Akhirnya Takkan Ku Lepaskan Kau

3357 Kata
“Via, apa sebelumnya kau pernah tinggal di Indonesia?” Andrian memulai pembicaraan antara dirinya dengan Via, mereka sudak berada di restoran, duduk menghadap ke arah taman Vondelpark. “Hmmm... Pernah massa kecil ku kuhabiskan di Indonesia?” “Di Jakarta?” “hmmm” Andrian heran dengan jawaban gadis yang ada di hadapan nya, ya walaupun namanya sama dengan gadis kecil yang di carinya tapi Andrian tahu kalau dia harus mencari tahu kebenaran terlebih dahulu. “Apa kamu pernah tinggal di daerah lain selain di Jakarta Via, orang tua mu di sini juga?” “Aku pernah tinggal sementara di kampung nenek ku, kalau ibu ku juga di sini Cuma kami berbeda kota” ‘Aku yakin ini kamu Via gadis yang selama ini mengganggu hidup ku! Kau tidak akan ku lepas kan mulai detik ini. Seperti janji ku terdahulu! Di mana kau berada di situ juga aku berada. Bayangan ku akan menghantui hidup mu. Seperti apa yang kau lakukan pada hidup ku!’ Seorang pelayan mendekati meja mereka mengantarkan makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya. “Ayo Via makan. Selagi hangat ” “ohhh iya terimakasih. ..” Via menyantap salad yang dia pesan. “Kau tidak takut kelaparan hanya memakan Salad Via” ledek Andrian sambil senyum manis yang lembut ke arah Via. “Aku tadi sarapan sudah dengan protein yang cukup, jadi belum terasa lapar, ini sudah sangat nikmat untuk makan siang ku" senyum Via sambil memakan saladnya, Via sudah sangat terbiasa hanya makan dengan sayuran mentah atau sekedar protein, semenjak dia bertekad hidup sehat, baginya makan salad saja sangat nikmat. “Ha.. Ha.. Haa.. Nikmati lah jika itu membuat mu bahagia. Oh ya Vi bolehkah aku berteman dengan mu?” “uhukk .. Uhuukkk..” Via terbatuk dengan pertanyaan Andrian, membuat Andrian kaget dan langsung menyodorkan minum. “Via hati.. Hati... Minum dulu ini, pelan – pelan” “uhhhuk, terima kasih Tama, pertanyaan mu membuat ku tersedak” “Apa ada yang salah dengan ucapan ku?” “ Hah enggak, tapi aku yang bermasalah maaf ya” Andrian penasaran apa yang membuat gadis ini sangat berubah dratis, banyak pertanyaan yang ingin di tanya Andrian. Terutama pertanyaan kenapa Via membenci dirinya. “ Ada apa? Apa ada yang salah Via?” “ Hah enggak ada, Cuma aku punya sedikit masalah dengan pertemanan aku punya trauma yang membuat ku sedikit punya pengalaman buruk hingga saat ini, aku juga hingga saat ini masih terapi untuk menghilangkan ketakutan dan trauma ku” ‘Apa yang membuat mu trauma, apa masih karena masa itu?’ Andrian terpaku menatap ke arah Via yang sekarang sudah terlihat lebih baik. “Maaf kan aku jika terlalu berusaha ingin berteman dengan mu Via” “aku yang harusnya meminta maaf pada mu, aku sedikit memiliki ketakutan dengan pertemanan dan aku tidak memiliki teman untuk saat ini, selain... Tidak aku memang tidak bergaul dengan banyak orang” “apa kehadiran ku membuat mu tidak nyaman Via?” “Awalnya aku merasa begitu, tapi sekarang aku lebih menikmati setidaknya aku senang punya kenalan dari Indonesia bisa mengobati rindu ku pada Indonesia” Via tidak bisa berbasa basi dalam berbicara, tersenyum sambil melanjutkan makannya. “Jadi apakah kita berteman ?” sambil senyum licik ke arah Via. “ Hmmm iya, kenapa aku tak mencobanya memiliki teman baru mungkin lebih baik untuk diri ku, apalagi kamu di sini sendiri dan aku bisa merasakan kesepian itu” entah mengapa Andrian se akan ingin memeluk gadis yang ia