"Bener?" ulang Zam entah kesekian kalinya. "Benar ihh! Engga percaya amat. Memangnya hal aneh kalau Ayya pengen buka perbannya? Bukannya bersyukur Ayya berubah pikiran malah ditanya terus. Benar? Benar? Langkah gitu?" omel Ayya, membuat Zam tertawa pelan. "Malah ketawa," "Yaudah,aku panggil Dokter Baila dulu. Kamu jangan kemana-mana," "Iya, sana sana." Ruangan kembali sepi setelah pintu ruangan tertutup dari luar. Ayya sudah meyakinkan dirinya sendiri, dan Ayya yakin ia ingin melepaskan perbannya setelah berperang dengan logikanya sejak kemarin. Ayya harus bisa melawan ketakutannya, lagian ada Zam yang akan terus menemaninya. Ada kedua sahabatnya dan juga Panji yang selalu mendukungnya apapun yang terjadi, jadi untuk apa Ayya takut dengan mimpi buruk seperti itu? Untuk apa tak

