9

1291 Kata
Tanpa menjawab pertanyaannya aku memilih melengos meninggalkannya sendiri. Wanita itu tampak geram jika didengar dari langkah suaranya. Sepatu berhak tinggi itu mengetuk lantai dengan nyaring dan memantul di sepanjang lorong menuju parkiran. Beberapa orang yang sedang berjalan ke arah yang sama langsung memerhatikan kami. Tatapan aneh dengan salah satu alis yang terangkat, hal yang sudah terlalu sering kulihat. Sepertinya aku mulai kebal dengan segala momentum menyebalkan di hidup ini. "Hati-hati, Ros. Kamu bisa jatuh kalau jalan cepat seperti itu," cegah Putri dengan nada cemas. "Benar. Ngapain kamu dekat-dekat sama pelakor itu?" Kali ini suara Tina yang menyusul, ketus dan penuh sindiran. Beberapa orang lain terdengar berbisik mendengar kata pelakor yang diucapkan Tina. "Oh... jadi itu pelakor yang lagi ramai dibicarakan." Orang lain berdesis memperingati temannya, " Jangan keras-keras, nanti kedengeran." Langkah Rosa terhenti. Aku bisa melihatnya sedikit tersentak dengan ucapan Tina, tetapi hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah. Wajahnya dipenuhi senyum getir, seakan mencoba tetap tenang. Tapi aku tahu, jauh di dalam hatinya, dia pasti tersulut. Ah, betapa aku malas berurusan dengannya. "Ah... Maaf, tapi aku khawatir dengan Maya," jawabnya penuh kasih. Aku mendengus kecil. Mengkhawatirkanku? Omong kosong! Aku tahu persis Rosa tidak lebih dari seorang wanita yang tahu bermain peran dengan baik. Kepura-puraannya begitu menyebalkan. Dia pasti lebih mengkhawatirkan nasibnya sendiri. Aku mengangkat Bimo dan memasukkannya ke dalam mobil. Car seat yang selalu ada di dalam kendaraan ini benar-benar menyelamatkanku setiap kali harus bepergian dengannya. Bimo menguap kecil, matanya yang sayu perlahan terpejam. Setidaknya, dia tidak perlu menyaksikan drama yang akan terjadi. Aku baru saja meraih setir ketika tiba-tiba Rosa sudah duduk di sampingku. Gerakannya cepat, seperti kilat. Aku menoleh tajam ke arahnya. Napasku memburu menahan emosi yang sudah di ujung tanduk. "keluar." Aku tak bisa menahan diri karena sikapnya yang semena-mena. Apa dia berpikir aku senang berlama-lama dengannya? "Aku akan keluar setelah kita berbicara, May. Ayo cari tempat makan, aku akan menraktirmu dan Bimo," tolak wanita itu setelah memakai sabuk pengaman. "Sekarang aku capek, Ros. Kita bisa bicara lain kali." "Sebentar saja, May!" Suaranya meninggi hingga mengusik tidur Bimo. Aku refleks menoleh ke belakang. Anak itu menggeliat gelisah di car seat-nya. Nafasku langsung mendidih. "Pelankan suaramu," desisku, mataku menyalang penuh peringatan. "Jangan buat anakku terganggu hanya karena ambisimu!" Rosa terdiam sesaat, lalu menunduk. Tangannya meremas tas di pangkuannya, bibirnya sedikit bergetar. Tapi aku tak mau tertipu dengan ekspresi lemah seperti itu. "Turuti permintaanku, setelah itu aku tidak akan mengganggumu," ucapnya lebih pelan, tetapi terdengar seperti sebuah ancaman jika aku tak menurutinya, ia akan mengusikku lebih lama lagi. Kukatup rahangku dengan keras. Sepertinya aku tak punya pilihan lain selain menyingkirkan drama ini secepat mungkin. Aku menyalakan mesin mobil dengan hentakan kasar. "Oke. Tapi setelah ini, jangan pernah muncul lagi di hadapanku dengan dalih kepedulian palsu itu." Mobil melaju keluar dari parkiran, meninggalkan gedung kantor dengan lampu-lampunya yang mulai meredup di bawah langit senja. Rosa diam di sampingku, hanya sesekali menghembuskan napas panjang, seakan sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk dilontarkan. "Kenapa kamu selalu menghindar dariku, May?" Akhirnya suara wanita itu terdengar, nyaris berbisik. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya di balik nada lembut itu. Aku menatap lurus ke jalan, enggan menjawab. Aku tahu, jika aku memberikan celah, dia akan memanfaatkannya. Sudah cukup aku masuk dalam jebakan manisnya di masa lalu. "May, aku benar-benar ingin membantu," lanjutnya. Aku tertawa sinis. Rasanya seperti ada komedi putar di sampingku. "Membanntuku?" Aku tidak bisa menghentikan tawaku saat mendengar keinginan konyol Rosa. "Iya, May. Pasti berat karena kamu dikucilkan, sampai-sampai pindah tugas." Aku berdecak kagum karena aktingnya bagai aktris papan atas. "Bukankah, seharusnya kamu yang perlu dibantu?" tanyaku balik membuat rona wajah wanita itu berubah. "Sekarang kamu sedang mengandung anak Kenzo, kan?" tebakku tepat sasaran. Kenapa kau sangat percaya diri jika tebakanku benar? Rosa membeku di tempatnya, matanya melebar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara keterkejutan dan ketakutan. "Itu tidak benar!" elaknya, suaranya bergetar. Aku menyeringai, merasa puas melihatnya kehilangan kendali. "Beberapa hari lalu kamu ke dokter obgyn dengan Kenzo, kan? Aku ada buktinya kalau kamu berusaha mengelak. " "K-kamu!" pekiknya penuh amarah. Tangannya terkepal, seolah ingin menghantam sesuatu. Aku tetap tenang, sementara tanganku mengencangkan genggaman di setir. "Kau pikir aku bodoh, Ros? Aku sudah lama tahu kebusukanmu. Kau mendekatiku bukan untuk membantu, tapi untuk menutupi jejakmu sendiri." Rosa terdiam, bibirnya bergetar, sementara matanya mulai berkaca-kaca. Aku tidak tahu apakah itu tangisan penyesalan atau sekadar trik lain yang ingin dia mainkan. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan jatuh ke dalam perangkapnya lagi. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan, Rosa?" tanyaku pelan, menoleh sekilas padanya. "Kau bisa membohongi banyak orang, tapi tidak bisa membohongi dirimu sendiri." Kuhela napasku sejenak. Kemudian ucapanku kembali terdengar di tengah deru napas wanita munafik itu. "Aku tau kamu akan menikah dengan David Rendrajaya. Bagaimana kamu akan keluar dari situasi pelik ini, Ros?" Rosa semakin pucat. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak mati gaya, seperti seseorang telah terpojok tanpa jalan keluar. Aku bisa melihat rahangnya mengatup erat, jari-jarinya mencengkeram roknya dengan kuat. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," elaknya dengan suara bergetar, tapi tatapannya tidak bisa menyembunyikan kepanikan yang mengalir di setiap nadinya. Aku terkekeh kecil, menyadari betapa lucunya melihat wanita licik ini terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. "Oh, jadi kamu nggak tahu?" Aku menggeleng pelan, memfokuskan pandanganku kembali ke jalan. "Padahal kabarnya pernikahanmu dengan David sudah hampir final dan sudah menyebar undangan. Apa dia tahu kamu sedang mengandung anak lelaki lain?" "Aku tidak hamil!" sergahnya cepat, seolah ingin membungkam ucapanku sebelum aku bisa menelanjangi kebohongannya lebih jauh. Aku mendesah, berpura-pura kecewa. "Sayang sekali, Ros. Aku bahkan punya rekaman saat kamu dan Kenzo keluar dari klinik. Kau pikir dunia ini sesempit yang kamu bayangkan?" Rosa terdiam. Kali ini, tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Hanya napasnya yang terdengar berat. Aku bisa merasakan atmosfer dalam mobil menjadi semakin panas dengan ketegangan yang ia ciptakan sendiri. "Apa yang kamu mau?" tanyanya akhirnya, nadanya berubah. Tidak lagi penuh kemarahan, tetapi sarat dengan kewaspadaan dan ketakutan. Aku tersenyum sinis. "Bukan aku yang menginginkan sesuatu darimu, Rosa. Tapi mungkin David akan tertarik dengan informasi ini." "TIDAK!" Rosa menjerit panik, tangannya terulur hendak mencengkeram lenganku, tapi aku dengan cepat menghindarinya. "Kalau begitu, sebaiknya kau berhenti bermain drama di hadapanku dan mulai berpikir bagaimana cara menyelesaikan kekacauan yang kau buat sendiri." Aku menginjak pedal gas lebih dalam, tak sabar untuk segera menyingkirkan wanita ini dari mobilku. Rosa meremas wajahnya, seperti sangat terdesak. "Maya, tolong. Jangan lakukan ini. Aku bisa menjelaskan semuanya." Aku menoleh sekilas, menatap wajahnya yang kini sepucat kertas. "Maaf, Ros. Aku tidak tertarik dengan penjelasanmu. Aku hanya ingin kau berhenti mengusik hidupku." Mobil berhenti di depan sebuah kafe yang cukup sepi. Aku menoleh padanya, memberikan isyarat agar dia segera keluar. "Turun," perintahku dingin. "Tapi-" Rosa masih terpaku di tempatnya, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin menjauh dari segala kebohongannya secepat mungkin. Tanpa menunggu, aku membuka kunci pintu mobil. "Keluar, Rosa. Aku sangat muak dengan sandiwaramu. Sekarang turun. Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Dia menatapku penuh mohon seakan mencari celah untuk bernegosiasi. Namun aku tidak memberinya kesempatan. Wajah merah padam, akhirnya Rosa membuka pintu dan turun tanpa berkata-kata. Aku menunggu sampai pintu tertutup sebelum kembali menekan pedal gas, meninggalkannya di sana, sendirian. Kulirik Bimo yang masih terlelap dalam tidurnya. Syukurlah dia tidak terganggu dengan perdebatan kami. Dari pantulan spion, Rosa mematung memandang mobilku yang semakin menjauh. Ia mengepalkan tangan sangat kuat bahkan rahangnya tampak mengeras. Selama ini aku menjadi kambing hitam atas kelakuan b***t wanita itu. Sekarang aku akan membongkar semua kelicikan mereka. Aku sudah mendapat pekerjaan baru, jadi ini adalah timing yang tepat untuk membalikkan keadaan. Tunggu saja Rosa, aku akan membalasmu! Aku tidak sudah tidak peduli pada persahabatanku dengan Kenzo. Kurasa kami berudua sudah impas untuk mencapai tujuan masing-masing. Jadi, aku akan mengungkapkan semua kebusukan kalian!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN