Aram sedang membaca dokumen yang hendak di tanda tanganinya ketika pintu ruangannya terbuka lebar. Antonio melangkah masuk dengan senyuman lebar diwajahnya sambil berseru, "Hei dude, i miss you. Where have you been? I didn't see you almost two weeks."
Aram mendongak menatap Antonio sekilas. Ia kembali membaca dokumennya sambil berkata, "Menenangkan diri agar aku tidak membunuhmu."
"Dan kau mengajak Emily?", tanyanya ketika sudah duduk di kursi di sebrang meja kerja Aram. Selama Aram tidak terlihat. Emily juga tidak muncul di hotel sama sekali. Bahkan tidak mengirim pesan teks kepada Antonio untuk mengatakan setidaknya satu alasan kenapa wanita itu tidak datang.
Aram meletakkan dokumen di tangannya dengan kasar. "Dia sakit."
Antonio mengerutkan keningnya. "Sakit?"
"Itu semua karenamu.", jawab Aram cepat. Ia menyandarkan punggung sambil melepaskan dasinya dan membuka dua kancing teratas.
"Bagaimana itu bisa karenaku?", Antonio mengangkat bahunya samar.
Aram menatap Antonio tajam. "Kalau bukan karena kau memasukan obat sialan itu aku tidak akan kalut, i***t!",
Antonio mengerjap, "Apa?", ia merasa salah dengar. "Aku pikir ketika aku pulang. Emily sudah tidur. Sialnya dia berada di lobi mengantarkan mantan kekasihnya."
"Jangan bilang kau menidu-"
"Tidak.", bantah Aram. "Tapi aku hampir menciumnya asal kau tahu.", tambahnya dengan nada ketus.
Antonio tersedak salivanya. "Apa?!", ia menepuk dadanya dan menggeleng pelan. "Tapi tidak apa. Bukan salahmu. She's too perfect to be your sister, btw."
"Aku rasa aku benar-benar harus membunuhmu."
"Aku bercanda.", katanya sambil meringis. "Jika aku jadi kau. Bisa kupastikan aku sudah meniduri adik tiriku.", tambahnya menggumam.
Aram masih bisa mendengarnya. Ia mendengus.
"Baiklah kau benar. Ini salahku. Apa dia baik-baik saja? Apa dia masih shock kau hampir menciumnya?", tanya Antonio dengan nada bersalah di awal kalimat. Kemudian nadanya kembali menjengkelkan.
Aram menggeleng. "Dia tidak tahu kalau aku hampir menciumnya. Dia menutup matanya. Jadi aku masih selamat.", ia memberi jeda beberapa saat.
"Oh kau benar-benar pria beruntung."
"Hmmm.", dehem Aram pelan. "Sayangnya Emily tidak. Saat aku mendorongnya. Tanpa sengaja aku melukainya hingga kedua pergelangannya memar. Dan ia menyembunyikan memar itu sampai pada akhirnya kecelakaan di dapur terjadi. Ia menjatuhkan pitcher kaca berisi kopi panas. Lalu menginjak pecahannya."
Antonio hendak mengeluarkan sepata kata ketika Aram menyela.
"Dan ia tidak bisa berjalan sendiri selama masa pemulihan. Itulah kenapa dia tidak datang selama dua minggu ke tempatmu untuk belajar."
Antonio menatap Aram dengan penuh penyesalan. Ia meringis pelan, "Apa aku boleh menjenguknya?'
"Boleh saja. Asal jangan mengatakan apapun soal obat sialan itu.", jawab Aram. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju mini bar di ujung ruangan, kemudian menuangkan wine kedalam dua gelas.
"Aku tidak akan mengatakan apapun. Janji.", katanya sambil mengangkat tangan menunjukkan angka dua sebagai tanda janji atau perdamaian pada Aram.
Aram mengambil gelas itu dan menyodorkan pada Antonio ketika ia kembali duduk di kursinya. "Aku mengatakan pada Emily jika aku terkena serangan panik."
"Serangan panik? Apa tidak ada alasan yang lebih keren? Kau membuat dirimu tampak lemah.", balas Antonio sambil menerima gelas itu.
Aram kembali menatap Antonio tajam. "Kau tampaknya memang sudah bosan hidup hah?"
...
"Buka mulutmu.", perintah Steven sambil memperagakan membuka mulut. Ia duduk di tepian ranjang dan ditangannya terdapat sepiring makaroni keju. Ia menyendokkan, kemudian menyodorkan pada Emily.
Emily menatap Steven malas. "Steven, aku bisa makan sendiri.", ia berusaha meraih piring dan sendok ditangan Steven.
Steven lebih cepat menariknya. "Kau sedang sakit."
"Kakiku. Bukan tanganku.", gerutu Emily.
Steven terkekeh pelan. "Aku tahu. Tapi biarkan aku menyuapimu. Sudah lama aku tidak melakukannya."
"Baiklah...", Emily membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Sambil mengusap bibirnya dengan tisu yang digenggamnya sejak tadi. Emily bertanya, "Apa kau tidak bekerja hari ini?"
Steven menggeleng, "Tidak. Aku akan menemanimu.", jawabnya.
"Aram. Dia hari ini pulang setelah jam makan siang. Kau bekerjalah, biar dia yang menjagaku"
"Dia menjagamu?", Steven mendengus pelan. "Dia mengancamku tapi dia sendiri yang melukaimu.", gerutunya masih dapat didengar Emily.
"Mengancam apa?"
"Tidak ada. Kau salah dengar.", Steven mengulas senyum tipis. "Buka mulutmu.", tambahnya sambil kembali menyuapkan makaroni kedalam mulut Emily.
Emily menerima suapan itu dan menatap Steven penuh tanya. Ia yakin jika ia tidak salah dengar Steven mengatakan bahwa Aram mengancamnya. Mengancam apa? Rasa penasaran Emily mendadak membuatnya merasa kesal. Ia menelengkan kepalanya menolak suapan dari Steven. "Aku kenyang.", katanya.
Steven mengangguk. Ia meletakkan piring ditangannya di atas meja laci disisi ranjang Emily. Kemudian mengambil segelas air mineral dan membantu wanita itu minum. "Tunggu disini.", ia membawa semua peralatan makan itu dan bangkit berdiri. Ia berjalan menuju pintu keluar.
Saat itu, secara bersamaan Aram membuka pintu kamar Emily bersama satu orang pria di sisinya. Pria itu membawa sebuket bunga mawar putih. Pria itu tersenyum kearah Steven. Namun Steven tidak bisa menemukan senyuman itu dapat dikategorikan sebagai senyuman ramah atau ejekan. "Oh you're the ex-boyfriend?"
Steven mengangkat sebelah alisnya. Ia melirik Aram tajam sekilas lalu menatap Antonio datar. "That's me.", jawabnya cepat. Ia baru melewati Aram dan Antonio tepat ditengah. Padahal jalan masih luas sehingga membuat Aram mendengus pelan. Namun saat Steven hendak menutup pintu. Ia tersenyum penuh kemenangan. "And by the way, she likes daisy. Bye!"
Pintu tertutup. Aram menggelengkan kepalanya sementara Antonio berbisik, "No wonder if you don't like him."
Aram hanya melirik Antonio sebelum mereka berjalan menghampiri Emily. Aram berlutut di sisi ranjang sambil mengecek perban di kaki Emily. Sementara Antonio meletakkan buket bunga di tangannya di atas ranjang. Ia berdiri di sebrang Emily sambil meringis melihat perban yang melingkar. "Apakah sakit?"
"Sudah tidak seberapa.", kata Emily sambil tersenyum simpul. "Terima kasih bunganya."
"Tidak perlu berterima kasih. Anggap saja sebagai permintaan maaf."
"Permintaan maaf?", Emily mengernyit. Ia menatap Antonio dengan sebelah alis terangkat.
Antonio mengerjap. "Aku yang membuat Aram terkena serangan panik.", jawabnya cepat.
Emily menoleh menatap Aram. Sebelum ia hendak bertanya. Pria itu lebih cepat menambahkan. "Antonio melihat mantan tunanganku. Lalu ia memberitahuku. Dan saat melihatnya aku tiba-tiba terkena serangan panik."
"Ya. Seperti itu ceritanya.", timpal Antonio. Ia tersenyum lebar untuk meyakinkan Emily.
Emily mengangkat sudut bibirnya. "Oh begitu.", gumamnya. Dalam hati ia merasa lega karena apa yang Aram katakan padanya benar. Entah kenapa ketika pria itu memberitahunya- Emily merasa ragu. Namun Antonio? Tidak mungkin pria itu membohonginyakan?
"Jadi apa aku dimaafkan?", tanya Antonio.
Emily menelengkan kepalanya. "Sejujurnya ini bukan sepenuhnya kesalahanmu dan Aram. Hanya saja- baiklah aku terima maafmu."
Antonio membungkukkan tubuhnya. Sebelah tangannya di letakkan di depan perut sementara yang lainnya ke belakang. "Terima kasih."
"Sama-sama.", balas Emily. Ia berdehem sebelum kembali berkata. "Aku ingin berbicara sesuatu dengan Aram.", kemudian ia menoleh menatap Aram dengan tatapan yang tidak bisa diartikan pria itu.
"Silahkan saja."
Aram mendongak menatap Antonio. "Maksud Emily... berbicara denganku berdua.", ia menekankan kata terakhir.
Antonio tersenyum sungkan. "Oh baiklah. Aku akan kebawah mengambil wine.", katanya sambil lalu.
Pintu kamar Emily tertutup. Aram menoleh menatap Emily. Ia bangkit berdiri sambil melipat tangannya didepan d**a. "Ada apa?"
Emily berdehem. "Hmm aku tidak tahu harus mulai darimana."
Jawaban wanita itu membuat Aram tiba-tiba merasa panik. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. "Katakan saja.", balasnya kemudian meneguk saliva.
"Aku hanya mengatakannya karena aku tidak ingin kau dan Steven memiliki masalah."
Aram mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya ia mulai paham apa maksud perkataan Emily.
"Apa kau mengancamnya?"
"Dia mengatakan padamu seperti itu?"
Emily menggeleng cepat. "Tidak.", jawabnya. "Tidak secara langsung.", tambah Emily dengan nada mencicit.
Aram mendengus pelan. "Tidak kusangka.", gumamnya. Ia duduk di tepian ranjang. Kedua tangannya bertumpu siku diatas lutut. "Baiklah. Aku memang mengancamnya.", akunya.
"Kenapa?"
Aram melirik Emily sekilas. "Karena aku sama sepertimu."
"Sama sepertiku?"
"Kau peduli padaku. Dan aku juga."
"Maksudmu?"
"Kau membantuku ketika aku bermasalah dengan Harper- ya meskipun pada akhirnya kau menyetujui perbuatanku. Maksudku disini, kau tidak bisa diam melihatku melakukan kesalahan. Begitupula denganku. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan."
Emily bersedekap tangan di depan perutnya. "Dengan kembali pada Steven?"
Aram menoleh menatap Emily dan mengangguk kecil. "Ya."
"Dengarkan aku...", ia menarik napasnya. "Aku masih tidak tahu bagaimana hubunganku dengannya, Aram. Disatu sisi aku merasa aku juga tidak ingin kembali menjalin hubungan bersamanya. Namun disatu sisi, aku ingin mencoba. Aku tidak bisa begitu saja membuangnya dalam hidupku. Aku mengenalnya semenjak aku masih kecil. Bahkan separuh hidupku selalu bersamanya."
"Setidaknya kau jangan memberinya harapan.", balas Aram cepat.
"Aku tidak memberinya harapan.", protes Emily. "Aku sudah mengatakan padanya jika hubungan saat ini hanya menjalin hubungan pertemanan."
Aram mendengus, "Lalu apa dia tahu jika kau hanya bermaksud untuk menjalin hubungan pertemanan? Karena aku bisa melihat jika dia masih berusaha untuk membuatmu jatuh hati lagi kepadanya."
Emily terdiam dan membenarkan perkataan Aram. Steven memang punya maksud dan tujuan lain ketika mereka mulai menjalin hubungan pertemanan. Namun Emily masih tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Steven karena beberapa hal yang membuatnya dilema. Pertama, ia tidak ingin merusak hubungan antara dirinya Steven. Seperti katanya tadi, pria itu sudah dikenal hampir separuh umur hidupnya. Kedua, ia sudah pernah mencoba menjelaskan namun alhasil Steven semakin keras mengejarnya. Semakin jauh dirinya, semakin gencar pria itu mendekatinya.
"Lagipula ada alasan lain kenapa aku mengancamnya.", Aram menunduk sesaat sebelum kembali menatap Emily. "Tapi sebelumnya aku mau minta maaf karena aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur. Masalahnya, aku tahu dia yang membantumu untuk melarikan diri dan menutupi beberapa fakta yang terjadi di lapangan saat kecelakaan, Em."
Aram merasa jika dua hal yang telah dilakukan Steven dimasa lalunya sama sekali tidak bisa di apresiasi meskipun saat itu adalah hal yang terbaik untuk Emily. Seharusnya pria itu berusaha menahan Emily agar tidak pergi meninggalkan keluarganya, menemani Emily untuk melewati semua hal buruk yang dialaminya, membantu Emily untuk bangkit dari keterpurukannya.
Selain itu, menutupi fakta kejadian yang terjadi pada kecelakaan enam tahun lalu? Tidak terkejut pria itu bisa melakukannya mengingat kedua orang tuanya pengacara. Pasti ia memiliki banyak koneksi dengan orang pemerintah dan mengerti hukum.
"Kau melakukan apa?"
Aram menarik napasnya dalam. "Saat pertama kali kita bertemu di lobi kantorku. Kau membawa tartlet untuk ayahku dan aku memberikan tartlet itu. Lalu kami berbincang sejenak mengenai dirimu karena aku tidak banyak mengetahui tentangmu. Dan aku berinisiatif untuk mencari tahu tentangmu dengan menyuruh orang untuk mencari informasi. Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan disaat kita bertemu untuk yang kedua kalinya. Untuk itu aku membawa sepeda motor, tahu banyak mengenai kecelakaan itu, dan selebihnya kau paham."
Emily mengerjap. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sepatah kata namun tidak bisa. Ia tidak tahu harus marah atau tidak pada pria itu. Secara ia sendiri juga melakukan beberapa pencarian kecil tentang Aram dan juga Adrian. Apa lagi-lagi dirinya dan Aram melakukan hal yang sama sehingga mereka impas? "Kau tidak perlu mengatakan apapun. Kau berhak marah dan membenciku. Dan aku tidak masalah asalkan kau tidak terluka, lagi."
Aram menekankan kata terakhir. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Emily membuka suara. "Aku tidak marah bahkan membancimu. Hanya saja- aku tidak mengira kau akan menjadi kakak yang protektif. Bahkan melebihi Nate."
"Benarkah kau tidak membenciku?"
Emily mengangguk kecil. "Kita berdua sudah pernah berdebat masalah Harper. Dan dari situ aku belajar untuk mendengarkan dan memahami semuanya dengan kepala dingin. Ya meskipun aku tadi sempat marah karena kau mengancam Steven.", jelasnya. "Lagipula aku tidak bisa benar-benar membencimu. Kau kakakku."
Aram berdehem pelan. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.", Kemudian ia mengusap lembut kepala Emily. "Entahlah- aku punya firasat jika ia bukanlah pria yang tepat, Em. Bukan hanya karena ia mantan kekasihmu dan ia melakukan hal-hal yang menurutku tidak seharusnya ia lakukan. Aku masih tidak tahu apa itu. Tapi aku tidak berhenti disini. Kau mengerti?"
Emily pernah mendengar dari Adrian jika Aram memiliki firasat yang kuat. Apa saja yang ia rasakan nyaris semuanya terjadi. Terkadang firasat pria itu yang menuntun kesuksesannya- bukan berarti Aram tidak andal. Dia sangat andal dalam melakukan pekerjaannya. Untuk itu ia menjadi CEO Langford International, perusahaan multinasional yang membawahi sejumlah perusahaan perhotelan dan franchise terkait.
"Ya aku mengerti.", Emily mengangkat sudut bibirnya. "Kumohon jangan terlalu keras padanya. Dia tetap temanku."
"Tentu saja. Kau bisa pegang kata-kataku.", Emily percaya karena Aram tidak pernah mengingkari perkataanya. "Dan kedua. Aku sangat berterima kasih karena kau berusaha menjagaku, kau ingin yang terbaik untukku. Tapi ingatlah jangan melewati batas."
"Aku akan melewati batas jika hanya diperlukan." Aram mengangkat bahunya samar.
"Aram..."...