MELIHAT CALON RUMAH YANG AKAN DIBELI

1133 Kata
"Mari, duduk sini saja yang segar," ajak Pak Beni. Kami lantas duduk di kursi teras. Rumah Pak Beni juga tak kalah megahnya dari rumah yang hendak dijual. Pak Beni ternyata tulang besar (orang kaya). Pak Beni orangnya sangat ramah, jauh dari kata seram, meski wajahnya sendiri terlihat sangat garang dengan kumis yang begitu tebal dan mata yang tajam. Setelah ngobrol ke sana kemari, Mas Fael pun menanyakan rumah yang akan dijual. "Kalian boleh lihat-lihat dulu. Aku antar sekarang kalau mau," kata Pak Beni. "Boleh banget, Pak. Kalau gitu, kita berangkat sekarang saja, Pak." "Oke." Kami pun lantas pergi menuju rumah yang akan dijual. Beberapa menit kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Pak Beni membukakan pintu gembok gerbang teralis. Aku dan Mas Fael mengikuti Pak Beni dari belakang. "Buah mangganya enggak dipetik, Pak? Banyak banget yang sudah mau matang, ya," kata Mas Fael basa basi. "Enggak. Di belakang rumahku yang tadi sudah ada, dua pohon malah, juga lagi berbuah kayak gini. Yang ini buat kalian saja, siapa tahu nanti kalian cocok dengan rumahnya. Pohon mangganya bonus buat kalian, enggak perlu beli buah lagi, tinggal petik saja," jawab Pak Beni, lalu tertawa kecil. "Walah, bonus ya, Pak," ujar Mas Fael kegirangan. Pak Beni justru terkekeh. Lalu Pak Beni membuka pintu. "Silakan masuk." "Iya, Pak." Aku dan Mas Fael pun masuk. Aku sangat takjub saat masuk ke ruang tamu, ruangannya sangat luas dan bersih, ada sekitar empat kali enam meter. Bagiku ini sangatlah luas, mengingat rumah kontrakan hanya dua kali dua meter saja. Kemudian kami masuk ke ruang berikutnya, ruangannya lebih luas satu meter. Sebelah kiri aku berdiri, ada dua pintu yang saling berdampingan. Mungkin itu ruang untuk kamar. Bagian depanku juga ada satu buah pintu, mungkin itu ruang untuk kamar juga. Ruangan ini terdapat jendela kaca yang menghadap tanah pekarangan, pekarangannya ditanami berbagai macam jenis sayuran dan tampak sangat subur. Sangat leluasa jika melihat ke arah pekarangan untuk menikmati pemandangan, karena jendela tersebut full kaca dengan ukuran dua kali empat meter. Lagi-lagi aku dibuat takjub dengan desain rumah ini. "Ini siapa yang nanam sayuran, Pak?" tanya Mas Fael sembari melihat-lihat ke arah pekarangan. "Oh, itu Pak Karman yang nanam. Katanya daripada ditumbuhi rumput, mending ditanami sayuran saja. Pak Karman itu tetanggaku yang biasa aku suruh untuk merawat rumah ini. Hampir tiap hari dia ke sini. Orangnya sangat rajin," papar Pak Beni. "Ooh," sahut aku dan Mas Fael bersamaan. "Kalau itu kamar." Pak Beni menunjuk ke arah pintu-pintu yang ada di ruang ini. "Kamarnya ada tiga. Luasnya sama. Cuma yang dua itu jendelanya menghadap ke tembok sebelah, kalau yang kamar ini menghadap ke pekarangan." "Iya, Pak." Mas Fael hanya manggut-manggut saja. "Silakan lihat dulu ruang yang buat kamarnya," kata Pak Beni, lalu berjalan menuju pintu yang saling berdampingan. Aku dan Mas Fael mengikuti dari belakang. Kemudian lanjut melihat kamar yang kata Pak Beni jendelanya menghadap ke pekarangan. Setelah masuk, benar saja. Jendelanya menghadap ke pekarangan. Aku lantas berjalan mendekati jendela. Terlihat tak jauh dari jendela, terdapat drum besar berisi air yang meluap. Kulihat ke arah atas, rupanya drum itu tepat berada di bawah saluran air. Ada pipa besar di atasnya. Mungkin itu untuk menampung air hujan. "Itu drum buat apa, Pak?" tanyaku spontan. "Oh, itu. Pak Karman yang menaruhnya. Katanya buat nampung air hujan, biar kalau nyiram tanaman enggak perlu pakai air kran." "Oooh." Aku hanya manggut-manggut, benar saja dugaanku, jika drum itu untuk menampung air hujan. Masuk akal juga, jika airnya bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Pikirku, Pak Karman selain rajin, juga sangat kreatif. Kemudian kami diajak melihat ruang selanjutnya. Ada dapur, luasnya sekitar tiga kali tiga meter juga, sama seperti luas kamar. Terdapat kitchen set dari kayu ukir, diberi warna cat yang sepadan dengan ruangan, hijau. Bisa dikatakan, semua serba warna hijau. Bahkan keramik pun nuansa hijau. Di dapur ini terdapat dua pintu yang terbuat dari aluminium. Sudah pasti itu kamar mandi. Aku pun penasaran dengan kamar mandinya, seluas apakah. Setelah kubuka, ternyata dua kamar mandi itu tak kalah bagusnya. Terdapat cermin bentuk oval, shower, pemanas air juga sudah ada, semua serba hijau, sangat keren menurutku. Luas kamar mandi sekitar satu setengah kali dua meter. Sebelah kanan aku berdiri terdapat pintu lagi. "Ini pintu ke mana, Pak?" tanyaku sembari menunjukkan jari ke arah pintu. "Itu pintu ke halaman belakang. Sebentar aku buka dulu." Pak Beni merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Setelah pintu dibuka, aku dibuat takjub kembali. Halaman belakang ternyata ada tamannya. Tak begitu luas, tapi sangat indah. Ada kolam kecil berisi beberapa ikan mas. Dinding taman tersebut dibuat motif seperti lereng bebatuan berwarna merah bata kombinasi hitam, dengan beberapa hiasan tanaman menjuntai yang tumbuh di dinding tersebut. Sebuah istana idaman keluarga menurutku. Sangat sempurna. Ingin rasanya untuk segera memilikinya. Namun, ada rasa ragu. Jangan-jangan uangnya tidak cukup. Kupikir, harga rumah ini pasti selangit. "Tanamannya subur-subur banget ya, Pak. Pakai pupuk apa, sih?" Tiba-tiba saja aku penasaran, karena melihat tanaman di sini semua tampak subur dan lebat daunnya. "Cuma pupuk kandang biasa dan perawatan saja kok, Mbak. Pak Karman memang orangnya sangat telaten. Tanaman apa pun pasti subur di tangan Pak Karman." "Oooh, gitu ya." Puas melihat semuanya, kami lantas duduk di taman halaman depan. Kebetulan, di taman depan terdapat empat kursi yang dibuat dari semen dan di bentuk menyerupai potongan kayu. Duduk di sini saja rasanya jadi enggan untuk pulang. Suasana asri dan sejuk membuat kerasan untuk duduk berlama-lama di sini. Mas Fael mulai menanyakan harga rumah. Namun, Pak Beni hanya terkekeh, tak menjawabnya. Membuat aku dan Mas Fael saling berpandangan. "Yang benar saja, Pak. Pak Beni mintanya berapa?" tanya Mas Fael. "Menurut Mas Fael berapa?" Pak Beni kembali terkekeh. "Lah, Bapak ini. Malah tertawa terus." Kemudian Pak Beni menatap kami satu per satu. Sepertinya ada yang sedang Pak Beni pikirkan. Namun, entah apa. Pandangannya membuat aku dan Mas Fael bingung. "Sebenarnya rumah ini sudah lama kosong. Ada sekitar lima tahun. Berkali-kali ada calon pembeli yang datang, tapi aku merasa belum mantap. Bisa dikatakan, aku masih ragu, lah." Pak Beni mulai bercerita. "Ragu kenapa, Pak. Belum pas harganya ya, Pak. He-he-he," tukas Mas Fael. "Yaaa harganya, yaa ... juga karena ... apa ya, susah dijelaskan juga." Sepertinya ada sesuatu yang Pak Beni tutup-tutupi. "Loh. Kok, bisa? Emangnya gimana, Pak?" "Mungkin karena sekarang anak-anak sudah pada punya rumah sendiri-sendiri. Jadi rumah ini waktunya aku lepas saja. Anak-anak enggak ada yang mau tinggal di rumah ini. Karena jauh dari tempat kerja katanya. Ya sudah, dari pada rumah kosong terlalu lama, malah bisa rusak, kan." "Iya juga, Pak." Setelah melalui diskusi yang lama, akhirnya Pak Beni pun menyetujui kesepakan harga. Bagai mimpi di siang bolong. Pasti ada campur tangan Tuhan. Mana mungkin nego rumah seperti nego makanan saja. Namun, ini benar-benar terjadi. Aku tak henti-hentinya tersenyum. Rasanya bibir ini tak bisa ditahan untuk terus tersenyum bahagia. Masih tak percaya, jika rumah ini akan segera kumiliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN