Kenzo melangkah maju, menatap Azella dengan sorot mata tajam. "Dari mana kamu mendapatkan ini?" suaranya bergetar, bukan hanya karena amarah, tetapi kepedihan terpancar dari wajahnya. Wanita itu hanya tersenyum tipis. "Aku punya sumberku sendiri." Ia melirik ponselnya sejenak sebelum mengangkat dagunya. "Dan kalau kamu masih ragu, aku bisa memberimu bukti lebih lanjut." Aku bisa merasakan tubuh Kenzo semakin menegang. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat.Dia berada di ambang batasnya. "Zo, jangan di sini," bisikku. "Kita harus tenang." "Tenang?" Kenzo menoleh padaku dengan sorot mata penuh luka. "Dia membunuh anakku, May! Aku nggak bisa tinggal diam!" Aku terdiam. Aku tahu ini bukan perkara kecil untuk Kenzo. Aku tahu bagaimana usahanya untuk mendapatkan anak dalam h

