Samar kudengar suara yang memanggil namaku. "Zara, bangun." Suaranya begitu halus masuk ke gendang telinga. Candu untuk kudengar, entah. Saat mata ini terangsang cahaya matahari, saat itu juga tersadar jika fajar sudah menyingsing. Husain menatapku canggung. Ada apa? Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, apa perihal masalah semalam? "Zara, maaf saya tadi mengalasi bagian itu kamu karena sepertinya kamu sedang menstruasi." Jantungku berdegup cepat. Jadi, maksudnya ia melihat aku bocor? Huaaaa! Wajah tentu saja sudah merah bak kepiting rebus. Husain terlihat membuanh wajah, menahan tawa. "Duhh," batinku kesal. Kenapa harus Husain yang melihatnya, meskipun ia adalah suamiku. "Kamu gak mau ke kamar mandi?" tawar Husain lagi. Rasanya ingin menghilang saat ini juga dari hadapan Husain. S

