"Apa lagi yang kau tunggu?" tanya Alvaro kesal ketika Aluna diam dan bingung.
"Eh iya, Tuan."
Aluna mendorong kursi roda Alvaro menuju kamar mandi. Dalam hati dia sudah mengumpat kasar suaminya itu. Jika dulu belum ada dia, siapa yang memandikan lelaki itu?
Aluna mengangkat tubuh raksasa Alvaro ke dalam bathtub. Jika saja bukan suaminya, sudah pasti calon perawat itu akan melempar sang suami begitu saja. Sudah berat minta ampun, masih sempat-sempatnya lagi pria itu jahil dengan meremas dua gunung kembarnya.
"Kondisikan tanganmu,Tuan?" Aluna melemparkan tatapan tajam pada sang suami. Alvaro yang biasanya selalu menang menjadi kikuk melihat tatapan istri kecilnya. Bukannya seram malah terlihat menggemaskan.
"Aku suamimu jangan lupakan itu," ucap Alvaro menegaskan.
Aluna tak lagi mau merespon suaminya. Dia menggosok tubuh pria itu dengan telaten. Sesekali Aluna menelan salivanya susah payah ketiak melihat sang suami telanjang d**a. Bagaimanapun dia wanita normal, saking normalnya dia malah menikahi lelaki lumpuh agar menormalkan lelaki itu menjadi manusia normal.
"Aku tahu jika aku ini seksi. Tidak perlu curi pandang begitu. Bahkan kau berhak memegang dan menikmatinya," goda Alvaro. Hal tersebut berhasil membuat wajah Aluna langsung merah merona.
Alvaro terkekeh dia sangat suka melihat wajah merah istri kecilnya itu. Andai saja dia tidak berpikir kasihan, sudah pasti dia akan menerkam istri kecilnya itu, tetapi bagaimana caranya? Bukankah dia lumpuh? Apa bisa pria lumpuh sepertinya melakukan hubungan suami istri? Namun, dia normal dan bahkan merasakan hawa panas saat melihat lekuk tubuh Aluna.
Alvaro menarik Aluna masuk kedalam bathtub.
"Tu-tuan." Aluna terkejut bukan main saat sang suami menariknya.
"Kenapa?" Alvaro mengelus wajah Aluna dengan lembut. Istrinya ini benar-benar cantik. Imut dan menggemaskan. Terlihat sekali bahwa gadis ini jauh lebih muda dari dirinya.
"Tuan, jangan begini." Aluna berusaha melepaskan pelukkan tangan Alvaro pada pinggangnya. Dia duduk di pangkuan laki-laki itu.
"Kenapa? Aku suami mu, 'kan?" Alvaro setengah berbisik dengan suara desahan yang menggoda.
Bukannya merasa tergoda Aluna malah merasa geli. Bulu remangnya berdiri, sementara pikirannya sudah traveling ke mana-mana.
"Tu-tuan."
Alvaro menyusuri cekuk leher istrinya yang terlihat mulus dan menggoda. Dia menyesap leher ini dengan gemes sehingga meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Tu-tuan." Aluna tak sanggup berkata, seolah tubuhnya terasa tersengat listrik. Ada sesuatu yang aneh menjalar mengalir melalui pembuluh darahnya.
Mata Aluna membulat sempurna saat benda kenyal itu menempel pada bibirnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Debaran apa ini?
Alvaro melepaskan pangutan nya saat merasa sang istri hampir kehabisan nafas.
"Kau ingin membunuhku, Tuan?" gerutu Aluna. Padahal dia juga menikmati ciuman itu.
Alvaro tersenyum gemas. "Sebaiknya kau keluar dari bathub ini. Kau tahu di bawah sana dia sudah berdiri dan minta dipuaskan. Jika belum siap sebaiknya kau segera turun dari pangkuanku," ujar Alvaro menahan hasratnya yang terasa menggebu-gebu.
"Apanya yang berdiri, Tuan?" tanya Aluna polos. Memangnya apa yang berdiri dan minta dipuaskan? Sungguh Aluna benar-benar tak tahu masalah itu.
Alvaro memejamkan matanya menahan hasrat di mana adik kecilnya terasa sesak di dalam sana.
"Gadis kecil yang baik hati. Sebaiknya kau keluar atau kau mau aku memakan mu?!" Alvaro mengacak rambut istrinya dengan gemas.
Mendengar itu Aluna langsung bangkit dan keluar dari bathub. Tentu saja dia tahu arti 'memakan mu'
Aluna basah kuyup. Ingin rasanya dia meledakkan kepala suaminya. Padahal dia sudah mandi tapi malah ditarik oleh suaminya untuk ikut basah-basahan.
"Ayo, cepat bantu aku. Setelah itu ganti bajumu. Kau sepertinya kedinginan!" ujar Alvaro.
"Baik, Tuan." Aluna mengangkat tangan Alvaro dan membantu pria itu berdiri dan mencapai kursi rodanya.
Tak lupa gadis itu melilitkan handuk di pinggang sama suami dengan mata terpejam tetapi mengintip sebelah karena malu dan belum siap melihat asset berharga sang suami.
Setelah selesai, Aluna mendorong kursi roda Alvaro keluar dari kamar mandi. Dia memberikan baju ganti untuk sang suami. Lagi-lagi Alvaro mengerjai gadis polos itu dengan meminta Aluna agar memasangkan pakaiannya.
Mulut Aluna komat-kamit menyumpah pria lumpuh itu. Padahal dirinya sedang haid dan tidak boleh mandi malam. Namun, suami singanya itu malah membuatnya basah kuyup.
"Kenapa aku malah menyumpahinya lumpuh seumur hidup?" Aluna memukul mulutnya sendiri. "Jika dia lumpuh selamanya yang repot aku juga."
Dia keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur yang sudah lengkap. Aluna mengeringkan rambut sabahunya yang masih basah. Harusnya dia tidak boleh cuci rambut saat haid. Tetapi karena suami singanya itu, dia harus mencuci rambutnya karena sudah basah.
Alvaro meneguk salivanya dengan kasar. Ketika melihat Aluna mengeringkan rambutnya. Gadis polos itu terlihat begitu seksi dan menggodanya. Andai saja dia bisa berjalan sudah pasti dia akan berlari menyerang istrinya itu.
Aluna membantu Alvaro naik ke ranjang. Karena sudah tengah malam, waktu mereka tidur.
"Berbaring lah di sampingku!" perintah Alvaro.
"Tidak, Tuan. Aku tidur di lantai saja. Aku tidak mau menganggu tidurmu," tolak Aluna lembut dengan senyum paksa. Takut jika suaminya itu akan marah lagi.
"Baiklah. Sepertinya kau ingin ciuman tadi terulang kembali. Kau benar-benar ingin berciuman denganku lagi?" Alvaro mengancam dengan senyum licik.
"Tidak, Tuan." Aluna menggeleng dengan cepat. "Maksudku, tidurku suka gila. Aku tidur mendengkur, pasti kau akan terganggu mendengar dengkuran ku," ucap Aluna beralasan.
"Oh tidak masalah. Jangankan mendengar dengkuranmu, mendengarmu mendesah kenikmatan aku suka. Atau kau mau itu benar-benar terjadi?" ancam Alvaro lagi.
"Tidak." Aluna langsung mengangkat tangannya. "Baiklah aku akan tidur di sampingmu," ucap Aluna mengalah. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Alvaro dengan membelut tubuhnya pakai selimut.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan. Astaga gadis ini benar-benar menggemaskan dan membuatnya geleng-geleng kepala geli.
Alvaro menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Tu-tuan." Aluna terkejut.
"Tidurlah!" ucap Alvaro memeluk istrinya seperti bantal.
"Tapi–"
"Jika kau terus bergerak. Kau bisa membangunkan dia, apa kau mau bertanggung jawab? Tidurlah!"
Aluna langsung menciut mendengar ucapan suaminya. Tentu saja dia tahu apa siapa yang akan terbangun itu. Gadis itu berusaha memejamkan matanya dengan jantung berdebar-debar. Ini pertama kalinya dia seintim ini dengan seorang laki-laki. Walaupun suaminya sendiri, tetapi tetap ada rasa canggung.
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Aluna. Sepertinya gadis itu kelelahan apalagi dia sedang ada tamu bulanan.
Alvaro tersenyum lebar. Jari-jari tangannya menari-nari di lekukan wajah mulus Aluna. Dia menyingkirkan anak rambut gadis itu. Dia terkekeh pelan saat mengingat perdebatan dengan istri kecilnya.
"Katamu kalau aku tidak bisa jatuh cinta padamu. Kau akan membuatku jatuh dari ranajng. Kau benar-benar keterlaluan! Dasar istri durhaka," celetuk Alvaro. Dia mengecup kening Aluna dengan sayang.
"Selamat tidur gadis menyebalkan! Semoga besok kau tidak berteriak saat melihat wajah tampanku."
Bersambung ...