Sudah 2 hari nenek di rawat di rumah sakit tapi entah mengapa Via tak di perbolehkan untuk menjenguk nenek. Kata mama nenek tidak ingin di jenguk Via sampai ia mau di jodohkan dengan cucu kakek Anwar. Rasanya Via seakan terjebak saat kembali ke Jakarta. Untuk saat ini Via memang belum sadar jika cucu kakek Anwar adalah Andrian orang yang paling dia benci seumur hidupnya. Via hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya sambil menatap foto – foto nya bersama nenek, baginya nenek adalah ibu ke dua untuk Via setelah mamanya. Via tak ingin melihat neneknya sakit seperti saat ini tapi ia juga ingin bahagia dengan keputusannya tak ingin di jodohkan. Via terus memikirkan keputusan apa yang harus dia pilih, jika dia sedikit egois untuk kebahagiaannya nenek akan lebih parah, tapi jika dia memilih keputusan nenek hidupnya yang pasti akan lebih menderita pikirnya. Lamunannya tersentak saat panggilan dari mama berdering dan langsung di angkat.
“Halo Via, Nenek sekarat Vi, sekarang kau ke rumah sakit” belum sempat membalas ucapan mama Via langsung berlari mengambil kunci mobil dan langsung menghidupkan mobilnya dan langsung menginjak gas ke rumah sakit Aliyah. Sesaat setelah memarkirkan mobilnya ia langsung berlari menuju ruangan nenek.
“Neneeeekkk... Jangan tinggalkan aku, buka mata mu nek, iyaa , iyaa , Via mau mengikuti permintaan nenek untuk di jodohkan, yang penting nenek masih bersama ku” tangis Via pecah di tak sadar ada mama, kakek Anwar dan sosok pria yang akan di jodohkan pada dirinya.
“Janji ! Kamu akan menikah dengan jodoh yang sudah kakek dan nenek pilih” suara nenek tiba -tiba bergema membuat Via senang dan juga kaget.
“Iya! Via mau yang penting nenek jangan tinggali aku dan mama, hikss.. Hiksss.. Hikss” tangis Via kembali pecah. Nenek langsung memeluk cucu kesayangannya. Mama juga langsung memeluk bahu Via.
“Vi nenek sudah lebih baik, tadi mama kira nenek kita sekarat ternyata hanya tertidur karena obat bius” ucap mama bohong sebenarnya nenek memang tidak sakit dan sudah merencanakan semua ini jika rencana mereka akan di tolak oleh Via.
“Nenekkk jangan sakit lagii yaa, Via janji ga akan ngebantah lagi, janjii ya nek” nenek memeluk Via dengan erat dan menghapus air mata yang tersisa di pipi Via. Andrian yang sedari tadi mendengar pembicaraan antaran nenek dan cucunya merasa bahagia rencananya untuk memiliki Via akan terwujud sebentar lagi.
*****
Setelah 2 hari berlalu
Nenek sudah dirumah sekarang walaupun masih berpura – pura terlihat sakit agar meyakinkan Via bahwa dirinya sudah lemah. Harini Via hanya menghabiskan waktu di rumah merawat neneknya dan kembali ke kamarnya. Via menatap dari jendela rumah kakek Anwar yang ramai dengan pemasangan tenda dan karangan bunga, ya besok adalah hari ulang tahun cucunya dan di waktu yang bersamaan akan meresmikan pertunangan mereka. Jangan tanya bagaimana hati Via saat ini, rasanya ia ingin sekali membalikkan waktu untuk tidak kembali ke Jakarta. Sosok pria yang akan di jodohkan memang tak jelek malah hampir sempurna tapi entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang mengganjal saat melihat pria itu, belum lagi wajahnya mirip dengan pria yang sudah menciumnya saat di Amsterdam. Via merasa lelah untuk banyak berpikir, dirinya langsung berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, mungkin dengan tidur. Rasa lelah dan amarahnya bisa sedikit ia lupakan.
*****
Pagi ini suasana rumah sangat sibuk, hanya Via yang terlihat tak bersemangat. Mama, nenek seakan menjadi orang yang paling tersibuk. Via masih enggan turun dan bertemu dua wanita yang paling dia sayangi. Dirinya masih di sibukkan dengan ponsel yang sedari tadi di otak atik Via.
Tok.. Tok.. Tok..
“Vi , mama masuk ya?”
“Ya, ma” Mama memasuki kamar Via berjalan mendekati anaknya yang masih bermalasan di tempat tidurnya.
“Vi, apa kau tak bersemangat?”
“Biasa saja ma”
“Vi, mama tau mungkin kau kecewa dengan keinginan nenek dan alm. Kakek mu, tapi mama yakin lelaki itu akan membahagiakan mu”
“Mama bisa tau dari mana?! Aku dia saja belum saling mengenal, bisa saja setelah menikah dia akan berlaku kasar pada ku!”
“Mama punya keyakinan dia mencintai mu, kau saja yang belum membuka hati mu. Yasudah sekarang kau bergegas mama akan ajak kamu ke salon untuk perawatan, habis itu kita ke butik teman mama, buat ambil kebaya yang akan kamu gunakan nanti malam”
“Ya ampun ma, sampai baju yang aku gunakan saja kalian sudah siapkan tanpa sepengetahuan dan keinginan ku!” Via merasa jengkel karena dirinya seakan benar – benar tidak di anggap.
“Sudah jangan mempermasalahkan hal yang enggak perlu di jadikan permasalahan, lagian kebaya itu mama bikin buat kamu sebelum tau perjodohan ini kok, jadi enggak usah kamu bikin ribet, mandi dan bersiap mama tunggu kamu di bawah ya”
“Iya ma..” Dengan berjalan malas dan masih merasa jengkel Via beranjak ke kamar mandi untuk melakukan perintah mamanya.
Setelah beberapa menit berlalu Via keluar dari kamar mandi dan bersiap – siap untuk pergi bersama mama ke salon dan selanjutnya ke butik teman mamanya. Selama perjalanan Via hanya diam dan memandang keluar jendela. Mama hanya menatap pasrah pada sikap putrinya, dia mengerti perjodohan ini terlalu cepat tapi mama juga merasa senang karena pria yang akan di jodohkan dengan anaknya adalah pria yang jelas latar belakang keluarganya, dan mama bisa melihat bahwa Andrian mencintai putrinya, Cuma Via saja yang belum menyadarinya.
Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan mama dan Via sudah sampai ke salon langganan mama, Via hanya pasrah mengikuti kehendak mamanya, dirinya di lulur dan creambath, setelah itu totok wajah, setelah menjalani beberapa treatment yang membuat tubuh Via kembali segar sekarang dirinya sedang di dandani dan rambutnya di keringkan setelah itu di tata rapi dengan beberapa jepitan swarovski yang membuat penampilannya cantik setelah selesai dari salon mereka melanjutkan ke butik yang sudah di bilang mama sebelumnya, sekitar hanya 20 menit mereka sudah sampai. Tampak mama seperti sudah familier dengan tempat ini, setelah memarkirkan mobilnya, mama mengajak Via masuk. Sesampainya di dalam butik mama langsung memeluk seorang wanita se umur dengan mama yang sepertinya sudah sangat dekat dengan mama, Via baru pertama bertemu dengan sosok perempuan paruh baya itu.
“Haii say ya ampun sudah ku tunggu – tunggu dirimu” ucap wanita itu
“Macet sai tadi juga ke salon dulu buat nata rambut anak ku”
“Oh ini anak gadis mu yang di Amsterdam itu, cantik banget kamu nak” ucap tante itu memuji Via sambil memegang pipi Via.
“Hee... Makasih tan, tante juga cantik”
“Anak Gue .. Masak gak cantik, siapa dulu mamanya!” ledek mama ke sahabatnya itu.
“ Eh Wi, kebaya yang aku pesan untuk Via sudah jadi, rencana mau aku pakai untuk pertunangannya malam ini”
“Hah gadis secantik ini mau kau langsung nikahin gak sayang masa mudanya??!”
“Permintaan ibu ku yang sudah menjodohkan cucunya dengan cucu sahabat dari Almarhum ayah ku” Via seketika merasa sesak hatinya, tante ini saja memikirkan masa mudanya yang akan terbuang sia – sia, kenapa nenek dan mamanya enggak berpikir hal yang sama hanya karena wasiat kakek.
“Sudah anggap saja membahagiakan orang tua, lagian dia di jodohkan dengan keluarga Anwar Khan, dab untuk kebayanya bagaimana? Sudah jadi?”
“wah beruntung banget anak gadis mu menjadi mantu keluarga tersohor di Ibu kota, siapa yang tidak mengenal keluarga mereka ya kan, oh untuk kebaya modern itu sudah jadi, ayo kita ke ruangan ku untuk fiting bajunya semoga tidak banyak yang harus di rubah. Via dan mama langsung mengikuti wanita paruh baya itu menuju ruangan kerjanya.
Kebaya modern yang cantik dengan perpaduan warna pink muda dan manik – manik putih di bagian d**a dan lengan membuat kebaya itu tampak manis dan mewah. Tak banyak yang perlu di benahi semua tampak sempurna di tubuh Via. Setelah memakai dengan rapi kebayanya Via dan mama langsung beranjak untuk pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sedangkan acara akan di mulai pukul 20.00 .
“ Terima kasih ya Wi, hasil kerja mu selalu memuaskan, aku dan Via langsung pulang ya soalnya tidak banyak waktu untuk bercengkerama lebih lama padahal masih kangen ya”
“Next kita bertemu lagi yaa, aku juga masih kangen, semoga acaranya lancar yaa”
“Oh ya nanti untuk kebaya pernikahan mereka kau yang urus ya Wi, aku yakin pasti putri ku akan terlibat cantik dengan karya mu”
“Siap gampang itu, aku siap membantu mu, hati – hati di jalan ya” sambil berpelukan dan melambai Via dan mama Meninggalkan butik langsung menuju mobil dan bergegas untuk kembali.