Aku dan Mas Fael pun berangkat untuk mencari jajanan di minimarket terdekat. Sekitar dua menit kami pun sampai. Setelah memarkirkan motor, aku turun dan bergegas menuju minimarket.
Ternyata di minimarket ini sangat kumplit jajanannya. Setelah semua yang diinginkan didapatkan, kami pun langsung pulang karena Adel tidak kami ajak. Takutnya malah Adel rewel bersama kakek neneknya.
Beberapa saat kemudian, sampailah aku dan Mas Fael di rumah. Rupanya Adel sedang bermain dengan bapak di teras depan, Adel terlihat sangat bahagia main bersama bapak.
"Cepet banget, Yun. Rasanya kayak baru saja pergi, sudah sampai saja," sapa bapak kepadaku saat turun dari motor.
"Iya ini, Pak. Dekat, kok. Tadi di sana khawatir, takutnya Adel malah rewel lagi kayak kemarin. Tahunya malah lagi main sama Bapak."
"Ya enggak, dong. Kalau sama bapak dijamin aman, Yun. He-he-he," tukas bapak sembari mengusap-usap pucuk kepala Adel, Adel pun membalas dengan senyuman.
"Alhamdulillah kalau gitu. Aku masuk dulu ya, Pak."
Aku bergegas masuk sembari membawa barang belanjaan, sementara Mas Fael setelah memarkirkan motor lantas duduk bersebelahan dengan bapak, mereka kembali mengisap rokok kesukaannya.
"Bu, coba lihat ini jajannya. Aku beli yang kayak gini. Soalnya adanya ini. Bener enggak?" tanyaku seraya menghampiri ibu mertua dan ibuku yang masih asyik nonton acara TV di ruang tengah sambil bawa barang belanjaan.
"Coba ibu lihat," kata ibu, lalu beranjak bangun dari duduk dan membuka barang belanjaan yang aku letakkan di atas meja.
Wajahnya didekatkan ke ujung plastik kresek dan mengecek satu per satu jajanan yang kubeli.
"Oh iya benar, ini saja sudah cukup, tinggal kamu cek itu air panasnya buat minum nanti, cukup apa enggak. Eh, kamu sudah tanya belum, teman Fael yang mau datang ke sini berapa orang?" tanya ibu kepadaku, lalu membawa bungkusan jajan ke dapur untuk di masukkan ke toples.
"Coba aku tanya bentar ya, Bu. Dari tadi, kok, aku lupa mau nanya."
Aku langsung ngeloyor keluar lagi untuk menemui Mas Fael yang masih duduk bersama bapak di teras depan.
"Mas, nanti temannya yang mau datang ke sini berapa orang, sih?" tanyaku sembari berkacak pinggang di ambang pintu karena ketiak terasa sangat gerah.
"Ya sekitar sepuluhan orang, lah. Kalau ikut semua ya ada dua puluh orang. Yasa ... paling sekitar sepuluhan, tapi enggak tahu juga," kata Mas Fael tak jelas, lalu mengisap rokok.
"Dih, enggak jelas amat. Tanya dong sama temannya, yang mau ke sini berapa orang," kataku sembari mendengkus kesal.
Aku lantas duduk di sebelah bapak, lalu membelai sebentar rambut Adel yang masih asik bermain.
"Ya malu, lah. Masa orang mau ke sini ditanya mau berapa orang yang datang. Dikira kita enggak boleh didatangin sama orang aku, Dik," kata Mas Fael.
"Iya itu bener kata Fael. Yang penting kamu siapin saja, Yun. Mau yang datang banyak apa dikit, yang penting kamu sudah siap. Misalkan sisa ya enggak apa-apa, enggak ada barang mubazir di sini. Kamu tenang saja, ada TPA." Bapak malah terkekeh.
"Ya sudah kalau gitu, aku rebus air dulu. Siapa tahu yang datang ke sini satu RT. Iya, kan."
Mas Fael malah tertawa. Aku langsung beranjak dan masuk ke rumah. Bapak makin terkekeh melihatku yang menggeloyor masuk lagi menghampiri ibu yang masih di dapur.
"Teman Mas Fael yang ke sini enggak jelas mau berapa orang, kok, Bu. Katanya sepuluh, katanya dua puluh." Aku lalu duduk di sebelah ibu mertua.
"Ya sudah, yang penting kita sudah nyiapin buat orang banyak," jelas ibu mertua. Aku pun mengangguk.
***
Bakda zuhur pun tiba. Teman-teman Mas Fael mulai datang. Ternyata mereka datang bersama pasangan masing-masing dan bersama anak mereka yang masih kecil, sekitar seusia Adel. Ada empat pasang suami istri
Baru teringat, jika hari ini adalah hari minggu. Pantas saja mereka datang bersama dengan suami atau istri mereka. Kukira malah mereka datang dari kantor. Ya sudah kalau seperti itu. Sekalian kenalan sama istri atau suami mereka.
Aku bersalaman dengan mereka saling mengenalkan diri. Namun, aku tak juga hafal dengan nama mereka karena saking banyaknya.
Setelah kupersilahkan duduk, aku lantas ke dapur untuk membuatkan minum dibantu oleh ibu. Kemudian membawanya ke ruang tamu setelah minuman selesai dibuat.
Tak berapa lama, datang lagi teman Mas Fael bersama rekan lainnya. Mereka tidak bersama dengan anaknya, hanya dengan pasangan masing-masing. Terlihat dari wajahnya sepertinya mereka masih pacaran atau mungkin pasangan muda yang belum mempunyai anak.
Aku pun mempersilakan mereka masuk. Adel terlihat sangat senang karena banyak teman sebayanya yang datang. Ada lima anak, di antaranya ada anak kembar. Seketika rumah jadi mirip playgroup karena jadi ada enam balita. Semua mainan Adel dikeluarkan. Aku biarkan saja asal anak-anak bahagia dan kerasan.
Aku sengaja tak menemani teman-teman Mas Fael karena sungkan saja dan memilih untuk menemani anak-anak bermain di ruang tengah.
Adel terlihat sangat bahagia bermain dengan teman baru. Tiba-tiba saja ada salah satu anak yang berceloteh hingga membuat bulu kuduk meremang.
"Lihat itu! Ada Mak Lampir di sana," kata salah satu anak sembari menunjuk ke jendela kaca ruang tengah ke arah pekarangan belakang.
Jendela ruang tengah terbuat dari kaca semua yang memang sengaja didesain seperti itu agar bisa melihat pemandangan pekarangan. Bisa dikatakan jika dindingnya itu full kaca.
Ibu dan ibu mertua hanya saling berpandangan saja setelah mendengar anak itu berceloteh. Sementara aku sedang sibuk mengusap-usap kedua lengan karena bulu kuduk yang mulai meremang setelah mendengar celotehan anak itu.
Kemudian salah satu anak pun menanggapi celotehan anak itu.
"Mana, enggak ada Mak Lampir. Kamu itu yang Mak Lampir," celoteh anak satunya, kemudian terkekeh sembari berlari-lari.
Namun, anak yang tadi melihat masih terpaku sembari menatap ke arah luar. Sepertinya anak itu sudah terbiasa melihat hal-hal gaib. Buktinya, tidak ada raut ketakutan di wajahnya, justru memperhatikan terus ke arah luar. Sesekali dia tersenyum. Sesekali dia melambaikan tangan. Sesekali pula dia seperti ingin mendekat ke arah kaca, tetapi diurungkan entah karena apa.
Pemandangan seperti ini yang paling tidak kusukai. Hanya membuat tengkuk semakin menebal. Baru saja menempati rumah baru, aku sudah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Apalagi itu anak kecil yang melihatnya. Anak kecil tak pernah berbohong dengan apa yang ia lihat. Beda dengan orang dewasa yang suka mengada-ngada, tetapi itu bukan aku.
Aku melihat sesuatu karena memang benar adanya. Hanya saja bapak, ibu, ibu mertua, dan Mas Fael yang tak pernah mempercayaiku.
"Sini!" ajak anak itu pada yang ia sebut Mak Lampir. Ia melambai-lambaikan tangan ke arah pekarangan belakang.
Dada seketika berdesir mendengarnya. Allah, kenapa malah kedatangan tamu yang bisa lihat yang tak kasat mata. Hanya membuat hati makin waswas saja.
Jangan-jangan yang anak itu lihat adalah sosok yang menyerupai Mas Fael dan bapak. Bisa saja kan sosok itu berubah-ubah.
Ah, kacau-kacau-kacau. Pikiranku makin kacau karena celotehan anak itu.
"Yun!" kata ibu mertua mengagetkan lamunanku, "ngapain kamu bengong di situ. Itu dipersilakan makan dulu, sudah hampir jam tiga."
"Eh ... oh ... iya, Bu. Sampai lupa, he-he-he."
Aku pun lantas menuju ruang tamu untuk mempersilakan mereka makan terlebih dulu. Mereka satu per satu mengambil menu yang telah dihidangkan.
Untung saja tadi menjelang zuhur ibu mengingatkan agar aku masak seadanya. Aku membuat mie goreng instan, telur dadar, sup bunga kol, dan wortel. Tak lupa membuat sambal tomat. Semua hasil petik di pekarangan belakang.
Teman-teman Mas Fael alhamdulillah sangat menyenangkan. Mereka disuguhkan makanan seadanya, tetapi mereka terlihat sangat bahagia. Sembari makan mereka masih bercengkerama. Sesekali ada canda tawa. Sementara para ibu menyuapi anak-anak mereka.
Sebenarnya aku malu karena tidak bisa menyuguhkan lauk daging atau hidangan istimewa lainnya. Andai saja mereka ke sini besok-besok, pasti aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak serba mendadak seperti ini, jadinya ya apa adanya.
Sesekali aku mencuri pandang ke arah anak kecil yang tadi katanya melihat Mak Lampir. Ia sedang disuapi ibunya. Namun, kepalanya tak mau lepas dari memandang ke arah pekarangan.
Kulihat expresi ibunya seperti biasa saja. Sesekali ia pun menoleh ke arah pekarangan. Mungkin ia bisa melihat juga atau mungkin hanya melihat tanaman. Entahlah. Yang jelas ibu dan anak itu seperti melihat sesuatu.
Kemudian anak itu berbisik di telinga ibunya. Sepersekian detik ibunya pun kembali menoleh ke arah pekarangan. Lantas jari telunjuk ditempelkan di bibir. Anaknya pun mengangguk dan tak lagi menoleh ke arah pekarangan. Sesekali ibu tersebut melirik ke arah ibu-ibu yang lain. Sepertinya waspada agar tingkahnya tak dicurigai oleh ibu-ibu yang lain.
Baru paham setelah melihat gesturnya, ibu dan anak tersebut memang bisa melihat yang tak kasat mata. Bulu kuduk kembali meremang diikuti desiran di d**a. Allah, untung saja Adel tak memiliki kemampuan seperti anak itu. Andai saja bisa, aku bisa pingsan tiap hari.
Usai makan, teman-teman Mas Fael memetik mangga di halaman depan. Mereka sangat asik. Aku hanya melihat dari taman bersama ibu-ibu lainnya. Sedangkan anak-anak ikut nimbrung petik mangga.
Kulihat masing-masing memetik sekitar tiga sampai empat buah. Buahnya memang sangat subur hingga berukuran jumbo. Jadi, meski bawa empat buah saja sudah sangat berat. Maka itu mereka tak ingin membawa lebih. Katanya empat atau tiga saja sudah cukup. Ya sudah kalau begitu.
Bakda ashar teman-teman Mas Fael pun berpamitan untuk pulang karena beberapa anak ada yang sudah mulai rewel minta pulang. Akhirnya semuanya pun ikut berpamitan.
"Jangan kapok main ke sini ya, Mbak, Mas," kataku kepada teman-teman Mas Fael, begitu juga Mas Fael mengatakan hal yang sama kepada teman-temannya.
"Enggak, lah. Aku malah suka main ke sini. Rumahnya adem. Apalagi mangganya, enak. Bikin nagih, ha-ha-ha," kata salah satu teman Mas Fael.
Kebetulan tadi memang aku mengupas beberapa mangga untuk hidangan penutup. Saking keenakan makan mangga, mereka minta petik lagi untuk dibawa pulang. Aku dan Mas Fael tak masalah karena buahnya sangat lebat seakan tak ada habisnya meski tiap hari dipetik.
"Hus, malu-maluin," tegur istrinya.
Kami semua pun tertawa melihat tingkahnya.
"Kapan-kapan deh, kita main ke sini lagi. Kita pulang dulu ya, El," kata teman yang lainnya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut," pesan Mas Fael.
Kemudian kami saling bersalaman.
"Okeeee," sahut mereka bersamaan.
Sesaat setelah mereka pergi, Mas Fael kembali memetik beberapa buah lagi karena yang tadi kukupas sudah habis.
"Mas. Anaknya temen kamu ada yang indigo ya?" tanyaku pada Mas Fael saat sedang memetik mangga.
"Indigo apaan? Enggak ada," tanya Mas Fael tanpa menoleh ke arahku.
"Tadi ada, loh. Anak yang rambutnya keriting pakai kaos merah itu," jelasku.
"Anaknya Dodi?" Mas Fael malah gantian bertanya.
"Ya mana aku tahu, lah. Anak Dodi atau anak Syahrukh Khan. Pokoknya yang rambutnya keriting."
Bukannya menjawab, Mas Fael justru terkekeh.
"Ada yang lucu? Tanya serius malah ketawa," kataku mendengkus.
"Lah, kamu ada-ada saja, kok." Mas Fael masih saja tertawa.
"Kata anak keriting itu, di pekarangan belakang ada Mak Lampir, Mas."
"Apa? Mak Lampir. Astagfirullah, ha-ha-ha. Diiiiik, Dik. Omongan anak kecil saja seriusnya kayak lagi bahas negara saja," tukas Mas Fael seraya memunguti mangga yang jatuh di rumput, sedangkan aku hanya menonton saja dengan pikiran masih tertuju pada celotehan anak tadi.
"Ya sudah, lah! Susah kalau ngomong sama kamu, Mas!"
Aku meninggalkan Mas Fael dengan perasaan yang sangat kesal. Selalu tak pernah menanggapi ceritaku tentang hal gaib.
Mas Fael masih saja tertawa, entah di bagian mana yang lucu menurutnya hingga tak berhenti tertawa.