"Mas. Kayaknya kita perlu adain pengajian lagi, deh," kataku kepada Mas Fael usai mandi sore. Mas Fael masih memilih pakaian santai di lemari, sementara aku duduk di tepi kasur dengan tatapan malas. "Kan, belum lama sudah diadakan pengajian, Dik." Mas Fael mulai memakai pakaian. "Iya, sih." Aku tertunduk lesu menatap lantai. Kenapa tiba-tiba tak ada keberanian untuk mengatakan apa yang sebenarnya selama ini aku alami. Rasanya leher ini tercekik. Mas Fael kemudian duduk di sebelahku usai memakai pakaian. Aku menoleh dan menatap dalam-dalam wajahnya. Tangan Mas Fael meraih pundakku, lalu berkata, "tumben minta diadakan pengajian lagi. Ada apa?" "Anu, Mas. Mmm ... sebelumnya kamu janji, ya, mau mendengarkan semua keluh kesahku." Aku masih menatap lekat-lekat wajah Mas Fael. "Iya janji

