TEROR PERTAMA

1803 Kata
Part 4 TEROR PERTAMA Akhirnya aku dan Mas Fael akan mengajak jalan-jalan Adel keluar. Gegas aku membopong Adel setelah sebelumnya kupakaikan jaket terlebih dulu karena udara malam sangat dingin. Adel masih saja menangis tiada henti membuatku makin gugup. Peluh terasa mengalir di pipi karena kewalahan mengatasi Adel. Sementara Mas Fael sedang memanaskan mesin motor. Ada bapak yang menemani Mas Fael di luar sembari ngobrol entah apa. "Aku keluar dulu ya, Bu," pamitku kepada ibu dan ibu mertua yang masih duduk di ruang tengah. "Iya, hati-hati," jawab mereka bersamaan. Aku segera menuju halaman depan. "Sudaaaah ... jangan nangis lagi. Mau jalan-jalan sama Mama Papa," kata bapak seraya mengelus kepala Adel. Aku pun berpamitan kepada bapak setelah membonceng Mas Fael. "Sebentar, bapak bukakan gerbang teralis dulu," kata bapak. Bapak berjalan cepat menuju gerbang teralis, lalu membukakannya. Perlahan motor pun melaju melewati bapak yang masih berdiri di sebelah gerbang teralis. Anehnya, baru jalan sekitar sepuluh meter dari gerbang teralis, Adel seketika diam dan terlihat sangat bahagia. Adel sekarang justru tertawa. Tentu saja aku dan Mas Fael terheran-heran dibuatnya, kenapa bisa secepat itu. "Oalah ... Adeeeeeel, Adel, ternyata Adel pengin jalan-jalan, ya? Pantas saja dari tadi nangis terus. Kalau Adel pengen jalan-jalan, bilang dong sama papa atau sama mama. Jangan nangis terus kayak tadi. Jadinya jelek, kan? Cakepnya hilang, tuh, luntur sama air mata," kata Mas Fael sembari terus mengendarai motor dengan perlahan. Adel hanya tersenyum dan manggut-manggut layaknya anak kecil jika dinasehati. "Iya, Sayang. Mama kan jadi bingung kalau Adel nangis terus kayak tadi. Kalau mau apa-apa, tinggal bilang ya. Enggak boleh nangis kayak tadi, mama jadi sedih. Adel sayang kan, sama mama, papa?" tanyaku pada Adel. Adel mengangguk kembali sembari tersenyum. Matanya terus menatap ke arah kanan melihat lampu warna-warni di sepanjang jalan. Perlahan kuusap peluh yang menyembul di dahi Adel. "Adel kenapa tadi nangis?" tanyaku kepada Adel, berharap akan tahu sebab musabab Adel terus menangis. "Enggak tahu." Adel geleng-geleng kepala. "Kok, nangis enggak tahu kenapa? Apa ada yang nakal sama Adel?" Rasanya masih penasaran saja kenapa Adel tadi nangis terus. "Enggak,"jawab Adel singkat. Aku hanya bisa menghela napas kasar karena tingkah Adel. Anak kecil memang susah diajak cerita. Tiba-tiba saja terbersit kembali pada bayangan yang menyerupai Mas Fael saat tadi aku melewati kamar. Bukan hanya seperti, tetapi sangat mirip seratus persen. Netra ini benar-benar melihat Mas Fael sedang duduk di tepi kasur, tetapi ternyata Mas Fael sedang di halaman belakang. Aah, perasaan macam apa ini? Tiba-tiba waswas tak jelas. Setan? Hantu? Demit? Masa iya? Semoga saja aku hanya halusinasi? Akan tetapi, kenapa pikiran masih saja berkelana meski terus berusaha berpikir positif, jika itu semua hanya halusinasi saja. Angan pun mulai menghubungkan dengan tingkah Adel yang tadi tiba-tiba saja menangis tanpa sebab usai makan malam. Apa mungkin ada hubungannya dengan sosok mirip Mas Fael yang tadi aku lihat? Namun, saat nangis tadi Adel tak terlihat seperti anak yang sedang ketakutan atau menunjuk ke sesuatu yang mencurigakan. Justru terlihat sangat emosional. Apa-apa serba salah. Nangis meronta tak jelas apa kemauannya. Ah, sudahlah. Lama-lama aku pusing memikirkan ini. Mungkin karena sedang serba kebetulan saja Adel tiba-tiba uring-uringan di rumah dan kebetulan pula aku melihat sosok mirip Mas Fael. Siapa tahu tingkah adel tadi karena Adel terlalu lelah seharian ikut mondar-mandir ke sana kemari. Juga karena siang tadi Adel tidak tidur. Aku terlalu sibuk membereskan barang-barang hingga Adel tak terprioritaskan. Biasanya tiap pukul dua siang Adel selalu tidur dan bangun sekitar pukul empat sore. "Dik!" seru Mas Fael mengagetkan lamunanku. "Eh. Iya, Mas." "Jangan ngelamun," kata Mas Fael yang ternyata sedang memperhatikanku dari kaca spion. "E-enggak, kok. He-he-he." Aku pun lantas meminta Mas Fael untuk memutar arah dan kembali pulang