MULAI MERASAKAN HAL ANEH

1801 Kata
Pagi hari. Aku, ibu, dan ibu mertua berjemur di halaman belakang. Entah kenapa pagi ini udaranya sangat dingin tak seperti biasanya. Kami menikmati sinar matahari pagi sembari bercengkerama. "Sini tanahnya gembur banget ya, Yun. Semua tanaman terlihat subur. Betah kalau berlama-lama duduk di sini," kata ibu seraya menyisir seluruh tanaman sayuran. "Iya, Bu. Kebetulan sekali ya. Enggak perlu belanja ke pasar kalau pas lagi repot kayak gini. Tinggal petik saja," sahutku sambil menyuapi Adel. "Yang nanam siapa ini, Yun?" tanya ibu mertua. "Pak Karman, Bu. Yang merawat rumah ini. Aku sih, belum pernah bertemu langsung. Cuma diceritakan oleh Pak Beni yang punya rumah ini. Katanya Pak Karman tiap hari ke sini merawat rumah juga nanami macam-macam sayuran." Ibu mertua hanya manggut-manggut. "Oh iya, tadi pas jam setengah empat, ibu manggil aku?" tanyaku kepada ibu. Sekalian saja aku bertanya, mumpung ingat. "Manggil kamu? Enggak, ah. Ibu malah tahu-tahu sudah azan subuh. Kecapekan sampai enggak bangun buat tahajud. Bapakmu juga enggak bangunin ibu, malah tahajud sendiri," ujar ibu dengan raut kecewa karena tidak tahajud. "Loh? Kok, aku dengar ada yang panggil aku ya? Suaranya persis suara Ibu, loh," kataku yakin. "Lah, kamu ngelindur mungkin, Yun," tukas ibu mertua, lalu terkekeh. "Enggak, Bu. Aku benar-benar dengar. Malah aku samperin kamar ibu. Ibu masih tidur. Terus aku lihat ke kamar ibu juga, tapi ibu lagi salat," kataku pada ibu dan ibu mertua. "Loh, aneh. Mungkin tetangga, suaranya terdengar sampai sini," ujar ibu mertua. "Iya juga, sih. Tapi, suaranya panggil nama aku kok, Bu. Yuuuuun, Yunaaaaa, ke sini sebentar, gitu." Saat menirukan suaranya, tiba-tiba saja tengkuk menebal. Spontan kuusap-usap tengkuk. "Sudaaah. Kamu paling salah dengar. Enggak usah dibahas lagi,"kata ibu mertua. "Iya, Bu." Aku masih saja mengusap-usap tengkuk yang terus menebal. Bahkan bukan hanya tengkuk, pori kedua tangan pun meremang tak karuan. Sementara ibu terlihat seperti tak begitu peduli dengan ceritaku, malah asik menatap tanaman sayur yang ada di hadapannya. "Yun, kayaknya itu sawi putih enak deh kalau dimasak. Coba nanti kamu petik itu terus dimasak. Kayaknya enak kalau dimasak oseng, tuh. Dikasih cabe dikit," kata ibu, sepertinya ingin sekali makan dengan sayur itu, "cabenya juga sudah ada yang merah, tinggal ketik saja, Yun." "Iya Bu. Kayaknya emang enak tuh, kalau dimasak. Lumayan, kalau di pasar satu kilonya sudah berapa tuh," tukasku, lalu mendengkus karena ibu tak begitu menanggapi pertanyaanku. "Beruntungnya kamu memilih rumah ini, Yun. Sudah rumahnya bagus, dapat bonus sayuran banyak kayak gini, belum lagi buah mangga di depan, tuh. Tinggal panen saja," timpal ibu mertua. "Alhamdulillah ya, Bu. Enggak disangka-sangka. Oh iya, sama petik buah mangganya juga ya, Bu. Kayaknya sudah ada yang mulai masak. Nanti biar Mas Fael yang petikin," sahutku pada ibu mertua. "Iya ... boleh juga, tuh." Kemudian aku beranjak dari kursi untuk cuci tangan karena Adel sudah selesai makan. Adel lalu berlari menuju halaman depan menghampiri bapak yang sedang duduk di taman dengan Mas Fael. Seperti biasa, jika dua lelaki itu sudah bertemu, sudah pasti ada pihak ketiga, rokok. Mereka berdua bakal betah duduk berlama-lama jika sudah ditemani oleh teman yang satu itu. Usai cuci tangan, aku langsung mengambil wadah untuk menaruh sayuran yang akan kupetik, tak lupa ambil pisau di rak dan bergegas ke belakang untuk memetik beberapa sayuran sesuai dengan keinginan ibu, yaitu sawi putih dan cabe. Namun, saat aku memetik sayur, tiba-tiba tengkuk terasa menebal kembali, seluruh bulu kuduk meremang tak karuan. Aku pun lantas berdiri dan menoleh ke kanan kiri, juga ke belakang. Akan tetapi, tak ada sesuatu yang aneh. Ibu dan ibu mertua masih duduk-duduk di sebelah kolam sambil bercengkerama "Aneh. Kok, tiba-tiba merinding kayak gini ya," gumamku bermonolog. Kemudian kulanjutkan lagi memetik sayur itu. Masih saja bulu kuduk terus meremang entah karena apa. Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba meremang, padahal saat ini tidak dalam keadaan sedang takut. Apa mungkin ada setan lewat? Sambil memetik aku terus memikirkannya. Selesai memetik sayuran, aku kembali ke dapur dan mencucinya. Saat mencuci sayur pun lagi-lagi tengkuk menebal entah karena apa. Kepala kembali celingukan ke sana ke sini mencari sesuatu yang membuatku terus bergidik. Kenapa sedari tadi menceritakan kejadian semalam bersama ibu, tengkuk selalu menebal. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghela dengan cepat untuk menghilangkan desiran di d**a. Mulai berperang dengan pikiran sendiri yang entah tentang apa. Setan lewatkah? Penunggu rumahkah? Atau hanya serba kebetulan saja? Tak mungkin menceritakan kepada Mas Fael karena Mas Fael sendiri tak percaya dengan hal seperti itu. Apalagi bapak dan ibu, juga ibu mertua, mereka tak ada yang percaya dengan hal seperti itu. Jika bercerita tentang apa yang aku alami saat ini, mereka mungkin akan mengatakan aku terlalu tinggi halusinasinya. Kulanjutkan kembali mencuci sayur dan menepiskan semua pikiran tentang yang negatif. Aku tak mau menjadi takut gara-gara pikiran sendiri. Mungkin memang benar jika aku tukang halusinasi, tetapi masa iya pagi-pagi bulu kuduk sudah meremang sendiri, meremang bukan karena dingin. Aku bisa membedakan mana meremang karena dingin dan mana meremang karena hal lain. Apa itu termasuk halusinasi? Entahlah. Usai memasak, aku lantas menghampiri Mas Fael dan bapak yang masih asyik dengan rokok mereka di taman depan. Ibu dan ibu mertua duduk di ruang tamu sembari menonton acara televisi kesukaan para emak. Sesampainya di depan, kulihat Mas Fael sedang ditelepon oleh seseorang. Kemudian aku duduk bersebelahan dengan bapak. Adel langsung menghampiriku sembari membawa mainan mobil-mobilannya yang dibelikan oleh bapak tempo hari. Selesai menelepon, Mas Fael kembali duduk di sebelah bapak, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. "Dari siapa, Mas?" tanyaku kepada Mas Fael. "Ini ... katanya temen-temen kantor nanti habis duhur mau pada main ke sini." "Oalah, mana di rumah enggak ada apa-apa lagi, Mas. Enggak ada jajanan," keluhku. "Nanti gampang beli, lah, Dik. Kita cari di minimarket, itu di sebelah kantor kelurahan enggak jauh dari sini, kan, ada minimarket," kata Mas Fael. "Iyakah? Aku malah enggak pernah memperhatikan ada minimarket di sana. Ya sudah, nanti kita cari ke sana saja. Tapi jangan kesiangan, loh. Aku masih mau beresin rumah. Masih ada yang belum rapi." "Iya, iya ... oh iya, Pak. Aku mandi dulu ya, Pak," pamit Mas Fael kepada bapak, lalu beranjak bangun dari duduk. "Iya sana mandi dulu saja." Mas Fael pun lantas masuk ke rumah, tinggal aku dan bapak yang masih duduk di luar. Jadi teringat saat tadi malam aku lihat bapak yang tertidur di kursi ruang tengah. Lantas aku pun menanyakan kepada bapak. "Pak, tadi malam kenapa Bapak malah tidur di kursi? Dingin, loh. Bisa masuk angin kalau gitu. Mana enggak selimutan lagi," kataku kepada bapak. "Tidur di kursi? Kapan?" tanya Bapak kebingungan, lalu mengernyitkan dahi. "Ya sekitar jam tiga itu loh, Pak. Tadi malam kan aku lewat, tuh. Mau wudhu. Aku lihat Bapak lagi tiduran di kursi," kataku. Bapak lalu beringsut mengubah posisi duduk dan menghadap kepadaku. "Perasaan bapak tidurnya di kamar terus, deh, Yun. Kamu salah lihat mungkin. Atau mungkin kamu berhalusinasi." "Enggak mungkin halusinasi lah, Pak. Orang aku sadar, kok. Aku lihat Bapak tiduran bantalan tangan, makanya aku kira Bapak tidur di kursi." Aku berusaha menjelaskan kepada bapak. "Bapak tuh, tidur mulai jam sebelas kalau enggak salah. Fael bilang katanya sudah ngantuk, terus mau tidur, ya bapak terus beranjak ke kamar saja buat tidur daripada nonton TV sendirian," papar bapak. "Berarti bukan Bapak, dong, yang aku lihat? Terus siapa coba?" tanyaku dengan buku kuduk mulai meremang tak karuan. "Kamu itu cuma salah lihat, Yun. Halusinasi. Kayak enggak biasanya saja. Bapak sudah hafal sama kebiasaan kamu yang satu ini. Bapak juga bangun setelah dengar kamu sama Fael tadarus. Ibumu karena kelihatan capek, enggak bapak bangunin. Bapak biarin saja tidur sampai subuh." Kemudian bapak mengambil sebatang rokok lagi dari bungkusnya yang tergeletak di lantai. Aku hanya mendengkus dengan tanggapan bapak yang seperti itu. Selalu saja begitu, tidak pernah mempercayai apa yang aku lihat. Maka itu kadang ragu jika menanyakan atau bercerita sesuatu pada bapak ataupun ibu. Mereka selalu menganggapku hanya halusinasi saja. Padahal benar-benar melihatnya dengan mata sendiri dan ini bukan untuk yang pertama kali. Aku sering lihat sesuatu yang janggal, entah itu di mana pun tempatnya. Kebanyakan lebih memilih diam daripada bercerita, tetapi malah dikatakan halusinasi. Namun, semenjak kemarin aku yakin ini bukan halusinasi. Dari pertama lihat sosok seperti Mas Fael sedang duduk di tepi kasur, kemudian sosok seperti bapak sedang rebahan di kursi ruang tengah, dan tadi pagi saat sedang petik sayur tiba-tiba tengkuk menebal dan sekujur bulu kuduk meremang tak karuan. Juga suara seperti suara ibu yang panggil-panggil saat sedang salat. Aku yakin, ada penghuni lain juga yang ikut tinggal di rumah ini. Wajar saja jika dipikir-pikir karena kata Pak Beni rumah ini sudah lama kosong. Bahkan, sudah sampai lima tahun tidak pernah dihuni sama sekali. Hanya Pak Karman saja yang sering ke sini. Itu pun hanya merawat rumah dan menanam sayur saja. Tidak pernah satu kali pun Pak Karman tidur di sini. "Yun!" Suara bapak mengagetkanku saat sedang melamun yang bukan-bukan. "E-eh ... apa, Pak." Aku tergagap. "Kamu itu, kebiasaan banget ngelamun. Jangan kebiasaan kayak gitu, enggak baik." Bapak mengembuskan asap rokok ke sebelah kiri agar tak mengenai wajahku. Aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataan bapak. Iya, memang aku sadar jika sering berkhayal, bisa dikatakan memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan atau memikirkan hal yang janggal, diluar logika. "Manusia itu diciptakan berdampingan dengan jin. Manusia itu enggak punya kemampuan untuk melihat jin. Ingat itu. Andai saja ada orang yang mengatakan pernah melihat wujud jin, itu adalah bohong. Kamu jangan percaya itu. Dan apa yang sering kamu ceritakan sama bapak itu cuma halusinasi. Enggak perlu dipikir. Enggak perlu diingat karena enggak penting itu, Yun. Ngapain coba kalau kita hidup cuma mikirin jin. Sedang jin saja enggak pernah mikirin hidup kita," papar bapak kepadaku, lalu terkekeh. Seperti biasa bapak selalu menceramahi seperti ini. Aku paham, memang manusia itu hidup berdampingan dengan alam jin. Namun, kenapa bapak tak pernah percaya jika aku sering lihat mereka. Sudahlah, menjelaskan lagi pun percuma karena memang bapak tak percaya. Sejenak kami sama-sama terdiam. Aku sibuk dengan pikiran sendiri tentang apa yang aku alami selama tinggal di sini yang baru dua hari, sementara bapak entah sedang memikirkan apa. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh panggilan Mas Fael dari dalam rumah. "Dik, ayo buruan, sudah jam sepuluh ini. Kok, malah bengong saja di situ. Buruan sana ganti baju, katanya mau ke minimarket cari jajan," kata Mas Fael dari ambang pintu ruang tamu. "Iya, Mas," sahutku, "sebentar ya, Pak. Aku cari jajan bentar di minimarket situ, dekat kok. Bapak sini saja, kalau masih dingin jemuran saja di sini." "Iyaa. Cari jajannya jangan pas-pasan, siapa tahu nanti temennya yang datang sini banyak, malah kamu pusing sendiri," pesan Bapak kepadaku. "Iya, Pak. Aku lebihin pokoknya. Bapak mau apa? Nanti aku cariin." Aku menawarkan bapak. "Apa saja yang penting enggak keras. Tahu sendiri, gigi bapak sudah ompong kayak gini, buat makan saja susah," kata bapak, lalu terkekeh lagi. Aku pun ikutan terkekeh dengan banyolan bapak. Kemudian aku berlalu meninggalkan bapak duduk sendiri di taman depan, lalu bergegas masuk untuk ganti pakaian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN