Lapangan perkemahan perlahan kembali tertib. Jejak kekacauan masih terasa—bisik-bisik belum sepenuhnya reda—namun rasa segan mereka kepada pemimpin kerajaan Eclestia tetap berdiri. Issabelle melangkah ke panggung kecil yang disiapkan di depan tenda utama. Gaun sederhana berwarna gading membalutnya, rambutnya disanggul rapi. Tidak ada mahkota, tidak ada simbol berlebihan—hanya seorang ratu yang berdiri dengan keteguhan. Semua hadirin terdiam. “Para bangsawan Eclestia,” ucap Issabelle, suaranya jernih namun lembut. “Atas nama Kerajaan, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi kalian dalam perburuan musim ini.” Ia berhenti sejenak. “Saya juga menyampaikan permohonan maaf,” lanjutnya, tanpa ragu, “karena rangkaian acara tidak berjalan sebagaimana mestinya.” “Yang me

