POV BAPAK

1817 Kata
Aku sangat bahagia setelah mendengar kabar dari Yuna yang katanya baru membeli sebuah rumah di area kota. Berita ini bagai mimpi di siang bolong. Aku yang hanya sebagai petani biasa tak pernah bisa memberikan apa-apa untuk anak. Hanya bisa memberikan doa, semoga anak-anak sukses dunia, juga sukses akhirat. Setelah mendengar kabar dari Yuna, aku langsung memberitahu istriku, Siti. Siti pun tak kalah bahagia hingga menitikkan air mata bahagia. Keesokkan harinya Fael menelepon, katanya akan pindah rumah hari sabtu. Hari sabtu pun tiba. Sekitar pukul tujuh pagi aku bersama Siti berangkat menuju kontrakan Fael. Jarak rumah sampai kontrakan Fael hanya sekitar tiga puluh menit saja jika menggunakan kendaraan angkot. Selama perjalanan menuju kontrakan rasanya sangat lama, padahal biasa saja. Itu hanya perasaan aku dan Siti saja karena sudah tak sabar ingin segera melihat rumah baru anak kami. Tiga puluh menit pun telah dilalui, akhirnya di juga di kontrakan. Yuna dan Fael terlihat sangat sibuk membenahi kontrakan yang sangat sempit menurutku. "Mama! Kakek sama Nenek datang!" teriak Adel sembari menghambur ke pelukan Siti. Yuna dan Fael kemudian menoleh ke arah kami bersamaan. Disusul oleh ibu besan yang keluar dari kontrakan. "Ealaaah, Bapak. Sudah sampai saja," tukas Fael, lalu menghampiri. "Iya ini, El." "Assalamualaikum. Sehat saja kan, Pak?" tanya Fael seraya bersalaman. "Wa'alaikum salam. Alhamdulillah sehat." Yuna pun lantas bergantian salaman. "Sudah sampai, Pak, Bu?" tanya ibu besan kepada kami. "Iya ini, Bu. Bu Besan sudah sampai duluan ternyata, he-he-he," sahutku. "Iya, semalam dijemput Fael, Pak." Aku dan Siti lantas bersalaman dengan ibu besan. "Sudah siap semua, ya?" tanyaku kepada Yuna dan Fael. "Sudah, Pak. Tinggal nunggu mobil pick up-nya saja. Sudah aku tata sama Mas Fael dari semalam, he-he-he," ujar Yuna. "Eeh." Ternyata barang-barang sudah dikemas semua, tinggal memindahkan saja ke mobil pick up. Tak berapa lama, mobil pun datang. Barang-barang segera dipindah ke mobil olehku, Fael, dan Mas Sopir. Usai memindahkan barang dan kontrakan sudah bersih, Fael bersama Yuna berpamitan dan menyerahkan kunci rumah pada pemilik kontrakan yang hanya berjarak lima rumah saja. Lantas kami berangkat. Tak butuh waktu lama, kami pun sampai ke rumah baru Yuna. Aku dan Siti sangat takjub dibuatnya, tak menyangka jika Yuna akan memiliki sebuah rumah yang sangat megah. Iya, rumah itu sangat megah menurutku karena di kampung tak ada rumah yang seperti itu modelnya. Mungkin karena rumah Yuna dibangun oleh arsitek yang mahir, jadi modelnya beda dengan rumah orang kampung. Setelah menurunkan barang-barang, kami pun beristirahat sejenak. Sesaat kemudian, aku membantu Fael menata barang berat seperti kursi dan dipan, sementara Yuna dan Siti menata barang-barang yang ringan di dapur. Sedangkan ibu besan menemani Adel bermain. Ibu besan memang sengaja tidak diperbolehkan membantu karena menderita radang sendi yang tidak boleh kelelahan, juga tidak boleh angkat berat. Kami semua memakluminya karena usianya pun lebih tua dariku juga Siti. Sepertinya hampir tujuh puluh tahun. Sebenarnya saat mulai masuk ke rumah Yuna, aku sudah memiliki firasat yang tak baik. Namun, aku pendam sendiri rasa itu, tak ingin Yuna dan Fael mengetahui hal ini. Selesai membereskan barang-barang, aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat tiap ruangan. Sebenarnya denah rumah ini begitu nyaman. Tiap ruangan luas, warna cat cerah, juga terdapat jendela kaca yang sangat lebar. Hanya saja auranya terlihat sangat gelap. Seperti ada sesuatu yang pernah terjadi rumah ini, tetapi entah itu apa. Ada sedikit rasa kecewa kepada Fael dan Yuna, kenapa tak memberitahu dulu kepada kami–aku dan Siti–jika ingin membeli rumah. Setidaknya aku bisa ikut melihat atau mengecek rumahnya sebelum mereka beli. Namun, sudahlah. Yang penting sekarang mereka sudah tak mengontrak lagi. Mungkin niat Yuna dan Fael ingin memberi kejutan pada kami selaku orang tua. Itu tak masalah, aku hargai niat itu meski rumah yang mereka beli ternyata jauh dari kata hangat. Bahkan bisa dikatakan jika rumah ini sangat dingin suasananya. Apalagi dua kamar yang saling berdampingan, ruangannya sangat lembab karena tak ada sinar matahari yang masuk. Sebenarnya ada jendelanya, tetapi satu meter setelahnya adalah dinding rumah tetangga yang lebih tinggi dari rumah Yuna. Kulihat belakang jendela kamar seperti lorong yang bisa dilewati. Permukaan tanahnya sudah ditutup dengan semen. Sembari melongok ke arah luar dari jendela kamar, aku menoleh ke arah kanan lorong, rupanya berujung di halaman belakang. Terlihat sisi taman belakang dari sini. Sedangkan sebelah kiri berujung ke belokan, sepertinya itu menuju halaman depan. Puas melihat, aku pun kembali melanjutkan membantu Fael. Menjelang magrib, aku melihat sekelebat bayangan hitam yang mondar-mandir di antara ruang tengah dan dapur. Firasat mengatakan, jika malam ini akan ada yang tak beres. Benar saja, sekitar pukul delapan Adel mulai menangis dan terlihat sangat gelisah, tetapi aku tak melihat jika ada sesuatu yang sedang mengganggu Adel. Hanya saja bayangan hitam itu terus saja terlihat berseliweran di dapur. Bayangan itu tak berbentuk seperti manusia, hanya menyerupai awan yang memanjang ke bawah. Entah jenis makhluk apa itu. Fael dan Yuna mulai panik karena Adel yang tak mau diam, masih saja menangis. Aku juga sudah beberapa kali berusaha membujuk Adel agar diam dengan iming-imingi untuk beli mainan baru, tetapi Adel tetap tak mau berhenti dari menangis. Kemudian aku menyarankan kepada Fael agar Adel dibawa jalan-jalan keluar saja, siapa tahu jadi diam. Bisa saja Adel tiba-tiba menangis karena sosok bayangan yang ada di dapur. Niatku jika Fael dan Yuna mengajak Adel keluar, aku ingin membacakan doa di dapur. Dengan demikian mereka tidak akan tahu dengan apa yang akan aku lakukan. Setelah Yuna dan Fael keluar rumah, aku segera membacakan doa di dapur. Sebelumnya aku sudah bercerita dulu pada Siti usai jamaah salat magrib di kamar tentang rumah ini. Kebetulan Siti pun bisa melihat suatu yang tak kasat mata, tetapi hanya di waktu-waktu tertentu saja atau pas kebetulan saja, tidak tiap saat bisa melihat. Kami selalu merahasiakan dari Yuna akan kelebihan kami. Kami tak ingin Yuna menjadi takut jika mengetahui. Apalagi Yuna sering cerita dengan apa yang ia lihat. Memang dari dulu saat Yuna mulai duduk di bangku SMA sering melihat, tetapi aku dan Siti selalu mengatakan jika Yuna hanya halusinasi saja. Sebenarnya itu demi kebaikan Yuna, agar Yuna tidak menjadi orang yang penakut. Sebelum berdoa, aku minta ijin dulu kepada ibu besan. Alhamdulillah, ia pun mengijinkan. Siti dan ibu besan duduk di sofa ruang tengah, sedangkan aku berdiri di ambang pintu dapur. Saat sedang berdoa, tiba-tiba suasana rumah menjadi sangat dingin dan seperti ada embusan angin yang cukup kencang hingga kaca jendela ruang tengah bergetar. Suara seperti gesekan daun dari pepohonan—seperti pohon beringin—terdengar sangat menyeramkan. Pikirku itu mungkin suara dari pohon mangga yang terkena angin. Aku terus lantunkan doa dan tak memedulikan perubahan situasi. Setelah selesai membacakan doa, lanjut azan dengan suara lantang di dapur. Ketika sedang mengumandangkan azan, tiba-tiba pintu menuju halaman belakang sedikit bergetar hingga menimbulkan suara. Namun, aku tak hiraukan itu, berusaha terus fokus azan. Hingga azan selesai, pintu belakang baru berhenti bergetar. Kutoleh ke arah belakang, rupanya Siti dan ibu besan saling menggenggam tangan mereka di kursi sofa. Sementara aku masih berdiri di ambang pintu dapur. Sepertinya ibu pesan pun mengetahui jika rumah ini ada yang tidak beres. Buktinya, saat tadi aku membacakan doa-doa di dapur, ibu pesan pun membaca ayat kursi dan surah trikul dengan nada sedikit dikeraskan. Selesai semuanya, bayangan itu sudah tak terlihat lagi di area dapur. Aku merasa lega, semoga itu hanya jin yang numpang lewat saja, bukan penghuni rumah ini. Kemudian aku, Siti, dan ibu besan mengobrol di ruang tengah. "Apa Bapak juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?" tanya ibu besan kepadaku. "Iya, Bu. Memangnya Ibu merasakan juga?" tanyaku balik kepada ibu besan. "Ya agak, sih. Dari tadi sore perasaan merinding-merinding terus. Padahal enggak dingin," kata ibu besan sembari mengusap-usap kedua lengannya. Kulihat Siti mulai celingukan ke sana kemari menelisik seluruh ruang tengah. "Ya gimana lagi, niat mereka ingin memberi kita kejutan kalau mereka sudah bisa membeli rumah. Enggak tahunya seperti ada yang enggak beres di rumah ini. Tapi semua ini bisa dibersihin. Selama Yuna dan Fael rajin salat, tahajud, kemudian tadarus, insya Allah enggak bakal ada gangguan lagi di rumah ini," kataku kepada Siti juga kepada ibu besan. Siti hanya menganggukkan kepala saja. "Yang penting kalau ada apa-apa kita diam saja, Pak. Kasihan anak-anak, apalagi Adel. Cukup kita saja yang tahu," tukas Siti. "Iya benar. Aku setuju dengan pendapat Ibu. Bagaimanapun juga ini sudah menjadi rumah anak kita. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Mereka bisa memiliki rumah saja aku sudah sangat bahagia, Bu, Pak, karena aku belum bisa memberi apa-apa pada mereka. Hanya bisa memberikan doa. Semoga anak-anak pada sehat terus, bisa melihat Adel sampai besar. Itu saja keinginanku," kata ibu besan. "Iya, Bu. Pikiran kita sama ternyata. Pokoknya yang terbaik buat anak kita, doa kita enggak boleh putus. Untuk rumah ini, kita juga harus terus berdoa semoga rumah ini akan menjadi di tempat ternyaman buat anak cucu kita," kataku. "Amin," ucap Siti dan ibu besan bersamaan. Ternyata dugaan kami sama. Kami sepakat untuk menutupi hal ini dari Yuna dan Fael. Kami tak ingin mereka kecewa dengan kondisi rumah mereka. Besan pun mengatakan, jika rumah ini sepertinya mempunyai aura yang tidak baik, seperti dugaanku. Satu jam berlalu, tetapi Fael dan Yuna tak kunjung pulang. Siti terlihat sudah sangat ngantuk. Begitu juga dengan ibu besan. Aku pun lantas persilakan mereka untuk tidur terlebih dulu, sementara aku akan menunggu Yuna dan Fael pulang. Siti dan ibu besan bergegas ke kamar untuk tidur. Kulihat seluruh ruangan kembali setelah mereka berdua tidur. Dimulai dari dapur. Saat melihat ruangan dapur, tengkuk kembali menebal. Apalagi saat melangkah menuju kamar mandi. Namun, aku tak pedulikan itu. Yang penting sudah tak terlihat sosok apa pun. Kemudian lanjut melihat ke ruang tamu. Aura di ruangan ini juga terasa sangat dingin. Kulanjutkan menuju halaman depan, lantas duduk di teras. Kurogoh saku jaket untuk mengambil bungkus rokok. Masih ada dua batang. Segera kunyalakan korek. Asap mulai kuembuskan ke atas. Sepertinya aku akan menunggu Fael dan Yuna di sini saja sembari menghabiskan rokok. Badan kusandarkan pada tiang penyangga, kaki diluruskan ke depan. Pandangan tertuju ke arah taman. Di sana terlihat lampu taman sudah menyala. Banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya depan rumah. Lampu penerangan jalan menyala sangat terang, membuat suasana di luar terasa begitu nyaman. Saat sedang menikmati suasana malam di luar dan sejenak melupakan kejadian yang baru saja terjadi di dalam rumah, tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh suara yang berasal dari pohon mangga. Seketika pandangan kualihkan ke arah pohon mangga. Terlihat jika salah satu dahannya bergerak naik turun, seperti baru terkena benda berat. Kuembuskan asap rokok, lalu pandangan terpaku pada dahan itu. Benar saja, dahan kembali bergerak seperti ada hentakan. Melihatnya membuat rasa penasaran. Kutajamkan lagi penglihatan ini. Berharap bisa menangkap bayangan sesuatu dari sana. Namun, tak terlihat apa pun. Waktu pun berlalu, Yuna dan Fael tak kunjung pulang. Kuputuskan untuk masuk saja. Aku menunggu di ruang tengah sembari menonton acara di ribu. Beberapa menit kemudian, Yuna dan Fael pun pulang, rupanya Adel sudah tidak rewel lagi. Aku bersyukur, semoga tak ada sesuatu yang mengganggu anak cucuku lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN