“Bu Maya?” panggil seseorang yang membuyarkan konsentrasi ku saat bekerja di depan komputer.
“Ya?” sahutku yang langsung menoleh ke sumber suara. Seorang wanita bertubuh sintal sedang tersenyum. Mataku melebar melihatnya, siapa yang tidak terkejut didatangi HRD.
“Tolong ke ruangan saya,” pintanya. Badanku terasa panas dingin mendengar ucapan itu. Ini berada di luar nalar. Apalagi saat pemeriksaan kinerja kemarin aku tak membuat kesalahan apa pun. Aku mengikuti perempuan itu, semua rekan kerja langsung bergunjing melihat kepergian kami. Namun, aku masih mendengar beberapa percakapan dari mereka.
“Si Maya kayaknya mau dipecat. Kan sempat buat masalah sama istri Pak Kenzo,” ucap Tina dengan lirikan sinis.
“Jelaslah. Apalagi kalau tidak dipecat! Janda gatal begitu pantas disingkirkan dari kantor. Bikin sepat mata saja. Iya tidak Ros?” sahut Putri sembari mencolek Rosa yang duduk di sebelahnya. Wanita itu hanya tersenyum tipis mendengar celoteh teman-temannya.
Ketika sampai di ruang HRD, aku pun duduk dengan risau. d**a ini berdetak sangat cepat, sulit dikendalikan. Berbagai pikiran negatif berseliweran di otak, entah apa yang akan di bicarakan pihak HRD padaku.
“Baik, saya memiliki beberapa hal yang disampaikan. Bu Ada berita baik dan buruk, Bu Maya memilih berita mana yang disampaikan terlebih dahulu?”
‘Ya Gusti! Ada apa ini!?’ keringat dingin mulai bercucuran di dahi.
“Emm... berita buruk dulu Bu,” jawabku gugup.
“Baiklah. Jadi mulai besok, Bu Maya sudah tidak bekerja di divisi pemrasara.”
Alamak! Berita ini sangat buruk, mataku terasa panas mendengarnya. Kaki yang sebelumnya menekuk kokoh kini lemas tak berdaya.
“Tapi... Karena kinerja Bu Maya yang cekatan, bahkan bisa mengerjakan tugas Manajer Kenzo. Kami pihak perusahaan mengalihkan tugas Bu Maya menjadi sekretaris CEO perusahaan ini,” jelas HRD. Otakku menelaah semua ucapannya, loadingku sangat lama.
“Maksudnya Bu?”
“Mulai besok,Bu Maya menjadi sekretaris CEO.”
“CEO? Bukannya perusahaan ini hanya memiliki direktur utama?”
“Tidak, kami juga memiliki CEO. Dan beliau segera datang ke kantor ini sehingga membutuhkan sekretaris untuk membantunya.”
“Oh begitu.”
“Apa Bu Maya bersedia menerima tawaran ini?” tanya HRD.
“Maaf Bu. Soal gajinya bagaimana?” Ini adalah aspek penting untuk menentukan apakah aku menerima pekerjaan ini atau tidak.
“Em, Pak CEO memberikan 8 juta perbulan. Tapi itu belum termasuk intensif, karena kemungkinan besar Bu Maya akan diminta untuk menemani dinas ke luar kota bahkan luar negeri. Itu semua tergantung CEO, beliau hanya mengatakan gaji pokok saja.”
Tawaran yang sangat bagus, tapi untuk 8 juta rasanya sedikit. Meskipun aku hanya karyawan biasa di divisi marketing dengan gaji pokok 4 juta. Namun, bonus yang diberikan Kenzo bisa mencapai 15 juta. Rata-rata pendapatanku selama setahun lebih adalah 10juta.
“Bolehkah saya meminta waktu untuk berpikir? Ini sangat mendadak untuk saya,” pintaku. Tawaran ini adalah pilihan yang sulit.
“Emm... Baiklah. Saya beri waktu sampai nanti jam 1 siang. Tolong segera beri jawaban secepat mungkin.”
“Baik Bu.”
Semua orang menatap penuh antusias, mereka nampak begitu ingin mendengar hasil dari pertemuanku dengan HRD. Itu bisa dirasakan lewat tatapan setiap rekan kerja di sini. Tina yang duduk di sampingku langsung memberikan senyuman licik.
“Gimana May? Jadi dipecat karena menjadi pelakor?” sinis wanita itu. Putri dan beberapa rekan lainnya sedang menahan tawa mendengar sarkas Tina.
“Makanya jadi perempuan jangan gatal May. Contoh Rosa, si malaikat divisi pemasara. Iya tidak Ros?” sahut Putri yang membandingkanku dengan pelakor sesungguhnya.
Kuputuskan untuk diam dan mengerjakan tugas terakhir di divisi ini. Mendapat olokan dari beberapa orang membuatku sadar, jika menjadi sekretaris CEO adalah pilihan terbaik. Meskipun aku harus menghemat kebutuhan sehari-hari karena gajinya belum tentu sebesar ketika berada di sini, tapi keputusan ini akan membuat mentalku lebih aman.
***
Keesokan harinya, aku membereskan barang-barang di meja kantor. Kardus berukuran besar ku angkat dengan susah payah.
“Akhirnya pergi juga si biangkerok! Kesucian tempat ini tak akan tercemar lagi,” seloroh Putri.
“Khihihi... janda gatal cepat-cepat keluar! Hus hus...” usir Tina dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Rosa nampak semringah.
Hatiku teriris melihatnya, semua orang di sini persis iblis duniawi. Tak ada belas kasihan sama sekali. Bahkan seseorang yang sebelumnya kuanggap dewi berani menusuk dari belakang.
Kaki yang sebelumnya terasa berat meninggalkan ruang divisi pemrasara, kini melangkah dengan ringan tanpa beban. Pundak terasa terangkat tinggi, kehormatan perlahan kupulihkan, dan kebenaran gosip yang beredar segera terbuktikan.
“Bu Maya, silakan tempati meja ini,” ucap HRD. Aku menganggukkan kepala. Kemarin sempat ada kendala masalah gaji, tapi pada akhirnya HRD mau menambah jumlah gaji pokokku menjadi 9 juta. Tanpa pikir panjang aku pun menandatangi kontrak kerja.
“Untuk beberapa hari ini, Pak CEO tidak bisa datang ke kantor karena masih di Singapura. Jadi Bu Maya bisa bersantai terlebih dahulu.”
“Baik Bu, terima kasih,” jawabku dengan penuh semangat. Informasi itu terasa liburan setelah terjadinya bencana. Ini adalah waktu yang pas untuk mencuatkan kebenaran fitnah terhadapku di kantor.
Sayangnya setelah seminggu berada di kursi sekretaris, CEO yang kutunggu tak kunjung datang. Karena rasa bosanku, akhirnya kuputuskan datang ke ruang HRD.
“Selamat siang Bu.”
“Siang, silakan masuk Bu Maya.” Wanita itu mempersilakan aku duduk di kursi. Dia langsung mencondongkan tubuhnya akan lebih dekat denganku.
“Ada apa?” tanyanya penasaran. Aku tersenyum kikuk.
“Sudah seminggu ini saya hanya duduk di meja sekretaris. Apakah saya boleh tau kapan CEO akan datang ke kantor?”
“Saya sendiri pun tidak tau.”
“Huhhh...” aku hanya bisa menghela napas. Perempuan yang kuharap bisa memberikan jawaban pasti pun tak bisa memuaskanku.
“Em kalau begitu, apa saya boleh meminta satu hal?”
“Katakan dulu apa permintaanmu.”
“Saya ingin membawa anak saya, Bimo.”
HRD itu mengerutkan dahi mendengar kalimatku. “Tapi dia anak yang baik kok Bu. Tidak akan menimbulkan keributan di kantor.” Ku gigit bibir bawahku saat kedua manik wanita itu melihatku dengan seksama. “Dia anak yang pendiam. Sangat pendiam, karena... Bimo mengidap autis, jadi ketika saya memberikan sesuatu dia hanya fokus pada hal tersebut.”
“Boleh.”
Aku terbelalak mendengar jawaban itu.
~
Keesokan harinya, aku sangat senang. Kugendong buah hatiku dengan semangat. Hari ini aku bisa menghabiskan waktu seharian bersama Bimo.
“Nanti waktu di atas, Bimo jadi anak yang pintar ya Sayang. Soalnya ini di kantor, jadi Bimo jangan berisik. Okey!” ucapku penuh semangat.
Seperti biasa aku langsung mengeluarkan beberapa mainan yang sudah ku bawa. Sayangnya Bimo rewel dan melempar mainan itu. Aku sangat kebingungan karena anak itu tak ingin bermain dengan mainan kesukaannya.
“Ini mainannya Sayang...” kucoba sodorkan lagi mainan itu padanya. Lagi-lagi Bimo melemparnya bahkan sampai terdengar bunyi... PRAKKK!!!
Dinosaurus yang utuh kini terbelah menjadi beberapa bagian. Saat memungut beberapa bagian mainan tersebut, tiba-tiba mataku menyadari ada sesuatu yang menarik perhatian. Yakni sepasang sepatu berwarna hitam.
Aku langsung mendongakkan kepala melihat siapa gerangan orang yang berada di depanku.
“K-kamu!?”