Cek UP

872 Kata
Dipagi hari ntah dihari ke-10, ketika aku sibuk menulis surat untuk suaami dan anak-anak ku. Michael datang ke kamar ku. Hanya sekedar sarapan bersama. Dia datang duduk dan diam sepanjang kami sarapan. Aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya. Sesekali dia melirik ku yang sedang menikmati sarapan ku. “Nanti akan ada seorang dokter datang kesini untuk memeriksa mu. Mengambil sampel darah bahkan sampel urin. Tolong kerjasamanya.” Dia berbicara sambil menyantap sarapannya tanpa melihat kearah ku. “Untuk apa?apa yang kau inginkan?untuk apa memeriksa darah sampai urin ku?apa kau tidak puas mengurungku dsini?apa kau ingin mengambil organ tubuhku?”kata ku kemudian sambil menatap tajam kearahnya dengan mata dan wajah ku yang memerah. Yah, 10 hari aku disini,aku sudah mulai frustrasi. Aku bahkan tidak takut dengan apa pun lagi. Bahkan untuk apa yg ada dihadapan ku aku sudah siap. “Brani sekali kami berkata seperti itu, kamu pikir aku tidak brani melakukan itu padamu? ingat kamu dibawah kuasaku, apapun yang terjadi padamu itu semua atas dasar kehendak ku. Kamu bahkan tidak bisa melawannya. Ketika kau mati pun tidak akan ada yang tau. Karna bagi keluarga mu kau pasti sudah mati.” “Semua atas dasar kehendak Tuhan. Ketika pun aku mati ditangan mu, itu atas kehendak Tuhan. Karena hidup dan mati ku untuk Tuhan.” Jawab ku kemudian dengan tegas dan tajam. “ha..ha..ha..ha..ditangan Tuhan? ha..ha..ha...” dia tertawa sambil bertepuk tangan “hebat...hebat...selama kutinggal seminggu kamu sudah berani menjawab ku. Dengan mata dan lidah mu yang tajam. Bahkan tanpa air mata. Ha..ha..ha..ha..”dia tertawa sangat kuat sampai buliran air jatuh dari sudut matanya. Sepertinya dia sangat menikmati moment menyiksa orang lain. “dasar psikopakt.” Ucapku kemudian. “Bagus kalau kau mengatakan itu, artinya kau sudah semakin mengenalku.” Sahutnya lagi. Tok..tok..tok..suara pintu diketuk terdengar “ya..masuklah.” sahutnya. Krekk...krek....pintu terbuka dan masukan seorang laki-laki menggunakan jas dokter. Apakah ini yang dimasudnya tadi?seorang dokter untuk memeriksaku?batin ku. “Ini dokter Dani. Dia akan memeriksamu mengambil sampel darah dan urinmu. Jika kau masih menghargai nyawamu, bekerjasamalah.” ucapnya kemudian. “Perkenalkan nama saya Dani Syahputra. Saya dokter untuk keluarga Young. Saya diminta memeriksa kesehatan anda. Saya butuh sampel darah dan urin anda untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mohon kerjasamanya.” Dokter tersebut berbicara dengan baik dan sopan. Sangat jauh berbeda dengan si michael Young yg menyebalkan ini. Jika aku bertanya tentang tujuan pemeriksaannya apakah kira-kira dokter ini mau memberitahukan?sepertinya dia juga orang baik.benak ku “ya sudah tidak sudah basa-basi lagi, cepat priksa aja semuanya. Aku mau hasilnya segera.” Kata michael lalu pergi meninggalkan kami. “baik bos.” Jawab dokter Dani. “Maaf ya mba, saya cek dulu suhu dan tekanan darahnya.” Ucap dokter Dani. Aku hanya diam dan nurut perkataan dokter Dani. “Sekarang, tolong dibantu tampung air seninya didalam gelas ini ya mba.” Sambil memberikan gelas kecil berwarna putih bertutup untuk menampung air seniku. Aku pun mengikuti permintaanya. Dan pergi ke kamar mandi untuk menampung air seniku. Lalu menyerahkannyaa kepada dokter Dani. Dokter Dani menerima dan meletakkan di meja. “Ayuk silahkan duduk mba, saya lanjut lagi pemeriksaannya." aku hanya diam dan menurut. "Ini akan terasa sedikit sakit, saya ambil sampel darah dulu ya mba, untuk dilakukan cek di laporatorium.” Aku hanya mengganguk tanda setuju. Tanpa tahu tujuan dari semua pemeriksaan ini. Dengan sedikit keberanian aku bertanya kepada dokter Dani. “Dok, boleh tau tujuan pemeriksaaan ini untuk apa?” tanyaku kemudian. “Tidak usah khawatir, ini hanya pemeriksaan biasa. Tidak ada yang perlu dirisaukan.” Jawab dokter Dani sambil menyuntikkan jarum ke tangan ku untuk mengambil darahku. “aaaauuuuu.......” aku berteriak pelan sambil berasakan sakit di pergelangan tangan ku ketika dokter Dani mengambil darah ku. Tangan ku menjadi kebas dan pegal. “Semuanya sudah selesai. Nanti bi nita akan mengatarkan vitamin dan bubur kacang hijau untuk mengganti darah yang diambil ini. Jangan lupa untuk memakannya.” Kata dokter sambil memandangi ku. “Baik dokter.” Jawab ku “Dok?...dokter?...dokter Dani?” aku memanggil-manggil dokter Dani yang terlihat memandangi ku tanpa berkedip. Sedari tadi memang dokter berbicara tanpa memandang ke arah wajahku. Dia berbicara sambil memandang kebawah. Setelah sudah selesai memeriksa, sesaat ketika dia ingin berdiri dia berbicara ke arah wajah ku. Bukannya berdiri, dia diam dan mematung memandangi ku. bahkan ketika kupanggil dia tidak menyahut. “Eh..iya, maaf mba..saya kepikiran sesuatu.” Jawabnya “Ada apa dok?”tanyaku kemudian “Ah itu sesuatu yang tidak penting.”sahutnya sambil menundukkan kepalanya. Dan membereskan peralatan-peralatan dan memasukkannya kedalam tasnya. Aku melihat wajahnya seperti orang linglung. Berbeda dengan wajahnya pada saat baru basuk tadi. Aku yakin ada sesuatu yang dipikirkannya. Tapi apa?. “Saya pergi dulu. Hasilnya akan keluar kurang lebih 3 hari. Hasilnya akan langsung saya berikan kepada Michael.” Katanya kemudian “Terserah dokter saja, emang saya dalam posisi memilih apa yg saya mau? Toh hasil pemeriksaan itu tidak berguna buatku.”Jawabku kemudian sambil melihat kearah jendela dimana hujan sedang turun. “Maafkan saya mba, saya tidak bisa membantu. Saya hanya mengikuti perintah saja.” Jawabnya pelan sambil tertunduk. Ada rasa penyesalan dalam setiap kata-katanya. Tapi aku juga mengerti, dia hanya seorang pekerja di rumah ini. Seorang Dokter yang bekerja untuk keluarga ini. “It’s oke, saya mengerti.” Jawabku kemudian. Lalu dokter Dani pamit dan meninggalkanku. ===hai teman-teman pembaca..jangan lupa tap love nya ya...thank you===
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN