"Saya mohon, Pak. Saya sampai berlutut seperti ini!" Aku menengok sebentar ke arah bawah tempat Kenzo dan Rosa berada. Dan benar saja, rota tengah berlutut di depan sahabatku dengan air mata berderai. Salah satu tangan wanita itu memegang kaki kenzo sangat erat. "Apa yang ingin kamu bicarakan? Hanya dua menit," jawab sahabatku dengan wajah memaling. Sepertinya ia tak sanggup melihat wanita yang pernah ia hamili bersimpuh di hadapannya. Meskipun bayinya lenyap karena perbuatan Rosa sendiri, tapi aku bisa mengerti Kenzo masih memiliki rasa iba padanya. "Saya ingin kembali seperti dulu, Pak. Maafkan saya karena tiba-tiba menikah dengan pria lain." Kenzo menghela napas panjang, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Aku bisa melihat rahangnya mengeras, pertanda bahwa ia tengah berusaha mena