benci tapi cinta ini. Hidupnya bertahun – tahun tak bisa hidup normal selalu terbayang wajah Via yang menangis terisak dan berlari. Yang membuat Andrian tak memiliki ke kasih. Bagaimana mau memiliki kekasih, jika Andrian hendak mendekati seorang gadis, kepalanya di penuhi dengan rasa marah dan sakit seakan – akan selalu ada yang menghalangi dia, setiap ingin mencium seorang gadis selalu tangisan Via kecil terbayang di pikiran Andrian. “ Terima kasih Via, setelah ini kau ada rencana ?” “humm harini aku enggak ada rencana kemana – kemana sih paling aku di kamar saja” “ Apa kamu mau menemani ku berjalan – jalan di kota ini Via?” “hmmm bagaimana yaa, aku sendiri tak pernah berjalan jalan selama di kota ini, selain kampus, kantin, tempat gym atau paling area dorm dan kampus” jawab Via polos. Memang dirinya tidak pernah bepergian selama terpisah dari mama, paling restoran yang saat ini menjadi pengalaman terbarunya. “apakah kau tak memiliki kekasih Via?” “ke..kasih ya .. Aku belum pernah berpikir memiliki kekasih” wajah Via memerah menahan malu karena di usianya yang hampir 19 tahun pada umumnya sudah memiliki kekasih malah mungkin sudah beberapa kali berpacaran. “Sama!” “hah apanya yang sama Tama?” Via bingung dengan satu kalimat yang di lontarkan Andrian. “Iya sama, aku juga belum pernah memiliki kekasih tepat nya tidak pernah bisa berdekatan dengan seorang gadis” “kenapa apa kamu?” pikiran Via mengarah kalau Andrian tidak normal. “Heh aku normal!” seakan bisa membaca Pikiran Via. “Hanya saja setiap aku ingin mendekati seorang gadis, ada yang menghalangi ku, sebuah kenangan masa kecil” jawab Andrian datar. “ Apa kau pernah menyakiti gadis lain?” “Aku tidak pernah menyakiti dia! Malah aku menuntut jawaban kenapa dia membenci ku, perkataannya selalu terngiang di kepala ku membuat aku susah mendekati gadis” “humm kenapa kau tak datangi perempun itu dan meminta kejelasan padanya?” “Itu yang saat ini sedang ku lakukan” mata Andrian seakan menatap kejam ke arah Via yang langsung dia kembali netral saat mata Via menatap heran. “ Dari pada bahas itu, apa kau mau menemani ku berkeliling?” “ayo, aku juga sudah selesai makan” Andrian memanggil pelayan untuk meminta bill, setelah selesai mereka pun langsung meninggal kan restoran. Andrian tidak ingin menunjukkan siapa dirinya, saat ini dia hanya ingin mengetahui tentang Via, dia akan berubah menjadi apa pun untuk mendekati Via. ****** Mereka berkeliling kota, mendatangi tempat wisata yang tidak begitu jauh dari taman Vondelpark. Mereka pergi ke Vondel Monumen, Vondel Bunker, kemudian pergi menuju Museum Van Gogh. Via terlihat bahagia karena ini pertama kali ia berjalan keliling kota dengan pria yang sekarang disebutnya teman. Mereka sesekali tertawa bersama sambil berjalan mengelilingi museum, waktu se akan begitu cepat berlalu. Saat ini sudah pukul 8 malam Via dan Andrian pun tampak lelah seharian berjalan. Mereka memutuskan untuk kembali, Andrian kembali ke hotel dan Via kembali ke dormnya. “Via, terima kasih untuk sehari ini menemani ku” “ Sama – sama aku juga sangat menikmati waktu bersama mu seharian ini” “hmmm apa aku boleh meminta nomor telepon mu? Dan bertemu dengan mu esok hari ?” “Hmm boleh besok aku juga kosong jadi masih bisa menemani ku berjalan – jalan” Via mengetik nomor nya di ponsel Andrian yang sudah di sodorkan sedari tadi. Wajah Andrian sangat terlihat bahagia, bibirnya tak hentinya terus tersenyum. Mereka pun berpisah setelah Via dahulu masuk ke dalam bus jurusan ke arah kampusnya. Sedangkan Andrian menunggu mobil jemputan dari hotel yang ia tempati selama di Amsterdam. Andrian sangat bahagia seakan ia baru menang lotre miliaran juta. Bertemu dengan Olivia adalah hal yang sangat di dambakan nya. Ia ingin meminta penjelasan mengapa bayangan Via sangat menghantuinya. Andrian seakan enggak bisa menutup senyumnya yang jelas terpampang nyata di wajah tampannya. Memasuki area kamar hotel, seperti kebiasaan Andrian selama ini, langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri yang seharian berada di luar bersama Via, setelah selesai mandi Andrian menggunakan bathrobe nya dan menuju ke kasur. Menatapi layar ponsel, foto – foto bersama Via, senyumnya masih menghiasi wajahnya. Tak bosan – bosan dirinya menatap wajah Via. ‘Kau sangat berubah, aku tak menyangka kau berubah sangat memukau sekarang, Via mengapa kau membenci diriku! Sedari kecil aku sudah menyukai mu, apakah kau tak merasakan kepedulian ku pada mu! Kenapa kau malah membenci ku! Sekarang aku tak akan membiar kan mu lepas lagi dari ku! Aku bersumpah pada diriku!’ ***** Via yang sudah merebahkan tubuhnya, sangat lelah tapi menyenangkan. Hal yang tak pernah terpikirkan dalam hidupnya akan menikmati jalan – jalan di tengah keramaian tertawa bersama teman. Hal yang dari dahulu ingin ia rasakan. Bertemu dengan Andrian adalah hal yang menyenangkan, berteman dengan lelaki tampan ini entah mengapa terasa hangat dan nyaman. Bersama Saddam saja tak begitu terasa hangat tapi entah mengapa baru pertama kali dekat dengan Andrian dia merasa nyaman tapi seperti ada misteri dari sosok lelaki ini. Via seakan tak ingin lepas tapi seakan ada bagian dari dalam dirinya yang merasa seperti ada sesuatu yang ia susah untuk menjelaskan dan menggambarkan bagaimana isi hatinya saat bersama dengan Andrian. Via pun terlena dengan khayalannya dan mulai terlelap dalam tidurnya. ***** Harini Via kesiangan tak seperti biasanya, ia sangat nyenyak dalam tidurnya, sudah beberapa pekan ini Via selalu terbangun tidurnya dan susah untuk melanjuti tidur lagi. Dilihatnya layar ponselnya, terdapat satu pesan baru. ‘Hai gadis manis, bagaimana tidur mu? Apakah kau mau menemani ku berlibur di kota ini’ Via langsung tersenyum bahagia setelah tau siapa yang mengirim pesan pada dirinya. Tama itu yang ia tahu tentang Andrian. Langsung di balasnya pesan Andrian dengan hati yang berbunga bunga. ‘ maaf aku kesiangan, jika kau mau di temani dengan pemandu wisata yang tak tau tempat wisata. dengan senang hati aku mau menemai nya’ Andrian yang sedari tadi sudah uring – uringan menunggu balasan dari Via, langsung bersemangat melihat pesan masuk di ponselnya. ‘aku sangat menikmati pemandu wisata secantik mu Via, bagaimana kalau kita makan siang bersama sambil memikirkan ke mana hari ini kita menghabiskan waktu? Bagaimana apa kamu setuju?’ Beep .. Beep .. Beep .. Suara pesan masuk dari ponsel Via, langsung dengan segera di baca Via , mendengarkan pujian dari Andrian membuat seperti ada kupu – kupu yang hendak berhamburan dari hatinya, serasa ingin meleleh karena kesenangan. ‘ Oke , aku setuju, bagaimana kalau kita makan siang di kafe yang tidak jauh dari kampus ku, nanti aku kirimkan alamatnya kepada mu’ Beep.. Beep.. Beep... ‘ oke, aku setuju’ Setelah di bacanya pesan dari Andrian, Via langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari iler yang menempel semalaman iya tidur. Andrian dan juga Via sama – sama bersiap untuk saling bertemu makan siang di kafe yang sudah di kirim alamatnya pada Andrian, sekitar 20 menit perjalanan Andrian sudah sampai di kafe yang di tuju, terlihat dari kaca kafe yang transparan seorang gadis menggunakan baju yang santai tapi tetap modis dan cantik. Di segerakan langkahnya menuju gadis itu, siapa lagi kalau bukan Via, Olivia Zein. “Maaf apa kau menunggu ku lama?” Andrian memecah kesunyian di hati Via. “Haii.. Enggak tempat tinggal ku dekat dari sini makanya aku lebih dulu sampai, ayo kita pesan makan nya” Via menyodorkan daftar menu makanan kepada Andrian. Mereka memilih menu makanan yang ada di daftar menu Andrian memesan Lekkerbekje dan Patat dan segelas soda. Sedangkan Via memesan Bitterballen dan segelas jus jeruk. Terlihat wajah Via sangat tak sabar menunggu makannya, di kafe ini Bitteeballen nya sangat terkenal enak. Tak lama menunggu, menu mereka sudah di hidangkan di meja, melihat antusias Via melihat makanan nya sudah terhidang membuat Andrian tertawa, dan itu mengusik kesenangan Via. “kenapa kamu tertawa jelek seperti itu” “ ha.. Haa.. Haaa.... Kau sangat lucu Via, apa kau kelaparan ??? Berbeda dengan semalam kau hanya makan salad dan tidak mau ku ajak makan malam” wajah Via memerah menahan malu karena ucapan Andrian yang meledek nya kelaparan. Tapi Andrian memang benar, Via menahan lapar sedari semalam karena waktu makan malam nya sudah lewat dan saat Andrian menawarkan makan malam itu sudah lewat jam makan malam dirinya. “ Huuuft aku semalam tidak makan malam juga karena menemani mu, kau menawari ku makan jam 8 malam yang seharusnya aku sudah tidak makan apa – apa, jadi sekarang kau jangan mengganggu nafsu makan ku” sarkas Via dengan wajah yang menyebalkan ditujukan pada Andrian. “Hmm ha ha ha... Oke oke, aku enggak akan mengganggu kamu makan , ayo makan silahkan” Mereka menikmati makanan mereka, sesekali Andrian mencuri pada Via yang sangat fokus menikmati makanannya. Entah mengapa seakan ada alunan lagu – lagu romantis di kepala Andrian yang membuatnya ingin menari bebas bersama Via. Ayolah itu semua Cuma di khayalan orang yang sedang kasmaran atau jatuh cinta. Ia Andrian memang sudah menaruh hati sedari pertemuan pertama mereka di halaman rumah neneknya Via. Dari balik mobil Andrian menatap pada gadis kecil yang sedang tersenyum manis, senyuman itu seakan menghilangkan kepedihan kehilangan seorang ibu yang sangat di dicintai Andrian. Andrian terbawa dalam khayalannya.. Menari dan mencium mesra Via, khayalan itu membuat bibirnya tersenyum geli membayangkan hal – hal gila di kepalanya. “ Tama, makan itu, heh tama” Andrian terenyak dari lamunannya. “hah, maaf iya ini aku lagi menikmatinya sampai membuat ku tak sadar” Andrian berusaha menahan malunya dengan bercanda dengan Via. “kamu tuh setiap mau makan apa selalu suka melamun ya? Saat bersama teman mu juga kau melamun seperti ini, apa kau kurang fokus, seperti nya kau harus sedikit mengurangi pikiran - pikiran enggak penting deh dari pada ketawa sendiri seperti orang stress” ledek Via yang membuat Andrian tertawa lepas, entah mengapa saat melihat Andrian tertawa hati Via seperti bunga yang pada bermekaran. “Hmm Via apa ada orang yang kau sukai atau kau benci saat ini?” pertanyaan yang membuat Via berpikir sejenak. ‘hmmm orang yang aku sukai Saddam tapi.. Kami kan berteman kurasa itu bukan menyukai deh, paling aku hanya mengagumi dirinya saja, kalau orang yang aku benci...’ via bertanya dalam dirinya sendiri mencari jawaban dari pertanyaan Andrian. “ Hmm orang yang aku sukai yaa, sepertinya belum ada” Hati Andrian seperti sedikit berbahagia dengan jawaban yang di lontarkan Via. “hmm tapi orang aku benci Ada, teman masa kecil ku, yang membuat aku susah berteman dan bergaul karena dirinya” tiba – tiba Andrian merasa seperti hatinya tertusuk ia seperti takut dengan jawaban dari Via. “Hmm jika kau tak mau menceritakannya, kita ganti topik saja ya, untuk harini kau mau menemani ku ke mana?” Andrian berusaha mengalihkan Via, ia tau siapa sosok itu, dan ia tak ingin mendengarnya lagi. Karena seharusnya dia yang marah di sini, karena Via sudah salah menilai dirinya. “kemana ya , aku juga enggak tau tempat yang ingin ku tuju” “bagaimana kalau kita ke museum Rijks terus aku ingin kita ke kanal sekedar mengelilingi menggunakan perahu bagaimana?” “ Ide yang bagus” Disaat hendak ingin bergegas meninggalkan kafe Via berpapasan dengan Saddam dan teman – temannya dan tak ketinggalan gadis seksi Sarah yang merangkul mesra tangan Saddam. “Via, kau mau kemana? Dan.. Pria ini siapa?” Saddam yang bertanya curiga sambil menatap Andrian dengan tatapan tidak suka. “ Eh Sadd, lama tak bertemu” Via yang merasa canggung dengan suasana saat itu menjadi orang yang seperti habis berselingkuh, padahal pacaran saja tak pernah. “Kau dengan siapa ini, dan pria ini siapa, seperti bukan dari kampus kita?” Andrian yang sedari tadi menatap tidak suka dan penasaran dengan sosok Saddam yang di kenal Via. “ Kenalkan Saya Tama, teman Via dan kau?” Andrian mengenalkan diri padahal Saddam bertanya pada Via untuk menjelaskannya. “ Hmm Sadd ini teman ku, maaf ya aku harus pergi sekarang” sambil merangkul tangan Andrian dan tanpa menoleh atau menunggu jawaban dari Saddam mereka berjalan keluar dari kafe itu menuju halte. Saddam yang berniat ingin mengejar Via untuk mendapatkan jawaban yang jelas tetapi di tahan oleh Sarah dan teman – temannya sehingga urung di lakukannya. ***** Selama berada di museum Via hanya diam dan seperti banyak berpikir. Terkadang ucapan Andrian tak banyak di dengarnya, berbeda saat dia makan siang penuh dengan senyum dan tawa lepas. Andrian menyadari perubahan sikap Via semenjak Via bertemu dengan Saddam. Dan itu sedikit mengusik hatinya, ia ingin penjelasan tentang Saddam di hati Via. Tapi ia tahu Via tidak akan nyaman jika ia langsung bertanya saat ini. Andrian membiarkan sesaat Via untuk diam dan menikmati lamunannya. Hingga sekitar 1jam mereka berada di museum dan Andrian mulai membuka obrolan untuk memecahkan susana yang terasa dingin antara dirinya dan Via. “Via maaf, apakah kau lelah?” “hah maaf Tama sedari tadi aku menghiraukan mu, maaf ya, enggak aku tidak lelah Cuma tadi aku merasa kurang enak badan saja” “apa kau sakit? Apa kita mau pulang saja untuk kau istirahat?” “hmm sepertinya aku ingin pulang saja Andrian, apa kau tak keberatan?” Sejujur nya Andrian sangat keberatan sekali, malah ia berharap Via juga menemaninya di hotel tapi dia tau itu tidak akan mungkin terjadi. “Tidak apa – apa, lebih baik kau istirahat, ayo aku antarkan kamu ke halte” “Maaf kan aku Andrian, bagaimana kalau besok aku menemani mu lagi sebagai per minta maafan ku karena hari ini?” Andria tersenyum dengan permohonan maaf dari Via. “Tak usah kau fikirkan, santai saja. Lagian esok malam aku akan balik ke Jakarta, urusan ku sudah selesai di sini” Mendengar ucapan Andrian yang akan balik ke Jakarta sontak membuat Via merasa sedih. Mungkin karena dia merasa sudah memiliki teman untuk di ajak bermain bersama. “Kau kembali besok malam??, kenapa sebentar sekali?” “Via, aku disini untuk bekerja bukan berlibur, dan pekerjaan ku sudah selesai, 2harini aku berlibur dengan mu itu karena tadinya aku kira pekerjaan ku akan sampai 3 harian . Ternyata 1 hari sudah selesai makanya aku ada waktu luang untuk berlibur dan besok aku haru balik ke Jakarta” Ucapan Andrian seakan membuat Via tak ingin berpisah dengan sosok pria yang di sebut Via adalah temannya, bukan tapi teman baiknya saat ini, menggantikan sosok Saddam yang sekarang mulai berjarak bagi Via. “hmm Tama...” “ ya kenapa ?” “Sepertinya aku sudah lebih baik, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang ingin kau tuju” sambil dengan wajah yang tertunduk Via memberanikan diri untuk mengajak Andrian. Dan pastinya di sambut bahagia oleh Andrian. Andrian juga tau jika sedari tadi Via tidak sakit hanya merasa tidak nyaman karena sudah menghiraukan Andrian. “ Apa kau yakin? Aku tidak apa – apa loh Via, yang penting kau jangan sakit itu sudah membuat ku baik” “ Iya aku serius sudah lebih baik, berarti kita jadi ke kanal ya sekarang” Andrian menjawab dengan anggukan tanda iya setuju. Mereka tak butuh waktu lama untuk sampai di kanal, ikon yang terkenal untuk mengabadikan foto dan memandangi keindahan kanal yang terkenal di kota ini. Tampak bangunan rumah – rumah klasik yang indah di pandang mata berjejer rapi menghadap ke arah kanal, suasana yang indah dan hembusan angin. Waktu sudah mulai menunjukkan sore hari seakan menambah lagi keindahan di area itu. Lampu – lampu yang mulai bernyala membuat kesan romantis daru tempat ini. Via yang tampak sangat menikmati suasana di sini berbeda saat berada di museum, gadis ini sangat cepat mengganti suasana hatinya. Andrian yang tak pernah lepas menatap Via selama berada di perahu membuat Via malu dan berusaha menahan nya. Sekarang mereka menelusuri jembatan sambil berjalan pelan, sesekali Via mengabadikan gambar di kamera ponselnya. Andrian yang terus melihat Via dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya. “ Dari tadi enggak bosan – bosan apa lihati aku terus” ucap Via yang membuat Andrian tertawa “kenapa malah ketawa? Emang ada yang aneh apa di wajah ku?!” ucap Via sambil menahan kekesalannya terhadap Andrian. “Kau cantik Via, sedari ku melihat mu pertama kali” Pipi Via benar – benar merah merona seperti tomat. Berusaha bagaimana pun untuk menutupi wajah nya yang merah tetap akan terlihat oleh Andrian. Tiba – tiba tubuh Via di rangkul oleh Andrian, yang membuat Via tak sempat untuk berfikir. Dilumatnya bibir Via seketika dengan lembut dan intens. Via yang kaget berusaha untuk melepas tapi tak bisa, Andrian sudah mengunci tengkuk Via, dan mulai terus mencium dirinya, begitu sangat intens ciuman itu membuat Via gelagapan karena tak bisa bernafas. Andrian yang mengetahui itu tersenyum sesaat sambil melepas ciumannya untuk memberikan waktu Via bernafas hanya hitungan detik bibir Via sudah di cumbunya lagi, sekarang dengan sedikit gigitan di bawah bibir bawah Via yang membuatnya kaget dan jantungnya mulai berdegup kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN