8

1341 Kata
Seorang laki-laki berjas abu-abu rapi sedang menatapku dengan dingin. Mataku terpaku melihat penampilannya yang sangat berbeda ketika beberapa minggu lalu. “K-kok....” “Ssssttt... Maya! Ini Pak CEO!” bisik Bu HRD. “Ehehe... Maaf Pak. Ini sekretaris yang bapak maksud bukan?” Bu Nanda menggaet tanganku agar segera berdiri. Aku masih kikuk karena shock melihat CEO yang ada di depanku. Dia adalah Tristan. Seorang laki-laki yang kutemukan di parkiran kantor dalam keadaan tak sadarkan diri sekaligus penyelamatku ketika diringkus ke kantor polisi. “Iya Benar,” jawabnya singkat. Perhatian lelaki itu langsung beralih ke anakku Bimo karena suara barang jatuh di balik meja. Ia mendekatinya perlahan dan berdiri mematung saat melihat putraku menghamburkan uang yang ada di dalam dompet. “Astaga Bimo!” pekikku kaget karena semua alat tukar itu keluar dari tempatnya. Segera ku bereskan barang yang berserakan di atas meja. Sebelum itu, tak lupa aku menduduk minta maaf pada atasanku. “Maaf Pak,” ucapku sambil kepala yang menunduk. “Bawa anak ini ke dalam,” perintah Tristas kepada lelaki yang berdiri di belakangnya. Ia langsung meninggalkan kami semua. “Eh eh...” “Anak Anda akan aman bersama kami. Saya jamin,” ucap lelaki itu langsung menggendong Bimo. Pada saat itu pula putraku meronta-ronta ingin lepas dari dekapannya. “T-tapi Pak...” rasa cemas menyeruak dalam hati, tetapi aku hanya bisa pasrah ketika anak sudah berada di dalam ruangan CEO. Meskipun gelap, untungnya aku masih bisa melihatnya karena dinding bagian depan terbuat dari kaca. ########## Sudah beberapa jam berlalu, buah hatiku di dalam sana. Kerongkongan yang terasa kering langsung ku basuh dengan air liur. Dadaku sedari tadi tak berhenti berdetak merasakan atmosfer yang memanas. Terlihat Tristan tengah mengamati Bimo dalam diam. Sorot mata yang tajam bisa menghunus siapa saja yang mengganggunya. Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan? Tubuhku terasa merinding ketika mengamati lelaki itu. Tak ada perintah apapun darinya, sedari tadi aku hanya duduk di kursi sembari meremas mainan Bimo yang sempat tercecer beberapa waktu lalu. Bu Nanda dan Pak Alex yang baru kuketahui sebagai direktur utama sekaligus tangan kanan Tristan sudah undur diri beberapa menit yang lalu. Mereka pun tak memberikan instruksi apapun dan hanya memintaku untuk menunggu perintah dari CEO. Dari celah dinding aku melihat pergerakan dari tristan, dia menekan bel yang terhubung dengan telepon. Ini waktunya! "Ambil ini, handle semua jadwalku. Aku akan mulai bekerja besok, lakukan dengan benar," perintah lelaki itu dengan ekspresi datar. Benda pipih yang dikenal dengan kecanggihannya terdorong mendekat ke arahku. Aku menenggak saliva, "baik Pak." Tristan hanya mengibaskan tangan, isyarat agar aku enyah dari pandangannya. Entah kenapa gerakan tanganku seakan tertatih seperti robot. "Anak saya..." ucapku pelan. "Biarkan di sini, keluarlah." Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku meninggalkannya. Sebenarnya apa yang dia inginkan dari Bimo. Padahal anak itu tak memiliki apapun yang berhubungan dengannya, kecuali alasan kenapa aku sampai tertangkap oleh polisi. Sekarang aku baru menyadari kenapa mereka melepaskanku dengan mudah. Ternyata Tristan memiliki pesona yang cukup mengerikan, ditambah dengan adanya perusahaan ini yang terkenal dan punya pengaruh luar biasa di dunia bisnis semakin menjulang kekuatan yang ada pada lelaki itu. Aku pun sangat bersyukur bisa berada di tempat ini, karena dengan begini aku bisa menunjukkan jika aku juga kompeten berbanding dengan David suamiku. Ada rasa getir saat mengingatnya, dulu kami bekerja sama memulihkan perusahaannya yang akan gulung tikar. Bahkan aku rela lembur bersamanya untuk memastikan semua pekerjaan terhadap dengan sempurna. Nahasnya ketika sudah di puncak kejayaan, mertua yang sedari awal tak merestui pernikahan kita meminta David untuk menceraikanku. Dengan alasan anak kami yang berkebutuhan khusus. Ah... sudahlah lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Aku tak ingin dipecat karena keleletanku. Dalam ponsel ini kebuka satu persatu media sosial yang ada di dalamnya. Di sini hanya ada beberapa aplikasi untuk mengirim pesan. Dan kebanyakan informasi di dapat dalan email. Sudah kuduga, kebanyakan kolega akan mengirimkan informasi melewati email karena dinilai lebih aman. Meskipun banyak aplikasi komunikasi yang penampangnya lebih modern, terapi email ada point utama yang tak terlewatkan. Setelah menyusun jadwal dan mengumpulkan beberapa informasi, aku segera menjadikannya dalam satu folder agar Tristan lebih mudah mengerjakan mereka. Kulirik aktivitas CEO itu sekali lagi. Keadaannya tetap sama yang berbeda hanya Bimo. Anakku itu nampak sibuk menata lembaran uang di meja. Kurasa jumlahnya semakin banyak dari sebelumnya. Kuputuskan untuk masuk ke dalam, sekaligus melihat keadaan anakku lebih jelas. "Saya sudah mengatur semua jadwal dan pekerjaan Pak Tristan. Apa ada hal lain yang perlu saya kerjakan lagi?" Dia melirikku sekilas lalu membuka komputer yang ada di depannya. Butuh beberapa menit untukku mendapatkan jawaban darinya. "Tidak. Bersantailah." "Baik Pak." Kulirik Bimo sekilas. "Apa boleh saya membawa anak saya keluar?" Lagi-lagi lelaki itu melihatku dengan datar, ini sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu saat kamu bertemu. Atau ketika aku membawanya ke rumah sakit, setidaknya saat itu aku menyadari dia manusia normal yang memiliki emosi. "Ya," jawabnya singkat. Segera kugendong Bimo untuk menjauh dari Tristan, ada kengerian menjalar ke seluruh tubuh. Sayangnya anak itu meronta tak ingin ku bawa pergi. "Bawa itu semua, dia sangat menyukainya," perintah tristan dengan menunjuk lembaran uang di sana. "Tapi Pak." "Bawa saja," ucapnya penuh penekanan. Segera kuambil kumpulan duit yang ada di atas meja. Bimo terlihat akan kumat tetapi dengan cepat aku menyeretnya pergi dan menaruh semua lembaran uang di lantai. Ini lebih baik daripada ia berada di dalam ruangan CEO. Keasyikan mulai menderai anak itu. Aku pun lega karena bisa menjaga anakku dalam jarak dekat. Tristan terlihat fokus mengerjakan dokumen yang sudah ku sortir beberapa waktu lalu. Kini aku yang menganggur dan hanya memperhatikan buah hatiku dalam diam. Ada kebanggaan sendiri karena bisa merawat Bimo sampai sebesar ini. Padahal dua tahun lalu aku merasa hidupku seakan tak ada artinya, sekarang arti hidupku hanya terletak pada manusia kecil ini. Waktu berlalu dengan cepat, dan tanpa kusadari jam kerja sudah musnah. "Pulanglah. Hati-hati di jalan," ucap Tristan ketika dia keluar dari ruangan. "Baik Pak." Aku menundukkan kepala dengan santun. Kulihat punggung berbalut jas hitam itu mulai menjauh. Dia terlihat sangat sehat dibanding seminggu yang lalu. Segera kugendong Bimo yang sudah terkulai lemas karena seharian bermain uang. Sebelumnya uang sudah kutata rapi dan ku masukkan ke dalam ruangan CEO. Aku sedikit bingung harus meletakkan ya dimana. Tapi pada akhirnya kuberanikan diri untuk membuka salah satu laci di meja kerjanya. Ada hal yang menggelitik pikiranku. Bingkai foto kecil berwarna hitam yang terdiri dari empat orang dengan wajah yang di sobek, lebih tepatnya meninggalkan satu orang yang tengah tersenyum. Siapa ini? Namun aku langsung mengalihkan perhatianku darinya. Ada rasa takut mengingat ini adalah ruangan CEO yang notabenya adalah atasanku. Segera kuraih Bimo untuk meninggalkan kantor. Untungnya anak itu sudah tidur, jadi aku tak perlu repot mengarahkannya kemana harus berjalan dan apa yang tidak boleh dia lakukan ketika perhatiannya tersorot ke beberapa hal. Namun ketika pintu lift terbuka di lantai kematian, kulihat beberapa mantan rekan kerjaku melihat dengan tatapan sinis. Dan seseorang yang tadi pagi berusaha mengajakku bicara nampak mensyukuri kehadiranku. "Maya ayo bicara denganku," bisik Rosa yang langsung mepet ke arahku. Ia bahkan meremas lenganku dengan kuat, seakan hal ini sangat penting dan aku harus menurutinya. "Hanya sebentar," lanjutnya lagi. Bersambung~ Baca juga novelku yang lain berjudul : "Dendam Istri Taruhan" Cerita ini tentang: Perjanjian Pra-nikah tidak menjamin rumah tangga baik-baik saja. Berawal dari noda lipstik di baju suaminya, akhirnya Dea mengetahui rahasia dari selingkuhan suaminya. Wanita itu tiba-tiba mengajak Dea bertemu. Icha mengungkap berbagai fakta mengejutkan yang dilakukan suami hingga kakak kandungnya sendiri. Pertemuan Dea dan Icha mencuatkan banyak fakta busuk tentang Kevin. Kenyataan pahit yang Dea dengar dari mulut Icha, ia adalah istri taruhan dari permainan konyol Kevin dan kakak kandunganya sendiri. Ditambah diam-diam suaminya membalikkan nama seluruh hartanya, padahal mereka sudah memilih untuk pisah harta. Semua fakta itu membuat Dea terkejut. Ia sudah menyiapkan gugatan cerai pada Kevin. Namun setelah bertemu dengan Icha, ia mengurungkan gugatannya. Kini Dea akan membalas dendam pengkhianatan dan rasa sakit yang ia dapatkan selama pernikahan. Berhasilkah Dea membalaskan dendam atas semua penderitaannya selama ini? Apakah karma akan berlaku pada semua orang yang telah menyakitinya? Baca “DENDAM ISTRI TARUHAN” berikut ini untuk mengetahui kelanjutan cerita Dea.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN