Cambria termenung di dalam kamar dengan memeluk kedua lengannya. Ia nampak terpana, dengan gurat wajah cemas tak berdaya. Tiap ucapan Cemalia menggema di pikirannya seperti sebuah pisau tajam menyayat telinga, membuat ia tak mampu tenang sedetik pun sejak malam itu. Pintu terbuka bersama derit lirih terbawa angin. Namun gadis itu bahkan tak menyadari sama sekali sampai Dayang Raim memanggil dengan begitu pelan, sedikit cemas karena mengganggunya pagi itu. Ia terpana, memalingkan wajah bundarnya yang kecil pada perempuan tua yang berdiri di saming bahunya. "Maafkan saya mengagetkan Anda Yang Mulia. Apakah Anda tidak bersiap untuk berangkat menuju villa milik perdana menteri?" ia menutup bibirnya, memalingkan pandangan ke arah jendela. Cambria termenung lalu menggeleng. "Aku tidak punya k

