Rumah Andrian sudah penuh dengan tamu – tamu yang berdatangan, tapi Via masih bergeming di kamarnya, rasanya kaki nya seperti terpaku tidak bisa di gerakkan. Tapi itu hal sia – sia karena mama sudah masuk ke dalam kamar dan memaksa anak gadisnya itu untuk menuju tempat yang sudah di siapkan untuk lamaran Via dan Andrian. Tidak butuh lama Via menuju tempat acara yang hanya selangkah dari rumahnya. Semua tatapan para tamu tertuju ke arah dirinya, seakan ikut terpukau Andrian pun terpana dengan kecantikan Via dengan dibalut kebaya yang simpel tapi tetap mewah saat digunakan. Saat ini Via sudah bersanding dengan Andrian, tapi sedikit pun Via tidak melirik ke arah calon suaminya, berbeda dengan Andrian yang tak henti – hentinya terus menatap sang calon istrinya. Suasana yang tadi ramai seketika hening saat kakek Anwar mulai membuka acara.
“Selamat malam untuk semua para tamu yang sudah berkenan menghadiri acara ulang tahun dan pertunangan cucu saya Andrian Pratama Khan dengan Olivia Zein cucu dari sahabat terbaik saya, semoga para tamu berkenan untuk mendoakan kelancaran pernikahan mereka yang akan di selenggarakan 2 pekan ke depan”
Via yang baru mendengar ucapan kakek Anwar sontak terkejut. Via sama sekali tidak mengetahui setelah pertunangan ini akan langsung dinikahkan dengan cepat, terlihat wajah Via yang ingin meminta penjelasan kepada mama dan neneknya tapi seperti tak mendapatkan jawaban dari mereka berdua, nenek yang begitu terlihat bahagia membuat hati Via hanyut menahan sakit harus menerima kenyataan bahwa percintaannya harus berakhir dengan perjodohan tanpa cinta dan sepengetahuannya.
*****
Dua hari setelah acara pertunangan.
Hari ini keluarga besar Via dan Andrian sudah berada di ruang tunggu khusus VVIP bandara tujuan Jakarta – Bali. Ya, pernikahan mereka akan di selenggarakan di salah satu hotel milik keluarga Andrian. Enggan rasanya untuk membahasa mengapa pernikahan itu harus jauh – jauh di selenggarakan disana, kenapa pernikahan ini seakan terlalu terburu – buru kayak Via akan lari saja, tapi sebenarnya jika ada kesempatan memang Via pasti akan lari kembali ke Amsterdam dari pada harus dipaksa menikah.
Andrian yang sedari tadi hanya menatap tanpa berucap membuat Via gerah, sebenarnya Via memperhatikan calon suaminya ini tapi berusaha menutupinya dengan mencuri pandang. Pesawat yang akan mereka tumpangi pun sudah siap, mereka pun bergegas berjalan memasuki badan pesawat. Beda dengan Via yang terlihat lesu tak bersemangat, jalannya saja seperti tidak memiliki tulang pelan dan terkesan lemah, Andrian yang mulai kesal dengan sikap ke kanak – kanak kan langsung menggendong tubuh langsing Via, seketika membuat Via terkejut dan juga mama, nenek, serta kakek Anwar.
“Ehh turuni aku! Aku bisa berjalan sendiri! Turuni sekarang !!” Teriak Via dengan keras sambil memukul – mukul punggung Andrian, tapi tidak menggoyahkan sedikit pun. Sampai memasuki badan pesawat dan mendudukkan Via di bangku eksekutif bersebelahan dengan Andrian.
“Kau tidak bisa seenaknya memperlakukaan diri ku!”
“Kenapa! Kau lupa, perlu untuk aku ingatkan beberapa hari ke depan kita akan menikah dan artinya kau akan jadi istri ku”
“Kau kira aku sudi menjadi istri mu! Semua ini hanya karena nenek ku! Jika nenek tidak sakit demi tuhan aku lebih mau gadis seumur hidup dari pada harus menikah dengan pria seperti mu!” dengan lantang melawan Andrian tapi di sisi lain Via merasa dirinya sudah berlebihan dengan menyumpahi diri sendiri untuk jomblo karatan. ‘Hah yang benar saja jadi perawan tua!! Sama – sama bohong dong! Oon nyaaa lah aku, tapi bodo amat lah dari pada menikah sama dia lebih baik jomblo terus deh’
Andrian hanya membalas dengan senyuman sinis tanpa membalas ucapan Via. Pesawat yang sudah siap untuk lepas landas seketika yang tadinya Via dan Andrian berseteru sekarang hanya diam membisu, Via yang lebih memilih untuk menatap pemandangan di luar jendela daripada harus melihat Andrian, sedangkan Andrian yang sibuk membaca berkas – berkas perusahaan, membuat dirinya terlihat serius dan itu sedikit menambah ketampanannya, sejujurnya Via sadar tidak ada alasannya untuk menolak Andrian yang secara penampilan sangat gagah, dengan wajah yang rupawan dan kulit nya yang khas kulit Eropa, di tambah lagi Andrian sangat pintar dalam bekerja. Tapi entah mengapa di hati Via setiap melihat atau berinteraksi dia merasa sudah lama mengenal dengan sosok pria ini! Setiap tatapan mereka bersatu entah mengapa Via selalu ingin marah atau kesal dengan perilakunya yang terasa menjengkelkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 hanya kurang dari 1 jam Via dan Andrian sudah mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali setelah pesawat sudah siap untuk berhenti sempurna dan membuka pintu, Via masih tertidur pulas tanpa ia sadari sudah meletakkan kepalanya bersandar di bahu Andrian tanpa meminta izin sebelumnya. Via sangat nyenyak tidur di bahu Andrian yang besar dan berotot . Saking nyenyak nya Via tak sadar dirinya di gendong Andrian sepanjang perjalanan menuju mobil yang sudH menjemput keluarga mereka. Selama menggendong Via, ada sedikit perasaan senang dan merasa beruntung dengan Via tertidur pulas. Dari pertunangan hingga saat ini, Andrian sadar jika Via berusaha menjauhinya, belum lagi tatapan sinis Via yang mengingatkan luka pada massa kecil. Andrian tidak bisa mencintai wanita atau dekat dengan wanita karena selalu dibayangi wajah sinis yang ada di gendongannya saat ini.
"Kau akan mencintai ku Via! aku akan membuat mu tak ingin lepas dari belenggu cinta ku!"