surat untuk suami ku

769 Kata
=Hai..teman-teman pembaca,jangan lupa tap Love ya jika suka dengan crita ini ?. Terimakasih = Sudah satu minggu aku berada di ruangan ini. Setiap usaha untuk kabur dari ruangan ini juga semuanya sia-sia. Jendela yang cukup tinggi dan ada bodyguard dibawah. Pintu kamar yang selalu terkunci, dan bahkan ada bodyguard juga didepan pintu. Aku seperti burung dalam sangkar. Hanya bisa menghabiskan waktu didalam ruangan ini. Sesekali aku berbincang-bincang dengan bi nita saat dia datang mengantarkan makan atau pun pakaian kepada ku. Bahkan sampai hari ini pun, aku belum tau apa tujuan mereka mengurungku disini, apa yg mereka inginkan dari ku. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan suami dan anak-anak ku dan juga keselamatan ku. Berharap aku bisa segera bertemu dengan suami dan anak-anak ku dalam keadaan sehat. “Slamat pagi non, sudah bangun?” sapa bi nita, membuyarkan semua pikiran ku. “pagi bi. Sudah saya bingung harus gimana. Saya rindu suami dan anak-anak saya.” Jawabku sambil menahan genangan air dimata ku “Aku sangat merindukan mereka bi, aku bahkan tidak tau bagaimana kabar mereka. Dan apa tujuanku disni. Sudah satu minggu aku disini. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan ku. Sementara aku hanya bisa diam didalam kamar ini.” Aku menangis merindukan suami dan anak-anakku. “Sabar ya non, saya doakan suami dan anak-anak non Rena sehat-sehat. Amin..” Bi nita memang sering memberikan semangat untuk ku selama dikurung dalam ruangan ini. Terkadang dia hanya sekedar mendengar keluhkesah ku. Dan mendengarkan aku menangis karena merindukan keluarga ku. Memiliki teman yang support dikala keterpurukan saya tetap bersyukur, walaupun sekedar teman dalam bercerita. “Bi saya mau minta tolong boleh?” “yah, silahkan non. Apa itu?”jawabnya “Saya butuh beberapa lembar kertas dan pulpen. Saya bosan berdiam selama 7 hari. Saya ingin menulis sesuatu. Atau sekedar menggambar sesuatu”. “Baik non. Nanti saya siapkan.” Jawabnya Setelah selesai sarapan dan membersihkan diri, bi nita datang dengan membawa pesanan ku. Beberapa lembar kertas, pensil,pulpen dan pewarna. Aku senang bisa mendapatkan itu. Aku ingin mencoba mengisi hari-hari ku selama disini dengan menulis dan menggambar. “Trimakasih bi, ini sangat membantu.” “sama-sama non.” Jawabnya kemudian Aku mencoba menulis sebuah surat untuk suami dan anak-anak ku. Aku sebenarnya tidak yakin apakah surat ini akan sampai kepada mereka. Tapi aku hanya ingin menumbuhkan semangat untuk ku, meyakini diri bahwa suatu saat aku akan bertemu mereka. Salam sejahtera, Hai mas, apa kabar. Sudah satu minggu kita tidak bertemu. Aku berharap mas dan anak- anak sehat slalu. Mungkin mas khawatir atau bahkan panik dengan tiba-tiba nya Aku hilang. Jujur mas, aku juga tidak tau sekarang aku ada dimana. Aku juga tiba-tiba sudah ada disni. Tp jangan khawatir, aku sehat-sehat aja. Aku bisa tetap makan dan tidur dengan baik disini. Aku hanya rindu kalian saja, sangat merindukan kalian. Aku rindu mendengar suara dan canda tawa kalian. Dan apapun yang ada pada kalian. Dan aku juga tau kalian pasti merindukan ku. Mohon bersabarlah, doakan aku disini agar selalu sehat dan kita bisa bertemu kembali dalam keadaan sehat. Untuk anak-anak mama, Hai sayang, apa kabar?. Mama tau kalian merindukan mama. Mama juga sangat merindukan kalian. kalian yang sabar ya nak, doakan mama sehat-sehat. Kakak bantu mama jaga adek ya, dan dengarkan papa. Rajin belajar dan jadi anak yang baik ya nak. Jangan kelahi terus sama adek. Adek jangan nakal ya nak, bantuin kakak sama papa. Nurut sama papa dan kakak ya sayang. Mama mencintai kalian. Doakan supaya kita bisa segera bertemu Udah dulu ya mas, smoga ada kesempatan untuk ku menuliskan surat lagi buat kalian. Salah hangat dan rindu dari ku Rena Apriani Tidak terasa air mata ku jatuh saat menuliskan surat itu. Aku menangis sampai bergetar. Aku benar-benar berharap bisa segera bertemu mereka. Surat tadi aku lipat dengan rapi dan aku simpan kedalam laci. Berharap surat ini bisa ku kirimkan kepada suami ku. Untuk mengobati rasa rindu ku, kemudian aku menggambar wajah suami dan anak-anak ku. Wajah mereka masih jelas dalam ingatan ku sehingga aku tidak kesulitan salam menggambarnya. Lalu gambar tersebut kusimpan rapi didalam laci. Aku akan melihat gambar ini setiap kali aku merindukan mereka. Batin ku. Aku seorang sarjana seni di program studi seni rupa. Aku sangat suka menggambar dan bahkan ketika kecil aku pernah mengikut pertandingan melukis antar sekolah, antar desa dan antar kabupaten. Aku sering memenangkan pertandingan itu Karena kecintaan ku dalam melukis, aku bahkan mengambil jurusan seni rupa pada saat kuliah. Seiring dengan waktu, aku semakin jarang melukis. Aku disibukkan dengan tugas menjadi ibu rumah tangga dan menjadi karyawan di tempat aku bekerja. saat ini, aku hanya bisa melukis dan menulis untuk mengobati rasa rindu ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN