Semalaman Via tak keluar kamarnya, Andrian sudah jengkel menahan dirinya untuk tidak menggedor pintu kamar Via.
“Kau sudah memancing ku marah Vi, sebegitu ya kau membenci ku, sedangkan seharusnya aku yang lebih berhak marah kau perlakukan seperti ini!”
“Lihat saja setelah menikah akan ku buat dirimu tak bisa lepas dari ku!” Andrian mengeluarkan amarahnya di dalam kamar mandi sambil memukul tembok berusaha menahan diri nya yang merasa Via sangat terlalu berlebihan membenci dirinya, dan Amdrian merasa dirinya tidak bersalah. Malam ini Andrian mengurungkan niatnya untuk menggedor pintu kamar agar di bukakan oleh Via, dirinya memilih untuk tidur di sofa dan membiarkan Via di kamar menenangkan diri.
****
Pagi hari ini semua keluarga sudah disibukkan dengan urusan pelaminan dan beberapa hal – hal kecil yang mungkin jika terlewat akan mengganggu di hari H pernikahan. Andrian yang lebih dulu berada di meja makan sambil menunggu Via yang tak kunjung keluar kamar juga. Sudah merasa terlalu kekanakan dengan tingkah Via, Andrian langsung membuka pintu kamar dengan kartu kunci yang sudah ia minta di resepsionis sebelumnya.
Tit.. Tit.. Tii...
Pintu langsung terbuka, dan memperlihatkan Via yang sedang tertidur pulas. Dengan lembut Andrian mengelus pipi Via dan membuat gadis itu tersadar.
“Hah.. Kenapa kau bisa masukkk!”
“Dasar bodoh! Kartu tambahan untuk membuka pintu ini bisa ku minta kapan saja pada pihak hotel!”
“chh... Dasar m***m”
“Apa?! Sudahlah aku tak mau berdebat! Sekarang bangun sarapan dan kita akan ada fiting baju akad dan resepsi”
“Aku tak mencintai mu dan tak ingin menikah dengan mu!”
“Aku bisa membuat mu mencintai ku! Dan pernikahan ini nenek mu dan kakek ku yang mengatur semua jadi kalau kau ingin protes, protes kepada nenek mu! Kalau dia enggak akan kena serangan jantung mendadak dan itu karena mu!”
“Dasar b******k k..” belum sempat menyelesaikan ucapannya bibir Via sudah bertaut dengan bibir Andrian. Di lumatnya bibir gadis itu dengan lembut, Via yang berusaha melepaskan ciuman itu pun hanya bisa mengerang tanpa mampu menggoyahkan tubuh kekar Andrian. Kali ini lebih intens Andrian mencium bibir Via yang sedari tadi belum di lepaskannya. Tangan kanannya yang sudah menahan leher Via, dan tangan kirinya merangkul pinggang kecil Via. Ciuman lembut itu sudah menjadi ciuman kasar dan panas kalo ini Via hanya berdiam tanpa meronta dan sedikit mengikuti ritme ciuman yang Andrian lakukan. Sekitar lebih dari dari 10 menit mereka berciuman tanpa melepaskan sekarang Via bisa bernafas dengan tersengal – sengal dan Andrian tiba – tiba menciumi leher Via yang secara spontan membuat Via kaget dan menahan geli yang dihasilkan dari gesekan lidah Andrian. Seakan dirinya belum puas kali ini Andrian merobek kancing piama yang digunakan Via untuk menutupi tubuhnya.
“Andrian apa yang kau lakukan! Lepaskannn!!!”
Tanpa menghiraukan ucapan Via Andrian memulai aksinya menciumi belahan d**a Via yang sangat terlihat menggoda dan membangunkan Juniornya. Setelah puas mencium belahan d**a Via sekarang Andrian membuat tanda di tengah d**a sebelah kanan Via dengan tanda merah darinya. Untung saja ujung p******a Via tak ikut di lahapnya, Andrian menyisakan kenikmatan itu untuk setelah pernikahannya.
“Sekarang kau sudah menjadi milik ku sayang” sambil membisikkan ke telinga Via dan sedikit mengembuskan nafas lembutnya yang bisa di rasakan Via.
“Dasar kauuu mesummm!!!” teriak Via yang sekarang sudah terlepas dari cengkeraman Andrian.
“Hmmm tapi kau menikmatinya baby” Via yang mulai malu menahan dirinya yang memang sedikit menikmati perlakuan Andrian tadi kepadanya. Tanpa meminta Izin Via, Andrian menggendongnya dan membawanya ke meja makan.
“Lepaskan aku! Andrian turunkan aku!” teriak Via tanpa di hiraukan Andrian. Setelah sampai di meja makan Andrian mendudukkan Via di kursi.
“Sekarang kau makan! Dan jangan membantah”
“Terserah aku donk! Mau makan atau tidak! Lambung, lambung ku kenapa kau yang atur!”
“Jangan membantah ku Via! Dan jangan memprovokasi hati ku! Sekarang kau habiskan sarapan mu!”
“Dengan tanpa memakai baju?!”
“Tak ada yang melihat mu selain aku disini! Dan setelah menikah kau juga akan seperti ini jadi sekarang kau habiskan makan mu!”
“ckkkkkkk... b******k”
****
Via dan Andrian sudah berada di butik untuk melakukan fiting baju pernikahan mereka yang akan di gelar 2 hari lagi. Setelah selesai fiting baju, Andrian dan Via beranjak pergi dari butik. Sedari tadi Via hanya diam dan tidak banyak melawan Andrian. Mereka sudah berada di dalam salah satu mobil sport Andrian di Bali.
“Via... Kau ada ingin berlibur di sini? Sepertinya kita masih punya waktu luang untuk bersenang – senang”
“Aku tak merasa senang jika di dekat mu” ucap Via acuh dan sinis.
“Jangan memprovokasi ku lagi Via! Aku bertanya dengan bahasa baik dengan mu”
“Terserah kau saja! Aku malas berdebat dengan pria m***m”
“Via ! Kau bisa berhenti memanggil ku dengan sebutan itu! Nama ku Andrian atau kau bisa memanggil ku sayang”
“cihhhhh...”
‘Mungkin saat ini kau mengacuhkan ku Vi! Tapi setelah menikah giliran aku yang memberi pembalasan untuk mu’ dalam hati Andrian membatin.
Andrian melaju kan mobilnya menuju pantai Melasti salah satu pantai terbaik di Nusa Dua. Via yang mulai takjub dengan pemandangan yang disuguhkan mulai menyunggingkan senyumnya di wajah, Andrian yang sedari tadi memperhatikannya pun mulai tersenyum bahagia, bisa membuat Via tersenyum adalah rekor untuk Andrian karena selama perjodohan ini Via tidak pernah tersenyum lepas.
“Vi kau mau turun ?”
“Boleh aku turun?”
“Tunggu” Andrian bergegas keluar dan berjalan menuju sisi pintu Via dan membukakan pintu untuknya.
“Terima kasih!”
“Kau mau pilih yang mana beach clubnya?”
“hummm... Di pantai nya saja sudah ok kok”
“Tapi aku sedikit lapar” sambil memegang perut nya Andrian menunjukkan rasa memelas menahan laparnya.
“Ya sudah, kita ke sana saja kayaknya lebih bagus ada kapal – kapalnya” Mereka pun berjalan menuju salah satu beach club yang ada di pantai Melasti.
Sesampainya di dalam beach club Via terpana dengan pemandangan yang disuguhkan ditambah suasana restoran yang begitu membuat kita nyaman berlama – lama di sana.
“Vi, duduk di sebelah kolam mau?”
“Hmm.. Kalau yang di bawah pohon bagaimana? Lebih nyaman seperti nya”
“oke ! Aku setuju” mereka duduk di salah satu sisi restoran yang menghadap ke pantai dan kolam renang. Dengan angin semilir dan matahari yang sedikit bersahabat tak begitu terik membuat Via sangat menikmati tempat ini dan seperti menyatu, juga melupakan sedikit amarah dan kebenciannya pada Andrian.
“Kau mau pesan makan apa?” tanya Andrian sambil menyodorkan daftar menu
“Aku terserah kamu saja, pilihi saja yang enak”
“Ok, aku pesan pizza dan kau minumnya kelapa muda gimana?” Via menganggukkan kepalanya menandakan dirinya setuju dengan Andrian, sambil tetap fokus menatap pemandangan yang masih membuatnya takjub.
“Suasananya enak banget, sedikit membuat ku nyaman, sayang aku enggak bawa baju renang” Ucap Via. Baru pertama kali setelah perjodohan itu Via banyak bicara dengan Andrian tapi bukan bertengkar. Andrian sedikit merasa bahagia kali ini bisa berdua dengan Via tanpa emosi dan amarah.
“Kau ingin berenang?”
“hee emm... Tapi sepertinya main air saja juga seru kok”
“Tunggu sebentar!”
“Kau mau ke mana” tanpa menjawab ucapan Via Andrian berjalan menuju parkiran. Benar saja Andrian membuka pintu bagasi dan mengambil sebuah kantong yang tidak tahu isi nya apa, setelah mengambil kantong itu Andrian langsung menutup pintu bagasinya dan menuju kembali ke beach club dan menuju bangku yang tadi ia duduki.
“Ini untuk mu”
“Apa ini” sambil membuka isi kantong yang di sodorkan Andrian. Via kaget dengan isinya sepasang Bikini berwarna merah muda dan celana ketat berwarna senada dengan bikini nya, juga satu dress berbahan brokat halus berwarna hitam.
“Kapan kau siapkan ini?”
“Dari awal kita ke Bali. Aku berpikir kau pasti membutuhkannya, dan aku tidak mau kau hanya menggunakan celana bikini jadi aku belikan celana pendek agar tidak terlalu seksi juga dress ini jika kau tidak terlalu percaya diri berenang menggunakan bikini”
“Hmm. Terima kasih, aku ganti baju dulu ya” tanpa banyak bicara Via langsung menuju ke toilet untuk mengganti baju yang ia kenakan dengan bikini yang di bawa oleh Andrian.