Side Andrian
Tampak Angga yang sibuk dengan merapikan baju bosnya untuk perjalanan bisnis ke Amsterdam. Sayangnya Angga hanya bisa membantu merapikan koper dan mengantar Bos nya ke bandara. Karena klien yang begitu banyak dan deadline semua sehingga Andrian dan Angga membagi tugas, Angga yang mengurus klien di Jakarta dan Andrian mengurus klien yang berada di Amsterdam. Setelah selesai merapikan dan memastikan semua berkas – berkas sudah dibawa, mereka langsung menuju ke mobil dan berangkat ke bandara Soekarno Hatta dengan kecepatan sedang. Sekitar 1jam menggunakan tol akhirnya mereka sampai di bandara.
“Angga, langsung balik ke kantor saja”
“Baik bos, jika sudah sampai hubungi saya langsung ya! Benaran hubungi saya yaa” memastikan Andrian sambil sedikit melirik serius ke arah Andrian.
“Iya bapak Angga, kok malah kamu yg galak sama Saya!!!”
“Bukan galak Cuma mengingatkan sama bos yang suka menghilang kalau sedang perjalanan seperti ini! Saya tidak mau lagi di maki – maki klien bos”
“Iya bapak Angga” ledek andrian yang langsung berjalan menuju pintu masuk bandara internasional.
Angga juga sudah tidak terlihat sejak dia mulai menginjakkan gasnya menuju keluar bandara.
******
Jarak tempuh antara Jakarta – Amsterdam kurang lebih sekitar 14 jam membuat tubuh Andrian sangat lelah. Sesampainya di hotel ia langsung merendam dirinya di dalam bathtub berisi air hangat, sekitar 10menit ia berendam dan langsung bergegas mempercepat mandinya. Hanya menggunakan bathrobe ia keluar dari kamar mandi menuju meja di sisi kasurnya, mengambil telepon dan menghubungi resepsionis untuk memesan makan dan minum, sekitar 20menit pelayan datang dan membawa pesanan makannya. Menu tenderloin steak dengan saus jamur segelas jus, Andrian menghabiskan hari pertamanya untuk makan dan istirahat. Setelah makan andrian langsung beranjak tidur sekitar 3jam tidur ia terbangun dan melihat jam sudah pukul 8 malam. Rasa lelah yang seharian ia rasakan sudah mulai lebih fresh, sekarang Andrian mempelajari berkas – berkas pekerjaan yang esok akan dia presentasikan dengan kliennya.
Hari ke dua Andrian berada di Amsterdam, hari ini ia akan bertemu dengan klien di perusahaan kliennya yang tidak begitu jauh dari hotel. Andrian sengaja memilih yang jaraknya gampang untuk di jangkau olehnya. Tidak butuh waktu lama. Andrian sudah berada di area perkantoran kliennya. Mereka pun bertemu dan langsung menuju ke ruang meeting untuk mengadakan rapat pertemuan mengenai kontrak kerja mereka dalam pembangunan hotel di Bali. Sekitar 2jam Andrian meeting dengan klien yang salah satunya adalah keturunan Indonesia Belanda yang menjadi warga negara Belanda dan rekan bisnis Andrian.
“thank you Andrian, semoga proyek kita berjalan lancar” ben menjabat tangan Andrian dengan senyum terpancar di antara kedua pria ini.
“Semoga Proyek kita bisa berjalan sesuai rencana kedepannya”
“setelah ini saya rasa cukup Andrian, kami sudah cukup puas dengan penjelasan mu, jadi saya rasa meeting cukup hari ini saja. Dan kami mempercayai semua kepada perusahaan mu Andrian”
“terimakasih Ben atas kepercayaan perusahaan mu kepada perusahaan saya, sekembalinya saya ke jakarta saya akan mengirimkan semua berkas – berkas yang di perlukan disini” mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kerja sama mereka di mulai, Andrian dan semua orang mulai bergegas keluar dari ruang rapat. Dan Ben menghampiri sebelum Andrian sempat keluar ruangan.
“Andrian apakah kamu ada jadwal setelah ini?”
“hmmm... Sepertinya saya hanya akan kembali ke hotel Ben dan menghubungi Angga untuk mempersiapkan semua berkas yang akan saya kirim untuk mu”
“Kau sudah makan siang Andrian?”
“Belum tapi aku bisa makan di dalam hotel sesampainya di hotel nanti”
“ Jika Kau tak keberatan Aku mau mengajak mu ke salah satu restoran Indonesia yang makanannya sangat enak, he.. He.. He.. Jika kau berminat Andrian”
“Ide yang baik itu Ben, boleh saya setuju, ayo kalau begitu kita jalan sekarang” Ben dan Andrian langsung menuju ke restoran yang di tawarkan Ben. Ya lidah orang Indonesia di mana pun berada pasti lebih nikmat makan makanan Indonesia sekedar hanya nasi goreng atau mie goreng.
Ternyata restoran itu tidak begitu jauh dari kantor Ben, mereka hanya berjalan kaki sekitar 10menit dari kantor. Sesampainya di restoran Andrian merasa sedikit takjub karena lumayan ramai oleh warga negara Indonesia dan seakan berada di warung makan di Jakarta persis di bikin menyerupai kafe – kafe di Jakarta. Andrian dan Ben pun duduk di meja makan yang kosong, tak lama seorang pelayan wanita menghampiri mereka.
“ Selamat siang tuan, bisa saya bantu mau pesan apa?” Andrian yang berada di depan wanita itu sedikit membalikkan badannya, untuk melihat wajah pelayan yang membelakanginya, entah apa yang membuat hati Andrian seperti ia tak Asing dengan wanita ini, tapi di mana ia pernah bertemu di dalam batinnya dia begitu penasaran dengan sosok wanita yang sekarang menatap bingung kepadanya.
“Andrian, Andrian heii” memecah lamunan nya.
“Hah oh maaf Ben” Andrian yang merasa tidak enak karena sudah menghiraukan panggilan Ben.
“Kau kenapa Andrian? Kau mau memesan makan sekarang?”
“Oh iya Ben, maaf tadi aku hanya memikirkan sedikit pekerjaan maaf”
“Saya boleh lihat menunya nona ?”pelayan itu yang sedari tadi bingung menatap tamu anehnya yang sekarang baru ingin memesan menu makannya, disodorkan nya daftar menu makanan ke Andrian.
“Aku pesan Soto Betawi dengan jus jeruk”
“baik tuan pesanannya akan saya antar setelah ini ya, ditunggu sebentar permisi” Andrian yang terus menatap pelayan itu hingga masuk ke dapur untuk memberi daftar menu ke koki.
‘Wajahnya seperti tak asing bagi ku, tapi dimana Aku pernah bertemu dengannya, kenapa hati ku seperti merasa sudah mengenal dengan nya ya, ah kenapa ini, apa karena dia cantik, tapi sudah banyak aku bertemu dengan wanita yang mungkin lebih cantik dari dirinya tapi perasaan ini kenapa berbeda ya’.
Ben yang melihat gelagat aneh pada Andrian semakin membuatnya penasaran kenapa Andrian Begitu sangat aneh sesampai di restoran ini, apa ada sesuatu yang ia pikirkan.
“Andrian aku melihat kau berubah setelah sampai di restoran ini? Apa kau tak menyukai tempatnya?”
“ohh tidak Ben, maaf aku tadi hanya teringat dengan berkas – berkas sehingga aku melamun dan melupakan dirimu sesaat”
“Jangan di pikirkan Andrian semua sudah beres, perusahaan ku yakin jika kami tak salah memilih mu sebagai rekan kami”
“ Ben terima kasih atas kepercayaan mu pada ku” tak lama dari itu menu makanan yang di pesan mereka pun sudah datang. Mereka pun menyantap makanan yang ada di hadapan sambil terus berbincang dan Andrian pun tak lepas mencuri pandang ke arah pelayan itu.
******
Side Olivia
Liburan musim panas pun tiba, Olivia sangat bersemangat menyambut pagi ini, ini adalah hari pertama baginya bekerja paruh waktu. Sebenarnya Olivia tidak kekurangan uang, hanya saja dia ingin memiliki waktu luang yang belum pernah iya lakukan sebelumnya apalagi pekerjaan ini baru baginya, Olivia sudah rapi dan tak butuh waktu lama ia berjalan menuju halte bus dan berangkat menuju tempat ia akan bekerja. Olivia sangat manis hari ini, menggunakan celana jeans dan tangtop orange yang di padukan dengan kemeja tipis transparan berwarna senada dengan tangtopnya, dengan rambut yang di ikat satu membuat leher jenjangnya terekspose dengan make up yang natural kecantikannya sangat memukau tidak seperti orang yang ingin bekerja sebagai pelayan. Tak butuh waktu lama berada di dalam bus dia sudah sampai di area perkantoran restorannya berada di belakang kantor itu hanya butuh berjalan sebentar Olivia sudah sampai di tempat ia bekerja. Terlihat seorang wanita paruh baya mungkin seumuran dengan mama Via, wanita itu melambai dan tersenyum menyambut kedatng Via.
“Hai, kamu pasti Olivia kan, karyawan paruh waktu disini?”
“Iya Bu salam kenal saya Olivia Zein”
“wah kamu lebih cantik dari di foto, ayo masuk saya kenalkan dengan team karyawan saya dan suami saya, oh ya saya bagaimana saya harus memanggil mu?” Via berpikir sejenak sepertinya menggunakan nama depan banyak orang yang mengenal nama panggilannya, takut jika mama dan rekannya makan disini dan mengetahui Via diam – diam bekerja paruh waktu, bisa – bisa habis dia di omeli mama nya, Saddam saja tak ia beri tahu agar tidak memberi tahu mama nya.
“Humm.. Panggil Zein saja bu”
“Baik Zein, kau jangan memanggil ku ibu, panggil saja aku tante Ajeng, ayo sekarang ku perkenalkan kamu di dalam Zein” Via dan tante Ajeng langsung menuju restoran yang sedang sibuk untuk membuka restorannya.
“Zein kenalkan ini koki kita Anton asli orang Jawa, dan asistennya ini Ruslan satu kampung dengan saya Riau dan saya sebagai kasir. Sekarang di restoran ini kami kekurangan pelayan, saat ini kami baru menemukan dirimu, apakah kamu tidak keberatan bekerja sendiri sebagai pelayan disini Zein?”
“Tidak tante aku merasa ini akan menyenangkan”
“Disini hanya rame di jam makan saja itupun tidak begitu setiap harinya jadi kamu tidak perlu khawatir, jika begitu banyak tamu saya juga akan membantu mu, bagaimana?”
“Baik tan saya akan mencoba sebaik mungkin disini”
“terima kasih Zein, kamu Cuma perlu masuk di hari senin jumat sabtu dan minggu”
“Baik tan Zein akan catat jadwal kerja Zein”
“Ini celemek untuk menutip celana mu agar tidak kena kotoran atau tumpahan makanan, dan kita sudah mulai bekerja hari ini ya” Via menganggukkan kepala tanda ia mengerti, mereka pun sudah membuka restoran dan bersiap menerima tamu untuk makan siang di situ.
Waktu menunjukkan pukul 1siang, dimana restoran terlihat ramai, Via sangat menikmati pekerjaan nya, bertemu banyak orang mungkin bisa menjadi terapi traumanya. Tante Ajeng yang memperhatikan nya terlihat senang dengan hasil kerja Via. Silih berganti tamu terus berdatangan, tampak 2 orang yang berpakaian jas resmi memasuki restoran yang satu terlihat berumur 35 tahunan dan yang satu terlihat tampan modis dan muda mungkin tidak jauh dari umur Via. Via mendatangi meja tersebut dan menyodorkan menu.
“Selamat siang bisa saya bantu mau pesan apa?”
“saya mau kopi dan soto betawi juga air meniral ya” ucap pria yang umurnya mungkin sekitar 35 tahun, dan ia menyodorkan menu ke rekannya yang terlihat kaget saat melihat Via, dan sempat terpaku sesaat dalam lamunan yang membuat Via merasa tidak nyaman.
“tuan mau pesan apa? Tuan apakah ada yang mau di pesan?”
‘ini orang kesambet apa ya? Dari tadi di tanyain malah diam mematung gini’ dalam hati Via menggerutu hingga rekannya mencoba menyadarkan dia.
“Andrian.. Hei .. Andrian!”
“heh maaf, maaf , aku sedang memikirkan berkas berkas maaf maaf”
“ nona boleh saya minta menunya? Hmm saya pesan soto betawi dan jus jeruk”
“baik pesanan nya sudah saya catat di tunggu sebentar ya, permisi” Olivia langsung meninggalkan mereka berdua menuju dapur untuk memberikan menu pesanan kepada Ruslan.
Ia masih merasa aneh dengan tatapan pria itu, tapi sepertinya Via tidak pernah mengenal pria itu tapi namanya seakan tidak asing di kupingnya, tapi nama kan bisa saja sama, karena nama seperti itu pasaran sanggahnya di dalam hati dan lanjut menikmati pekerjaannya.