Via sudah terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar dengan nuansa Villa modern klasik. Harini dirinya begitu merasa sangat lelah sehingga tidur terlelap nyenyak tanpa menyadari apa yang terjadi, sambil berjalan keluar mencari siapa pun yang bisa ia tanya mengapa dirinya tak sadar sudah berada di kamar Villa mencari ke segara arah tapi tak menemukan siapa pun hingga terdengar suara percikan air dari balik pintu kaca yang tertutup tirai putih Via langsung menuju ke asal suara air itu. Betapa terkejutnya dirinya melihat sosok pria yang saat ini paling ia benci sedang berenang dan hanya menggunakan celana renang yang sangat ketat. Jika Andrian bangkit dari kolam renang pasti bagian intimnya akan terlihat secara jelas. Via yang berusaha menahan salivanya dan menegur untuk menanyakan keberadaan keluarga dan mengapa dirinya tak di bangunkan saat di dalam pesawat.
“Hei kau!” Andrian menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah suara yang mengganggu dirinya berenang. Tanpa membalas panggilan Via, Andrian hanya menepi sambil menatap wajah gadis itu.
“Aku memanggil mu!”
“Budek ya?!” Andrian masih diam dan menatap Via tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Hei Andrian!”
“Akhirnya. Kau menyebut nama ku juga setelah sudah beberapa tahun silam tak mendengarnya!”
Via bingung dengan apa yang di utarakan Andrian. Via masih terdiam dalam pikirannya mencerna ucapan Andrian yang dirinya merasa tak pernah bertemu sebelumnya dengan pria yang akan menjadi suaminya ini.
‘Siapa sih dia, sepertinya aku tak pernah bertemu dengan dirinya selain kakek Anwar itu pun hanya sekali, aku yakin!’ berpikir keras mencari jawaban yang ia rasa ingatannya masih bekerja dengan baik.
“Kenapa? Kau melupakan ku Via? Segampang itu?”
“Apa sih maksud mu! Aku tak mengerti! Jangan membuat ku harus berpikir! Jelaskan dengan jelas”
“Sepertinya kau sengaja melupakan ku, sayangnya aku tak segampang itu melupakan semuanya!” Dalam benak Via merasa seperti memang mengenal pria ini tapi Via yakin dirinya hanya mengenal kakek Anwar dan saat itu pun hanya sekedar bercengkerama dengan nenek sesaat.
“Sudahlah, jika kau berniat untuk memainkan pikiran ku sudah hentikan saat ini aku tak ingin banyak berpikir! Mana mama dan nenek juga kakek mu! Dan ini dimana?!”
“Kau mengalihkan lagi! Oke aku akan mengembalikan semua memori yang mungkin kau lupakan atau sengaja berpura – pura untuk lupa! Nenek dan mama berada di Aula untuk acara pernikahan kita, kakek ku mungkin juga berada di sana, dan kamar ini...” Andrian tersenyum penuh kelicikan membuat Via takut.
“Ada apa dengan kamar ini !”
“Kamar ini khusus untuk dirimu dan diriku!”
“Apa!!!!! Gilaaaa!” Via merasa Andrian memang gila dia berlari menuju pintu keluar yang di ikuti oleh Andrian tanpa menghiraukan dirinya yang basah dan hanya menggunakan pakaian renang.
“Kau mau lari ke mana” seketika tangan Andrian mampu meraih tangan Via yang hendak membuka pintu.
“Lepaskan! Aku mau ke mama dan nenek ku!” Tanpa mendengarkan permintaan Via Andrian langsung mendorong tubuh Via ke dinding tanpa melepaskan pegangan tangannya.
“Apa yang mau kau lakukan! Lepaskan!!!”
Seketika bibir Via dibungkam Andrian dengan bibir basahnya. Via terperanjat tanpa bisa berkutik hanya mampu mengerjapkan kedua matanya. Sekarang kedua tangan Via terkunci oleh genggaman erat yang di lakukan Andrian. Via seakan tak sadar dan diam terpaku.
*****
“Kau Tama!” tiba – tiba Via mengucapkan 2 kata setelah Andrian melepas ciumannya.
“Hanya itu yang kau ingat hmmm?!” Andrian kembali mencumbu bibir Via kali ini dengan melumat bibir bawahnya yang begitu lembut dan kenyal. Via masih terbius dan tak percaya ciuman yang sama dari pria yang sama mencium dirinya di Jembatan kota Amsterdam kala itu. Jujur jika saat itu Andrian yang berpura – pura menjadi Tama lebih lama berada di Kota itu mungkin Via akan jatuh Cinta dan akan memberikan hatinya untuk Andrian.
Via yang mulai merasa ada gejolak di hatinya entah mengapa membalas ciuman yang sebelumnya ia ingin menolaknya kini seakan benteng pertahanan dirinya telah roboh. Andrian yang sadar jika Via mulai menikmati ciuman itu sekarang malah menghentikan ciuman itu dan memilih mencumbu leher jenjang Via dengan posisi masih menahan kedua tangan Via, Via yang merasa geli dengan ciuman yang di lakukan Andrian sedikit tergeliat. Andrian tak henti di situ sekarang di gendongnya Via sambil mendudukkan Via di ujung meja yang terletak tidak jauh dari posisi mereka b******u. Kali ini Andrian mencium lagi bibir Via dengan sedikit memeluk erat dan membuat tubuh Via bersentuhan dengan tubuhnya. Via yang masih terbawa suasana hanya mampu memejamkan kedua matanya.
“Apa kau lupa dengan rok merah mu Via?” Andrian membisikkan kata – kata yang langsung membuat Via yang tadinya menikmati jadi terkejut dengan wajah yang marah dan langsung mendorong tubuh Andrian.
“Jangan bilang Kau!!! Tidak salah lagi kau pasti Andri !!! Andri si anak m***m itu?! Itu kaaauuuu????!!!! Dan Tamaa? Kau sudah menjebak ku pria b******k!!!!” setelah mengucapkan amarahnya Via langsung berlari menuju kamar dan menguncinya.
“Bodohnya akuuu! Kenapa tak menyadari semuanya!! Andri iya Andri si anak m***m itu ternyata itu dirinya!!! Ya tuhan kenapa aku terjebak dengan dirinya. Tunggu Tama apa dia sengaja merubah namanya! Apa jangan – jangan dia memang sengaja melakukan semua ini” Via berpikir keras di dalam kamar mandi sambil menangis menahan sesak di dadanya. Ia merasa sudah di jebak oleh sosok Andrian.
“Kenapa aku sampai lupa Andri ya panggilan dari Andrian dan Tama tidak lain dari Pratama, ya tuhan kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria yang membuat masa kecil ku buruk!”
“Apa jangan – jangan saat di Amsterdam dia memang merencanakan semua! Aku tidak mau jadi istri dari nya, ya tuhan aku harus bagaimana!” Via merasa frustrasi dan bimbang dirinya ingin sekali bertemu mama dan ingin membatalkan pernikahan ini. Saat dirinya hendak menghubungi mama. Saat hendak mengambil ponsel, tiba – tiba ada pesan masuk di ponselnya.
‘Via terima kasih ya nak, sudah mau membahagiakan nenek mu, dan mama bangga sama Via, mama yakin kamu akan bahagia dan mama akan selalu mendoakan kebahagiaan mu bersama Andrian. Maaf ya Via mama takut tak mampu mengutarakan kebahagiaan mama secara langsung jadi mama mengirim pesan ini untuk mu, Vi mungkin kau sekarang merasa terpaksa dengan pernikahan ini tapi mama yakin jika Andrian sangat mencintai mu, oh iya mama lupa Andrian sebelumnya ingin membatalkan perjodohan kalian karena jatuh hati pada gadis yang ia temui tanpa sengaja di Amsterdam saat mama memberikan foto mu betapa terkejut dan bahagianya dia dan langsung menerima perjodohan ini, jadi mama berharap Via juga bisa membuka hati untuk Andrian ya nak, coba mencintainya mama yakin kalian berjodoh’
Via yang membaca isi pesan chat dari mama merasa tak mungkin ia mengutarakan ingin membatalkan pernikahan ini, bisa – bisa nenek akan terkena serangan jantung dan mama pasti akan kecewa, ia yakin mama dan nenek gak akan percaya kalau Andrian sudah sengaja menciptakan skenario pertemuannya di Amsterdam. Tapi sesaat Via teringat awal pertemuannya di restoran Indonesia ia yakin Andrian pun tak sadar saat itu dan terkejut tapi di saat di taman.
“Oh iya! Aku yakin dia mulai mengingat dan merencanakan saat pertemuan di taman tapi dia, tapi kenapa dia mengganti nama nya? Oh tuhan sebenarnya dia menjebak ku apa memang kau yang sudah mempertemukan kami! Tapi kenapa harus dia!!” Via menangis sambil tersedu kali ini di kasurnya. Dirinya frustrasi bagaimana bisa ia harus bertemu dengan orang yang menghancurkan masa mudanya dan kali ini akan menjadi suaminya. Via merasa hidup nya sebentar lagi akan seperti di dalam neraka.