43

1386 Kata

David tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum melirik ke arah pelayan. Pekerja restaurant ini masuk dengan membawa nampan berisi berbagai hidangan mewah. Aroma sedap mulai memenuhi ruangan, menggelitik hidung dan perutku yang sejak tadi belum terisi. Namun, aku menepis keinginan untuk duduk dan tetap berdiri dengan kaku, menatapnya penuh selidik. “Duduklah dulu,” katanya, gestur tangannya mengarah ke kursi di seberang tempatnya duduk. Aku menggeleng. “Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaanku, David. Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya seolah tengah mengumpulkan kata-kata, lalu kembali menatapku dengan ekspresi lebih tenang. “Makan dulu, Maya. Aku janji, kita bicara setelah ini

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN