Malam makin larut. Hazal berbaring di samping Cambria yang telah memejamkan mata. Beberapa lama setelah ia tertidur, mata hijau terang itu terbuka dengan hati-hati. Ia melirik ke belakang tubuhnya, memastikan jika lelaki tersebut benar-benar telah pulas dalam tidurnya. Ia bangkit membuka selimut lalu berjinjit pelan menggeledah laci, meja, lemari maupun tempat yang sekiranya ia pikir akan digunakan untuk menyembunyikan kunci. Namun setelah mencari di hampir seluruh ruangan, ia tetap tidak menemukan apa pun. Ia terhenti dan merenung sebentar, kemudian berpaling pada Hazal yang sedang tertidur. Ia yakin jika lelaki itu pasti menyembunyikan kunci tersebut di suatu tempat. Cambria berjinjit pelan lagi lalu mengamati sebentar dengan perasaan cemas. Tangannya mengayun di udara mencoba memasti

