
Liona sedang berada di penghujung hidupnya ketika tiba-tiba terlempar ke dunia novel yang dulu sering ia baca. Walaupun merasa senang tertimpa durian runtuh ini, Liona tetap saja terkejut. Karena dia mendapat peran sebagai antagonis terbesar yang tugasnya hanya menjadi batu loncatan para karakter utama.
Liona: "...."
Keren.
Keluarga yang acuh dan saudara tiri yang dingin. Teman yang bermuka dua. Reputasi yang hancur di sekolah. Serta para tokoh utama laki-laki yang kerap mengincar Liona dengan pandangan mereka yang bias, membuat Liona bersujud dan memohon untuk segera dikembalikan ke peti peristirahatan terkahirnya yang hangat dan nyaman.
Tapi siapa sangka seiring berjalannya waktu, semua orang di sekliling Liona menjadi sangat perhatian dan menyayanginya sepenuh hati? Sampai-sampai Liona bergidik ngeri dan menangis ketakutan di pojok kamar.
Ayah: "Liona sayang, kalo kamu butuh uang jajan lagi bilang papa ya. Papa bakal kasih yang terbaik buat kamu."
Ibu tiri: "Putriku itu yang paling cantik!! Cantik luar dalam!! Cantik, cantik, cantik! Huft!"
Kakak pertama: "Kakak bakal bikin semua anak di kampus berlutut di hadapan kamu."
Kakak kedua: "Nggak boleh ada yang ganggu Liona! Siapapun itu, jangan kaget waktu ku acak-acak kalian." *menyeringai seram
Kakak ketiga: Tidak banyak bicara tetapi tinjunya melayang cepat.
Hajar. Hajar semua yang berani menyentuh adik manisnya!
Karakter utama laki-laki: Mencium helai-helai rambut Liona. Sinar matanya meredup, bergelimang hasrat, ingin menenggelamkan gadis di pelukannya semakin jauh ke pusaran cinta diantara mereka.
Tentu saja supaya gadis ini tidak akan pernah bisa berpikir untuk meninggalkannya.
Liona: "??"
Sinting!
Menjauh dari ku!
---