mengingat waktu sudah malam. Kulihat jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tak terasa, ternyata aku dan Mas Fael sudah mengajak Adel jalan-jalan mengitari kota sekitar satu jam. "Mas, sudah malam ini. Kita pulang saja, ya. Adel juga sudah mulai ngantuk, nih. Kasihan kalau kelamaan di jalan, nanti malah masuk angin. Gampang besok jalan-jalan lagi kalau ada waktu senggang," kataku kepada Mas Fael. "Ooh, sudah ngantuk ya. Ya sudah, kita pulang saja kalau gitu." Mas Fael pun mengiakan permintaanku karena memang ini sudah larut malam. Tak mungkin kami harus menuruti permintaan Adel terus. Lagipula Adel juga sudah tak rewel. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di rumah. Mas Fael memarkirkan motor di teras. Aku membopong Adel, lantas membawanya masuk ke rumah. Sementara Mas Fael menutup pintu gerbang dan menguncinya terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah. Sampai dalam rumah, ternyata ibu dan ibu mertua sudah pada tidur, tinggal bapak yang masih menunggu kepulangan kami. Bapak masih duduk di ruang tengah sembari menonton acara TV. "Sudah pulang Adel, ya? Sudah enggak nangis lagi ya cucu kakek yang yang paling cakep," sapa bapak seraya bangkit menghampiriku. Adel mengangguk pelan, sepertinya memang sudah sangat mengantuk. "Iya ini, Pak. Ternyata minta jalan-jalan saja. Tadi keluar baru berapa meter langsung diam. Tahu nih, anak, tiba-tiba saja merajuk," kataku. Bapak hanya terkekeh mendengar penjelasanku. "Sudah sana, di kamar saja, dikeloni biar cepat tidur. Ini sudah malam, kasihan kalau tidur terlalu malam," perintah bapak. "Iya, Pak. Aku ke kamar dulu ya, Pak. Ngeloni Adel. Itu Mas Fael ada di belakang. Kalau mau bikin kopi ada di belakang ya, Pak. Nanti biar Mas Fael yang bikinkan buat bapak," tukasku kepada bapak, lalu berlalu menuju kamar. "Iya. Gampang nanti kalau bapak pengen tinggal bikin saja." Gegas aku menuju kamar, sedangkan bapak kembali duduk di sofa. Sesampainya di kamar, aku baringkan Adel perlahan, lalu menyelimutinya. Terdengar di ruang tengah Mas Fael dan bapak sedang ngobrol. *** Seperti biasa, tiap pukul tiga dini hari aku selalu bangun karena sudah terbiasa melaksanakan salat tahajud. Kulihat Adel masih tertidur pulas. Aku beranjak bangun, lalu duduk sejenak untuk mengumpulkan kesadaran. Beberapa detik kemudian, aku turun dari kasur perlahan agar Adel tidak terbangun. Setelah merapikan rambut dan menguncir, aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur. Kulihat bapak sedang tidur di kursi ruang tengah sendirian. "Loh! Kok, bapak malah tidur di kursi?" gumamku lirih sembari berlalu saja menuju kamar mandi karena tak ingin mengganggu bapak. Melewati dapur, aku minum seteguk air putih terlebih dulu karena leher terasa sangat kering. Setelah minum, lanjut ke kamar mandi untuk wudhu. Saat wudhu, terdengar suara seperti mainan Adel yang dilempar dan mengenai lantai. Aku paham betul suaranya karena tiap hari selalu mendengar suara yang sama. Mungkin bapak terbangun. Selesai wudhu, bergegas ke kamar ingin membangunkan Mas Fael agar jamaah tahajudnya. Saat melewati ruang tengah, rupanya bapak sudah tak ada. Mungkin sudah pindah ke kamar. Berarti benar jika tadi bapak terbangun dan saat berjalan menuju kamar, kakinya mengenai mainan Adel. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke kamar dan membangunkan Mas Fael dengan pelan. "Mas, sudah jam tiga. Bangun dulu," kataku sembari mengguncang-guncangkan bahu Mas Fael. Seperti biasa tiap aku membangunkannya, Mas Fael langsung menggeliat, lalu duduk sebentar. "Kamu sudah wudhu, Dik?" tanya Mas Fael kepadaku sembari kucek-kucek mata. "Sudah, Mas. Baru saja," jawabku, lalu mengambil mukena yang kusimpan di lemari paling bawah. "Aku wudhu dulu." Mas Fael lalu bangkit dari kasur dan keluar untuk wudhu. "Iya." Sembari menunggu Mas Fael selesai wudhu, aku menata sajadah di lantai, tepatnya di sebelah kasur. Sesaat kemudian, Mas Fael pun datang, aku menyodorkan sarung kepada Mas Fael. Mas Fael segera memakai sarung dan merapikan rambutnya menggunakan jari-jemarinya. "Sudah siap?" Selesai mengenakan sarung, Mas Fael bertanya kepadaku. "Sudah, Mas," jawabku sembari berdiri, lalu merapikan mukena bagian kaki. Kemudian kami pun berjamaah tahajud. Ketika rokaat ke tujuh, saat bangkit dari sujud lalu berdiri, tiba-tiba atasan mukena seperti ada yang menginjak dari belakang, hingga kepalaku tertarik ke belakang. Padahal aku tak merasa menginjak. Tentu saja aku sangat kaget dibuatnya. Apa mungkin Adel sudah bangun, lalu duduk di belakang kakiku? Mungkin. Namun, tak biasanya Adel seperti ini. Biasanya Adel masih pulas hingga tahajud selesai. Tiba-tiba kaki terasa berat, sepertinya Adel bersandar di belakang betisku. Aku berusaha menarik mukena bagian belakang karena membuatku tak nyaman saat berdiri. Mukena semakin tertarik ke belakang, seperti dibuat main-main. Tarik-ulur tarik-ulur. Hati ini sangat gemas karena Adel mulai tak sopan. Sejak kapan Adel seperti ini? Ingin rasanya cepat-cepat salam dan menegur Adel. Kemudian saat melakukan ruku, Adel menjauh dari betis kaki dan terdengar suara ranjang yang tertekan oleh benda berat. Mungkin Adel naik ke ranjang lagi untuk kembali tidur. Usai salam, aku langsung menoleh ke arah Adel. Seketika mata ini membeliak. Ada sesuatu yang kurasa aneh. Kenapa Adel masih di posisi yang sama seperti saat kulihat tadi sebelum mulai tahajud? Lalu, yang baru saja bersandar di betis dan memainkan mukena itu siapa?Adel atau bukan? Seketika bulu kuduk meremang tak karuan. Jangan-jangan .... Aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri, lalu melanjutkan salat witir dengan perasaan tak tenang. Salat pun tak bisa khusyuk lagi. Salat witir pun selesai. Aku dan Mas Fael lanjut dengan dzikir. "Aku tadarus dulu, ya," pamit Mas Fael usai dzikir. Aku tak menjawabnya, hanya mengangguk saja karena belum selesai dzikir. Usai dzikir, lanjut tadarus sembari menunggu azan subuh. Aku tadarus di kamar, sedangkan Mas Fael tadarus di ruang tamu. Saat sedang tadarus, terdengar ibu memanggilku. "Yuuuuun. Yunaaaa, ke sini sebentar," panggil ibu dari kamar sebelah. Aku lantas menghentikan tadarus dan menjawab penggilan ibu. "Iya, Bu. Sebentar." Aku meletakkan Qur'an di nakas, lalu melepas mukena dan menaruhnya di atas kasur begitu saja. Buru-buru menghampiri ibu di kamar sebelah, siapa tahu ibu perlu bantuan sesuatu. Sesampainya di kamar, ternyata ibu masih tertidur pulas. Sementara bapak sudah tak ada, mungkin sedang di kamar mandi untuk wudhu. Kulirik ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamar ibu, waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Biasanya jam segini ibu dan bapak sudah selesai tahajud, tetapi kenapa masih tidur? Kemudian aku menutup pintu kamar perlahan dan bergegas menuju kamar sebelahnya untuk melihat ibu mertua. Setelah membuka pintu, ibu mertua ternyata sedang tahajud. Apa mungkin ibu mertua yang panggil aku? Namun, suara yang terdengar tadi jelas-jelas suara ibu, bukan ibu mertua. Aku sudah paham betul suara ibu seperti apa. Seketika bulu kuduk meremang. Kuusap-usap kedua tangan, sembari celingukan ke sana kemari. "Siapa yang manggil aku ya?" Aku bermonolog bingung sendiri, lalu menautkan kedua ujung alis. Kuendarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tengkuk seketika bergidik tak wajar. Kemudian aku menuju ruang tamu untuk menghampiri Mas Fael yang masih tadarus. "Mas!" seruku sembari berjalan cepat menuju ruang tamu. Mas Fael menghentikan tadarusnya, lalu menoleh ke arahku. "Apa, Dik?" "Barusan yang manggil aku siapa?" tanyaku, lalu duduk di sofa sebelah Mas Fael. "Manggil? Enggak ada yang manggil, kok." Mas Fael mengernyitkan dahi karena sepertinya dia bingung dengan pertanyaanku. "Ada, kok. Kayak suara ibu. Masa enggak dengar?" jelasku. "Dari tadi aku enggak dengar suara ibu manggil, loh, Dik. Salah dengar mungkin." "Beneran enggak dengar?" Aku tersenyum kecut mendengarnya. "Enggak." Aku lantas beranjak bangun dan meninggalkan Mas Fael di ruang tamu, kembali ke kamar lagi untuk melanjutkan tadarus yang tadi sempat tertunda. Satu pertanyaan yang masih ada di benak, siapa yang panggil aku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN