Hari ketiga.
Bakda subuh, bapak menyuruh aku dan Mas Fael agar mengadakan pengajian nanti malam di rumah agar rumah menjadi lebih nyaman. Aku dan Mas Fael setuju dan aku sangat mendukung.
Jadi kepikiran, jangan-jangan semua teror yang ada karena belum diadakan pengajian di rumah. Jika memang demikian maka harus segera diadakan pengajian. Benar juga saran bapak.
Eit, tunggu. Kenapa bapak tiba-tiba menyuruh untuk mengadakan pengajian? Jangan-jangan bapak juga merasakan apa yang aku rasakan, tetapi ditutup-tutupi. Makin penasaran dengan bapak.
Sebelum berangkat kerja, Mas Fael menyempatkan diri ke rumah Pak RT untuk meminta tolong agar memberitahu warga, bahwa nanti malam diundang pengajian di rumah.
Pak RT ternyata sangat antusias dan segera memberi pengumuman di grup w******p.
"Dik, ini langsung diumumin Pak RT di grup w******p. Nih!" tukas Mas Fael seraya memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajahku usai dari Pak RT.
"Oalaaah. Iya, ya. Berarti kamu langsung dimasukkin ke grup RT sini ya, Mas."
"Iya. Aku berangkat dulu ya, Dik. Sudah agak telat ini." Mas Fael memasukkan ponselnya kembali ke saku jaket kulitnya. Kemudian berpamitan dengan bapak, ibu, dan ibu mertua.
Sekitar pukul delapan kulihat bapak sedang membuat minum kopi. Gegas aku hampiri bapak di dapur.
"Sini aku buatin, Pak," kataku kepada bapak.
"Enggak apa-apa. Bapak di rumah juga biasa bikin sendiri kalau ibumu lagi sibuk," tukas bapak, lalu menuangkan air panas dari termos.
"Pak!" Ingin sekali bertanya tentang rumah ini kepada bapak, tetapi rasanya bingung.
"Iya." Bapak mulai mengaduk minumnya. "Ada apa to, Yun. Kayaknya ada yang mau ditanyakan."
"He-he-he. Anu, Pak. Emm ...." Kenapa aku malah ragu seperi ini. Padahal tinggal mengatakan saja.
"Anu apa?" Bapak malah terkekeh, sepetinya bapak sudah tahu apa yang akan aku tanyakan.
"Itu, Pak. Anu. Eeh, Pak."
"Kamu itu mau ngomong apa? Ngomongo! Bapak enggak bakal nggigit, ha-ha-ha."
Aku malah tersipu malu melihat bapak yang menertawakanku.
"Enggak jadi, he-he-he."
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala saja. Entah kenapa rasanya leher seakan tercekik. Padahal kata-kata itu sudah ada di ujung mulut. Ah, selalu saja bingung dan ragu jika ingin menanyakan sesuatu yang aneh kepada bapak.
Itu karena aku sudah terlalu hafal dengan jawaban yang akan dilontarkan bapak. Pasti akan mengatakan 'oalaaah, Yuuun, Yun. Kamu itu kebanyakan nonton film horor, jadinya apa-apa selalu dihubung-hubungkan dengan setan. Itu namanya halusinasi.'
Aku pun kembali duduk di ruang tengah dan menemani Adel bermain dengan rasa penasaran yang masih menari-nari di kepala. Sementara bapak justru terkekeh sendirian di dapur.
"Bapak kebiasaan banget," gumamku lirih.
***
Malam pun tiba. Para warga sudah berdatangan untuk acara pengajian. Aku, ibu, dan ibu mertua sibuk di dapur menyiapkan makanan dan minuman.
"Banyak juga warga sini ya, Yun," kata ibu mertua kepadaku sembari menata kue di piring.
"Iya, Bu. Aku juga baru tahu. Kayaknya rumah sekitar sini sedikit banget, ternyata banyak juga," ujarku.
Setelah semua siap dan pengajian sudah selesai, aku memberi kode kepada Mas Fael agar segera membawa jajanan juga minuman.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena para warga sangat antusias datang ke acara ini. Hingga selesai acara pengajian, semua berjalan dengan lancar. Kini mereka sedang ngobrol sembari menikmati hidangan ala kadarnya.
Warga sini ternyata sangat ramah dan mudah akrab. Apalagi Pak RT, dia sangat suka bercanda. Ada saja yang jadi bahan candaan di antara obrolan para warga.
***
Dua hari setelahnya, bapak dan ibu berpamitan kepadaku dan juga Mas Fael untuk pulang. Katanya kelamaan di sini nanti tanamannya tak terurus. Tentu saja karena bapak tidak mempunyai karyawan untuk mengolah sawahnya. Bapak dan ibu mengolahnya sendiri selama ini hingga bisa menyekolahkanku dengan abang yang kini tinggal di Aceh. Kecuali jika musim panen tiba, baru menyuruh beberapa orang untuk membantunya.
Ya sudah kalau seperti itu karena memang jika terlalu lama di sini nanti tanaman tidak ada yang mengurus. Bisa-bisa mati kekeringan. Kasihan juga kalau begitu. Sementara ibu mertua sudah minta pulang sejak kemarin karena ada barang datang, sedangkan tokonya ditutup. Mau tak mau Mas Fael pun mengantarkan ibu mertua pulang.
Sejak ibu mertua di sini, ibu memilih menutup tokonya agar tak kepikiran saat di sini dan semua karyawan diliburkan.
Kemudian Mas Fael mencarikan mobil grab untuk pulang bapak dan ibu karena tak mungkin Mas Fael mengantar pulang menggunakan motor. Semoga saja suatu saat aku dan Mas Fael bisa membeli sebuah mobil hingga bisa mengantar bapak atau ibu jika ingin bepergian.
Ada seminggu lebih bapak, ibu, juga ibu mertua di sini, suasana menjadi hangat dan ramai saat mereka di sini. Namun, setelah mereka pulang rumah terasa sangat sepi dan dingin.
Kebetulan sekarang hari sabtu, Mas Fael libur jika hari sabtu dan minggu, jadinya aku tak begitu kesepian. Entah besok jika Mas Fael sudah berangkat kerja. Pasti akan semakin sepi. Semoga saja aku makin nyaman tinggal di sini.
Malam hari pun tiba, bakda magrib Adel sudah minta dikeloni. Sepertinya sudah sangat ngantuk karena tadi siang Adel tidak tidur.
"Mas, aku ngeloni Adel dulu ya. Kayaknya sudah ngantuk banget," kataku kepada Mas Fael, lalu bangkit dari duduk sembari membopong Adel.
"Iya sana, tumbenan tuh anak jam segini sudah ngantuk," tukas Mas Fael.
"Soalnya tadi siang Adel enggak bobok. Makanya jam segini sudah ngantuk."
Aku berjalan menuju kamar sambil membopong Adel. Sengaja Adel belum dibuatkan kamar karena kami belum tega jika Adel dibiarkan tidur sendiri. Apalagi aku yang terlalu khawatir.
Baru beberapa menit aku keloni, Adel langsung terlelap. Memang sangat ngantuk anak ini. Setelah Adel terlelap, aku perlahan bangun dan melepas tanganku yang digunakan untuk bantalan kepala Adel, kemudian duduk kembali di ruang tengah tepat di sebelah Mas Fael sembari menonton acara TV.
"Jadi sepi ya, Mas. Enggak ada bapak, ibu," kataku, lalu mengambil cemilan di toples dan menyandarkan punggung di sofa.
"Iyalah. Makanya buruan punya adik lagi," canda Mas Fael, lalu mencolek pipiku.
"Dih, maunya." Aku membalasnya dengan suara merajuk, lalu menggelayut di bahunya. "Alhamdulillah banget ya, Mas, akhirnya kita bisa mempunyai rumah sendiri. Sudah luas, besar, ada tanaman sayur, tanaman buah, taman, sempurna banget kalau buat aku, Mas."
"Alhamdulillah kalau kamu suka, Dik. Besok kita bisa ngasih uang lebih buat bapak, ibu. Selama ini kan kita ngasihnya semampunya karena masih ngumpulin buat beli rumah."
"Iya, Mas. Itu harus. Kalau bukan anak yang memikirkan, terus siapa lagi. Sudah kewajiban kita sebagai anak membahagiakan orang tua. Kita punya rumah ini juga pasti ada doa orang tua kita di dalamnya."
"Iya betul itu."
Lama menonton acara TV, lama-lama aku mengantuk. Lalu kuajak Mas Fael untuk tidur.
"Mas, tidur yuk. Aku ngantuk banget, nih."
"Ayo."
Mas Fael meraih remote lalu mematikan TV. Aku ke kamar mandi dulu untuk BAK, kebiasaan sebelum tidur karena tak ingin jika malam hari terbangun hanya ingin BAK saja.
Usai dari kamar mandi, sengaja aku tak memadamkan lampu kamar mandi dan dapur. Mas Fael kemudian memadamkan lampu ruang tengah setelah menungguku selesai dari kamar mandi.
"Enggak usah dipadamkan, lah, Mas. Biarin nyala saja," pintaku kepada Mas Fael sembari berjalan menuju kamar.
Entah kenapa, rasanya pikiran negatif saja jika lampu ruang tengah dipadamkan. Seakan ada sesuatu entah apa. Padahal saat masih ngontrak, jika malam hari hanya lampu kamar saja yang menyala. Namun, di rumah ini seperti ada yang beda.
Mungkin karena semenjak hari pertama tinggal di sini aku sudah merasakan banyak keanehan di rumah ini. Dengan lampu ruang tengah dibiarkan menyala maka ada sedikit rasa nyaman di hati.
"Ya sudah kalau gitu, yang ruang tamu padamkan saja, ya?" Mas Fael menanyakan kepadaku.
"Iya enggak apa-apa. Yang penting ruang tengah, dapur, sama kamar mandi jangan dipadamkan," pesanku kepada Mas Fael.
"Iya, iyaaa."
Mas Fael mengikutiku dari belakang, kemudian kami pun tidur.
***
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara drum yang dipukul. Spontan saja aku terbangun dengan mata terbelalak karena suara itu sangat keras. Jangankan suara drum, bahkan suara benda kecil jatuh pun bisa dengar meskipun sedang terlelap, apalagi suara drum.
Kufokuskan pendengaran, barangkali tadi salah dengar. Namun, ternyata benar, suara itu kembali terdengar.
Dung! Dung! Dung!
Seketika jantung berdegup kencang mendengar suara itu. Memang seperti suara drum yang dipukul oleh benda keras. Entah itu batu atau benda keras lainnya.
Dung! Dung! Dung!
Lagi-lagi suara itu terdengar, hingga membuat jantung semakin berdegup kencang seakan hendak lepas dari tempatnya. Aku pun mengguncang-guncangkan bahu Mas Fael agar bangun. Namun, Mas Fael tak bangun juga.
"Mas, Mas," kataku kembali mengguncang-guncangan bahu Mas Fael.
Kemudian Mas Fael menoleh ke arahku, spontan aku memberi kode agar Mas Fael jangan bicara, lebih tepatnya diam. Mas Fael pun berbisik.
"Kenapa? Ada apa?"
"Ada suara drum dipukul-pukul," bisikku di telinganya Mas Fael.
Kurasakan badan mulai bergetar saking takutnya.
"Masa, sih?" tanya Mas Fael tak percaya.
"Coba saja dengerin siapa tahu nanti bunyi lagi," bisikku lagi
Tanpa disangka, suara itu ada lagi.
Dung! Dung! Dung!
Mas Fael baru percaya apa dengan apa yang aku dengar. d**a ini berdesir. Allah, teror apalagi ini.
"Tuh, dengar enggak? Itu suara drum di belakang kamar ini kan, Mas?" tanyaku kepada Mas Fael tepat di telinga, khawatir suaraku terdengar dari luar.
"Iya juga ya, itu suara drum, tapi siapa yang mukul?" Mas Fael gantian bertanya padaku.
"Ya mana aku tahu. Coba Mas Fael intip, jangan-jangan maling," kataku dengan d**a yang terus berdesir.
Kemudian Mas Fael bangkit dari kasur untuk melihat ke arah belakang melalui pojok jendela dengan membuka sedikit tirai. Matanya membulat menyisir seluruh halaman belakang. Jantungku makin berdegup kencang menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut Mas Fael.
"Siapa, Mas?" bisikku. Mas Fael memberi kode agar aku diam, mungkin takut jika itu adalah pencuri.
Melihat Mas Fael sedang mengintip ke arah luar, rasanya hilang semua daya, berubah jadi lemas dan lunglai. Namun, masih kurasakan jika badan ini mulai bergetar hebat.
Sesaat kemudian, Mas Fael menutup kelambu, lalu mundur dan kembali duduk di tepi kasur. Aku pun mengikuti Mas Fael dari belakangnya dan beranjak naik ke kasur.
"Mas, ada siapa di belakang?" tanyaku kepada Mas Fael dengan tangan yang mulai basah karena takut dan panik.
"Kucing mungkin, Dik. Enggak ada siapa-siapa, kok, di belakang."
"Masa, sih?"
Mana mungkin kucing. Alasan yang sangat aneh.
"Sudahlah, buat tidur saja." Mas Fael menarik selimut dan menyelimutiku juga, lalu merebahkan diri ingin melanjutkan tidur.
"Mas. Mas yakin itu kucing?" tanyaku masih penasaran dan sedikit tak percaya.
"Iya."
"Masa kucing, sih? Aneh," gumamku lirih, lantas merebahkan diri dan memeluk Adel.
"Mas," bisikku lagi.
"Apaan, sudah, buat tidur saja. Itu kucing."
"Mas enggak bohong, kan?"
"Lah, kalau bukan kucing, emang apa, Dik. Insya Allah bukan maling, tenang saja. Sudah, buat tidur." Aku menuruti apa kata Mas Fael. Mungkin itu memang kucing tetangga yang masuk ke pekarangan belakang.
Aku berusaha memejamkan mata, tetapi telinga masih waspada. Siapa tahu nanti ada suara itu lagi. Satu jam berlalu, suara itu sudah tak terdengar lagi. Apa mungkin memang benar apa kata Mas Fael, jika itu hanya kucing, tetapi apa iya?
Mana mungkin kucing bisa memukul drum sekeras itu. Seperti biasa, pikiranku selalu tertuju pada hal gaib. Aku yakin itu bukan manusia atau maling. Jika maling, tidak ada maling yang sengaja menimbulkan suara. Sedang suara itu sangat teratur, selalu tiga kali pukulan. Ada yang aneh. Besok pagi aku harus mencari tahu penyebabnya sendiri, tanpa bantuan Mas Fael.