Lidah hangat menyentuh pipinya. Basah. Menggelitik. Alistair mengerang pelan, alisnya berkerut sebelum matanya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat bukan langit tenda, bukan nyala lilin—melainkan moncong kecil berbulu abu-abu yang terlalu dekat dengan wajahnya. “—Apa…” suaranya serak. “ckk apa yang kau lakukan hm?” Anak serigala itu melolong pelan, lalu—tanpa rasa bersalah—menjilat pipinya sekali lagi. Alistair mendengus. “Kurang ajar.” Issabelle terbangun oleh suara itu. Ia mengangkat kepala dari sisi ranjang, rambut ikal panjangnya sedikit terurai, wajahnya masih diselimuti kantuk yang lembut. Saat matanya bertemu mata Alistair—ia terdiam. “Anda sudah bangun, apa ada yang sakit ?” katanya pelan, lega yang jujur terpancar di nadanya. Alistair menatapnya lama. Bukan luka

