Alvano baru saja duduk di bangku panjang depan gedung fakultas bisnis sambil menatap layar ponselnya. Ia sedang membalas pesan Clara yang memberitahu bahwa latihan hari itu akhirnya selesai dan tubuhnya benar-benar lelah. Senyum kecil sempat muncul di wajah Alvano ketika membaca pesan itu, sebelum langkah kaki seseorang berhenti tepat di depannya. “Alvano.” Suara itu membuat Alvano mengangkat kepala perlahan. Alisnya langsung mengernyit saat melihat siapa yang berdiri di sana. “Sopia,” ucapnya singkat. Tanpa menunggu izin, Sopia langsung duduk di samping Alvano. Terlalu dekat. Bahkan sebelum Alvano sempat bergeser, tangan Sopia sudah melingkar manja di lengan Alvano, tubuhnya sedikit condong, seolah itu hal yang sangat wajar dilakukan. Alvano menegang. Rahangnya mengeras, bahunya kaku

