PINDAH RUMAH

1005 Kata
Malam harinya aku menelpon ibu. Memberitahukan jika aku dan Mas Fael sudah mempunyai rumah baru. Ibu sampai menangis setelah mendengar kabar dariku. Begitu juga dengan ibu mertua. Mereka sangat haru, tidak tahu jika selama ini kami selalu menabung untuk membeli rumah. Sengaja aku dan Mas Fael tidak pernah memberi tahu kepada orang tua kami, karena dari awal kami menabung memang ingin memberi kejutan kepada orang tua kami. Aku dan Mas Fael sama-sama dibesarkan dari keluarga yang yang biasa saja. Bapak ibuku bekerja sebagai petani. Sementara ibu mertua bekerja sebagai pedagang kelontong, bapak mertua sudah meninggal sebelum aku dan Mas Fael menikah. Setelah memberitahu orang tua kami, aku dan Mas Fael berniat ingin pindah rumah sesegera mungkin. Tinggal menunggu Mas Fael libur kerja tentunya. Jadwal libur Mas Fael adalah hari sabtu dan minggu. Iya, karena Mas Fael bekerja sebagai PNS pada sebuah dinas pendidikan. Kata ibu mertua, meski hanya anak penjual kelontong, Mas Fael harus jadi orang sukses, jangan seperti orang tuanya. Alhamdulillah cita-cita ibu mertua terwujud. Semenjak kecil Mas Fael selalu juara kelas. Bahkan dari SMP hingga SMA Mas Fael sekolah dengan beasiswa prestasi. Kuliah pun lewat jalur prestasi dan tak dipungut biaya sepeser pun, begitu ibu mertua bercerita kepadaku. Hari yang dinanti pun tiba. Bapak, ibu, dan juga ibu mertua sudah pada datang ke rumah. Kebetulan barang-barang sudah kami tata sejak dua hari yang lalu, jadi setelah bapak dan ibu datang, tinggal memindah saja ke mobil. Sebelumnya Mas Fael sudah menyewa mobil pick-up untuk membawa barang-barang ke rumah baru. Selesai semuanya, kami pun berangkat. Kulihat wajah bapak dan ibu sangat bahagia. Begitu juga dengan ibu mertua. Aku dan Mas Fael bisa merasakan kebahagiaan mereka. Beberapa menit kemudian, sampailah kami ke rumah baru. Mobil pun masuk ke halaman rumah. Kami satu per satu turun dari mobil. Mas Fael menurunkan barang dibantu oleh pak sopir dan bapak. "Masya Allah, Yun. Rumah kamu bagus banget. Enggak salah kamu cari rumah. Pintar ya," kata ibu kepadaku sembari terus menatap takjub ke arah rumah. "Alhamdulillah, Bu. Semua diberi kemudahan oleh Allah." "Pasti mahal ya, Yun?" tanya ibu, lalu mengangkat dus berisi sepatu. Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum saja. Kemudian aku ikut membantu mengangkat dus yang berisi barang-barang ringan. Sementara ibu mertua tidak kuperbolehkan untuk membawa barang sedikit pun, karena ibu mertua menderita sakit radang sendi dan tidak boleh membawa ataupun mengangkat beban yang terlalu berat. Dulu pernah ibu lupa mengangkat barang belanjaan di toko kelontongnya, padahal tak seberapa beratnya, tapi penyakitnya langsung kambuh dan tidak bisa berjalan hingga satu bulan lamanya. Sekarang pun ibu tak bisa untuk duduk bersimpuh, harus menggunakan kursi. Setengah jam berlalu, kami sudah selesai menurunkan barang-barang dari mobil pick up. Pak sopir pun berpamitan untuk pulang. Aku mulai menata barang-barang ringan dibantu ibu. Sementara Mas Fael menata meja kursi dan dipan dibantu bapak. Ibu mertua kubiarkan menemani Adel bermain di taman halaman depan. Menjelang magrib, semua sudah beres dan rapi. Tinggal saatnya untuk beristirahat. Ibu menyiapkan air untuk mandi bapak. Begitu juga aku, menyiapkan air untuk mandi Mas Fael. "Mas, airnya sudah siap. Mandi dulu sana, gantian sama aku," kataku pada Mas Fael yang sedang duduk di tepi kasur kamar tidur, sembari berlalu menuju dapur lagi untuk menyiapkan makan malam. Kubuka dus yang berisi telur, lalu mengambil empat butir untuk dibuat dadar campur sosis. Saat sedang memecah telur, pintu belakang terbuka, spontan aku menoleh ke arah pintu. "Loh?! Mas Fael?! Bukannya lagi di kamar?" tanyaku keheranan, lalu berhenti memecah telur. "Kamar? Orang dari tadi beresin barang-barang di belakang sama bapak, kok," sahut Mas Fael, lalu menuju kamar untuk cuci kaki, aku hanya bisa melongo kebingungan. Membereskan barang-barang di belakang? Lalu, siapa yang tadi kulihat di kamar? Jelas-jelas tadi itu Mas Fael sedang duduk di tepi kasur, lantas tiba-tiba Mas Fael masuk dari pintu belakang. Loh?! Apa mataku salah lihat? Ah sudahlah, mungkin memang aku salah lihat karena terlalu kelelahan. Segera kutepiskan perasaan yang bukan-bukan dan melanjutkan memecah telur. *** Malam hari, tak biasanya Adel seperti ini, uring-uringan tak jelas maunya apa. Biasanya setelah jam delapan Adel pasti minta dikeloni karena sudah ngantuk. Namun, hari ini Adel belum mau dikeloni, meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bukan karena Adel belum ngantuk, tapi karena sedari pukul delapan Adel menangis terus entah karena apa. Setiap aku tanya Adel kenapa, Adel hanya geleng-geleng kepala sambil terus menangis. Bapak dan ibu merayu Adel dengan berbagai cara. Entah itu mencarikan acara kartun kesayangan Adel atau menjanjikan ingin membelikan mainan baru buat Adel. Namun, Adel tetap geleng-geleng kepala dan terus menangis tanpa henti. "Ini anakmu kenapa toh, El?" tanya ibu mertua kepada Mas Fael. "Enggak tahu, Bu. Enggak biasanya kayak gini. Biasanya kalau sudah jam delapan Adel selalu minta dikeloni sama mamanya," tutur Mas Fael. "Mungkin Adel kelelahan. Coba deh, kamu pijitin kakinya atau punggungnya. Siapa tahu Adel jadi diam," perintah ibu mertua. Aku dan Mas Fael pun menuruti perintah ibu mertua agar memijit kaki serta punggung Adel. Namun, saat sedang kubuka kaosnya, Adel malah semakin meronta. Tentu saja sikap Adel yang seperti ini membuatku semakin panik, karena memang pada dasarnya aku ini orang yang mudah panik dan was-was. "Mas, Adel gimana ini?" tanyaku pada Mas Fael kebingungan. Lantas aku membopong Adel ke sana kemari untuk menenangkan, berharap agar Adel lekas diam, tapi nyatanya tak ada perubahan sama sekali semenjak tadi. Hampir satu jam Adel terus menangis seperti ini. "Lah aku juga enggak tahu harus gimana, Dik. Enggak biasanya kan Adel kayak gini? Makanya aku juga bingung," sahut Mas Fael. "Coba Adel diajak jalan-jalan keluar, siapa tahu Adel pengen jajan di luar;" tukas bapak seraya mendekatiku, lalu mengusap-usap punggung Adel yang masih meronta. "Oh iya juga ya, Pak," ucap Mas Fael, "coba yuk, Dik, kita ajak keluar sebentar. Siapa tahu Adel jadi diam. Kasihan daripada nangis terus kayak gitu, nanti perutnya jadi kaku." "Iya, Mas. Coba ambilkan jaket Adel dulu, tadi aku taruh di atas bantal, jaket warna abu-abu itu loh, Mas," kataku kepada Mas Fael. Tanpa menjawab, Mas Fael langsung bergegas menuju kamar untuk mengambilkan jaket Adel. Setelah memakaikan jaket, aku dan Mas Fael mengajak Adel jalan-jalan keluar menggunakan motor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN