Bab 7. Ciuman pertama

1066 Kata
"Tak kusangka bisa menikahi pria tampan ini. Lumayan dibawa kondangan setidaknya, tidak malu-maluin," celetuk Aluna cekikikan sambil menutup mulutnya takut jika suara tawanya akan menganggu istirahat Alvaro. Aluna tersenyum-senyum tidak jelas. Matanya tak berkedip menatap ketampanan Alvaro yang benar-benar tak ada obatnya. Hidung mancung, rahang keras dan tegas, alis tebal dengan bulu mata lentik. Rasanya seperti bermimpi bisa menikah dengan pria lumpuh itu walau dirinya memang sengaja dijual. "Tuan Suami, apa kau tahu? Impianku adalah mengembangkan Sakola Alita, agar anak-anak itu memiliki masa depan nantinya. Tetapi apa daya aku harus melepaskan semua impian itu demi hidup bersamamu." Terdengar helaan napas panjang. Aluna merindukan anak-anak jalanan yang dia didik melalui sekolah kecil itu. Anak-anak yang notabene tak memiliki orang tua dan hidup terlantar karena faktor ekonomi. Anak-anak yang menjadi pemulung dan pengemis untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Di sana Aluna lah yang membantu mereka untuk bisa keluar dari kemiskinan dengan membangun sekolah gratis. Tentu Aluna tak berjalan sendirian, ada sahabat-sahabat yang membantu dirinya mencari donatur agar tetap bisa menyediakan pendidikan yang baik untuk anak-anak tersebut. "Hah, sudahlah. Aku tak mau terus merenungi nasibku. Aku akan perlahan menerimamu sebagai suamiku, Tuan Suami. Semoga saja kita berdua bahagia sampai dunia akhirat eh lupa jika pernikahan ini hanya di atas kertas." Aluna menunduk lemah dan lesu. "Aku 'kan merawatmu hanya sampai kau sembuh saja. Setelah kau bisa berjalan kembali, aku akan pergi dari hidupmu." * * * Di dapur Aluna sedang berkutat dengan peralatan dapur. Walaupun kemarin di tolak dan bahkan sang suami mengatakan hal-hal menyakitkan tentang dirinya, tetapi wanita itu sama sekali tak peduli. "Anda memasak untuk tuan lagi, Nona?" tanya Ares melihat Aluna yang sibuk dengan masakan di tangannya. "Iya kau benar, Kak. Suamiku pasti akan sangat menyukai masakanku," jawab Aluna dengan percaya dirinya. "Apa Anda tidak takut di tolak tuan lagi?" tanya Ares sedikit ragu. Jangan sampai dia lagi yang menjadi amukan dari tuan-nya tersebut. "Tidak! Tuan suami tidak akan menolakku, Kak. Aku yakin lama-lama dia akan menyukai masakanku," jawab Aluna. Ares tak dapat lagi memberi komentar. Dalam hati dia berdoa semoga Alvaro tak mengamuk dan marah-marah lagi seperti kemarin. "Kak." "Iya, Nona?" sahut Ares dia di minta untuk mengawasi Aluna. Sesuai perintah Alvaro untuk selalu memantau istri kecilnya itu. "Ada yang bisa saya bantu?" sambung Ares "Makanlah, Kak. Ajak semua pelayan ya." Aluna menyerahkan mangkuk besar berisi makanan penuh. "Jangan sampai ada yang dibuang ya, Kak. Aku akan menemani suami singa ku makan!" seru Aluna. "Terima kasih, Nona. Anda tidak perlu repot-repot," ucap Ares tak enak hati. "Hem, sama sekali tidak, Kak. Kalau begitu aku masuk ke dalam kamar suamiku dulu," pamit Aluna. "Iya, Nona," jawab Ares membungkuk hormat. Aluna berjalan pelan dengan nampan berisi makanan untuk sang suami. Dia tidak akan menyerah walau ditolak berkali-kali. Aluna yakin perlahan hati lelaki itu nantinya akan lembut. Aluna hanya perlu waktu untuk membuat sang suami jatuh cinta dan percaya padanya. Gadis itu masuk ke dalam kamar mereka. Aluna meletakkan nampannya di atas nakas. Sang suami masih tidur. Ini sudah lewat jam makan malam, harusnya suaminya itu sudah minum obat. "Tuan." Aluna memegang lengan Alvaro. "Bangun, mari makan! Kasihan cacing dalam perutmu sudah menangis kelaparan." Aluna berbisik di telinga pria itu. Otomatis mata Alvaro terbuka ketika mendengar bisikan yang justru terdengar menggodanya. Dia menatap wajah istrinya yang begitu dekat. Netra matanya terarah pada bibir munggil milik Aluna. Bibir merah muda yang dilapisi dengan lipstik tipis itu, terlihat seksi dan menggoda. Tanpa sadar, tangan Alvaro terulur meraih tengkuk istrinya. Mata Aluna membulat saat benda kenyal itu bertemu dengan bibirnya. Jantungnya berdegup kencang. Alvaro melumat bibir Aluna dengan lembut. Dia memejamkan matanya, menikmati ciuman hangat mereka berdua. Melihat Aluna yang enggan membuka mulutnya. Alvaro mengigit bibir bawah Aluna agar sang istri membuka mulutnya. Mulut gadis itu terbuka, hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Alvaro dia memasuki mulut istrinya mengabsen rongga mulut sang istri, mencari kenikmatan dan menyesap rasa manis di bibir sang istri. Aluna yang notabene tak pernah berciuman, hanya bingung apa yang harus dia lakukan? Ini adalah pertama kalinya dia dicium dan disentuh oleh laki-laki, selama ini dunianya hanya di sibukkan dengan belajar dan kuliah serta bekerja. Dia tidak memberi ruang kepada siapa saja yang mendekat kepadanya. Alvaro masih melumat bibir sang istri. Ini juga merupakan ciuman pertamanya. Dengan mantan kekasihnya dia tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Mereka berciuman cukup lama. Aluna menggunakan nalurinya sehingga bisa membalas ciuman sang suami. Lelaki itu melepaskan pangutannya setelah merasakan sang istri kehabisan nafas. "Ciuman mu buruk sekali." Alvaro mengusap bibir Aluna yang basah karena dirinya. "A-apa yang kau lakukan?" tanya Aluna menjauh dari pria itu. Dia menyembunyikan rona wajahnya. Bodohnya lagi dia membalas ciuman singa itu. Alvaro malah terlihat santai. Wajah dinginnya kembali lagi dia bersikap seolah tak terjadi sesuatu pada mereka. "Makan, Tuan!" Entah kenapa Aluna jadi gugup setelah ciuman mereka? Jantungnya masih saja berdegup kencang. "Hem." Alvaro bersandar di dinding ranjang. "Kau pasti akan suka dengan masakanku, Tuan," ucap Aluna percaya diri. "Kau bisa makan sendiri, 'kan?" sambungnya lagi. "Kau masak apa?" Alvaro melirik piring yang dipegang istrinya. "Makanan kesukaanmu," jawab Aluna. "Ini, makanlah!" Aluna menyerahkan piring tersebut. "Suapi aku!" perintah Alvaro. "Baik, Tuan Suami. Buka mulutmu!" perintah Aluna. Alvaro menerima suapan dari istrinya kecilnya. Tatapan matanya tak beralih dari wanita cantik yang ada di depannya ini. "Jangan melihatku seperti itu, Tuan. Nanti jatuh cinta malah repot lagi, jatuh cinta sendirian itu sakit. Kalau sudah sakit tanggung sendiri karena tidak ditanggung BPJS," celetuk Aluna. Alvaro merengut kesal. Ada-ada saja istrinya ini, tetapi entah bagaimana ucapan Aluna seperti pas sekali mengenai ke hatinya. "Jangan berharap banyak, Gadis Kecil. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu," tekan Alvaro. Bukannya tersinggung Aluna malah senyum. Dia sama sekali tidak merasa ucapan lelaki itu mempengaruhi dirinya. "Awas lho, Tuan. Jangan sampai termakan ucapan Anda sendiri. Dari mata bisa turun ke hati. Dari mana datangnya cinta, dari ucapan lewat perasaan!" seru Aluna. "Selain bodoh kau juga ternyata terlalu percaya diri," sindir Alvaro berdecih. "Bukankah kita memang harus percaya pada diri sendiri, Tuan Suami?" Aluna lagi-lagi tersenyum. "Sudahlah berbicara denganmu membuat aku stress. Cepat bantu aku ke kamar mandi dan mandikan aku!" perintah Alvaro. Aluna langsung ketar-ketir. Ada apa dengan suaminya ini? Kemarin saja dirinya dibentak saat memandikan lelaki itu. Kenapa sekarang Alvaro malah meminta dimandikan? "Memandikan Anda, Tuan?" ulang Aluna memastikan, barangkali dia hanya salah dengar. Maklum beberapa hari menikah dengan Alvaro, gendang telinganya sedikit bermasalah karena bentakan dari lelaki itu. "Ayo, cepat bantu aku!" Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN