Ini sungguh aneh. Ke mana hilangnya sosok itu? Aku masih saja terpaku di sebelah gerobak siomay. Tiba-tiba saja aku sangat ragu untuk kembali ke rumah. Aku takut. Takut jika sosok tersebut akan terlihat oleh mata ini. Akan tetapi, mau tak mau aku tetap harus kembali ke rumah. Mau ke mana lagi jika tidak ke rumah. Sedangkan di sini tak ada saudara sama sekali. Satu sisi rasanya ingin sekali menangis menjalani kehidupan yang terus diteror. Di sisi lain aku harus tetap tegar dan semangat menjalani hari di rumah itu demi keluarga kecilku dan membuang jauh rasa takut yang selalu hinggap di d**a. Allah, berat sekali rasanya cobaan ini. "Mama ayo pulang, Ma!" seru Adel sembari menarik tanganku. Lamunan kembali terbuyarkan. "Eh, ayo." Aku kembali menuntun Adel untuk menyeberang. Sesampainya

