arah yang kumaksud, lalu berkata, "oh, iya. Kayaknya itu. Coba kita ke sana ya, Dik." Kami mendekati rumah itu, tepat di sebelah kantor pajak kota Sukamaju. Setelah memarkirkan motor di tepi jalan, tepatnya di depan teralis rumah itu, aku lantas turun dari motor sambil membopong Adel. Benar saja, di pintu rumah itu ada tulisan rumah dijual, juga tertera nomor yang bisa dihubungi. Rumahnya sangat bagus seperti di film-film dan terlihat begitu terawat. Halaman depan luas. Kiri kanan ditumbuhi banyak tanaman hias, juga ada taman si sana. Tak jauh dari gerbang masuk, terdapat pohon mangga yang sangat lebat. Buahnya banyak dan sepertinya mulai ranum. "Bagus banget rumahnya ya, Mas. Pasti mahal ini," kataku dengan tak henti-hentinya menyisir seluruh area rumah itu karena takjub. "Kayaknya iya, Dik. Tapi kita coba dulu saja, siapa tahu bisa dinego harganya." Mas Fael pun terlihat sangat takjub dengan rumah itu. Semoga saja harganya tidak selangit, mengingat rumah bagus dan posisi yang cukup strategis. Sepertinya jika aku usaha bisnis di sini akan banyak lakunya, karena rumah ini berhadapan dengan sekolah dasar. Pikiran pun jadi berkelana. Berandai-andai, jika saja nanti rumah ini fix kami miliki, ingin rasanya buka usaha. Seperti usaha fotokopi, rental pengetikan, atau yang sejenisnya sesuai dengan kemampuan yang aku miliki. Kebetulan, dulu sebelum menikah dengan Mas Fael, aku berkerja pada sebuah lembaga PKBM, atau sering disebut dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Banyak ilmu yang didapat di sana. Namun, setelah kelahiran Adel, Mas Fael tak mengijinkanku untuk terus bekerja. Mas Fael ingin agar aku fokus pada Adel. Ia tak ingin jika Adel besar bersama dengan pengasuh. "Mas, coba saja hubungi nomor itu. Siapa tahu belum ada orang yang beli." Tanpa menjawab, Mas Fael langsung hubungi nomor yang tertera di papan. Telepon langsung terhubung. Mas Fael mulai percakapan dengan pemilik nomor itu. Aku hanya menyimak apa yang Mas Fael dan orang itu bicarakan. Setelah beberapa menit berbincang, akhirnya Mas Fael menutup teleponnya. "Dik, ternyata yang punya rumah ini, rumahnya ada di kota Maju Makmur. Kira-kira lima kilo dari sini." "Terus gimana? Kita ke sana, kan?" Tiba-tiba ada rasa khawatir jika rumah ini tak jadi kumiliki, karena sepertinya hatiku sudah jatuh cinta dengan rumah ini. "Iya. Kita ke sana sekarang. Nama pemiliknya Pak Beni. Katanya sudah ada beberapa yang minat, tapi Pak Beni belum melepas. Coba saja ya, Dik, siapa tahu nanti deal, jadi rejeki kita. Semoga Allah memberi kemudahan ya, Dik." "Iya, Mas. Aamiin." Aku dan Mas Fael langsung menuju rumah Pak Beni. Beberapa menit kemudian, Mas Fael kembali menepikan motor dan menelepon Pak Beni, menanyakan posisi rumahnya. Selesai menelepon, Mas Fael melajukan motor kembali dengan perlahan, sembari mencari rumah yang dimaksud. "Kayaknya rumahnya itu, Dik." Mas Fael mengehentikan motor. "Katanya rumah yang catnya warna biru, terus depannya ada mobil sedan warna merah." "Coba kita ke sana, Mas." Kami lantas mendekati rumah itu. Ternyata benar, sudah ada laki-laki paruh baya, dengan postur tubuh gempal dan tidak begitu tinggi. Ia sedang berdiri di depan rumah, lalu tersenyum kepada kami. "Mas Fael, ya?" tanya Pak Beni, lalu berjalan mendekati kami, "langsung masuk saja, Mas. Parkir sini." "Iya, Pak. Makasih." Mas Fael pun langsung memarkirkan motor bersebelahan dengan mobil sedan Pak Beni. "Enggak kesasar?" tanya Pak Beni, lalu tertawa. "Enggak, Pak. He-he-he. Kalau kesasar kasihan yang bonceng, Pak. Bisa nangis tujuh hari tujuh malam. He-he-he." Mas Fael pun melepas helm, lalu berjabat tangan dengan Pak Beni. Aku hanya tersenyum di belakang Mas Fael sembari membopong Adel.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook