Aku terduduk lemas di atas tanah galian. Ibu dengan sigap meraih tubuhku. "Yun! Kamu kenapa?" tanya ibu, sepertinya ibu panik melihatku, "kamu pucat banget, Yuna. Kamu enggak apa-apa, kan?" Kulihat Mas Fael berlari menghampiriku, begitu juga bapak. Kurasakan debar di d**a semakin kencang, tubuh terasa bergetar. Aku tak menyangka, jika akhir dari beribu pertanyaan selama ini adalah sebuah penampakan yang kini ada di hadapanku. "Dik! Masuk saja, yuk." Mas Fael membantuku berdiri, begitu pun bapak. "Aku enggak mau masuk, Mas. Aku mau sini saja," kataku memaksa, padahal tubuh ini rasanya sudah tak berdaya, tenaga hilang seketika. "Kamu kepanasan ini, Yun," tukas bapak, aku hanya tersenyum saja seraya berdiri. "Kalau enggak mau masuk ya duduk sana saja yang enggak terlalu panas, Yun," pe

