TEROR MALAM

1800 Kata
Pagi harinya aku langsung mengecek ke halaman belakang dan memperhatikan sekeliling drum. Namun, tak ada benda ataupun balok kayu yang digunakan untuk memukul drum. Padahal aku yakin sekali jika suara drum itu berasal dari benda keras yang dipukulkan ke drum. Tidak mungkin drum itu berbunyi sendiri tanpa ada sesuatu benda yang membenturnya. Kemudian aku melihat ke atas dan memperhatikan saluran paralon, barangkali ada yang rusak. Lagi-lagi semua tampak biasa saja dan terlihat wajar. Tak ada yang rusak atau sesuatu yang mencurigakan sama sekali. Lantas aku mulai menyisir seluruh pagar belakang. Pagarnya lumayan tinggi, sekitar tiga setengah meter. Jika dipikir, kucing tak akan bisa masuk ke sini. Lagi pula, apa ada kucing yang suka pukul-pukul drum? Aku pun berinisiatif melihat ke arah belakang rumah, lebih tepatnya lorong belakang rumah. Untuk ke sana, aku harus melewati taman belakang. Sesampainya di sana, semua terlihat biasa saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan sama sekali. Apa ya? Aku merasa bingung sendiri dan hanya terbengong sesaat. Lantas aku kembali ke pekarangan untuk memastikan sekali lagi. Barangkali ada sesuatu yang belum kulihat. Netra mulai menyisir seluruh halaman belakang dengan perasaan yang masih bertanya-tanya. Apa benar kucing? Ah, ini pasti akal-akalan dari Mas Fael saja mengatakan jika itu ulah kucing agar aku tidak ketakutan. Aku yakin, ada sesuatu di sini. Aku pun lantas kembali ke dalam karena tak menemukan apa-apa. Sebelum sampai ambang pintu belakang, sudah berpapasan dengan Adel yang mendorong sepeda roda tiga tiganya menuju halaman belakang. "Mau ke mana, Adel?" tanyaku kepada Adel seraya menghentikan langkah. "Mau main sepeda di sini, kok, Ma." Adel langsung menggowes sepedanya putar-putar di sebelah kolam. "Tapi di belakang kotor, Sayang. Nanti rodanya injak tanah, kalau sepedanya masuk ke rumah, nanti mama capek bersihin lantainya. Di halaman depan saja yang enggak kotor, ya." Adel lalu menggowes dan berhenti tepat di hadapanku. "Tapi Mama yang bawain sepedanya ke depan." Adel langsung turun dari sepeda dan berlari masuk ke rumah. "Nih, anak," gerutuku. Aku lantas membawa sepeda roda tiga Adel ke halaman depan. "Mau dibawa ke mana, Dik?" tanya Mas Fael saat melihatku membawa sepeda Adel melewati ruang tengah. "Ini mau dibawa keluar, daripada main di belakang injak-injak tanah, nanti sepedanya masuk ke rumah, capek aku bersihin lantainya, Mas." Mas Fael tak menyahut, hanya manggut-manggut saja sembari memakai kaos kaki. Adel sudah menunggu di halaman depan. Aku pun lantas meletakkan sepeda di depan teras. Adel langsung menghampiri sepedanya dengan girang, buru-buru menaiki lalu mengayuhnya. "Pelan-pelan saja, ya, enggak usah ngebut," pesanku pada Adel. "Iya, Ma." "Ya sudah, Mama masuk dulu, ya. Papa sudah mau berangkat. Mama mau siapin bekal buat papa kerja dulu." Kemudian aku masuk ke rumah dan menyiapkan bekal untuk Mas Fael. Seperti biasa, selalu menyiapkan bekal karena teman-teman Mas Fael pun demikian. Jarang yang makan di warung. Itu karena warungnya sangat jauh dari tempat kerja. Untuk sampai ke warung saja menyita waktu sekitar sepuluh menit. Jadi untuk efisiensi waktu Mas Fael dan teman-teman selalu membawa bekal makan dari rumah. Selain efisiensi waktu juga lebih irit tentunya. "Sudah siap semuanya, Dik?" tanya Mas Fael sembari mengenakan jam tangan dan berjalan menuju dapur. "Iya, Mas. Sudah ini," kataku, kemudian menyodorkan bekal makanan yang sudah kubungkus rapi kepada Mas Fael. Mas Fael lantas memasukkan ke tas punggungnya bagian depan karena bagian belakang berisi laptop. Kemudian aku mengantar Mas Fael berangkat hingga depan. Sebelumnya bersalaman dan cipika-cipiki terlebih dulu. Tak lupa Adel pun demikian dan selalu berpesan kepada Mas Fael jika pulang harus membawakan jajan. Seperti itu tiap hari jika Mas Fael akan berangkat kerja. Setelah Mas Fael berangkat, aku melanjutkan beres-beres rumah, mumpung Adel lagi asik main sepeda di depan. "Mama beres-beres rumah dulu ya. Adel main sini dulu. Kalau Adel capek, berhenti mainnya, ya," pesanku pada Adel. "Adel saja enggak capek, kok," tukas Adel sembari terus mengayuh sepedanya. "Iya, iyaa." Hari ini aku merasa biasa saja, tak seperti kemarin-kemarin saat merasakan situasi yang aneh. Hanya saja hari ini Adel berulah. Saat kutinggal masak di dapur, hampir saja Adel lepas dari rumah. Untung saja aku mengecek. Ternyata Adel sudah bisa membuka kunci gerbang teralis, padahal letak kuncinya lumayan tinggi. Lengah sedikit saja, Adel bisa pergi ke jalan raya. Tak lagi-lagi membiarkan Adel bermain sepeda sendiri di halaman depan. *** Malam hari pun tiba. Seperti biasa, pukul delapan selalu ngeloni Adel. Setelah Adel terlelap, aku duduk berduaan dengan Mas Fael sembari nonton film kesukaan kami dan mengobrol-ngobrol. Tepat pukul sembilan, aku mengajak Mas Fael tidur karena mata sudah terasa sangat berat. Mas Fael selalu menurutinya. Mengiakan, lalu memadamkan tivi seperti biasa. Sebelum tidur, aku melafalkan banyak doa agar tak ada lagi sesuatu yang mengganggu. Namun, sesuatu terjadi lagi seperti semalam. Suara drum itu terdengar kembali, hingga membuatku terbangun. Dung! Dung! Dung! "Suara drum lagi?" Aku bermonolog pelan dan langsung membangunkan Mas Fael dengan d**a yang berdesir. "Mas! Bangun! Ada suara drum lagi," kataku pada Mas Fael sembari mengguncang-guncangkan lengannya. "Hmmm." "Mas!" Aku mulai mendengkus kesal karena jawaban Mas Fael. "Iya, Iya. Ada apa lagi, Dik?" Mas Fael tak mau membuka mata. Masih di posisi yang sama, hanya bertanya saja. "Itu, loh. Ada suara drum lagi," bisikku di telinga Mas Fael. "Itu kucing," kata Mas Fael setengah mengigau. "Kucing, kucing," kataku kesal, "bangun kenapa sih, Mas." Dung! Dung! Dung! Lagi-lagi jantung dibuat berdenyut lebih keras saking kagetnya, d**a pun makin berdesir-desir. "Tuh, dengerin. Enggak mungkin itu kucing. Masa kucing bisa memukul drum?" Mas Fael sepertinya tak menggubrisku, malah beringsut memunggungi. Dung! Dung! Dung! Suara drum kembali terdengar saat Mas Fael beringsut. Seketika Mas Fael membuka matanya. "Itu dengar sendiri, kan? Itu kucing?" tanyaku meledek kesal, meskipun jantung terus berdegup kencang. "Kucing, lah. Kucing jalanan paling," tukas Mas Fael sekenanya saja. "Enggak usah bercanda, lah, Mas. Aku tahu itu bukan kucing." Aku mendorong bahu Mas Fael saking kesalnya. "Sudah-sudah, buat tidur saja, nanti juga berhenti sendiri." Santai sekali Mas Fael menanggapinya, hanya membuatku makin kesal bercampur dengan ketakutan. "Mas, itu bukan kucing kan?" tanyaku di telinga Mas Fael. Desiran di d**a tak kunjung menghilang, bahkan makin berdesir seiring dengan suara drum yang terus berbunyi. "Iyaaa ... enggak usah bahas itu kenapa, sih? Tidur saja. Aku masih ngantuk." Mas Fael langsung terlelap kembali. Aku sangat heran, kenapa bisa ada suara drum seperti itu Mas Fael seperti tak peduli. Aku pun ikut beringsut dan memunggungi Mas Fael. Kecewa, kesal, takut, campur jadi satu. Allah, sebenarnya apa itu. Menurutku itu bukan kucing. Mana mungkin kucing tahu jadwal jika jam satu selalu pukul-pukul drum. Satu jam berlalu, tetapi suara drum itu terus terdengar dengan ritme yang sama. Aku semakin gelisah karena Adel dan Mas Fael masih terlelap, hanya aku seorang diri yang masih terjaga. Rasanya ingin sekali menangis karena menghadapi ketakutan seorang diri. Mas Fael tak begitu peduli denganku. Allah, lindungi aku. Suara drum itu sangat menyiksaku. Baju tidur sudah basah oleh keringat dingin. Tangan terasa sangat bergetar saking takutnya. Napas memburu. Kudekap erat Adel. Mas Fael masih saja hanyut dalam mimpinya. Bahkan suara dengkurannya makin keras. Aku harus berbuat apa? Semua doa sudah kulafalkan, tetapi suara itu tak kunjung hilang. Ingin menjerit, itu tak mungkin. Ingin kerudungan selimut hingga menutupi kepala, tetapi kasihan Adel. Allah, itu suara apa? Lindungi aku dan keluargaku dari hal-hal yang buruk. Tiba-tiba saja terdengar suara kresek-kresek seperti ada yang sedang meremas-remas plastik. Seketika mata terbelalak mendengarnya. Suara itu tepat sekali di depan jendela kamar. Jantung semakin berdegup kencang , diiringi desiran di d**a yang tiada henti. Telapak tangan semakin basah karena ketakutan yang luar biasa. Perlahan kulirik jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari Setengah jam lagi berarti Mas Fael bangun untuk tahajud. Aku harus menguatkan diri dari rasa takut hingga jam tiga nanti. Suara kresek-kresek itu tak kunjung hilang. Namun, ada yang aneh. Suara drum tiba-tiba tak terdengar setelah ada suara kresek-kresek. Aku sangat penasaran itu suara apa, tetapi rasa penasaranku dikalahkan oleh rasa takut yang luar biasa. Ingin menggerakkan kaki saja aku tak berani, apalagi untuk mengintip ke arah luar. Bisa-bisa aku mati berdiri. Satu pertanyaan yang tiba-tiba terbersit di hati, kenapa suara itu ada setelah bapak dan ibu pulang? Saat mereka masih di sini, setiap malam aman-aman saja. Tak ada suara-suara aneh, kecuali yang dulu aku pernah lihat seperti sosok bapak sedang rebahan di ruang tengah dan sosok seperti Mas Fael yang sedang duduk di tepi kasur. Aku hanya berharap, semoga besok malam dan besoknya lagi tak ada kejadian seperti ini lagi. Menunggu pukul tiga rasanya hampir setahun lamanya. Suara itu tak kunjung hilang dari pendengaran. Kulirik jam di dinding lagi, waktu sudah menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Perlahan suara kresek-kresek itu mengecil, lalu menghilang dengan sendirinya, seiring suara tahrim dari toa masjid tak jauh dari rumah. Sekarang, suara itu benar-benar hilang berganti dengan kesunyian. Kutajamkan pendengaran, siapa tahu akan ada suara langkah dari balik jendela. Namun, semua nihil. Tak ada suara sedikit pun dari belakang. Pukul tiga pun tiba, hati sangat lega, bahkan terasa sangat merdeka setelah bertempur sendiri dengan ketakutan. Segera kubangunkan Mas Fael untuk salat tahajud. "Mas, sudah jam tiga," kataku seraya mencolek pinggang Mas Fael. Mas Fael seketika terbangun, lalu menggeliat. Aku masih memeluk Adel dan membiarkan Mas Fael bangun terlebih dulu. "Kamu sudah wudhu, Dik?" tanya Mas Fael sembari beranjak bangun. "Belum." Aku sepele saja menjawabnya karena masih kesal dengan Mas Fael yang tadi seakan tak peduli denganku. "Biasanya kami duluan yang wudhu." Mas Fael turun dari ranjang. Aku tak menjawab. Lalu Mas Fael berjalan pelan menuju pintu. Beberapa menit kemudian, Mas Fael pun datang. Namun, aku rasanya masih enggan untuk bangun. "Bangun, Dik. Wudhu dulu sana," perintah Mas Fael seraya mengambil sajadah di lemari. Aku tak menjawab. Kusibakkan selimut, lantas turun dari ranjang dengan malas. Bukannya malas untuk tahajud, tetapi karena masih merasa kesal dengan Mas Fael. Bisa-bisanya tak peduli denganku. Aku melewati Mas Fael yang sedang menata sajadah di sebelah ranjang. Saat melewati ruang tengah, tiba-tiba saja tengkuk menebal. Rasanya ragu untuk melanjutkan berjalan ke dapur. Aku pun kembali ke kamar lagi. "Mas! Antar," pintaku seraya masuk ke kamar, lalu duduk di tepi kasur. "Loh! Kok, tumben minta anter. Ada apa, sih?" Mas Fael berhenti mengenakan sarung karena kaget dengan permintaanku yang dirasa aneh. Iya, aku sendiri pun merasa aneh. Kenapa tiba-tiba tak berani ke kamar mandi, padahal biasanya tak seperti ini. Rasa takut telah mengalahkan segalanya. "Takut, kok," jawabku seraya memainkan ujung jari. "Takut apa? Biasanya juga wudhu duluan enggak di antar." Mas Fael lalu meraih peci yang digantung di aku sebelah pintu. "Kalau enggak diantar aku mau tidur lagi!" Tanpa menjawab, Mas Fael segera berjalan menuju ruang tengah seraya memakai peci. Gegas aku mengikutinya dari belakang. "Antar sampai dapur, Mas!" Aku kembali merajuk sebab nyali benar-benar sedang menciut entah karena apa. Apa mungkin ada sesuatu yang tak terlihat olehku di dapur? Apa mungkin juga karena aku yang berlebihan? Entahlah, rasanya benar-benar tak berani untuk menuju kamar mandi sendiri. Aku benci dengan sifatku yang satu ini. Penakut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN