"Ibu puas, Yah. Bisa menjual anak haram itu," ucap seorang wanita paruh baya sambil mengibaskan uang di wajahnya.
"Tentu saja. Ayah senang melihat gadis pembawa sial itu hidup menderita bersama tuan Alvaro," sambung sang pria.
Kedua pasangan paruh baya itu tertawa puas merasa berhasil mendapatkan uang dari menjual anaknya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang haus uang tanpa mau bekerja keras.
"Ayah. Ibu."
Seorang gadis duduk di samping sang ibu dengan wajah di tekuk kesal.
"Kenapa Yura?"
"Mana bagianku?" Dia menengadahkan tangannya.
"Ck, kau ini. Bukankah kemarin Ibu baru saja memberikanmu uang?" gerutu sang ibu pada anak perempuannya itu.
"Ibu tahu 'kan kebutuhanku banyak. Aku gunakan semua uang itu untuk belanja," jawab sang anak.
"Makanya kerja, Yura. Supaya tidak minta-minta lagi," ucap wanita paruh baya itu penuh penekanan.
"Jangan lupa. Ibu juga tidak bekerja. Uang itu hasil menjual Aluna," sergah Yura menyambar uang dari tangan sang ibu.
"Kau..." Wanita paruh baya itu sangat gemas dan ingin rasanya dia meremas wajah putrinya.
"Bagian Ayah mana, Bu?" Sang ayah ikut menengadahkan tangannya. "Uang yang di berikan tuan William dan nyonya Wilona sangat banyak. Tidak mungkin uang itu Ibu habiskan sendiri," ujar sang suami menatap istrinya penuh curiga.
Merry langsung ketar-ketir. Wajahnya memerah karena takut ketahuan jika sebagian uang itu dia gunakan untuk melakukan investasi arisan berlian.
"T-tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Ibu menghabiskannya sendiri?" kilahnya. "Ini untuk Ayah." Dia memberikan dua ikat uang berwarna merah pada suaminya.
"Kenapa hanya sedikit sekali, Bu?" protes sang suami.
"Pakai saja dulu itu, Ayah. Kalau sudah habis nanti Ibu kasih lagi," ucap wanita itu memasukan amplop berwarna coklat ke dalam tasnya. "Sudahlah, Ibu ke kamar dulu. Yura jangan lupa siapkan makan malam!" perintahnya pada sang anak.
"Dih, sejak kapan Ibu melihatku masak?" protesnya.
"Makanya kau itu belajar seperti Aluna yang bisa masak," ucap wanita paruh baya itu memutar bola matanya malas.
"Ibu sendiri tidak mau belajar. Kenapa aku yang repot?" sahut sang anak tak mau kalah sambil berdiri dari duduknya.
"Kau–"
Gadis itu melenggang pergi meninggalkan sang ibu yang masih mengomel. Kalau mau mendengarkan ibunya mengomel kepalanya pasti pusing.
"Cari pembantu saja, Bu," saran suaminya.
"Lalu siapa yang akan membayar gajinya?" tanya istrinya ketus.
"Iya uang Ibu lah, lagian uang itu banyak," sahut lelaki paruh baya tersebut.
"Tidak mau. Ini uang untuk kita bukan untuk gaji pembantu," jelas sang istri.
"Hem, bagaimana kalau minta dengan besan kita saja, Yah? Lagian pelayan di vila tempat Aluna tinggal banyak, pasti mereka mau memberikan satu untuk bekerja dengan kita," saran istrinya.
Pasangan paruh baya itu adalah orang tua Aluna. Mereka meminta Aluna menikahi pria lumpuh dengan bayaran sejumlah uang. Tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan mereka karena tak perlu bekerja beberapa bulan ke depan selama uang itu masih ada.
Josep, ayah Aluna. Tidak mau bekerja dan selalu menghabiskan uang untu judi dan minum-minuman keras. Aluna selalu menjadi korban tempat ayahnya meminta uang, kalau gadis itu tak memberikan uang maka akan di ancam. Dia sangat membenci anak bungsunya tersebut, bahkan sejak kecil dia tak pernah bersikap lembut pada Aluna.
Merry, ibu Aluna. Wanita sosialita yang tidak sesuai isi dompet. Hobinya menghamburkan uang dengan ikut arisan dan investasi jangka panjang yang berujung pada kerugian. Dia juga sangat membenci Aluna, bahkan dengan tega dia menjual anaknya hanya demi memenuhi keinginannya akan uang.
"Kau benar, Bu," ucap Josep. "Cepat hubungi nyonya Wilona, katakan saja jika ini atas perintah Aluna," ujar sang suami.
"Baiklah, Ibu akan segera mengirim pesan pada nyonya Wilona dan Ibu juga akan minta uang lagi," ujar Merry tersenyum licik dan penuh kemenangan.
"Memangnya berapa jumlah harga Aluna?" tanya Josep. Dia mengatakan hal tersebut dengan tenang, seolah putrinya tersebut tak ada harganya sama sekali.
"Ibu tidak tahu berapa! Mereka memberikan uang pada Ibu sangat banyak," jawab Merry yang sibuk mengotak-atik ponselnya sambil mengirim pesan pada besannya tersebut.
"Lalu ke mana saja uang itu?" tanya Josep menatap istrinya penuh curiga.
"Apa Ayah lupa? Selama ini untuk biaya kita makan pakai apa? Itu pakai uang dari nyonya Wilona. Ayah 'kan tidak bekerja," sahut Merry ketus.
"Siapa bilang Ayah tidak bekerja, Bu?" sarkas Josep tak terima dikatakan pengangguran.
"Kerja apa?" ketus Merry.
"Iya invetasi lah, keuntungannya bisa berlipat-lipat," jelas Josep dengan bangganya.
"Itu kalau menang. Biasanya juga Ayah kalah terus lalu minta lagi uang sama Ibu," tukas Merry mencibir sang suami.
"Ayah belum menang saja," sahut Josep.
"Ayah itu tidak pernah menang. Sejak dulu uang Aluna ayah habiskan untuk judi dan judi," sindir Merry.
Josep tertawa mendengar ucapan sang istri. Dia tak menyangkal hal tersebut memang benar karena Aluna adalah ladang uangnya selama ini. Apalagi anaknya itu bekerja di sela-sela kesibukan kuliahnya.
"Jangan lupa, Bu. Kita tidak ada bedanya."
* * *
"Vid, Aluna kemana? Kok sudah beberapa minggu dia tidak masuk kuliah?" tanya Mira, teman Aluna yang tidak terlalu dekat.
"Aku juga tidak tahu, Mir. Nomor ponselnya tidak aktif," sahut Vidya sambil menghela nafas panjang.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Mira. Tak biasanya Aluna bolos kuliah dia terkenal mahasiswi paling rajin.
"Semoga dia baik-baik saja." Vidya mendesah.
Mira duduk di samping sahabatnya tersebut. Kerinduan mereka pada Aluna telah membawa pada sepi. Aluna adalah gadis ceria yang selalu bisa menghidupkan suasana nyaman dan ramai.
* * *
"Sampai kapan kalian akan mengurungku seperti ini?" teriak seorang wanita pada dua laki-laki yang tengah tersendiri licik padanya.
"Sampai hidup Kak Alvaro benar-benar hancur," jawab lelaki yang satunya.
"Kau benar-benar jahat, Alfonzo," tekan wanita itu dengan penuh amarah.
"Hoh, jelas. Aku tidak akan membiarkan kakakku hidup bahagia denganmu," jawab sang pria.
"Terima saja nasibmu sekarang, Resta. Bagi Alvaro kau sudah meninggal dan tinggal kenangan," sambung yang satunya.
"Kau tega, Bram!" ucap wanita itu dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.
"Bukankah sejak dulu?" Pria bernama Bram itu tersenyum mengejek.
"Kalian berdua tak punya hati!" sentak wanita itu.
Bram berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Resta yang menatapnya dengan penuh kebencian. Dia usap perut besar wanita tersebut, sudut bibirnya tertarik dan tersenyum smrik.
"Bagaimana jika Alvaro tahu bahwa selama sepuluh tahun ini ternyata kau masih hidup dan menggandung anakku? Aku tak sabar melihat ekspresi wajahnya!" ucap lelaki itu sambil tertawa lebar.
"Aku yakin dia akan membencimu, Resta," sambung Alfonzo yang sejam tadi juga sudah mengejek Alena.
"Lepaskan aku! Aku akan balaskan semua perbuatan kalian!"
Bersambung ...