Langkah Issabelle terasa ringan namun hatinya berat saat ia meninggalkan tenda jamuan. Tidak ada keraguan dalam keputusannya—hanya ketakutan yang berjalan di sampingnya seperti bayangan lama. Alderian setia meemaninya tanpa meepas ragkulannya sedikitpun. Seolah - olah menunjukkan jika dia akan menjadi pelindungnya. Alderian mengiringinya tanpa banyak bicara. Ravent menjaga jarak di belakang, memastikan tak satu pun orang asing mendekat. Ketika tenda Issabelle terlihat—sunyi, dijaga prajurit bayangan—napas Issabelle tersendat. “Dia sadar,” ujar Alderian pelan, seolah membaca pikirannya. “Dan keras kepala seperti biasa.” “Kau tidak perlu khawatir Tuan Darel sudah menanganinya.” “Dia juga membawa sesuatu untukmu.” “Apa itu ?” Tanya Isabelle dengan menolehkan kepalanya ke arah Alderia

